
Emely menatap papanya yang tampak sedang memandangnya.
"Pa, kenapa memandangku seperti itu?" tanya Emely. Papa Pradikta mengusap pelan pundak Emely.
"Mobilmu di bengkel, tak ada taksi online, pak supir juga tidak menjemputmu, kau pulang dengan siapa?" tanyanya pada putri cantiknya.
Emely tampak tersipu, bayangan wajah Dani mengiang di otaknya. Bahkan, dia sampai lupa menanyakan kenapa mobil Raymon ada di depan sedangkan orangnya tidak ada di sana.
"Aku diantar," ucap Emely.
Papa dan Mamanya menatap Emely yang tengah memakai baju syar'i. Putrinya itu terlihat sangat cantik sekali.
"Sepertinya banyak cerita yang harus Em perdengarkan pada Mama dan Papa," ucap Papa Pradikta sambil tersenyum.
Emely berjalan ke arah sofa dan duduk di sana. Papa Pradikta dan Mama mengikuti langkah kaki putrinya itu. Rasa penasaran menjelajah di pikiran mama dan Papa.
"Sebelum Em bercerita, alangkah baiknya papa menjelaskan, kenapa ada mobil Raymon di depan. Kenapa juga tadi mama menyebut nyebut nama Helena? Bukankah Helena nama ibunya Raymon?" tanya Emely sambil membuka lemon tea yang ada di meja.
Mama Elyna memyandarkan dirinya di sofa dan mengambil camilan yang tersedia di meja juga.
"Nyonya Helena kesini untuk menanyakan sertivikat perusahaan. Dia menginginkan tanda tangan yang sah dari papamu," ucap Mama Elyna dengan tenang.
"Tanda tangan apa?" tanya Emely.
"Sebetulnya, saat perjodohan berlangsung, papamu menitipkan perusahaan yang ada di pulau B pada mereka. Papa mengatakan bila Raymon menyakitimu, maka papamu akan mengambil kembali perusahaannya. Mereka berpikir, jika kamu yang berhianat, maka mereka yang akan memiliki seutuhnya perusahaan itu," ucap Mamanya.
Emely membelalakan matanya, apa apaan ini? Sangat tidak masuk akal. Bagaimana bisa mama Raymon berpikir seperti itu? Apa cinta bisa diukur dengan harta?
"Pa, bagaimana bisa begitu? Ini tidak masuk akal, bagaimana bisa tante Helena meminta yang bukan haknya?" protes Emely.
"Ini tidak bisa dibiarkan Ma, Pa, lagi pula aku bukan barang taruhan seperti itu. Bagaimana bisa Om Wilson dan Tante Helena melakukan ini?" cerocosnya panjang lebar.
Emely mengambil ponselnya dan menekan tombol panggil. Emely memanggil nama Raymon dan tak ada jawaban. Apa Raymon tau tentang ini? Bagaimana bisa? Emely merasakan sakit dalam hatinya.
"Jika harus seperti ini, tidak kembali pada Raymonpun Aku bersedia Pa, Ma. Berikan perusahaan itu, harga diriku lebih berarti dari sebuah perusahaan," ucap Emely.
__ADS_1
"Em, tenanglah Nak. Jangan seperti ini, ini yang mama takutkan. Mama takut kamu terluka karna kesalahpahaman mereka, padahal bukan itu maksud papamu yang sebenarnya," ucap mamanya.
"Kenapa tante Helena setega ini? Bagaimana bisa dia melakukan ini? Mereka datang dan tanpa ada urat malu meminta persetujuan papa. Lalu, apa mereka pikir aku bahagia dengan berpisah dengan Raymon?" tanya Emely. Emely mengepalkan tangannya. Rasa sakit menghujam dalam hatinya. Air matanya berderai. Kenapa seakan dia kehilangan semuanya? Kehormatan, kepercayaan, cinta, semuanya terasa sesak dalam jiwanya.
"Sayang, kau tau betul bagaimana Tante Helena. Raymon dan Om Wilson mungkin tidak tau kejadian ini, kita bicarakan lagi besok pada saat Raymon dan papanya datang. Sekarang istirahatlah, oke," ucap Papa Pradikta sambil mengusap pelan puncak kepala Emely.
Emely hanya diam, Papa Pradikta mengecup pelan puncak kepala putrinya. Begitu juga dengan Mama Elyna.
Mama Elyna melihat suatu yang aneh di leher Emely, tidak pernah sekalipun tanda itu di ketahui sejak dulu.
"Em," Mama Elyna menatap Emely dengan tenang. Mengusap air mata Emely dengan sayang.
"Mama boleh tanya sesuatu?" ucapnya lirih.
Emely menganggukan kepalanya. Tadinya dia mau cerita, tapi rasanya hatinya tak sanggup untuk itu.
"Apa Ma?" tanyanya.
"Apa leher kamu digigit serangga? Kenapa merah merah?" tanya mamanya. Tau kesedihan dalam hati Emely, mamanya mencoba untuk menghiburnya.
Emely menatap kaca rias di depannya, memejamkan matanya. Bagaimana bisa dia lupa menyamarkan tanda merah yang diciptakan Dani dan tak kunjung hilang itu?
"Pa, itu serangga macam apa yang menggigit? Papa tau tidak kira-kira?" tanya mamanya. Emely tampak merona.
"Serangga lelaki mungkin ma, soalnya genit kayaknya" sahut papanya mencoba membuat tawa.
"Mama dan Papa Keluar, aku mau sendiri. Besok, jangan biarkan Raymon menemui aku, katakan padanya aku tidak ada," ucap Emely yang tampak malu sambil mendorong Papa dan mamanya keluar dari kamarnya.
"Em, tapi mama masih belum mendapat jawaban darimu, Nak! Mama hawatir ada serangga juga di kolong tempat tidurmu," ucap Mama Elyna. Emely tak menghiraukan ucapan mamanya dan malah mengunci kamarnya.
Emely menyandarkan tubuhnya di pintu kamar, rasa sesak beegelayut dalam hatinya. Apa yang akan terjadi bila papa dan mamanya tau jika putrinya bukan gadis lagi? Emely mencoba menenangkan dirinya.
"Ya Allah SWT, mudahkanlah urusanku," lirihnya kemudian membaringkan tubuhnya di ranjang.
😍😍😍🎀🎀🎀
__ADS_1
Nyonya Nina dan Sinta tengah berada di mansion keluarga ARW. Mereka berdua baru saja datang dari desa itu.
Berharap dia bertemu dengan Ardani dan wanita itu. Akan tetapi mereka kalah cepat. Wanita itu dan juga Dani sudah tidak ada di tempat.
"Tante, apa yang harus kita lakukan? kenapa informasi tentang wanita itu sulit untuk ditemukan? Apa dia berasal dari keluarga berada?" tanya Sinta dengan tenang.
"Kau pikir aku tidak bisa melihat mana berlian dan mana sampah? Aku yakin, dia hanya wanita rendahan yang hanya akan menyusahkan kehidupan Dani. Tante tidak bisa membiarkannya, pernikahanmu gagal. Dan sampai saat ini tante belum memberi perhitungan dengannya, tante pastikan dia tidak akan bisa hidup dengan tenang," ucap Nyonya Nina menggebu.
Sinta tersenyum tipis, walau belum menikah. Yang pasti dia mengantongi restu dari Nyonya Nina. Itu lebih dari cukup untuk menekan Ardani.
"Nyonya, Nona, makan malam sudah siap," ucap pelayan.
Nyonya Nina dan Sinta yang merasa kelaparan segera menuju ke ruang makan.
Di waktu yang bersamaan, Papa Hendra, Ganesa dan juga Ardani baru saja keluar dari ruang kerja. Meeting dadakan dilakukan untuk menghalau masalah yang terjadi akibat ulah Papa Sinta.
Sinta yang mengetahui Dani tampak bahagia.
"Malam Om, Ganes, dan Kamu Dani," ucap Sinta dengan senyum ramahnya. Papa Hendra tersenyum, Ganesa dan Dani melewati dua perempuan itu begitu saja.
Sinta mengepalkan tangannya, segera dia mengejar langkah Dani yang kini berjalan bersama dengan adiknya.
"Dani, kita harus bicara," ucap Sinta.
"Aku tidak ada waktu, ini sudah malam. Aku harus bekerja besok pagi pagi sekali," ucap Dani.
"Aku ke atas dulu Kak," Ganes berpamitan dan melenggang pergi.
"Dani, aku..."
"Maaf, aku tidak ada waktu," ucapnya kemudian melenggang pergi.
Sinta mengepalkan tangannya dan menatap kepergian Dani dengan geram.
"Awas kau pelakor, saat ini aku belum ketemu kamu. Aku pastikan kau akan menderita jika ketemu," lirih Sinta.
__ADS_1
😍😍😍