
Dani melirik jam tangan yang menunjukan pukul 16.00. Entah apa yang kini bergelayut di pikirannya. Dani merasakan gelisah dan ingin secepatnya sampai di RE grup, berharap wanita yang selalu membuatnya dalam perasaan emosi dan bahagia itu tidak apa-apa.
"Damt" umpat Dani saat dirinya mendapati rambu-rambu lalu lintas yang kini berwarna merah.
Ingin menerobos, akan tetapi dia ada di belakang dan orang di depannya taat aturan. Dani menekan klakson beberapa kali walau sebenarnya dia tau itu percuma, mereka yang di depan tak akan jalan sebelum lampu berubah hijau, malah dirinya kini menjadi pusat perhatian beberapa orang karna ketidak sabarannya.
Beberapa menit saja berhenti membuat darahnya seakan mendidih. Gemuruh di dada seakan membuatnya semakin sesak. Beberapa menit kemudian, rambu-rambu lalu lintas sudah berubah menjadi hijau.
Dani kembali menancap gas mobilnya dan membelah jalanan yang berangsur sepi dengan kecepatan yang tinggi. Dua puluh menit berlalu, Dani telah sampai di depan gedung berlantai empat yang bernama RE grup.
Dengan elegan Dani turun dari mobil merah metaliknya. Ditatapnya gedung megah yang sangat mempesona. Sudut bibirnya terangkat, gedung itu benar benar indah dan menarik. Sama seperti Emely.
Dani melangkahkan kakinya menuju ke arah lantai satu, disana para pengunjung restauran tampak terkejut dengan kedatangan seorang yang begitu elegan itu. Bisik bisik tampak terdengar membicarakan ketampanan seorang Ardani Raghardian wijaya. Manusia tampan yang kini berjalan dengan tenang mendekat ke arah kasir reatauran.
"Maaf Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang kasir pada Dani yang kini menampakan wajah datarnya. Wajah kasir itu tampak terpesona dengan Dani.
"Aku ingin bertemu dengan Nona Rakhayla Emely Pradikta," jawabnya singkat.
Kasir restauran tampak menautkan alisnya, siapa lelaki di depannya? Bertemu dengan Nona Emely? Siapa dia? Bukankah Nona Emely sudah tunangan? Kasir itu menatap ke arah Dani. Yang benar saja, lelaki itu memang sangat tampan dan sanggup membuatnya kagum.
"Oh, aku lupa. Pasti kau tak tau keberadaanya, panggilkan atasanmu saja. Bilang padanya ada yang mencarinya," ucapnya pada kasir tersebut.
"Maaf, tapi atasan saya sedang sibuk. Mungkin Tuan bisa menunggu sebentar," ucapnya lagi.
"Aku tidak bisa menunggu, panggil sekarang atau aku masuk dengan paksa," ucapnya dengan kesal.
Seorang yang berprofesi menjadi kasir itu tampak mengangguk kemudian melangkahkan kaki dengan tergopoh menuju ke ruangan yang ada di pojok.
Tak lama dari itu datanglah seorang lelaki yang kini berjalan ke arahnya, lelaki yang tak tak asing bagi Dani mendekat dan berhenti tepat di depan Dani.
Mereka saling bertatapan. Dani tampak menatap tajam ke depan. Menatap seorang yang berkaca mata di depannya.
"Selamat sore Tuan,,,," ucap Felik sambil menatap ke arah Dani yang kini menampakan wajah sombongnya.
"Ardani Rahardian wijaya," jawabnya dan mampu membuat Felik tersenyum. Pantas saja tak asing dan tampak familiar. Bukankah itu adalah pimpinan ARW grup? Bahkan dia juga seorang yang sangat penting di MRD grup.
Felik tersenyum tipis, ada apa dia kesini? Setelah tadi pagi para wartawan kesini dan membuat sahabat baiknya tak mau keluar ruangan karna dalam ketidak nyamanan. Kini datang orang asing dan mencari dia? Gosip apa lagi yang akan beredar selain di gerebek warga. Apa akan ada berita peenikahan? No. Itu tidak mungkin.
Felik tak akan membiarkan gosib murahan itu menerpa Emely, sahabat baiknya. Sahabat? Ya, mereka hanya bersahabat. Akan tetapi Felik mempunyai rasa yang berbeda. Bahkan, sedikit berita yang terdengar di telinganya bahwa Emely gagal menikah dengan Raymon membuatnya bahagia.
"Senang bertemu dengan Anda, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Felik sambil menatap Dani dengan berani.
Mereka sama sama orang yang mempunyai kekuasaan yang berarti. Felik tak takut, meski yang dihadapinya adalah Ardani Rahardian Wijaya.
__ADS_1
"Beri tau aku ruangan Emely, aku ada urusan dengannya," ucap Dani.
"Emely sedang tidak bisa diganggu," ucap Felik dengan tenang seakan memiliki Emely dan menjaga Emely dari orang yang berbahaya.
Mendapat respon yang menyebalkan membuat Dani seolah emosi.
"Bilang aku yang datang!" sinisnya sambil mengibaskan jasnya dengan elegan. Felik teetawa kecil.
"Kau siapa? Ada urusan apa?" tanyanya seolah tak percaya dan membuat Dani semakin emosi.
Dani tak bisa bersabar, kini dia melangkah ke atas sana, membuat Felik mengeratkan rahangnya.
"Berhenti Tuan, jangan mengganggunya," ucap Felik. Dani seakan tak terima. Dia suaminya. Lalu bagaimana bisa makhluk tak berguna seperti Felik melarangnya bertemu? Bahkan saat ini dia sangat hawatir. Apa yang dikerjakan Emely sehingga tak keluar ruangan?
Dani menatap Felik dengan tatapan tajamnya.
"Maju satu langkah saja, aku pastikan RE grup akan tutup usia. Kau maju, atau mundur perlahan?" ucap Dani dan sanggup membuat Felik menghentikan langkahnya. Felik mengepalkan tangannya dan menatap Dani dengan tajam.
Ingatan Dani teetuju pada majalah yang sempat dibukanya tadi, dia ingat betul bahwa di depannya adalah Felik bagaskara, sahabat Emely sejak kuliah. Tampan? Ya, sehingga membuat Ardani menjadi tersaingi.
"Katakan dimana ruangan Emely," tegasnya.
"Katakan atau aku...."
Dani yang terburu kini menabrak pundak Felik kemudian berjalan ke dalam lift menuju lantai empat.
"Kau berurusan dengan aku jika terjadi apa-apa dengan Emely," tegas Felik.
Dani yang masih sempat menoleh kini menoleh ke arah Felik dan menatap lelaki itu.
"Dia tanggung jawabku," ucapnya kemudian melangkahkan kakinya menuju ke lif menuju ke lantai empat.
Felik menautkan alisnya, tanggung jawabnya? Felik mencoba menghubungi Lelyta dan mengabarkan bahwa Ardani berada di RE grup dan memaksa bertemu Emely.
Biarkan saja, pasti seruππ.
Balasan Wa dari Lelyta dan sanggup membuat Felik menautkan alisnya.
"Apa maksud Lelyta? Siapa Ardani?
ππππ
Dani yang kini membawa akses card dari hasil merampas kini sudah masuk ke dalam ruang kantor Emely. Netranya memandang ke arah gadis yang kini sedang tertidur pulas di atas sofa.
__ADS_1
Dani terus menatap wajah yang tampak cantik meskipun memejamkan matanya itu. Sebuah perasaan aneh menyelinap dihatinya, otaknya seakan tak trima melihat keadaan Emely yang bersedih.
Dani juga mengunci pintu ruangan dan kembali berjalan ke arah dimana Emely terbaring. Diusapnya wajah cantik yang berbalut kerudung itu dengan tangan kanannya. Dani berjongkok dan mencium kening Emely. Dirasakan sebuah kenyamanan disana. Emosi yang sempat menggebu hilanglah sudah.
Apa saja yang dilakukannya sejak pagi? Apa kau kelaparan? Apa kau menangis tanpa henti? Apa kau bersedih? Dani mengusap pelan wajah mulus milik istrinya itu.
Dani segera duduk dan menggenggam tangan Emely. Rasa bersalah menyelimuti hatinya, jika tidak membawa Emely ke desa, pasti semuanya tak akan seperti ini.
Emely yang merasa disentuh kini mengerjabkan matanya, menyesuaikan cahaya yang masuk dalam penglihatannya.
"Kamu," ucap Emely ketika netranya jelas memandang ke arah Dani. Emely berusaha bangun, namun keadaannya yang sedang kesemutan membuatnya kesulitan duduk.
Dani mendekat dan membantu Emely untuk duduk. Kedua pasang mata itu saling menatap. Lama, sehingga keduanya terhanyut dalam sebuah rasa yang sulit untuk dijelaskan.
Emely mengalihkan pandanganya dan mendorong Dani menjauh darinya. Dani merasakan sesak di dadanya. Apa Emely marah padanya?
"Bagaimana bisa kamu disini? Pergilah," ucap Emely yang tampak kesakitan karna kakinya yang kesemutan disentuh oleh Dani.
Tapi, Dani yang salah paham dan mengira Emely sedang sakit malah terus mendekat.
"Pergi aku bilang, kenapa masih disini!" bentak Emely lagi, Emely merasa geram melihat Dani di depannya dan memegang kakinya. Rasanya ingin mencubit Dani dengan kasar sehingga dia benar benar menjauh darinya.
Dani menatap ke arah Emely dan merasa terkejut ketika melihat Emely yang mencoba bangkit. Dengan cepat Dani menahan bahu Emely dan menekannya agar tetap di posisinya.
Hal itu membuat Emely histeris, tubuhnya yang kesemutan seakan tersengat listrik. Dengan keras dan Reflek Emely yang masih terduduk di sofa melayangkan satu tamparan di pipi Dani.
Plak
"Apa yang kau lakukan? Pergi aku bilang! Kaki aku kesemutan!" ucap Emely semakin lirih saat menyadari pipi Dani yang terkena tamparannya sengan keras.
Dani yang sedang memegang pipinya kini saling menatap dengan Emely, saling beradu pandangan.
Apa apaan ini? Kenapa ini balasan yang dia dapat dari kegelisahannya? Dia gelisah, berpikir bahwa Emely bersedih. Berpikir bahwa istrinya butuh suport dan butuh kekuatan. Tapi ternyata dia baik baik saja? Harus apa dia? Bahagia atau berduka?
Dani memejamkan matanya dan menatap Emely dengan senyum sinis.
"Syukurlah kau tidak bersedih, kupikir kau bersedih," ucap Dani sambil berdiri kemudian berjalan ke arah jendela. Setidaknya dia sudah lega melihat Emely baik baik saja, meski kini pipi dan tangannya berasa sakit semua.
Emely menautkan alisnya, kakinya yang sudah enakan kini sudah bisa diajak bergerak. Emely mendekat ke arah Dani, dan disaat yang sama Dani memutar tubuhnya hingga keduanya kini bertabrakan. Dani meraih pinggang Emely dan keduanya saling berpandangan mesra.
πππππ.
Like komen hadiah mana nieπ
__ADS_1