Cintai Aku, Lupakan Dia!

Cintai Aku, Lupakan Dia!
CALD. Hanya Ingin Memelukmu


__ADS_3

Emely memejamkan mata indahnya, menemani tidur Ardani? Emely menghela napas dalam-dalam. Bagaimana bisa ini terjadi? Jujur, semalam tidurnya terasa tak nyenyak. Lalu, apa karna ada sesuatu yang kurang?


"Apa yang kau pikirkan?" Oma Rosy menepuk pelan pundak Emely. Tangannya terulur mengambil teh hangat di atas meja.


"Minumlah," ucap Oma Rosy sambil menatap kilat mata Emely yang sangat indah.


Emely tersenyum dan menerima teh hangat yang diberikan Nenek Rosy.


"Terimakasih, Bu...." Emely berucap. Oma Rosy tersenyum dan mengusap pelan pundak Emely kembali.


"Panggil Oma, cucu-cucu oma biasanya memanggil Oma Rosy," ucap Oma Rosy dan dibalas anggukan oleh Emely.


"Istirahatlah, ini sudah malam. Pasti tubuhmu butuh istirahat," ucap Oma Rosy sambil berdiri dan mengusap lembut kepala Emely.


"Oma keluar dulu," ucap Oma Rosy kemudian melangkah keluar dari kamar itu.


Emely menatap kepergian wanita berusia lanjut itu. Emely memejamkan matanya sejenak, kemudian membuka matanya kembali dan melihat jam yang menunjukan pukul 19.30.


Ini adalah malam dimana dia harus bertemu dengan Raymon. Mencari kesepakatan hubungan agar semuanya jelas, lalu bagaimana bisa dia malah berada di sini?


Ya Allah, bantu aku untuk keluar dari masalah ini. Bantu aku untuk menentukan kemana aku harus berlabuh. lirih Emely.


🎀🎀🎀


Dani berada di taman belakang dengan Dafa Asisten pribadi yang selama ini membantu mengurus ARW group. Beberapa laporan dia terima, perusahaan kembali stabil saat ini membuatnya dan Ganesa merasa lega. Ganesa dan Dafa adalah orang kepercayaan dan salah satu saudara sepupu.


"Sekarang semuanya sudah beres, kau tidak perlu hawatir. Yang perlu kau hawatirkan bukan perusahaan lagi, lagi pula orang suruhan Tuan Shien sudah juga aku beri peringatan untuk tidak bertindak curang lagi," ucap Dafa dan diangguki oleh Ardani.


"Terimaksih karna kau semuanya bisa diatasi," ucap Dani.


"Ya, semua bisa diatasi olehku Bro, yang tidak bisa hanya satu," ucap Dafa sambil mengambil jus yang ada di meja.


"Apa?" tanya Ardani sambil meneguk segelas coffe late.


"Perasaanmu," ucap Dafa dan mampu membuat Dani menatapnya dengan tajam.


"Kenapa perasaanku?" tanyanya pada Dafa.


"Sepertinya kau sedang tidak baik-baik Saja Dan, aku kenal kau sejak kecil. Jika bukan karna wanita kau tak akan seperti ini," ucap Dafa sambil tersenyum megoda sahabat baiknya itu.


"Jangan mulai, kau tidak tau banyak tentangku," ucap Dani dan mampu membuat Dafa terkekeh pelan.

__ADS_1


"Tidak tau sedikit, tapi aku tau banyak. Heran saja, aku dengar dari Om Hendra kau menikah. kemudian sekarang kau sepertinya tengah jatuh cinta pada istri sirimu sehingga membawanya kesini. Sebaiknya kau segera mengatakan cinta padanya," ucap Dafa dengan kekehan tawa.


"Kalau bicara jangan ngawur, lagian aku membawanya ke sini karna dia tak sadarkan diri tadi," ucap Dani dan diangguki oleh Daffa.


"Oke, aku tau itu. Tapi kau tidak bisa berbohong padaku Dani," ucap Dafa sambil meneguk minuman yang berada di atas meja.


"Apa maksumu?" sentak Dani.


Dafa berdiri dan menatap keponakannya itu. Dilemparnya bunga mawar merah pada Dani dan tersenyum.


"Berikan itu padanya, atau aku saja yang memberikan pada wanita cantik itu. Sekelebat melihat tadinya aku pikir bidadari," ucapnya sambil terkekeh pelan.


"Diam ditempat, jangan mengganggunya!" sentak Dani.


Gelak tawa terdengar di telinga Dani, netranya menatap waspada ke arah Dafa yang kini menyandarkan punggunggnya di kursi.


"Ya Tuhan, beri wanita cantik sepertinya padaku. Atau jika sepupuku tak mau mengakui istrinya, jodohkanlah denganku saja," ucap Dafa.


Dani mengepalkan tanganya, dilemparnya sebungkus rokok yang kini berhasil ditangkap oleh Dafa dan tertawa.


"Istri siapa maksudnya?" suara itu membuat Dani dan Dafa menoleh. Dani dan Dafa saling berpandangan dan tak menjawab pertanyaan yang dilontarkan omanya. Oma Rosy pasti akan meledak ledak nantinya. Dafa memang sangat menjengkelkan. Pikir Dani.


"Dani, kau janji akan menceritaka siapa dia pada oma. Sekarang ceritakanlah," ucap Oma Rosy sambil menatap Dani dengan penuh tanya. Dani terdiam dan menatap omanya.


"Dani," ucap Omanya lagi. Dani menghela napas panjang.


"Namanya Emely, Rakhayla Emely Pradikta," ucap Dani sambil menatap ke arah omanya.


Oma Rosy menautkan alisnya, pikirannya membayangkan wajah cantik Emely yang cantik kemudian membayangkan rasa masakan enak Emely. Ada rasa kagum pada wanita cantik itu, wanita yang kata Dafa tadi adalah istri Dani dan secara otomatis menjadi cucu menantunya itu.


"Lalu?" tanya Oma.


"Kami telah menikah siri, beberapa hari yang lalu. Kami menikah karna sebuah keterpaksaan, berkas pernikahan kami sudah masuk ke KUA." ucap Dani sambil menatap ke arah omanya.


"Kenapa bisa terpaksa dan dipaksa?" tanya Oma dengan sorot mata tajamnya.


"Itu karna,,,"


Dani menghentikan ucapannya, itu semua berawal dari emosionalnya.


"Pasti ini karnamu bukan?" ucap Oma Rosy pada Dani.

__ADS_1


"Aku membawanya ke sebuah desa karna dia adalah pelaku penabrakan Micela. Kemudian kami bertengkar, para warga datang dan menuduh kami mesum," ucap Dani.


Oma Rosy terkekeh dan menatap Dani dengan tenang.


"Dani, Dani, kau itu selalu seperti itu. Dari kecil, selalu saja kasar, padahal kalo udah kasar kau itu menyesal. Oke, kalo Emely adalah istrimu, dia boleh bermalam disini. Sekarang sebaikanya kau datangi istrimu, dia sudah sadar," ucap Oma Rosy sambil menepuk pelan pundak Dani.


Dani memejamkan matanya, berdiri atau tidak? Yang pasti dia merasa lega mendengar Emely sudah sadar.


"Sudah, cepet kesana," Dafa menggoda.


Dani menatap ke arah Dafa. Ingin rasanya menonjok kepala Dafa itu.


"Atau kau mau aku yang kesana?" tanya Dafa lagi. Dani mengepalkan tangannya, benar benar jengkel mendengar ucapan sepupunya itu.


Dani berdiri dan melangkahkan pelan.


"Dan," panggil Dafa.


"Apa?" tanya Dani.


"Tangkap," ucap Dafa sambil melempar bunga mawar merah pada Dani. Dani menangkap bunga itu. Menatap bunga itu.


"Berikan pada Emely, kalo kau malu. Bilang saja itu dariku," teriak Dafa.


Dani tersenyum sinis, tanpa menjawab ucapan Dafa, kini Dani kembali melangkah menuju ke atas sana.


"Dafa, Dafa, kenapa itu sepupumu tak pernah berubah? Tetap saja semaunya sendiri," ucap Oma Rosy.


"Biarkan Oma, Suatu saat pasti akan berubah," ucap Dafa sambil merangkul pundak omanya.


🎀🎀🎀🎀


Dani membuka pintu kamarnya, dirinya melihat Emely yang memandang bulan di atas sana dari jendela kamar. Dani mendekat ke arah wanita cantik yang kini memeluk tubuhnya sendiri karna kedinginan.


Dani memejamkan matanya, entah dorongan dari mana Dani memeluk Emely dari belakang, menyandarkan dagunya di pundak Emely.


Emely terkejut ketika mendapat pelukan dadakan dari Dani. Netranya menatap ke arah bunga mawar yang ada di tangan Dani.


"Jangan memberontak, jangan katakan satu kata pun. Aku hanya ingin memelukmu sebentar saja," ucap Dani.


🎀🎀🎀🎀🎀

__ADS_1


__ADS_2