
Dani entah keluar kemana, yang jelas saat ini Emely melangkah ke arah kamar. Ucapan Dani begitu menyinggung perasaannya. Semudah itu dia mengatakan semuanya, meminta dirinya untuk oprasi kep*aw*nan? Minum postpil untuk mencegah kehamilan?
"Dasar asisten casanova, kau pandai sekali mencari solusi. Lebih tepatnya solusi yang menyelamatkan dirimu sendiri, dan sangat merugikan bagiku. Kau pikir semua semudah itu? Sebegitu sayangnya kau pada adikmu itu sehingga kau mempersulitku seperti ini. Awas saja, aku tidak akan diam saja Tuan Ardani," lirih Emeli sambil mengusap air matanya.
Sedari sore dia menangis, matanya sudah sangat sembab karna air mata. Dia bukan wanita lemah, dia harus bisa bangkit. Jika memang Raymon tidak bisa menerimanya, suatu saat nanti dia pasti akan menemukan kebahagiannya. Emely yakin itu.
Emely melirik jam yang sudah menunjukan pukul dua dini hari. Suara sholawat memuji kepada sang pencipta terdengar dari masjid yang tak jauh dari rumah dinas itu. Gemeruduk suara langkah kaki terdengar mendekat ke arah masjid, pastinya itu jamaah santri yang akan melaksanakan sholat malam.
"Astagfirullah, apa ini hukuman untukku Tuhan?" lirihnya.
Emely memejamkan matanya, sudah lama sekali dia lupa untuk bersujud. Bahkan kapan bersujud untuk yang terakhir kalinya pun dia lupa. Emely menghela napas panjang. Dia tak punya mekena untuk kesana, bahkan baju yang dia pakai sangat menjijikan. Emely melirik ponselnya yang retak karna jatuh itu, untung saja masih bisa menyala dan masih bisa digunakan.
Emely mengusap layar ponsel dan menatap nama "Mama". Mama Elina, ibu yang sangat dia sayangi. Mungkin, dengan menyapa mamanya hatinya akan merasa lebih tenang.
Mama Elina, seorang ibu yang sangat baik dan bijaksana. Apa yang dilakukan wanita itu saat ini? Sedari sore dia mengabaikan panggilan dari wanita itu, sampai saat ini bahkan ponsel mamanya masih terlihat online. Pasti beliau sangat menghawatirkan dirinya.
Emely menekan ponsel dan membuat panggilan pada Mama Elina yang dilihatnya tengah online itu.
"Halo, Asalamualaikum Em," sahut Mama Elina di sebrang sana.
"Waalaikumsalam Ma," ucap Emely menjawab salam pada mamanya. Emely mencoba untuk tidak menangis, padahal rasanya dia ingin bersandar di bahu ibunya itu. Menumpahkan segala resah yang mengganjal di benaknya.
__ADS_1
"Halo Em, bagaimana kabarmu nak? Kamu baik baik saja?" tanya Mama Elina dengan panik.
Sedari sore mama Elina sangat hawatir pada anak gadisnya itu. Mendengar suara gadisnya menjadi obat rindu yang mendalam baginya.
"Sayang, kenapa tidak pulang? Ini malam minggu, mama merindukanmu. Kak Vini bilang kemaren kamu kecelakaan, tadi Papa bilang kamu telah menikah? Apa itu benar? Coba ceritakan pada mama, Sayang," cerocos Mama Elina panjang lebar. Emely tersenyum getir, begini jika mamanya tau. Selalu seperti ini. Panik dan pasti sangat mengganggu kesehatanya. Kenapa papa dan kakaknya tidak menyimpan saja?
"Ma, Em baik baik saja. Bagaimana kabarnya Mama? Pasti mama tidak tidur kan? Jangan menghawatirkan Em ya," ucapnya. Matanya berkaca-kaca. Emely menatap langit-langit kamar, menahan deraian air mata yang memaksa keluar.
"Mama sehat, mama sangat merindukan mu, kamu bisa pulang sekarang juga, Nak? Ceritakan semua pada mama," ucap mamanya. Emely terkekeh kecil. Kini Air matanya benar-benar tidak bisa dibendung.
"Ma, maaf minggu ini sepertinya tidak bisa pulang sampai Pak lurah di desa ini memperbolehkan. Mama jangan hawatir, Oke," ucap Emely.
Mama Elina terdiam, netranya memandang ke arah ranjang. Papa Pradikta masih belum ada di sampingnya. Dimana suaminya itu? Bahkan sedari sore hanya pesan WA saja yang sampai padanya.
Emely terdiam, bukankah mamanya malah akan menanggung malu nantinya? Anak gadisnya menikah dengan orang lain, meski sah menurut agama, dia belum sah menurut negara. Bisa saja orang diluaran sana menilai dirinya seperti Raymon menilanya. Mungkin dia bisa kuat, lalu bagaimana dengan orang tuanya? Bisa kuatkah? Bagaimana dengan kesehatan mamanya?
"Ma, Emely baik baik saja," sahutnya.
"Benarkah?" tanya Mama Elina.
"Hem, Mama tidak usah hawatir. Justru Em menghawatirkan mama, em takut terjadi sesuatu pada Mama dan Papa," ucap Emely.
__ADS_1
"Keluarga Raymon pasti merasa dipermalukan, bisa saja mereka tidak terima dengan semua ini. Em takut mereka akan berbuat sesuatu Ma," ucap Emely.
"Mama dan Papa akan menghadapi semuanya. Untuk saat ini Mama dan Papa hanya bisa berdoa untuk kebaikan kalian," ucap Mama Elina.
"Jikapun tidak bisa diperbaiki Emely pasrah Ma, jangan memaksakan semuanya. Lagi pula Raymon sudah tau tentang ini. Dia marah dan tak mau mengerti," ucap Emely.
Mama Elina memejamkan matanya. Begitukah?
"Apa yang membuatnya tidak mempercayaimu Em? Bukankah seherusnya dia mendukungmu?" tanya mamanya di tengah isak tangisnya.
"Entahlah Ma, yang jelas Emely sudah berusaha semaksimal mungkin untuk bisa menjaga diri. Jika pada akhirnya tidak berjodoh, selesaikan semua ini dengan baik ya ma," ucap Emely.
Mama Elyna menghela napas dan mengeluarkan dengan pelan.
"Oke, Mama dan Papa akan berusaha sayang. Baik baik kamu disitu," ucap Mamanya dengan tenang.
"Mama istirahat ya, Em juga," ucap gadis cantik itu.
"Hem, selamat istirahat Nak. Jangan bersedih lagi, asalamualaikum," ucap mamanya kemudian menutup ponselnya.
Emely meletakan ponselnya di meja, bersamaan dengan itu dilihatnya pintu kamar terbuka dan memperlihatkan Dani disana.
__ADS_1
😍😍😍😍