
Raymon menatap wanita yang kini berada di depannya, mengamati wajah kucel itu.
"Aku antarkan kau, cepat!" Ucapnya sambil membuka pintu mobil mewah itu.
Sinta masuk dan duduk dengan tenang, tak mau berbagi cerita ataupun bagaimana. Kesabaranya hari ini sudah benar-benar habis.
Ardani sangat kelewatan, dan dia harus segera bertindak.
"Siapa namamu?" Raymon bertanya. Sinta hanya melirik saja, tak mau dirinya dekat dekat dengan orang yang sok kenal sok dekat itu. Kalau bukan karna terpaksa, sepertinya dia juga tak mau untuk masuk ke dalam mobil ini.
"Jangan banyak bicara, segera antar aku ke tempat yang aku sebutkan tadi!" ucap Sinta dan disambut dengan senyum Raymon.
Raymon berpikir sejenak, kenapa pertemuan ini sama seperti pertama kali bertemu Emely. Walau hanya sebuah taruhan, sejujurnya dia jatuh hati pada wanita itu. Saat ini, bahkan impianya untuk bersama Emely kandaslah sudah. Ardani baginya telah menghancurkan semua impiannya.
Raymon tersenyum, urusan cinta akan dipirkannya nanti. Saat ini yang dia inginkan melihat Ardani lenyap dan mendapatkan perusahaan kembali.
Tak lama kemudian, mereka telah sampai di depan mansion mewah ARW group. Sinta keluar dari mobil dan menatap Raymon dengan tenang.
"Terimakasih telah mengantarku kesini, kau juga tak perlu mencariku untuk membayar taksi ini. Aku berikan ini padamu," Sinta memberikan cincin kepada Raymon. Cincin yang diberikan oleh Mama Nina beberapa hari yang lalu.
Sinta keluar dari mobil dengan tenang, berjalan ke arah mansion itu. Raymon mengamati gerak wanita yang memberikan cincin itu padanya. Ditatapnha cincin berlian yang sangat indah.
"Kau sangat sombong Nona," ucap Raymon, netranya masih mengamati wajah kucel manusia yang berjalan menuju ke pintu utama mansion mewah itu.
"Sampai bertemu lain waktu, Nona sombong," ucap Raymon kemudian meninggalkan mansion megah itu.
Sinta mengetok pintu rumah besar itu, memencet bel rumah itu. Tak lama kemudian, Bi Navi membuka pintu dengan tergopoh.
"Selamat malam, Nona Sinta. Maaf terlalu lama menunggu," ucapnya sambil menundukan kepalanya.
"Tante Nina ada?" tanyanya.
"Silahkan masuk Nona, saya akan memanggilkan Nyonya Nina ke atas," ucapnya sambil menatap ke arah Sinta.
"Siapa yang datang malam malam Bi?" Nyonya Nina yang mendengar bel beebunyi dengan tenang menuruni anak tangga. Netranya menatap Bi Navi yang kini berjalan ke arahnya.
"Yang datang Nona Sinta, Nyonya," ucapnya dengan pelan.
__ADS_1
"Sinta?" tanyanya dan diangguki oleh Bi Navi.
Dengan langkah tergesa Nyonya Nina melangkah ke arah ruang tamu, Sinta? Bagaimana bisa calon menantunya itu malam malam datang kesini?
"Sinta," Nyonya Nina mendekat ke arah Sinta yang kini duduk dengan mengusap air mata yang luruh dari mata indahnya. Diraihnya wanita itu ke pelukan Nyonya Nina.
Nyonya Nina mengusap pelan pundak Sinta dengan lembut. Apa yang terjadi? Kenapa calon menantunya berantakan seperti ini?
"Sayang, ada apa? Apa yang teejadi? Apa yang dilakukan Dani kepadamu?" tanya Nyonyw Nina dengan hawatir.
"Tante, Dani tak melakukan apapun, akan tetapi dia meninggalkanku dan pergi entah kemana. Aku dirampok te, dan aku sampai kehilangan ponsel, tas," keluhnya. Nyonya Nina menghela napas panjang. Kenapa putranya benar-benar keterlaluan? Sangat keterlaluan.
Nyonya Nina menatap ke arah Sinta dan mengusap pelan pundaknya.
"Mandilah, tante akan mengambilkan baju ganti untukmu," ucapnya.
Sinta mengangguk pelan dan naik ke kamar tamu. Nyonya Nina meminta Bi Navi untuk menyiapkan makanan dan mengantarkan baju untuk Sinta.
"Bi, antar satu baju milik Nona Ganesa dan makanan untuk Sinta, sampaikan juga padanya untuk istirahat setelah itu," ucap Nyonya Nina kemudian melangkah ke luar.
Nyonya Nina menghela napas panjang, menatap sinar bulab yang indah. Nyonya Nina memejamkan mata indahnya. Merasakan sesak, karna ulah Dani kini hubungannya dengan kedua orang tua Sinta yang notabenenya sahabat dari Tuan Hendra Wijaya tampak merenggang. Bahkan Tuan Shien sempat membuat kegaduhan di perusahaan dan berhasil diatasi oleh Dani.
Nyonya Nina menghela napas panjang dan mengambil ponselnya. Menghubungi nama Dani di sana.
Dani terlelap dalam tidurnya sambil memeluk guling hidup yang sangat menghangatkan malamnya. Bahkan suara ponselnya tak dia dengar, malah kini Emely mengerjabkan matanya.
Emely terbangun karna suara deringan ponsel Dani yang mengganggunya. Emely menautkan kedua alisnya, menatap dia yang melingkarkan tangannya di pinggang Dani. Begitupun Dani, dia juga memeluknya dengan erat.
Pantas saja dia merasa hangat dan nyaman, ternyata di peluk Dani. Ups, apa? Hangat dan nyaman karna Dani? Apa tidak salah? Emely hampir saja beranjak untuk bangun, akan tetapi Dani seakan menahanya. Dani semakin mengeratkan tangannya walau matanya terpejam.
"Tetaplah di tempatmu dan jangan macam macam Nona. Tugasmu malam ini menemaniku tidur, sekarang kembalilah tidur!" ucap Dani dengan tegas.
Emely membelalakan matanya, jadi manusia aneh itu juga mendengarnya? Emely tak tinggal diam.
"Dani, bagaiman Bisa tidur? ponselmu berbunyi. Aku tak bisa tidur," jawab Emely dengan geram.
Dani menolak panggilan dari ponselnya tanpa melihat siapa yang menelpon. Ditatapnya wajah Emely yang kini memandangnya dengan tenang.
__ADS_1
"Sudah tidak berbunyi lagi, tidurlah," ucapnya sambil membenahi posisinya.
"Dan, aku sesak napas kalau kamu memelukku dengan erat seperti ini," Emely mengeluh. Sebenarnya bukan sesak Napas melainkan merasa jantungnya dag dig dug tak karuan.
Dani tersenyum smirk kemudian mengusap pipi cantik istrinya.
"Kau sesak Napas?" tanya Dani.
"Hem," jawabnya singkat.
Emely merubah posisinya dan membelakangi Dani saat Dani melonggarkan pelukannya. Memyembunyikan wajahnya di bantal, berharap wajah merahnya tak dilihat oleh Dani.
Dani menghela napas panjang, sampai kapan dia akan bisa merasakan kenyamanan seperti ini? Diliriknya Emely yang sepertinya tak lagi bisa kembali tertidur.
Deringan ponsel kembali terdengar, Dani melirik ponselnya yang memperlihatkan nama mama disana.
Dani mengulurkan tanganya, mengambil ponselnya kemudian beranjak dari tempat tidurnya. Dani berjalan ke arah balkon kamar. Digesernya tombol hijau. Mama? Wanita itu adalah wanita yang sangat dia sayangi. Wanita yang merawatnya dari bayi hingga saat ini.
"Halo," ucap Dani dengan tenang sambil memandangi indah malam ini dengan bahagia.
"Halo Dani, dimana kamu sekarang? Bisa katakan pada Mama?" tanya wanita itu tanpa basa-basi.
"Ada apa mama mencariku?" tanya Dani dengan tenang.
"Mama ingin kau pulang," ucapnya sambil menghela apas panjang. Dani terdiam.
"Mama hanya ingin kau menikah dengan sinta, itu saja," Lalu apa permintaan mama terlalu beelebihan hingga kau sangat sulit dijangkau?" tanya mamanya lagi. Dani juga masih terdiam.
"Oke mama mengalah. Mama janji tidak akan memaksamu untuk menikah dengan Sinta, tapi Mama mohon bantu mama untuk membicarakan hal ini dengan keluarga Sinta. Kau tau, mama sangat tidak nyaman dengan keadaan Ini," ucap mamanya menvoba untuk tetap tenang.
"Kau tidak boleh juga mengerjai Sinta, kasian dia Dan," ucap Mamanya. Dani menghela napas panjang memang kali ini dia sangat bahagia, Rudi mengatakan kejadian kejadian yang dialami Emely yang membuat Dani tersenyum puas.
"Mama tenang saja, aku akan membantu mama untuk keluar dari masalah itu," sekarang tidurlah. Aku akan pulang," jawab Dani.
Deg
Emely yang saat ini berada di pintu, membawa teh hangat untuk Dani tampak terkejut. Dani pulang? Apa malam ini? Kenapa aku sesedih ini?
__ADS_1
🎀🎀🎀🎀🎀