Cintai Aku, Lupakan Dia!

Cintai Aku, Lupakan Dia!
CALD. Mencari Dani


__ADS_3

"Kau sedang bergurau?" Emely bertanya pada Sinta dengan ragu. Apa dia benar benar tulus?


"Aku tidak bergurau Em, aku tau ayahku bagaimana. Makanya aku akan menunjukkan jalannya untukmu," jawab Sinta.


"Tapi jika kau hanya dengan Dafa ini sangat bahaya. Sepertinya kau istirahat dirumah itu lebih baik Em," ucap Sinta.


"Apa yang dikatakan Sinta benar kakak ipar," ucap Dafa. Dafa kini menatap ke arah kakak iparnya dengan memohon. Dia membenarkan apa kata Sinta, akan tetapi Emely menggeleng pelan.


Emely bertekat harus ikut, dia tak bisa istirahat dengan tenang sebelum Lelyta dan juga Dani suaminya ditemukan.


"Aku tidak bisa berdiam Dafa," ucap Emely.


"Oke jika memang seperti itu, aku akan meminta bantuan pasukan pengaman dari Om Hendra dan juga Om Pradikta," ucap Dafa sambil meraih ponsel yang ada di saku celananya. Kemudian dia membuat panggilan pada Om Hendra.


"Halo Daf ada kabar dari Dani?" tanya Om Hendra tampak panik di sebrang sana.


"Om, aku sedang bersama Sinta, dia memberikan beberapa tempat rahasia. Jika memang ini ada hubungannya dengan Tuan Shien, maka kemungkinan kita bisa menemukan Dani dan sahabat Emely. Jadi sekarang butuh bantuan pasukan Om," ucap Dafa.


"Oke, jika begitu. Om akan mengirimkan untukmu. Om harap kamu tidak memberitau Emely dulu, biar Om yang akan memberi tau om Pradikta," ucap Papa Hendra tampak cemas.


"Maaf Om, sebenarnya semua kabar ini adalah kabar yang berhasil diketemukan oleh kakak ipar, kakak ipar juga berada disini," ucap Dafa.


Papa Hendra tampak membelalakkan matanya. Emely yang menemukan? Bagaimana dia bisa bertemu dengan Sinta.


"Siapa maksudmu? Emely ada bersamu?" tanya Papa Hendra mencoba memastikan.


"Iya Om, bahkan kakak ipar juga nekat ingin ikut. Makanya aku meminta pasukan untuk melindunginya," ucap Dafa.

__ADS_1


Papa Hendra menghela napas panjang, bagaimana bisa Emely ikut?


"Berikan ponselnya pada Emely, Om ingin bicara padanya," ucapnya.


"Baik Om," jawabnya.


Dafa segera memberikan ponsel pada Emely, Emely segera menerima ponsel yang diberikan oleh Dafa.


"Halo assalamualaikum Pa," sapa Emely pada papa mertuanya.


"Waalaikumsalam Nak, apa kau benar benar mau ikut? Itu bahaya Em, papa tak mau kamu dan calon cucu papa kenapa napa," ucap papa Hendra terdengar panik. Emely terdiam, dia tau itu. Tapi dia tak bisa hanya diam dirumah tanpa kabar.


"Tapi Em ingin segera bertemu Mas Dani Pa," sanggahnya.


"No! Kamu dirumah bersama Mama, papa akan ikut, papa tidak mau terjadi sesuatu apapun denganmu. Tuan Shien sangat berbahaya Nak, sedikit banyak papa tau kenapa mereka melakukan ini. Jadi kamu tetap di rumah, papa akan meminta Ganesa menjemputmu," ucap Papanya.


Emely memejamkan matanya, sebenarnya dia ingin memberontak. Tapi sepertinya apa yang dikatakan mertuanya benar. Dia harus menjaga kandungannya.


"Oke, tetap disitu, papa akan segera menyusul," ucap papa mertuanya lagi.


Emely menyerahkan ponsel pada Dafa, kemudian meraih ponselnya dan mengetikan satu pesan pada Vino.


Kak, sudah ada kabar dari Mas Dani. Aku butuh bantuan kakak. kirim.


"Bagaimana Em?" tanya Sinta.


"Kau akan pergi bersama Dafa dan Papa, papa melarangku ikut," ucap Emely tampak kecewa.

__ADS_1


"Syukurlah kalau begitu. Itu memang sangat bahaya untukmu, kau tenang saja, aku akan memberi tau om Hendra dan juga Dafa, aku rasa om Hendra tidak asing dengan tempat itu," ucap Sinta. Emely mengangguk pelan.


"Tapi aku mohon, Dafa. Segera hubungi aku jika ada informasi yang penting," ucap Emely.


"Kau tenang saja kakak ipar," jawab Dafa.


Tak lama dari itu, dua mobil berhenti di sebrang jalan. salah satu diantaranya adalah mobil papa Hendra yang kini tampak membuka pintu dan keluar, kemudian dia berjalan ke arah Emely dan gerombolannya yang kini duduk di bawah pohon yang rindang.


"Bagaimana?" tanyanya saat sudah mendekat ke arah Emely. Emely bersalaman pada mertuanya dan menatap ke arahnya.


"Sinta akan menemani kalian menunjukkan jalanya pa," ucap Emely.


"Sebeiknya kita segera bertindak," ucap papa Hendra dan diangguki Dafa, sinta dan juga Raymon.


"Kau pulanglah bersama Ganes," ucap papa Hendra saat Ganes baru saja sampai di depannya.


"Baik pa," jawab Emely.


"Berdoalah, semoga tak terjadi apapun dengan Dani," ucapan papa Hendra sambil mengusap pelan pundak Emely.


Emely mencoba tersenyum, tapi air mata tak bisa ditahan. Meleleh di pipi cantiknya.


"Papa hati hati," jawabnya.


"Hem, Ganes jaga kakak ipar. Segera antar pulang karna mama menunggu," ucapnya kemudian melenggang pergi diikuti Sinta, Dafa dan Raymon.


Emely dan Ganes saling berpandangan, keduanya yang sangat akrab itu tampaknya sedang mempunyai misi yang sama.

__ADS_1


"Kau yakin akan pulang?" tanya Emely pada Ganesa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2