
Emely menggeleng pelan, tangan kanannya terulur mengusap lembut pipi Dani dengan jari jemarinya yang sangat halus.
Dani memejamkan matanya saat tangan Emely dengan jari lentik itu mengusap pipinya dengan tenang. Perasaan nyaman hadir dalam reluk hatinya, Dani membuka matanya. Menatap wajah cantik tanpa make up itu. Wajah cantik tanpa polesan yang terlihat sangat menawan.
Tak sanggup Dani mengedipkan matanya, terpesona? Entahlah, yang jelas sejak bertemu dengan Emely, baru kali ini dia melihat daya tarik tersendiri dari istrinya itu. Entah dorongan perasaan apa membuat Dani meraih pinggang Emely. Menatap lekat mata coklat dengan bulu mata lentik itu.
Ada geleyar aneh saat dia Emely memperlakukannya seperti ini, Emely mendongak menatap wajah tampan yang kini berada tak jauh darinya. Wajah tampan yang sangat dibencinya. Sangat benci, Emely mengeratkan tangan kirinya. Bayangan Dani memperlakukan dirinya dengan lembut masih teringat jelas di pikirannya.
Tak lama dari itu, Emely menggerakan tangannya, membuat tekanan di pipi Dani, mere*mas pipi Dani dengan gemas. Dani mengernyit saat pipinya merasa sakit.
Mata Dani yang memandang Emely dengan teduh kini berubah menjadi tatapan tajam. Emely mendorong kasar tubuh Dani hingga lelaki itu menjauh darinya. Dani semakin geram dan menatap Emely dengan penuh amarah.
"Apa yang kau lakukan?" sentaknya.
"Apa aku tidak salah dengar ucapanmu? kau bilang akan membantuku menyakinkan Raymon untuk kembali padaku, sebagai gantinya aku harus juga membantumu mendekati Sifa?" tanya Emely.
Emely terkekeh pelan dan menatap Dani dengan tenang.
__ADS_1
"Apa kau pikir aku akan setuju Tuan Ardani yang terhormat?" tanya Emely sambil melangkah pelan. Emely memutari tubuh Dani sambil memegang pundak Dani seperti wanita malam yang begitu berani. Dani mengepalkan tangannya, menanti ucapan apa yang keluar dari mulut wanita itu.
"Aku bukan wanita lemah seperti apa yang kau pikirkan. Aku pikir, tawaran yang kau ajukan bukan menguntungkan kita berdua. Akan tetapi menguntungkanmu saja, Tuan Ardani." Lirihnya.
Emely berhenti tepat di depan Dani, mendongak dengan senyum yang tampak sinis. Kali ini, tidak ada air mata. Emely terlihat sangat tegas, dan sangat berwibawa. Tak ada emely yang berderai air mata. Bahkan, tak ada kesedihan yang tampak dari wajahnya.
Tangan kananya terulur menyentuh dada Dani dan mengusap dada Dani beberapa kali, membuat Dani memalingkan wajahnya. Rasa jengkel menyelimuti diri Dani. Dia pikir Emely akan menyetujuinya, kenapa malah jadi seperti ini?
"Aku Pikir kau lelaki hebat. Asisten dari seorang Marvel Raditia Dika yang sangat dibanggakan oleh para pembisnis kalangan atas. Tapi nyatanya, kau..." Emely menghentikan ucapannya, menarik tangannya dari dada bidang Dani. Mengacungkan ibu jarinya sambil tersenyum, akan tetapi setelah itu Emely membalik ibu jarinya ke bawah dengan senyuman sinisnya.
Dani yang semula tersentuh karna acungan jempol Emely, kini malah semakin mengeratkan kepalan tangannya. Emely benar benar menguji kesabarannya.
Dani masih terdiam, enggan menjawab satu kalimatpun. Dia ingin terus mendengar, coleteh apa yang keluar dari wanita yang berstatus sebagai istrinya itu.
"Kau, seorang yang telah merenggut kesucian anak wanita orang, meminta bantuan untuk mendapatkan hati seorang wanita? Sangat memalukan!" tegas Emely.
Dani mengeratkan rahangnya, emosinya benar benar memuncak karna ucapan Emely. Tapi dia masih pada posisi yang sama. Emely mengulurkan jari telunjuknya di dada Dani.
__ADS_1
"Dengarkan aku baik baik Tuan Ardani, jangan harap aku menyetujuinya. Aku bisa mengatasi diriku sendiri. Mau oprasi, minum postil, atau bahkan kemungkinan jika aku hamilpun, aku tidak akan melibatkanmu. Itu bukan urusanmu. Kau bukan siapa siapa bagiku Tuan Ardani, tidak usah mengajukan kesepakatan apapun. Aku bisa mengatur diriku sendiri, kau urus saja urusan cintamu yang tak penting bagiku," ucap Emely kemudian melangkah ke arah kamar. Dani memejamkan matanya, rasanya emosi telah di ubun ubun dan kepalanya ingin meledak.
"Oh, satu lagi tuan Ardani," Emely menghentikan langkahnya dan kembali ke arah Dani. Membuat Dani menatap Wanita itu dan masih menyimak apa yang akan dikatakan.
"Aku tidak butuh bantuanmu untuk meyakinkan Raymon. Wanita cantik, seksi, berpendidikan tinggi, smart, wanita karir seperti aku, tidak sulit menakhlukan hati Raymon. Apalagi hanya seorang asisten, aku yakin diluaran sana banyak sekali asisten yang mengantri untuk mendapatkan wanita sepertiku." ucap Emely.
"Yang perlu kau lakukan sekarang, talak aku! Kejar cintamu, agar aku bebas untuk bertindak. Kau pun juga bebas melakukan apapun," lanjut Emely.
"Hentikan ucehanmu Emely! Pergi kekamar sekarang juga!" sentak Dani yang sedari tadi menahan amarah.
Emely yang terkejut menghentikan ocehannya. Berlari ke arah kamarnya. Emely menutup pintu kamar, menyandarkan tubuhnya di pintu. Air matanya mengalir deras, sebenarnya dia tak setegar itu. Tapi, dia tidak mau terlihat lemah di mata Dani.
"Ya Tuhan, tunjukan aku jalanmu," lirihnya.
Di luar sana, Dani mengepalkan tangannya. Emely berhasil membuat Dani dalam emosi tingkat Dewa. Ucapan yang dilontarkan Emely sangat mengusiknya.
"Jangan harap kau bisa lepas dariku sebelum aku bisa membuktikan semuanya Emely," lirih Dani. Kenapa dirnya tidak menerima pendapat Emely saja, bukankah itu memudahkannya? Entahlah. Dani seakan tak terima dan merasa ucapan Emely adalah penghinaan baginya.
__ADS_1
🎀🎀🎀🎀😍