
Dani Terlihat sangat tampan dan membuat Emely tak berkedip. Emely tampaknya sedang terpesona dengan pangeran yang saat ini sedang kesulitan memakai dasi berwarna Navi itu.
Dengan perlahan Emely meletakan tasnya, dan juga rangkaian mawar merah pemberian Dani. Emely mendekat ke arah Dani dan berjinjit, tangannya terulur ke atas membenahi dasi Dani. Dani terdiam, ditatapnya wanita yang saat ini sibuk merapikan dasinya.
Sempat terpaku, akan tetapi segera Dani menguasai hati dan pikirannya.
"Selesai," ucap Emely sambil tersenyum tenang. Dani mengulurkan tangannya dan mengusap sejenak wajah mulus Emely.
"Terimakasih Em," ucapnya dan dijawab Anggukan oleh Emely.
"Kita berangkat sekarang?" tanya Emely.
"Hem," sahut Dani.
Emely mengangguk bahagia. Rasanya ingin segera mendapatkan kesepakatan dengan Raymon dan keluarganya.
"Em," ucap Dani lagi.
"Ya." Emely mendongak, mengamati wajah tampan manusia yang kini tepat sejajar dengan dirinya berdiri.
"Apa kau sudah benar-benar membaik?" Dani menggenggam tangan Emely. Emely yang merasa tak nyaman menarik tangannya dari genggaman tangan Dani. Bahkan, genggaman tangan Dani yang malah membuatnya tidak baik-baik saja.
"Aku baik baik Saja Dan, jangan menghawatirkan aku. Kau tenang saja. Sebaiknya kita segera berangkat," ucap Emely kemudian mengambil tas dan Rangkaian bunga. Dani tersenyum, dia bahagia Emely membawa bunga pemberiannya itu, meski sebenarnya bunga Itu adalah milik Dafa.
Mereka berdua berjalan ke arah pintu utama, Oma dan Dafa tampak sedang bercengkrama di ruang keluarga. Segera Dani dan Emely menghentikan langkah mereka dan berdiri tepat di samping Oma dan Dafa.
"Oma, saya pamit dulu. Terimakasih karna oma telah mengizinkan saya istirahat di sini." Emely berkata sambil menatap ke arah Oma yang kini tengah menonton acara TV di salah satu stasion TV.
Oma Rosy menoleh, wajah datarnya mengarah ke arah Dani dan Emely yang tampak sangat serasi.
Oma Rosy berdiri, menatap Dani dan Emely bergantian.
"Hati-hati, Kapan kapan datanglah lagi. Kita masak bersama untuk Dani dan Dafa," ucap Oma Rosy. Emely tersenyum dan mengangguk.
"Salam kenal kakak Ipar, aku Dafa. Sepupu Dani, senang bertemu denganmu. Lain waktu luangkan waktu, aku akan mengajakmu ke suatu tempat yang indah," ucap Dafa sambil tersenyum menggoda Emely.
Lagi-lagi wanita itu hanya tersenyum bahagia.
Dani mengepalkan tangannya, sebal sekali mendengar saudara sepupunya menggoda istrinya yang cantik itu.
"Salam kenal juga Dafa, panggil aku Emely," ucap Emely sambil mengulurkan tangannya. Dengan cepat Dani menepis tangan Emely yang terulur ke arah Dafa.
"Jangan bersalaman dengannya, tangannya penuh kuman dan sangat menjijikan. Kita berangkat sekarang," ucapnya.
Dani mendekat ke arah Omanya, mengucup puncak kepala omanya singkat.
__ADS_1
"Kami pergi dulu Oma," ucap Dani dan diangguki oleh omanya.
"Hati hati Dani, jaga cucu menantu Oma." Oma Rosy berucap sambil menepuk pundak Dani. Emely menautkan kedua alisnya.
"Cucu menantu?" lirihnya, ada sebuah kebahagiaan yang kini ada dalam hatinya.
"Hem, aku akan menjaganya untuk Oma," jawabnya.
Deg
"Untuk Omanya? Apa aku tak ada harganya bagi Dani?" batin Emely. Terbesit rasa sesak dalam hatinya.
Dani menggenggam tangan Emely, menarik pelan hingga keduanya berjalan beriringan ke arah parkiran di bawah sana.
Dengan tenang mereka menuruni anak tangga, demi anak tangga menuju ke arah mobil mewah yang terpakir di bawah sana.
"Pegang yang erat mas bro, jangan sampai lepas," teriak Dafa di atas sana. Dani tampak sebal sekali, berbeda dengan Emely yang malah tersenyum senyum.
"Masuklah," ucap Dani. Segera Emely masuk ke dalam mobil itu. Sedangkan Dani segera berputar menuju ke arah kemudi.
Laju mobil begitu santai, tak ada kata yang sanggup terucap. Hanya keheningan yang mengisi di antara sepasang suami istri itu.
Dani melirik ke arah Emely yang hanya diam dan memainkan ponselnya. Sesekali mereka mencuri pandang dan tatapan mereka saling bertemu membuat rasa gugup menyelimuti hati.
Dari arah yang berlawanan, mobil mewah milik papa berhenti di tempat yang bersebelahan.
Di sisi kanannya juga ada mobil mewah seperti milik Raymon. Dani dan juga Emely segera turun, papa juga turun dari mobil dan tampak sedikit buru-buru, mereka sama-sama mendekat. Emely tampak bingung dan penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. Dani juga merasakan hal yang sama.
Papa Pradikta menatap ke arah Dani, ada rasa bangga saat melihat lelaki itu dengan begitu berani mengantar putrinya kesini.
"Pa, ada apa? Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Emely sambil melihat ke arah papanya yang tampak khawatir.
"Raymon dan keluarganya sudah ada di atas,"ucap papanya.
Dani dan Emely saling berpandangan. Dani terdiam, muncul perasaan aneh dan sakit ketika mendengar lelaki lain datang ke rumah istrinya. Status istrinya yang disandang Emely membuat perasaannya tak menentu. Emely menghela napas panjang dan menatap ke arah papanya.
Dulu, Emely ingin segera bertemu dengan Raymon dan segera menjelaskan kesalahpahaman ini. Akan tetapi, kenapa semakin kesini dia tak yakin dengan Raymon?
"Pa, Aku sudah menikah, apa tidak bisa pernikahan dengan Raymon dibatalkan saja?" protes Emely.
Papa hanya diam, tampak senyum tipis yang menghiasi wajahnya ketika melihat Dani tampak mengeratkan rahang dan mengepalkan tangannya tadi. Tapi, ada sedikit senyum yang dilihat dari Dani saat Emely meminta pernikahan dengan Raymon dibatalkan.
"Apa kau lupa, pernikahanmu dengan dia hanya papa saja yang tau? Bahkan, pernikahan kalian hanya pernikahan siri. Masuk Em, kita temui mereka!" ucap papanya tegas.
Emely tampak terkejut, ucapan papanya bagaikan goresan luka di hatinya. Emely merasakan sesak yang mendera, melirik ke arah Dani yang memasang wajah dinginya.
__ADS_1
Dani mengeratkan kuat-kuat rahangnya, rasanya harga dirinya tengah diinjak oleh orang yang berstatus sebagai mertuanya itu.
"Pa, tapi aku," sanggah Emely.
"Aku sedang tidak meminta pendapat darimu, masuk sekarang juga." ucap papanya tegas sambil menggandeng tangan Emely.
Emely menghela napas panjang. Matanya berkaca, mau tak mau dia melangkahkan kakinya mengikuti langkah papanya.
Dani yang merasa diacuhkan oleh mertuanya tak bisa lagi menahan gejolak hatinya. Dani mengejar langkah pasangan papa dan anak itu, menarik pergelangan tangan Emely sehingga menghentikan langkah Emely dan papanya.
Emely berhenti, papanya juga berhenti. Emely berada ditengah, berada diantara papa dan Dani suaminya. Siapa yang harus dia pilih?
"Emely adalah istriku," tegas Dani dengan sorot mata tajam yang mendominasi.
Emely mendongak,dia merasakan desiran aneh saat ini. Dirinya seperti dalam situasi yang begitu sulit untuk diterimanya.
"Kau suaminya? Benarkah?" tanya Papa Pradikta.
Dani mengepalkan tangannya, bahkan untuk menjawab kata iya dirinya masih ragu. Papa Pradikta tersenyum sinis.
"Yakinkan dirimu untuk ini pemuda, tanyakan pada dirimu tentang kebenaranya. Kau bisa kembali untuk mengambil putriku lagi jika sudah tau jawabannya. Pergilah, dan jangan tampakkan wajahmu di depanku sebelum kau bisa menjawab pertanyaanku," ucap Papa Pradikta.
Deg
Dani seperti merasakan hantaman batu besar yang menghujam hatinya. Emely meneteskan air mata. Netranya menatap Dani yang seakan lemah.
Apa yang dia harapkan dari Dani? Bukankan memang tak ada cinta? Bukankah mereka seharusnya memang seperti ini?
"Lepaskan tangan putriku," ucap Papa Pradikta dengan tegas dan mengintimidasi. Dengan lemah Dani melepas genggaman tangannya.
"Bagus, Emely adalah putriku. Dia tanggung jawabku," ucap Papa Pradikta.
"Bukankah suaminya lebih berhak bertanggung jawab?" tanya Dani tak kalah tegas juga. Emely memejamkan matanya mendengar perdebatan papanya dan Ardani.
"Suami sebenarnya bertanggungjawab atas istrinya, kau? Bukankah kau tidak pernah menginginkan pernikahan dengan Emely?" tegas papa lagi.
Emely hanya diam, apa yang di katakan papanya benar adanya. Papa Pradikta melangkah, Emely mengikuti langkah papanya membawanya.
Dani mengeratkan rahangnya dan mengepalkan tangannya. Entah, dirinya murka dengan ucapan mertuanya. Bahkan, dia tak rela Emely kembali jatuh di tangan Raymon nantinya.
Papa Pradikta membawa Emely menaiki anak tangga menuju pintu utama. Meninggalkan Dani yang menampakan wajah geramnya.
"Aku mau melihat usahamu mendapatkan Emely. Kau benar cinta, atau hanya memainkannya belaka," batin Papa Pradikta sambil melirik Dani dengan senyum sinisnya.
😍😍😍😍😍😍
__ADS_1