
Dimalam yang sama, di tempat yang berbeda. Raymon sedang mengerjakan beberapa berkas yang begitu menguras waktunya. Bahkan hanya untuk menghubungi Emely sepertinya sangat sulit. Untuk sekedar berbagi waktu juga entah tidak bisa.
Perusahaan yang dia pegang sedang berada di puncaknya, suntikan dana yang mengalir dari Pradikta Group sangat membantu perkembangan perusahaannya. Enggan turun dan terpuruk, dia berusaha keras untuk menstabilkan terus perusahaan dengan caranya.
Raymon melirik jam yang melingkar di tangannya, waktu menunjukan pukul 22.00. Raymon menghela napas panjang dan menyandarkan tubuhnya di kursi putarnya. Diraihnya ponsel yang sedari pagi dia silent, dilihatnya nama Emely menghubungi beberapa kali dan dia tak menjawabnya.
Raymon tersenyum, Emely sangat baik. Walau dia mungkin jengkel, tak sekalipun wanita itu marah. Dia selalu mengerti keadaan Raymon dan selalu memberikan dukungan, seperti beberapa tulisan pesan WA yang dikirim Emely 10 jam yang lalu.
Darling, semoga urusanmu cepat kelar dan bisa ada untukku.
Alhamdulilah, urusan dengan polisi sudah kelar kemarin. Sekarang aku mau ke rumah sakit. Kamu semangat, biar kita bisa bertemu.
Aku baru aja beli gaun, sepesial untukmu. Nanti malam kalau kamu ada waktu kita bertemu. Aku akan memakainya untuk bertemu denganmu.
Makan siang dulu, jangan lupa kesehatan.
__ADS_1
Raymon tersenyum membaca pesan-pesan dari Emely, akan tetapi pesan terakir Emely dua jam yang lalu membuat hatinya gusar.
Kenapa tidak memperdulikan aku sedikitpun? Coba membalas satu pesanku saja Beb. Aku sedang butuh kamu, ada yang ingin aku ceritakan.
Oke, jika memang tidak bisa bertemu malam ini. Aku hanya meminta izin, akan memakai gaun yang aku siapkan untuk bertemu, karna saat ini aku tak ada baju. Selamat beraktifitas, semoga sukses selalu.
Raymon mengusap kasar wajahnya, pasti Emely sedang kecewa. Bagaimana bisa dia mengabaikan wanita seperti Emely? Haist, dia bekerja keras juga untuk Emely nantinya. Raymon menekan kontak Emely dan tak ada jawaban.
Raymon memejamkan matanya, membuka ponselnya untuk bisa mengetahui keberadaan Emely. Besok hari minggu dan dia ada waktu untuk bertemu. Sepertinya tak bisa menunggu besok, malam ini juga dia harus segera bertemu dengan Emely, saat ini dia sedang gelisah, wajah Emely mengiang di kepalanya.
🎀🎀🎀🎀🎀
Di sebuah pesantren kecil, pesantren yang di pimpin oleh KH Yusuf Sahroni. Pesantren yang dihuni oleh para santri yang tengah menghafalkan Al- Quran.
Di ndalem, Kyai Yusuf tengah memandang ke atas sana. Dipikirannya, masih berpikir tentang kejadian setelah magrib tadi. Beliau menikahkan seseorang, walau itu adalah munfakat terbaik dari diskusi dengan beberapa perangkat desa, akan tetapi melihat raut wajah Emely membuat dia yakin bahwa memang tidak ada apa apa diantara mereka, sehingga beliau masih terngiang.
__ADS_1
"Bah, kenapa masih disini? Abah memikirkan sesuatu?" putri cantiknya yang saat ini bekerja pada butik ternama mendekat ke arahnya.
Kiai Yusuf menoleh ke arah Asyfa Azzahra. Putri ke tiga dari pernikahannya dengan Hj. Nikmatul Aniza. Putri yang memilih bekerja dari pada berdiam di rumah dan mengurus pesantren. Putri yang sedikit bandel dari kedua kakaknya. Pasalnya kedua kakaknya yang mengurus pesantren.
"Sifa, abah hanya memikirkan kejadian tadi sore. Entah kenapa, abah masih saja memikirkannya," ucap Kiai Yusuf dengan tersenyum. Sifa duduk di samping abahnya dan menyandarkan kepalanya di pundak Kiai Yusuf. Sifa mendengar cerita abahnya tadi sore, jika beliau menikahkan seseorang.
"Itu mungkin karna Abah selalu mengingatnya, Abah jangan banyak pikiran." Sifa menasehati. Kiai Yusuf tersenyum dan mengusap pundak putrinya.
"Sifa, sepertinya Neng yang disana tidak membawa baju ganti. Alangkah baiknya kamu memberikan salah satu bajumu untuknya. Kamu juga bisa berkenalan dengannya, kamu ajak ke sini. Mereka masih ada di sini sampai berkas pernikahan selesai, kamu ajak Nengnya sholat disini jika mau," ucap Kiai Yusuf.
Sifa mengangguk pelan dan melihat ke arah abahnya.
"Siap Bah, besok pagi Sifa ke sana. Lagian Sifa juga libur," ucap Sifa dengan tenang.
Kiai Yusuf mengusap pelan puncak kepala Sifa dan beediri hendak masuk ke ndalem. Sifa menghela napas panjang dan menatap punggung abahnya yang menjauh darinya.
__ADS_1
🎀🎀🎀🎀