
Emely menatap kepergian suaminya, kenapa merasakan sesak saat harus berpisah seperti ini? Hatinya juga merasakan sedikit sakit, harusnya Dani minta maaf atas ulahnya dulu. Walau dia bercerita dan tak sengaja sudah menjelaskan kalau Dafa yang usil. Tapi tetap saja dirinya sedikit kesal.
Harusnya kali ini dia menjelaskan kejadian saat itu, bernostalgia. Memeluknya, mengusap air matanya. Berbahagia dengan keluarga seperti pasangan yang dia lihat di taman itu. Lalu kenapa dia malah pergi tanpa memberi tau kabar apa yang dia dapat? Kenapa membuat Emely hawatir? Kenapa Dani meninggalkan saat semuanya bahagia?
Emely menghela napas panjang, netranya menatap ke arah sana. Rasa sesak bersarang di otaknya sehingga Emely segera mengusap air matanya dan bergabung dengan keseruan orang orang yang sedang berkumpul disana.
Emely berjalan ke arah dimana Nada, Micel dan juga Davina berada. Nada tersenyum dan menatap wanita cantik yang menggunakan baju gamis sepertinya.
"Hai, kenapa bersedih Em? Dani akan cepat kembali, dia bilang sama Mas Radit tadi hanya sebentar," ucap Nada sambil tersenyum.
"Hem, aku hanya menghawatirkannya," ucap Emely sambil menatap ke arah Baby Dirly yang begitu menggemaskan.
"Hay sayang, teman kamu masih ada disini," ucap Emely sambil menunjuk ke arah perut datarnya. Nada dan Micel tersenyum sambil menatap Emely.
"Ada di perut Micel juga," ucap Nada. Emely melirik gadis cantik yang ada di sebelahnya. Gadis cantik, istri kecil dari kakaknya. Lalu, apa dia harus memanggilnya Kak Micel?
"5 Minggu usia kandungan aku, lalu berapa minggu usia kandungan kakak?" tanya Emely pada Micel. Walau masih sedikit canggung, dia mencoba untuk akrab. Baginya Micel tidak salah apapun, dirinya juga. Dan semua yang terjadi karna sebuah takdir.
"4 minggu," jawab Micel. Emely memejamkan mata indahnya. Apa saatnya nanti mereka akan melahirkan bersamaan? Emely terkekeh pelan. Sepertinya lucu jika nanti dia dan Micel mengasuh anak bersama sama.
"Sepertinya kita harus sama sama mengasuh mereka, bebarengan," ucap Emely sambil menatap ke arah Micel. Micel tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Mungkin itu lebih asik," jawabnya.
Nada tersenyum, melihat interaksi dua wanita cantik yang kini tampak hangat itu.
...----------------....
Dani yang dihubungi Dafa kini menyusul ke arah tempat dimana Dafa berada, segera lelaki tampan itu membuka sebuah apartemen mewah milik sepupunya.
Dilihatnya Dafa yang tampak panik dan memijat pelipisnya.
"Dafa, ada apa?" Dani yang tampak hawatir menatap ke arah sepupunya dengan panik. Dafa berdiri, menyambut kedatangan Dani yang tampak bingung.
"Lelyta menghilang Dan," ucapnya.
__ADS_1
Dani menghela napas panjang. Lelyta hilang? Lelyta adalah satu satunya orang yang bisa menjadi tempat nya mencari informasi. Lalu, bagaimana bisa asisten Emely itu menghilang?
"Bagaimana bisa?" tanya Dani. Bahkan kebenaran tentang Raymon dan Tuan Wilson belum terungkap. Lalu, bagaimana bisa wanita itu menghilang?
"Bukankah kau sudah membayar Tuan Wilson untuk mengambil wanita itu?" tanya Dani.
"Itu yang aku bingung, dia memang sengaja pergi atau karna diculik," ucap Dafa.
"****," umpat Dani.
"Kau cari Lelyta, aku butuh wanita itu untuk menjebloskan Tuan Wilson ke penjara. Dia harus mendapatkan hukuman atas apa yang dia lakukan. Selama itu pula, kau harus menyembunyikan identitas CEO ARW. Jangan sampai dia tau tentang identitasku," ucap Dani.
"Baik Dan, aku akan segera mencari Lelyta," ucap Dafa.
"Bagus, jangan biarkan wanita itu menderita," ucap Dani kemudian melenggang pergi.
Dafa menghela napas panjang, otaknya berpikir keras, kemana perginya wanita itu?
...****************...
Dani segera mengendarai mobilnya, ia melirik ponselnya. Ingin menelpon istrinya yang tadi ngambek padanya karna masa lalu yang belum terselesaikan. Akan tetapi nasip sial menimpa dirinya. Ponselnya lowbet, dan kehabisan daya.
Putar balik? Dibelakang sudah ada juga mobil yang menghadangnya.
"****, siapa mereka?" umpatnya.
Apa mereka sudah mengintainya? Untung saja Dafa tidak ikut. Jika terjadi apa apa padanya. Pasti Dafa bisa menyelesaikan semuanya. Pesimis? Ada, lawanya sepertinya terdiri dari 10 orang lebih. Dia hanya punya satu nyawa. Namun, entah apapun itu dia akan tetap berusaha melawan demi bisa bertemu dengan istri tercintanya.
"Keluar kau," seseorang mengetok pintu mobil. Meminta Dani untuk segera keluar.
"Apa yang kalian minta?" tanya Dani sambil melirik ke arah orang yang menyedekapkan tangannya du depan dada dengan santai, akan tetapi menatapnya dengan tajam.
"Ikut kami," ucapnya.
"Cuih, jangan harap. lawan aku satu persatu, jika aku kalah aku akan ikut kalian," ucapnya dengan ketus.
__ADS_1
Jawaban Dani membuat orang orang itu tersulut emosi, dengan cekatan beberapa orang menyerang. Dani memukul, membagi tendangan, memberikan perlawanan. Beberapa menit berlalu dan Dani yang memegang kemenangan.
Beberapa orang tumbang, dan beberapa orang lainya kembali berdiri.
"Mau lanjut?" tanyanya dengan mengibaskan jasnya dengan elegan. Dia juga menyeka sudut bibirnya yang berdarah.
"Jangan senang dulu kau," beberapa orang maju dan melawan. Di belakang sana, seseorang yang baru saja bangkit mengambil subuah balok kayu yang besar. Saat Dani masih menyerang, orang itu memukul leher Dani dari belakang.
Bug
Dani tampak lemas, syarafnya seakan lemah. Semua pandangan tampak gelap. Yang ada di bayangannya adalah wajah istrinya.
"Em, jaga dirimu," ucap Dani kemudian hilang kesadaran.
...****************...
Mansion keluarga Pradikta sudah sepi, semua orang telah berpamitan untuk pulang. Waktu menunjukkan pukul 23.00 dan Dani belum juga kembali. Emely memejamkan matanya sejenak. Dimana suaminya? Apa yang terjadi padanya? Kenapa tak kunjung pulang?
Emely mencoba membuat panggilan dan tak bisa masuk.
Emely duduk dengan gelisah, rasanya dia hawatir. Dia ingin segera bertemu Dani, ingin memeluknya, dia sangat merindukannya. Emely mencoba tenang, mendudukan dirinya di sofa.
Tak lama dari itu, netranya melirik ke arah satu pesan masuk dari nomer baru. Netranya menatap waspada.
"Nomer siapa ini?" lirihnya.
Dengan perlahan Emely membuka ponselnya dan mendengarkan rekaman suara yang dikirimkan oleh pemilik nomer baru itu.
Air mata Emely mengalir deras.
"Aku akan melakukannya, kau tenang saja Tuan. Aku akan membantumu menghancurkan Emely yang telah merusak pernikahanmu, aku akan menjebaknya dan aku akan membantumu mendapatkannya. Bukankah setelah berhasil membuatnya jatuh cinta kau akan membuangnya? Tapi, kau harus membayar mahal itu semua,"
Emely mengusap air matanya, bukankah itu suara Lelyta? Apa Dani yang diajak bicara? Apa Lelyta dan Dani yang sengaja menjebak? Apa Lelyta sejahat itu?
Dada Emely terasa sakit, terasa sesak. Dia mencoba menghubungi nomer ponsel yang mengirimkan suara Lelyta itu tetapi sudah tidak aktif. Emely panik, dan tubuhnya terhuyung. Dia merasa lemah dan runtuh.
__ADS_1
"Ya Allah SWT, apa lagi ini?"
😪😪😪