
Dani yang melihat Sifa terdiam tampak memahami jika wanita itu tampak berpikir, mungkin karna Sifa bukan mahramnya yang membuat wanita itu tampak berpikir panjang.
"Tidak akan terjadi fitnah, aku akan meminta adikku menemani pertemuan ini," ucap Dani.
Sifa mendongak, dia tak tau harus bagaimana. Merasa tidak enak, hingga pada akhirnya Sifa mengangguk pelan. Mereka berjalan bersamaan menuju ke ruang tamu kantor.
Dani segera meminta Sifa untuk duduk di sofa tamu, dan memencet tombol agar salah satu OB datang ke ruangan itu untuk membawakan minuman. Dani kini juga membuat panggilan untuk Ganesa.
Tak berapa lama kemudian, terdengar suara dari sebrang sana.
"Halo kak, ada apa?" tanya wanita cantik yang kini masih mengamati gerak gerik mobil yang baru saja keluar dari ARW grup.
Mobil siapa itu? Kenapa tidak asing, apa yang dititipkan supir pada satpam? pertanyaan yang mengiang di otak Ganesa.
"Nes, kau melamun?" sentak Dani.
"Tidak kak, aku sedang mengamati mobil orang," ucap Ganes tampak terkejut.
"Kau dimana? segera ke ruanganku sekarang," ucap Dani seakan memaksa.
"Aku masih di bawah kak, memangnya ada apa?" tanya Ganesa.
"Jangan banyak bicara, cepaf naik," ucap Dani kemudian menutup ponselnya.
Ganes menghela napas panjang, rasa penasarannya masih saja bersinggah di hatinya. Lalu kenapa kakaknya seakan mengganggu? Sangat menjengkelkan.
Tak perduli dengan ucapan kakaknya, kini Ganesa malah turun dari mobil dan pergi ke ruangan pak satpam. Dia sangat penasaran dengan apa yang dititipkan seorang laki laki paruh baya itu di pos satpam.
Dengan langkah tenang wanita cantik itu menuju pos, beberapa satpam menunduk hormat ketika melihat atasan mereka berdiri dengan tenang di depan pintu.
"Selamat siang Nona Ganesa, ada yang bisa kami bantu?" tanya salah satu orang yang kini berada di depan pintu untuk menyambut Ganesa.
"Boleh tau, apa yang di titipkan orang yang baru saja keluar dari gerbang PT. ARW grup?" tanya Ganesa dengan tenang. Beberapa Satpam yang memang baru datang tak menjawab karna memang mereka tidak tau. Ganesa masuk ke ruangan itu, Kini netranya menatap tajam ke arah orang yang kini tampak berdiri di pojok ruangan.
"Kau, kau tau apa yang dititipkan?" tanya Genesa dengan penuh selidik menatap orang yang baru selesai menelpon itu.
Orang itu tampak menautkan alisnya. Sebenarnya dia adalah tamu. Bagaimana bisa wanita di depanya malah bertanya seperti itu? Ini adalah suatu kebetulan yang membahagiakan agar dirinya bisa meringankan beban para satpam. Yang dia dengar tadi, lelaki tadi menitipkan rantang untuk pimpinan ARW grup.
__ADS_1
"Oh, kebetulan sekali Nona, saya baru saja mau mengantar ke atas. Sepertinya Nona mau membawanya sekalian untuk Tuan Ardani?" tanya lelaki itu.
Ganes memutar bola matanya, apa yang dititipkan? Rasa penasarannya seolah menjadi jadi. Kini emosinya malah memuncak pada orang yang baginya banyak bicara itu. Ganes yang memang menyembunyikan identitas bahwa dirinya adalah adik Ardani membuat dirinya merakyat di PT itu. Dia dikenal tegas dan sangat baik walau kadang dia suka marah jika karyawan tampak mempunyai salah.
"Kau tak usah banyak bicara, katakan dengan jelas, apa yang dibawa lelaki itu?" tanyanya sebal. Orang itu menghela napas panjang. Dia mengepalkan tangannya. Tapi tampaknya lelaki itu mencoba untuk tetap tenang.
"Rantang makanan ini yang dititipkan," jawabnya tenang. Ganesa mengamati rantang makanan yang berlebel RE itu. Ganesa menghela napas panjang. RE? Bukankah itu lebel perusahaan Rqkhayla Emely? Apa Emely ke sini? Atau hanya supir itu saja? Kenapa tak langsung masuk saja? Pikir Ganes.
Ganesa mengambil alih rantang biru itu dan menatap seseorang di depannya.
"Biar aku yang membawanya untuk Tuan Dani," sentaknya kemudian melenggang pergi. Laki laki itu tampak mengepalkan tangannya. Geram dan sebal dengan wanita cantik itu. Apa dia b*ta? Apa tidak melihat bagaimana rapinya dia dengan setelan jas mahal? Kenapa ditanya tanya titipan? Apa dia pikir dirinya anggota Satpam?
"Ganesa, nama yang bagus," lirihnya dengan tenang saat mengingat papan nama yang menampakan nama gadis itu. Tampak senyuman tipis dari sudut bibirnya.
"Maaf Tuan El, anda menunggu lama karna saya kebelet. Mari saya antar ke lobi," ucap salah satu satpam yang kini baru saja keluar dari kamar mandi itu.
"Tidak papa pak, Biar saya sendiri. Saya sudah mengisi dan melengkapi data tamu. Terimakasih, oh iya pak tadi ada yang mengambil titipan rantang. Namanya Nona Ganesa," ucapnya.
Pak satpam yang tadinya mau mengantar tampak berpikir sejenak dan mengangguk pelan.
"Oh terimakasih Tuan. Silahkan ke atas kalau memang sudah selesai mengisi daftar tamu, sepertinya Tuan Dani juga baru saja ke atas," ucap satpam itu dengan tenang.
*
*
*
Ganes yang tampak panik karna mengamati rantang itu ingin segera sampai di atas, ingin segera dia mencerca Dani dengan banyak pertanyaan.
Ganes menghentikan langkahnya sejenak, siapa tadi? Ganes mengingat lelaki itu tak memakai baju Satpam. Lalu, siapa? Kenapa dia bentak bentak? Hais, entahlah. Saat ini yang terpenting baginya segera menemui kakaknya.
*
*
*
__ADS_1
Dani kini duduk di depan Sifa, menunggu Ganes malah memperlama kebersamaan dengan Sifa yang semakin membuat kecanggungan. Bahkan, sampai OB mengantar minuman pun Ganesa belum sampai. Dani merasa Sifa berbeda dan tampak gugup, kenapa? Bahkan, dia tidak tau jika Sifa memiliki perasaan padanya.
Dani menghela napas panjang, apa sebenarnya Sifa mempunyai perasaan? Entah, yang jelas saat ini ada cinta untuk Emely di hatinya .
Untuk Sifa? Yang belum terlanjur alangkah baiknya diurungkan. Sepertinya ini juga terbaik untuk Sifa. Sifa bisa mendapatkan lelaki lain yang jauh lebih baik darinya. Entah bagaimana perasaan dalam hati. Yang jelas mereka belum sekalipun ada pengungkapan. Anggap saja, perasaan itu adalah sebuah perjalanan menuju cinta yang sesungguhnya.
"Jadi aku sudah bisa mengambil buku nikah ini?" tanya Dani sambil membuka surat pengantar itu.
"Iya, sebenarnya langsung datang saja ke sana lebih enak. Kamu bisa langsung bertanya pada Pak Lurah," ucap Sifa.
Dani menghela napas panjang dan mengangguk pelan.
"Kak, apa Emely datang ke sini? Ada kiriman makanan untukmu dari RE grup, aku sempat melihat mobil Emely di bawah, " ucap Ganesa sambil membuka pintu.
Dani dan Sifa menoleh, Ganes yang tak tau ada Sifa di dalam ruangan kini tampak terdiam. Dani meletakkan berkas pengantar, kini netranya memandang rantang makanan yang dibawa adiknya.
Sifa menghela napas panjang, apa Emely tau dirinya bersama Dani sehingga membuat dia salah paham dan meninggalkan rantang makanan itu? Perasaan tak enak merayap dalam benaknya.
Sifa menatap ke arah Dani yang kini tampak panik, memegaskan pada dieinya sendiri untuk melupakan Dani. Karna memang sepertinya Dani dan Emely sudah saling mencintai.
"Dan, aku minta maaf," ucap Sifa.
"Kau tak salah, sepertinya aku harus pergi. Ganes, kau temani Sifa," ucapnya kemudian melenggang pergi. Sifa menghela napas panjang, menatap punggung Dani yang menjauh darinya.
*
*
*
Mama Elyna tampak tersenyum bahagia, berjalan ke sana ke sini sambil mengarahkan beberapa pelayan untuk menata tempat sepesial.
"Bagaimana Nyonya?" tanya salah satu pelayan pada Mama Elyna yang kini sepertinya sangat puas dengan ruangan VVIP yang saat ini sedang di desain dengan sangat sempurna.
"Sip, semua bagus dan seperti apa yang aku mau. Sekarang kalian siapkan menu spesial yang aku mau, tambahkan bunga di pojok ruangan ya."
**---
__ADS_1
Sambil nunggu up. mampir juga di karya temen othor yang seru abis... bikin kita haru dimana seorang dady yang ditinggal istrinya harus mengurus 4 anak kembarnya. Sweet... cus readers tercinta. jangan lupa tinggalkan jejak..