Cintai Aku, Lupakan Dia!

Cintai Aku, Lupakan Dia!
CALD. Beri aku kesempatan


__ADS_3

Emely meletakan teh hangat yang dibawanya di atas meja kemudian kembali lagi melangkah ke dalam kamar. Dani mengamati Emely yang kini duduk di depan kaca rias sambil mencoba menahan deraian air mata yang mendesak untuk keluar.


"Apa kau menangis?" suara itu membuat Emely terkejut.


Emely mendongak, dilihatnya Dani berada di belakangnya sambil meletakan teh yang tadi dibawa Emely keluar. Emely berdiri dan mengusap air matanya. Bagaimana bisa dia ketahuan menangis?


Dani berjalan beberapa langkah menuju ke arahnya dan berdiri tepat di depan Emely. Mengamati wajah cantik yang tampak sembab karena menangis.


Dani mengulurkan tangannya dan mengusap air mata Emely. Emely terpaku sejenak, dirinya seakan membeku karna perlakuan suaminya. Keduanya saling menatap. Entah alasan apa dia merasa lega melihat Dani ada di hadapannya. Dan dia bersedih Dani akan pergi dari hadapannya.


Emely memejamkan matanya, merasakan debaran jantung yang tak beraturan.


"Kamu akan pergi Dan?" tanya Emely sambil memegang tangan Dani yang kini berada di pipinya.


Dani tampak membeku, sentuhan Emely membuat geleyar aneh membangkitkan sesuatu yang tengah tertidur. Dan lagi, paggilan Emely sepertinya mengusik hatinya.


Oh, ****. Dani terdiam dan berlalu begitu saja, dia duduk di sofa. Emely mengikuti langkah Dani dan duduk di samping Dani.


"Kamu mau mandi? aku akan menyiapkan air hangat," tanya Emely saat melihat jam yang menunjukan pukul 03.00 dini hari.


Sebelum Dani menjawab, Emely bangkit berdiri. Dani menarik tangan Emely hingga Emely kini berada di pangkuannya. Reflek Emely mengalungkan tangannya di leher Dani. Keduanya tampak saling menatap, merasakan debaran yang begitu sesak.


"Masih jam 03.00, aku mandi nanti saja. Kau pikir aku tak akan kedinginan? Buatkan aku kopi saja Nona Emely. Aku tidak suka teh manis," ucap Dani sambil melirik teh hangat yang dia buatkan tadi.


Emely hampir saja berdiri dan turun dari pangkuan Dani. Namun, dengan gerakan cepat Dani mengangkat tubuh Emely dan membawa Emely ke dapur.


Emely memejamkan matanya, perlakuan Dani begitu manis dan mampu membuat hatinya bergetar hebat.


"Ini dapurnya dimana?" tanya Dani dengan tenang.


"Aku bisa jalan sendiri ke sana, Turunkan aku," ucap Emely.


"Jangan banyak bicara, pasti kau akan lama kalau berjalan," sanggah Dani.

__ADS_1


"Belok kiri, lurus terus," ucap Emely. Dani mengikuti arah yang ditunjukan Emely dan sampailah mereka di dapur.


Dani mendudukan Emely di meja dapur, dia berdiri dan tersenyum memandang wajah ayu istrinya. Emely mendongak dan menatap wajah tampan suaminya itu.


Dani seperti tersihir dengan kecantikan istrinya, segera Dani mengalihkan perhatianya dan melangkahkan kakinya ke kamar mandi.


Emely tersenyum tipis, sepertinya pesona seorang Dani benar-benar telah meracuni otaknya. Emely meletakan kedua tangannya di dada. Merasakan detakan jantungnya yang tak karuan.


"Astagfirullah, kenapa aku seperti ini?" ucapnya pelan.


Segera wanita cantik itu menuang air dan mengaduk kopi cangkir permintaan suaminya kemudian meletakan kopi panas itu di meja taman.


Lima belas menit kemudian, Dani telah selesai mandi, dia menggunakan kaos oblong dan celana panjang yang tadi diambilkan Emely dari kamar tamu.


Dilihatnya Emely sedang duduk di sofa, Emely sudah berganti pakaian berwarna Navi. Dani tersenyum melihat wajah yang menggemaskan itu. Dani berjalan mendekat ke arah Emely.


Oh ****, nyawa kedua Dani tampaknya sedang meronta lagi, sejak tadi malam memeluk Emely sebenarnya dia sudah meronta ronta dan Dani mencoba untuk menahannya.


"Dan, kopimu aku taruh di taman bawah," Emely berdiri dan menatap Dani dengan senyuman indahnya.


"Hem," jawabnya singkat.


"Apa kau tidak suka aku di sini? Kenapa menaruhnya di sana?" tanya Dani tampak kesal.


"Ya kalau mau diambil lagi tidak papa, aku pikir kamu mau menemaniku disana, makanya aku membawanya ke sana," ucap Emely.


"Tapi kalau kamu keberatan aku akan mengambil kopimu ke sini," lanjutnya. Emely melangkah. Dani menarik tangan Emely hingga keduanya kini saling berhadapan. Dani terus maju hingga keduanya kini ada di pinggiran pintu.


"Siapa yang bilang aku keberatan?" tanya Dani sambil mendekat ke arah Emely. Emely hanya terdiam. Sejujurnya jika dekat seperti ini membuat Emely semakin takut, takut jika pada akhirnya dia akan jatuh cinta pada Dani yang jelas jelas mencintai orang lain.


Emely mendorong Dani dan menatap Dani dengan teduh.


"Dan, lebih baik kamu kurang-kurangi kontak fisik denganku," ucap Emely.

__ADS_1


Ucapan Emely mengusik ketentraman Dani. Ditatapnya wanita cantik yang kini memandangnya dengan tenang itu.


"Bukankah kau milikku? Apa kau lupa? Aku bebas melakukan apapun," ucap Dani dengan nada Emosi dan semakin mendekat ke arah Emely.


Emely membeku, detakan jantungnya membuat dia semakin yakin ada perasaan yang lain. Dia tak mau terluka untuk kesekiam kalinya karna lelaki, bahkan bersama Raymon tak pernah dia merasakan deguban jantung seperti ini.


Emely kembali mendorong dada Dani menatap Dani.


"Dani, ingat jika aku dan kamu tidak saling mencintai. Pernikahan kita karna keterpaksaan, jangan memberikan harapan yang nantinya bisa membuat salah satu dari kita terluka. Bukankah kita berteman? Cukup status itu yang ada diantara kita," ucap Emely.


Deg


Dani mengepalkan tangannya, seolah dia tak trima. Dani mengangkat Dagu Emely, merengkuh Erat pinggang Emely hingga wanita itu merasakan sedikit nyeri dan memejamkan matanya.


"Bukankah kau sendiri yang mengatakan bahwa tak sulit untuk jatuh cinta pada wanita sepertimu? Lalu, apa kau tak bisa memberiku sedikit waktu untuk itu Em?" Dani melonggarkan rengkuhannya, dia tau Emely merasakan sakit karna ulahnya.


Emely mencoba tenang, tak mau dia termakan dengan ucapan Dani yang akan meluluhkan hatinya.


"Itu tidak perlu kamu lakukan Dan, aku tak bisa melakukannya untuk saat ini. Aku tidak sanggup untuk terluka, teman, cukup itu hubungan diantara kita," Emely menatap Dani dengan teduh kemudian melangkah pergi.


Sedangkan Dani mengusap wajahnya dengan kasar. Kenapa Emely seakan mempunyai magnet sehingga dirinya selalu ingin mendekat?


"Ya Tuhan," rutuk Dani.


Dani mempercepat langkahnya mengikuti Emely yang terus berjalan menuju ke taman lewat jalan alternatif yang tersembunyi.


Emely menarik napas panjang, merentangkan tangannya, menikmati tamparan demi tamparan angin yang begitu membuai dirinya, Emely memejamkan matanya, mencoba menghilangkan sesak yang mendera dadanya.


Sebuah pelukan hangat mendarat di pinggangnya. Dani memeluk erat Emely, tangannya melingkar sempurna di pinggang istrinya.


Hati Emely terasa hangat, ketenangan tercipta di dalam dirinya. Tidak ingin menolak, tidak ingin juga menghindar. Akan tetapi dadanya merasakan beribu rasa yang menggoncang hatinya.


"Beri aku kesempatan Em," ucap Dani di telinga Emely.

__ADS_1


🎀🎀🎀🎀🎀


__ADS_2