Cintai Aku, Lupakan Dia!

Cintai Aku, Lupakan Dia!
CALD. Yakinkan hatimu


__ADS_3

Emely memejamkan mata indahnya, apa begini kenyataannya? Apa semuanya karna Lelyta? Tega sekali. Bagaimana bisa Lelyta menjerumuskan dirinya? Emely memencet nomor Lelyta yang beberapa hari izin, tak ada jawaban sehingga membuat Emely semakin sesak dadanya.


Suara ketukan pintu terdengar, Emely masih diam dalam kesedihan. Merasakan sesak yang seakan menghujam dirinya.


Mama Elyna masuk, dia mendengar isakan Emely. Dia hawatir dan ingin tau apa yang terjadi pada putri cantiknya yang sangat sensitif di usia kehamilan yang masih muda itu. Selalu berubah dengan cepat suasana hatinya. Emely begitu gampang Emosi, dan mereda begitu cepat.


"Sayang, ada apa? Kenapa menangis Nak?" tanya Mamanya hawatir.


Emely menggelengkan kepalanya, rasanya dia lemas, rasanya dia lelah. Emely tiba tiba tak sadarkan diri.


"Em, Em, Emely," Mama Elyna berteriak. Sehingga Vino yang sang saat itu bercengkerama dengan papa pradikta dan juga Vito suami Davina berlari ke kamar Emely. Dia sangat hawatir dan ingin tau apa yang terjadi.


"Ma ada apa?" tanyanya dengan panik.


"Emely, Emely pingsan Vin," ucap Mama Elyna.


Tak menunggu lama, dengan sigap pria tampan itu mengangkat tubuh Emely menuju ke parkiran. Tak mau sesuatu terjadi pada adiknya, Vino harus segera membawa Emely ke rumah sakit.


Semua orang mengikuti laju mobil Vino ke rumah sakit Husada.


...****************...


Emely mengerjabkan matanya, kepalanya terasa begitu berat. Perlahan pandangan yang semula kabur mulai jelas, ditatap nya langit-langit ruangan yang tampak asing baginya, juga tampak senyuman orang di dekatnya.


"Dimana ini?" tanyanya pada orang di sampingnya. Emely segera duduk, namun orang itu menahanya.

__ADS_1


"Berbaringlah, kau tampak begitu lemas, ini di rumah sakit, Alhamdulilah kau sudah siuman," ucap suara yang sangat familiar di telinganya.


Emely mendongak, ia menatap orang di depannya.


"Kakak," ucapnya.


"Kau kenapa gadis?" tanya Vino sambil mengusap puncak kepala adiknya.


Emely mencoba mengingat sesuatu. Dia ingat, tadinya dirinya menerima pesan WA. Air matanya kembali mengalir deras. Dimana ponselnya? Netranya kesana kemari mencoba mencari. Dia inhin memastikan lagi suara itu. Sakit hatinya, kenapa semua bisa terjadi?


"Mencari apa?" tanya Vino


"Apa kakak melihat ponselku? " Vino mengambilkan tas Emely yang masih tergelegak di sofa kemudian memberikannya pada Emely.


"Terimakasih kak," ucap Emely.


"Kata dokter kau kelelahan, butuh istirahat, besok kau sudah boleh pulang, sebaiknya kau istirahat," ucap Vino. Emelu terdiam. Dia begitu terpukul.


"Kau menangis? Apa yang terjadi?" tanya Vino dengan sorot mata mengintimidasi adiknya.


Emely kembali menghubungi nomer kontak Lelyta, dia juga menghubungi kontak Dani, tapi nihil. Semua tak bisa. Emely semakin terisak. Vino merangkul adik kesayangannya yang tampak bersedih ke dalam pelukan nya.


"Apa yang terjadi? Ceritakan pada kakak, Em," ucap Vino.


Emely terus saja menangis, membuat Vino tak tega melihat wajah pucat adiknya.

__ADS_1


"Dani menyakitimu?" tanya Vino.


Emely terdiam, bahkan dia tak tau kejelasannya. Dani dan Lelyta tiba tiba menghilang. Emely memberikan ponsel yang tadi diambil dari tas dan memperdengarkan rekaman suara Lelyta pada Vino. Vino mengepalkan tangannya. Dia tau, hati Emely pastinya sangat hancur karnanya.


"Aku akan menghabisinya, aku akan mencarinya," ucap Vino dengan Emosi.


"Kak, jangan lakukan itu. Bagiku melihatnya baik baik saja sudah membuatku bahagia, jika dia tak mencintaiku dan kami harus berpisah aku rela," ucapnya.


"Aku tak bisa diam saja melihatmu seperti ini Em!" sentak Vino.


"Aku tak tau kebenarannya Kak. Yang jelas saat ini mereka mengabaikan ku Kak. Aku seperti tidak mengenalnya, kenapa semua ini terjadi? Apa salahku? Jika mereka ingin menghancurkan aku, apa yang mereka mau?" ucap Emely terdengar lemah.


Vino menatap adiknya, terbesit rasa nyeri ketika mendengar ucapan Emely. Tapi, di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, dia tak percaya seutuhnya. Dia yakin, ada sesuatu yang membuat Dani menghilang. Tapi apa? Entahlah, sepertinya dia harus mencari tau nanti.


"Em, apa kau yakin dengan kekuatan cintamu? "


Pertanyaan itu membuat Emely tersenyum getir, sebelum pesan suara itu ada, mungkin dirinya akan mengangguk mantap, tetapi saat ini keraguan mulai muncul dibenaknya.


"Aku tidak tau kak,"


"Jangan menyerah Nona Emely. Yakinkan hatimu jika dia milikmu, bukankah selamanya akan seperti itu?" tanya Vino. Mendengar ucapan kakaknya Emely tersenyum.


"Apa aku bisa meyakinkan hatiku kembali?" tanya Emely.


"Kau harus melakukannya demi bayimu, bertahanlah demi dia. Kakak yakin, Dani sangat mencintaimu," ucap Vino. Emely terdiam. Benarkah Dani mencintainya? Entahlah.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2