Cintai Aku, Lupakan Dia!

Cintai Aku, Lupakan Dia!
CALD. Kebersamaan Emely dan Ardani


__ADS_3

Dani dan Emely kini berada di dalam mobil, mereka menikmati pemandangan indah di sepanjang jalan. Tak ada pembicaraan diantara ke duanya. Mereka hanya terdiam dalam pikiran masing-masing.


Emely merasa sebal dengan kejadian tadi. Sedangkan Dani hanya diam seolah tak terjadi apa-apa.


Dani menyalakan musik salah satu band favoritnya. Hingga mereka larut dalam lagu yang mengisahkan Cinta yang indah intu. Emely menatap ke luar jendela. Dani menghentikan mobilnya di sebuah masjid besar di seberang jalan.


"Kenapa berhenti? Ini belum sampai di alun alun kota," protes Emely. Dani terdiam dan keluar dari mobilnya. Emely memejamkan matanya kemudian keluar juga.


"Astaga, ternyata berhenti di masjid," lirihnya.


Mereka menikmati terpaan angin malam yang berhembus yang menampar wajahnya. Memandang indah masjid yang saat ini sedang memperdengarkan suara adzan Shalat Magrib.


"Kita berhenti sejenak, kita berdoa dan memanjatkan doa disini," ucapnya. Emely mematung sejenak. Jadi Dani juga mengerjakannya? Dia pikir lelaki itu jauh dari beribadah.


Emely melangkah menuju ke arah masjid, begitu juga dengan Dani yang jauh lebih dulu melangkah ke sana.


Tiga puluh menit berlalu, Emely dan Dani sudah kembali dari masjid. Mereka kini berada di mobil dan saling berpandangan. Keduanya tampak lebih segar dan berseri.


"Jadi kita membeli es krim dahulu?" tanya Dani dan diangguki oleh Emely.


"Oke, kita berangkat," ucap Dani kemudian melajukan mobilnya membelah jalanan yang sepi dan menghentikan mobilnya di sebuah alun alun kota.


Dani membuka pintu mobilnya kemudian menatap ke arah Emely yang kini juga keluar dari mobil. Mereka bersama dan melangkah ke arah penjual es krim yang kini berada di bawah pohon.


"Kau mau yang mana?" tanya Dani sambil mengamati beberapa eskrim yang tampak menggoda selera.


Emely bagai anak kecil yang dengan girang mengambil beberapa ice cream yang menggoda selera. Sepuluh macam ice cream dia ambil. Dani membelalakan matanya. Bagaimana bisa istrinya itu menghabiskan semuanya?


Emely yang kini membawa satu kantong plastik tampak bahagia dan melangkahkan kakinya menuju ke arah kursi yang berada di bawah pohon yang rindang.


Emely mengembangkan senyumanya dan memakan satu ice cream rasa coklat. Dani hanya diam sambil mengamati gerak gerik wanita cantik itu.


"Kamu harus membantuku menghabiskannya," ucap Emely sambil menyodorkan sembila ice crem padanya.


"Jangan bercanda Em, aku kekenyangan jika makan sebanyak ini," protes Dani.


"Aku tidak perduli, pokoknya harus kamu habiskan," ucap Emely. Bagai sihir, ucapan Emely diangguki oleh Dani.


Dani dengan tenang memakan sembilan ice crem yang lumayan membuatnya kenyang.


Setelah puas tertawa mendapati Dani yang kekenyangan. Emely kembali berjalan dan membeli dua bungkus rujak buah, dua bungkus nasi goreng dan dua bungkus juga cilok yang semuanya di belinya dengan bahagia.


Dani menghela napas panjang berdoa dalam hatinya semoga tak menjadi korban pemaksaan Emely untuk memakan makanan yang sama sekali tidak dia sukai.


Emely menghentikan langkahnya dan kini duduk di sebuah kursi kayu yang berada di bawah pohon yang rindang.


"Emely membuka satu satu dari semua makanan yang dia beli, hanya mencicipi sedikit kemudian menatap Dani yang kini tampak beranjak dari tempatnya.


"Kamu mau kemana Mas?" tanya Emely sambil menatap Dani yang kini menampakan wajah sebalnya.


"Aku ke mobil saja, aku ngantuk sekali. Aku tunggu kamu disana," 'ucap Dani.


"Bentar lagi kita pulang, makanlah dulu," ucap Emely.


Dani tampak geram, tadi ice cream, lalu, Emely juga memintanya makan lagi? Dani menatap beberapa porsi makanan yang berada di atas meja itu.

__ADS_1


"Makan saja, aku sudah kenyang Em," ucap Dani. Emely tampak menunduk. Entah, penolakan Dani membuatnya sedih, air mata Emely mengalir sehingga membuat Dani memejamkan matanya.


Dani duduk di sebelah Emely dan mendongakkan wajah cantik itu, menatap wajah Emely dan mengusap air mata yang jatuh di di pipinya.


"Em, kamu menangis?" tanya Dani reflek, Emely tak menjawab. Dani tampak Kawatir dan mengulang pertanyaannya.


"Em, kenapa kamu menangis?" tanya Dani lagi.


Emely masih terdiam, terdengar Dani menghela napas panjang kemudian mengusap pundak Emely. Dia benar benar tak habis pikir. Kenapa dia seperti sedang mengasuh seorang balita saja?


"Okey, aku akan makan makanan ini. Tapi berhentilah menangis. Baru kali ini kita menghabiskan waktu sepanjang ini dan malah membuatmu menangis? Sepertinya aku akan gagal menjadi suamimu kalau begini caranya, diamlah aku akan makan sesuai dengan keinginanmu," ucap Dani panjang lebar sambil mengulurkan tangannya mengambil satu persatu makanan yang ada di meja.


Ucapan Dani itu membuat rasa sesak di dada Emely berkurang. Emely kemudian menghapus air matanya dan menatap ke arah Dani.


"Hei, apa kamu masih tidak puas dengan jawabanku?" tanya Dani lagi. Emely menggelengkan kepalanya.


"Tersenyumlah," ucap Dani. Emely menyunggingkan senyuman indahnya. Dia mengambil ponselnya dan mengambil Vidio Dani.


Emely terdengar tertawa bahagia sekali, Dani menautkan alisnya. Kenapa dia juga bahagia saat ini? Bahkan, Emely selama ini tak pernah semanja ini padanya. Lebih bo*ohnya lagi dia mau menuruti kemauan istrinya itu.


Dani yang merasa kekenyangan karna menghabiskan enam porsi makan tampak menyandarkan tubuhnya di kursi Emely mendekat dan tertawa bahagia.


"Kau sampai kekenyangan Mas?" tanya Emely


"Maaf Mas, aku mungkin terlalu egois. aku tidak akan memaksa lagi," ucapnya. Dani menggeleng pelan kemudian mengambil ponselnya di dalam saku.


Dani, kita bertemu malam nanti. Dani membaca pesan dari Dafa satu jam yang lalu.


Oke balasnya.


"Em," Dani mengusap pelan puncak kepala berkerudung milik Emely.


Emely mengarahkan pandangannya ke arah Dani. Emely merasakan kebahagiaan bersama dengan Dani, merasakan deguban jantung yang begitu cepat, merasakan debaran rasa yang mengusik.


"Aku..." Dani tampak menahan ucapannya. Entah bagaimana dia merasa sesak harus meninggalkan istri sirinya itu. Akan tetapi Dafa tampaknya sudah tak sabar menunggunya


"Apa?" Emely mendongak dan menatap wajah tampan suaminya.


"Aku harus pergi malam ini," Dani mengucapkan dengan tenang, mencoba menutupi gejolak rasa yang sebenarnya tak sanggup untuk di sembunyikan, tetapi masih juga membutuhkan kepastian itu.


Emely sontak memandang Dani, di tatapnya mata Dani yang memandangnya dengan teduh. Kenapa dirinya tampak tak rela?


"Malam ini?" tanya Emely dan diangguki oleh Dani. Emely merasakan sesak yang menghujam hatinya, antara pasti dan tidak pasti tentang sebuah perasaan yang menyelinap dalam benaknya. Yang jelas dia seakan tak mampu berpisah dari makhluk yang kini berada di depan matanya.


Tadi pagi Dani berpamitan saja rasanya berat, lalu bagaimana dengan saat ini?


"Aku memintamu menemaniku malam ini, kau tak mau?" tanyanya. Dani terkekeh pelan.


"Satu kali dua puluh empat jam, itu waktu yang paling cepat, besok kita bertemu kembali" ucap Dani.


"Boleh aku ikut?" Emely mencoba bernegosiasi meminta keringanan.


Dani menautkan alisnya, dia rasa ada yang tidak beres dengan Emely. Dani mengusap pelan wajah cantik yang kini tampak memerah.


Banyak pertimbangan yang harus dia pikirkan. Keberadaan Emely di mansion bersama dengan papa dan mamanya akan lebih aman dari pada bersama dengannya. Pasalnya dia dan Dafa akan membahas sesuatu yang penting.

__ADS_1


"Aku pergi hanya sebentar, lagi pulan ini adalah sebuah testimoni." ucap Dani.


"Apa?" tanya Emely.


"Aku ingin memastikan sesuatu, kau tau Em berada di dekatmu selalu membuat aku nyaman. Aku ingin memastikan, itu hanya sebuah sugesti atau memang ada sebuah rasa yang ada di sini," ucap Dani sambil menggenggam tangan Emely dan menempelkan di dadanya.


Emely tersentak, rasa ngilu menyeruak di hatinya karna ucapan Dani. Emely merasakan sesak, bahkan hanya sebuah kemungkinan membuatnya merasakan sakit. Emy memandang wajah Dani, mengusap wajah tampan itu dengan tangan kanannya.


"Kamu yakin tak mau mengajakku?" tanyanya. Matanya berkaca, Dani menghela nafas panjang kembali.


Dani mengarahkan pandangan mata Emely ke arahnya. Mengusap air mata yang menetes di pipi istrinya. Tanpa dia meninggalkan Emely pun sebenarnya dia tau Emely menyimpan perasaan yang sama seperti yang dia rasakan.


Bahkan, sebuah perasaan tak rela mampu meyakinkan hatinya bahwa Emely kini mampu merebut hatinya.


"Honey jangan bersedih," ucap Dani dan mampu menggetarkan hati Emely.


Belum selesai Dani mengatakan sesuatu, perkataanya harus terhenti karna dering ponsel miliknya. Dani tampak menganggukan kepalanya kemudian mengembalikan ponsel ke dalam sakunya.


"Aku harus pergi, jangan menangis lagi. Sebentar lagi Rudi akan menjemputmu," ucap Dani kemudian memeluk erat tubuh Emely. Dani memberikan kecupan hangat di puncak kepala Emely sehingga membuat tubuh Emely seakan lemah tak berdaya.


"Aku akan kembali untukmu," ucap Dani kemudian berjalan ke arah mobil dan menancapkan gas mobilnya.


Dani mematung di tempatnya, memandang mobil yang kian menjauh dari pandangan matanya. Emely memejamkan matanya. menepis semua rasa sesak yang menyeruak di hatinya.


"Kenapa ini menyakitkan? Tapi aku akan baik-baik saja, besok akan kudatangi kantormu" ucapnya.


Emely melangkah ke arah mobil yang kini tampak berhenti di depannya.


"Silahkan, Nona Muda." ucap Rudi dengan tenang.


Emely mengangguk dan tersenyum, dia masuk ke dalam mobil itu dengan perasaan yang campur aduk. Bagaimana bisa dia harus pulang sendirian tanpa Dani?


Mobil membelah jalanan, hingga beberapa menit kemudian, dia sudah berada di area pelataran mansion mewah keluarga Pradikta.


Emely melangkah masuk, dengan pelan dirinya berjalan. Suasana rumah tampak sepi, namun dirinya disambut dengan beberapa pelayan yang kini berada di samping pintu masuk.


"Selamat malam Nona Muda," sambut beberapa pelayan dengan sopan.


"Malam," Emely tersenyum kemudian berjalan menapaki anak tangga menuju ke arah kamarnya.


Emely membuka pintu kamarnya, menyandarkan dirinya di pintu. Air mata mengalir deras. Perasaan macam apa ini?


Emely menatap bingkai foto pernikahan di atas nakas, diangkatnya foto pernikahan dirinya dengan Dani yang sangat sederhana itu. Emely mengusap pelan wajah tampan suaminya.


"Kau mau memastikan perasaan yang bagaimana? Aku pastikan kau tidak akan bisa tidur malam ini," ucap Emely dalam ucapan lirihnya.


Emely mengambil ponselnya yang sejak pagi dia matikan. Dibukanya pesan WA yang berasal dari nomer baru. Emely tersenyum pelan ketika membaca pesan WA pagi tadi.


Apa yang kau lakukan? Jangan membuatku marah. Aku akan menghukummu jika kau masih saja mengabaikan aku.


Emely mengetikan sesuatu di ponselnya dan mengirimkan pada kontak yang dinamainya Sayang itu.


Aku kutuk kau tak bisa tidur malam ini.


🎀🎀🎀🎀

__ADS_1


__ADS_2