
Suara ayam berkokok menghiasi pagi ini dengan bersahutan, akan tetapi rasa lelah sepertinya masih menggelayut di mata Dani dan Emely yang saat ini masih memejamkan matanya.
Sinar mentari menerobos ke dalam ruang kamar menghangatkan tubuh dua manusia yang saling memeluk itu. Emely merasakan tidur yang begitu nyaman dan tenang.
Merasakan hangat dan lelap. Sinar matahari yang menerobos jendela membuat wanita cantik yang kini berada dalam pelukan seorang Ardani itu membuka matanya.
Dirinya tersenyum saat merasakan kehangatan, merekatkan wajahnya dengan benda keras di depannya untuk mencari kenyamanan. Tapi tunggu, kenapa hangat sekali? Kenapa berdetak? Kenapa bendanya bergerak gerak? Emely mencoba berpikir jernih, menatap benda warna putih itu.
Jantungnya berdetak kencang, Emely mengangkat wajahnya, alangkah terkejutnya dia ketika melihat dia tengah berpelukan dengan manusia laknat yang telah menghancurkan hatinya.
Emely mengucek matanya, berharap Ini hanya sebuah mimpi. Namun nyatanya bayangan di depannya malah semakin nyata.
Emely mengangkat kakinya dan menendang kaki Dani yang ada di kakinya.
"Aduh!!" keluh Dani saat merasa kakinya di tendang oleh Emely yang tadinya dipeluk dengan posesif olehnya. Dani membuka mata, seketika tangannya melepaskan tubuh Emely yang terus memberontak.
"Apa tidak bisa diam?" suara serak Dani menggema. Emely segera duduk dan mengamati tubuhnya, bayangan kejadian semalam menghampiri otaknya. Emely memeluk tubuhnya yang sudah terjamah oleh Dani semalam.
"Kenapa kau disini?" ucap Emely sambil mendorong tubuh Dani. Dani bangkit dan menatap Emely dengan sorot mata tajamnya.
"Ini kamar kita, siapa yang akan melarangku?" ucapnya. Emely menghela napas panjang. Emely memutar pandangannya dan mengamati kamar kecil nan sempit ini. Yang benar saja, ini memang kamar tidur mereka berdua. Emely ingat bahwa mereka telah dinikahkan oleh pak kiai semalam.
Emely kembali menatap ke arah Dani. Dia ingat dengan jelas jika dirinya sekarang telah menjadi istri sah dari manusia laknat di depannya. Emely merasakan sesak dalam hatinya.
"Bukankah kau semalam di sofa? Lantas kenapa kau bisa disini, jangan harap aku mau mengulang kejadian semalam denganmu Dani. Kau brens*k, kau laknat, kau bangs*t!" teriak Emely dengan deraian air mata yang luruh karna mengingat kejadian itu. Entah, jiwanya masih tergoncang. Batinya juga sakit saat mengingat Raymon mengabaikan dirinya, mencacinya, mengumpatnya.
"Kau pikir aku berminat juga? Jangan besar kepala Nona, semalam kau menggigil. Aku hanya ingin menolongmu dengan mengompresmu. Tapi, kau malah menarikku untuk memelukmu," ucap Dani sambil mengingat kejadian dini hari tadi.
Sebenarnya Dani sudah menghindar, akan tetapi Emely yang berada antara sadar dan tidak sadar malah menariknya. Pada akhirnya Dani berbaring di samping Emely dan tertidur juga.
"Antarkan aku pulang, aku tak ada baju ganti!" ucap Emely dengan keras. Dani turun dari ranjang dan menatap Emely dengan jengkel.
"Jika bisa, itu sudah aku lakukan sejak semalam! Apa kau amnesia, kita tidak bisa melakukan apapun saat ini," ucap Dani. Dani melirik dompet yang ada di meja, diraihnya dompet itu dan dibukanya.
__ADS_1
"Hanya ada uang kes lima ratus ribu, itu sisa dari uang mahar yang aku berikan padamu. Belilah baju," ucap Dani.
"Belilah katamu?" sentak Emely sambil mengusap air matanya.
"Hem," sahut Dani.
"Kau lihat tubuhku? Apa kau tega melihat aku yang seperti ini keluar rumah? Lihat, karna mulut laknatmu itu aku jadi begini!" sentak Emely sambil menunjuk pundaknya yang merah.
Dani melirik pundak putih bersih Emely yang berhias warna merah itu. Dani memejamkan matanya. Astaga, sebegitu pandainya dia mencetak tanda kepemilikan pada wanita yang tak dicintainya itu. Dani menhambil jas mahalnya di kursi, melempar jasnya dan seketika Emely menangkapnya.
"Pakai itu, setidaknya bisa menutup pundakmu itu," ucapnya.
Emely tampak sebal, mengamati jas itu dan melihat ke arah Dani.
"Kau masih memaksa aku keluar dengan ini?" sentak Emely.
"Cepat bersihkan dirimu dan siapkan sarapan untukku, kau bisa memakai itu dulu. Setelah sarapan aku akan keluar, kau tidak perlu cerewet Nona Emely,!" lanjut Dani.
"Au," lirihnya saat merasakan sakit di area sensitifnya. Dani melirik ke arah wanita yang kini telah sah menjadi istrinya itu. Tak tega saat melihat Emely meringis kesakitan.
"Perlu bantuan?" tanya Dani.
Emely menghela napas panjang. Rasanya sebal sekali menatap wajah Dani, jika dia kertas, sudah pasti dire- mas sampai hancur, Diinjak sampai tak berbentuk.
Tanpa menjawab pertanyaan Dani, Emely mengangkat kakinya, dan dengan tenaga yang kuat, Emely menginjak kaki Dani dengan keras, kemudian berjalan menjauhi Dani.
"Shiiit," umpat Dani saat merasakan sakit yang mendera kakinya.
"Sialan kau," sentak Dani sambil melihat Emely yang menuju ke arah kamar mandi.
"Itu sedikit rasa sakit yang harus kau rasakan karna menyakitiku, Tuan Dani!" sentak Emely.
"Shitt," umpat Dani lagi.
__ADS_1
Dani berjalan dengan tertatih menuju ke arah dekat jendela, menatap kakinya yang lecet karna ulah istrinya. Dani mengusap kasar wajahnya. Kenapa wanita itu tampak menguji kesabarannya? Sangat menjengkelkan.
Beberapa menit berlalu, Emely telah selesai mandi. Ia masih menggunakan gaun cantik dan jas yang tadi di berikan oleh Dani. Rambutnya yang basah di gulung tinggi hingga menampakkan leher jenjangnya.
Begitu membuka pintu, tubuh Emely terpaku saat netranya beradu dengan tatapan mata Dani yang memandangnya. Keduanya tampak terkejut, Emely segera merapikan rambutnya dan menyisirnya. Emely berjalan ke arah meja rias, mengabaikan keberadaan Dani di ujung ruangan.
Dani tampak memandang setiap gerak Emely, bibirnya tersenyum tipis, entah perasaan apa yang singgah dalam benaknya, kemudian berganti masuk ke dalam kamar mandi.
***
Emely yang sudah cantik, kini membuka pintu kamarnya, melangkahkan kakinya dengan tenang untuk berjalan ke arah dapur. Emely membuka lemari pendingin. Tak ada apapun di sana.
"Asalamualaikum," suara itu membuat Emely sadar darinya lamunanya. Emely memutar langkahnya. Siapa yang bertamu? Pertanyaan yang mengiang di otaknya.
"Asalamualaikum," ucap suara di depan lagi. Emely menghela napas panjang dan menyahut salam orang yang ada di luar sana.
"Waalaikumsalam, sebentar mbak," ucapnya sambil melangkah ke arah pintu utama. Emely membuka hendel pintu dan membuka pintu rumah.
Diluar sana, Mbak Hani membawa nampan makanan, sedangkan Syfa membawa paper bag. Senyum indah terukir di wajah dua orang berhijab itu.
"Asalamualaikum," ucap mbak Hani lagi.
"Waalaikum sa..." belum sempat menuntaskan menjawab salam. Emely menatap wanita berhijab yang sedang bertamu. Sejenak mereka saling memandang, Emely tenggelam dalam perasaan yang campur aduk. Senang atau harus bersedih?
"Sifa?"
"Nona Emely?"
Ucap keduanya bersamaan sehingga membuat Mbak Hani menatap mereka bergantian.
😍😍😍😍
Like, komen, hadiah...
__ADS_1