
Seperginya Pak Lurah dari pondok pesantren Miftahus sifha, Sifa kini menatap ke arah abahnya sambil berdiri dengan tenang.
"Bah, Sifa berangkat dulu. Nanti aku akan ke kantor Tuan Dani dan juga mungkin berkunjung ke kantor Nona Emely, jadi sepertinya Sifa pulang sedikit telat," ucap wanita cantik itu.
"Iya, hati hati Nak, jangan ngebut juga. Jangan lupa berdoa saat mau berkendara," ucap abahnya.
Sifa mengangguk, memberikan salam takdzim kepada abahnya.
"Assalamualaikum, Bah," ucap Sifa.
"Waalaikumsalam Nak," jawab abahnya.
Sifa mengambil tasnya melangkah menuju ke parkiran pondok, mengendarai mobilnya keluar dari area pesantren.
Sifa melajukan mobilnya dengan tenang, saat ini hanya dirinya yang menghendel butik. Nada sibuk dengan babynya.
Sifa melirik ke arah surat pengantar untuk Dani dan Emely, pikirannya melayang jauh. Ingin move on, tapi tidak semudah itu. Mungkin niat dalam hatinya sudah mantap, tapi harus disembuhkan dengan perlahan.
Sifa membuka ponselnya dan menekan nama Nada. Dia ingin meminta nomor ponsel Emely. Barang kali punya, karna nomor ponsel Emely yang di punyai Sifa tidak dapat dihubungi.
Sifa memakai head sheet di telinganya, menekan nomor ponsel Nada. Terdengar deringan ponselnya, dan terdengar sapaan seseorang dari sebrang sana.
"Halo Assalamualaikum Sifa, ada apa?" tanya Nada pada sekretarisnya itu.
Nada yang menimang bayi empat bulan itu menyapa dengan tenang, sang mantan casanova kini dibelakang istrinya, melingkarkan tangannya sambil mengusap usap pipi baby Dirly yang mengeliat manja.
"Kau membangunkannya Yang," lirih Nada sambil menatap Marvel Raditya Dika yang kini malah terkekeh.
"Waalaikumslam Nad, aku mengganggu?" tanya Sifa.
"Tidak sama sekali, ada apa?" tanya Nada pada Sifa.
"Boleh aku minta nomer ponsel Nona Emely?" tanyanya pada Nada.
"Aku ada tapi tidak bisa dihubungi sejak dia menghilang saat itu. Coba aku tanya Mas Radit, mungkin aja tau," ucap Nada.
"Oke, coba kamu tanyakan Nad," ucap Sifa.
__ADS_1
"Ada apa Dear?" Radit berdiri di samping Nada, merangkul pundak istri cantiknya yang kini tampak kerepotan itu.
"Yang, kamu tau nomor baru Emely?" tanyanya pada Radit yang menatap baby Dyrly yang kini kembali tertidur dengan tenang.
"Tidak, tapi aku sepertinya tau siapa yang punya," ucap Radit sambil tersenyum dan mengambil alih baby Dirly dari tangan istri cantiknya.
"Siapa?" tanya Nada.
"Dani," jawab Radit sambil terkekeh.
Nada memejamkan matanya, pernikahan Emely dan Dani sudah terdengar di telinganya sejak beberapa minggu yang lalu, itu semua karna kecelakaan yang dialami adik kandung Radit (Micel). Lalu, Nada juga tau jika Dani suka pada Sifa. Jadi, bagaimana perasaan Emely nanti jika saat ini Nada memberikan ponsel Dani pada Sifa? Oh No.
"Coba tanyakan padanya Yang," Nada meminta.
"Oke, tapi ada syaratnya." ucap Radit sambil menatap ke arah Nada dengan senyuman m*sumnya.
"Apa? Pasti kamu minta yang aneh kan?" tanya Nada sambil tersenyum memandang suaminya otak m*sum itu.
"No, aku hanya minta jatah s*su malam ini," lirih Radit sambil menatap ke arah Nada dengan mengedipkan matanya tangannya mengusap kepala berhijab wanita yang selalu membuat jatuh cinta sepanjang waktu itu. Nada menggelengkan kepalanya dan menatap ke luar sana.
"Nanti di bagi waktunya sama Baby Dirly, atur jadwalnya. Kalian harus diskusi dan dilarang bertengkar," ucap Nada dengan sebal sambil menghubungi ponsel Dani yang saat ini sedang berada di luar jangkauan.
"Sudah aku bilang kasih aku syarat itu, nanti aku kasih nomer ponsel Dani," ucap Radit. Nada memejamkan matanya, sepertinya memang tak ada pilihan lain.
Nada mendekat ke arah Radit, berjinjit dan memberikan satu kecupan manja di bibir suaminya.
"Oke, aku beri jatah nanti malam, sekarang panggil Dani dan beri aku nomer ponsel Emely sekarang juga," ucap Nada tampak kesal.
"Babu Dirly kau harus mengalah pada Papa malam nanti," ucap Radit sambil menyerahkan babu Dirly pada Nada. Nada hanya memutar bola matanya dengan malas.
Radit mengambil ponselnya dan membuat panggilan pada mantan asistennya itu.
Dan yang saat ini baru saja selesai meeting menautkan alisnya saat melihat nomer ponsel Radit memanggilnya.
"Ada apa kau menghubungiku Tuan Marvel Raditia Dika?" tanya Dani.
"Beri aku nomor ponsel Emely," ucap Radit. Dani menautkan alisnya dan terdiam. Dulu Emely suka pada Radit. Lalu untuk apa meminta nomer Emely?
__ADS_1
"Jangan berpikir macam macam, istriku bagiku lebih cantik dari milikmu, bahkan milik siapapun. Aku tidak akan macam macam, hanya saja istriku membutuhkan nomor Emely, berikan sekarang juga," ucap Radit.
Dani mengepalkan tangannya. Emely dan Nada? Mereka mempunyai kelebihan dan kekurangan masing masing. Dani menghela napas panjang dan mengeluarkan dengan pelan.
"Emely sempurna di mataku bos. Aku akan mengirimkan nomornya sekarang juga," ucapnya dengan nada malas.
Radit terkekeh pelan, tak menyangka saja bahwa mantan asistennya itu kini posesif juga sepertinya.
"Oke, pasangan kita memiliki kelebihan dan kekurangan masing masing Dan. Tampaknya kau sedang dalam mode kasmaran dan rindu berat, segera temui istrimu dan berikan ritual yang sama yang biasa aku lakukan bersama Nada, dan kau melihat dengan tak sengaja waktu itu. Dijamin krinduanmu akan hilang," ucap Radit kemudian menutup ponselnya.
Dani menghela napas panjang dan tersenyum tipis, ritual? Ritual rujak bibir Radit dan Nada yang sering dia pergokki saat itu. Emely? Apa yang dilakukan wanita itu? Kenapa saat ini dia ingin merasakan ritual yang sama?
-
-
Radit membuka ponselnya dan memberikan nomor ponsel Emely pada Nada. Nada tersenyum dan meneruskan pesan pada Sifa.
"Oke, aku sudah memberikan apa kemauanmu, jangan lupa nanti malam kita kenca* Nona Nada aira Azzahwa," ucap Tadi sambil men*ium mesra pipi mulus istrinya kemudian mencium pipi menggenapkan milik Dirly.
"Papa berangkat lagi ke kantor jagoan, jaga mama baik baik," ucap Radit kemudian melenggang pergi.
Nada menggelengkan kepalanya, Radit? suaminya itu selalu membuat dirinya mabuk kepayang.
-
-
Emely yang telah sampai di butik membuka pesan dari Nada. Rupanya nomor ponsel Emely baru. Segera wanita itu menghubungi, tapi ternyata Nihil. Kontak itu tak bisa dihubungi. Sifa menghela napas panjang. Jika begini, dia akan ke tempat Emely siang nanti.
Beberapa jam berlalu, jam istirahat telah tiba. Sifa memutuskan untuk pergi ke RE grup. Jam menunjuk pukul 12.00. Segera Sida menuju ke arah RE grup dan mencari Emely disana, akan tetapi saat ini wanita cantik itu tak ada di tempat. Mereka mengatakan bahwa Emely sedang keluar membawa tantang makanan.
Sifa menghela napas panjang dan menitipkan surat pengantar pada kasir. Mereka menerima dan diletakan di atas meja. Kini, di tangannya masih ada satu dan itu untuk Dani. Sifa memejamkan matanya haruskah dia ke ARW grup?
-
-
__ADS_1
Disebuah jalanan yang sepi menuju ARW grup, Emely tengah kebingungan. Pasalnya ban mobilnya tiba tiba kempes. Sedang ponselnya masih terasingkan karna takut membaca berita. Lalu, jam berapa dia sampai jika menunggu supirnya memperbaiki ban mobil? Emely menghela napas panjang dan mencoba untuk tenang.
***