Cintai Aku, Lupakan Dia!

Cintai Aku, Lupakan Dia!
CALD. Kantor desa


__ADS_3

Emely segera membuat bubur, juga membuat kuah bubur. Tak lama kemudian, jadilah bubur sum sum ala Emely yang menggugah selera.


"Tara," Emely menempatkan satu mangkok bubur di depan Dani. Lelaki dewasa itu hanya tersenyum singkat, kemudian menatap Emely dengan tenang.


"Makan, aku suapin ya," ucap Emely sambil menyuapkan satu sendok bubur berkuah di depan mulut Dani.


Dani menggelengkan kepalanya, Emely tak tinggal diam. Wanita cantik itu mengangkat dagu Dani dan membuka mulut Dani dengan paksa.


"Harus dicoba, sedikit aja. Aku janji deh, kalau nanti kamu nggak suka sama bubur sum sum, aku nggak akan maksa kamu lagi Mas," ucap Emely sambil terkekeh pelan.


Dani menghela napas panjang, menatap makanan itu dengan tenang. Dia mengangguk kemudian membuka mulutnya.


Emely segera menyuapkan sesendok bubur pada mulut Dani. Dani dengan terpaksa membuka mulutnya. Dengan pelan Emely menyuap dan kini Dani dapat merasakan betapa lembut, begitu nikmat bubur yang kini berada dalam kunyahannya.


Deg


Dani memejamkam matanya, bahkan dirinya dulunya selalu muntah saat makan makanan yang sama. Lalu, kenapa saat ini tidak? Dani menatap Emely, mengambil semangkok bubur di tangan Emely.


"Enak kan?" tanya Emely sambil tersenyum. Dani mengambil sendok kemudian menyuap satu suapan untuk istrinya.


"Bukan hanya aku yang makan, kamu juga harus makan. Sepertinya kamu jauh lebih butuh asupan. Kamu tampak sedang tidak baik baik saja, nanti aku akan membawamu ke dokter. Aku hawatir kamu butuh perawatan," ucap Dani panjang lebar. Emely tersenyum tipis.


"Terimakasih Mas, tapi aku rasa aku baik baik saja," ucapnya. Dani mengusap pelan puncak kepala istrinya. Baik baik saja? Padahal Emely terlihat lemas.


"Aku akan bahagia jika kamu memang baik baik saja, tapi kamu tetap harus ke dokter," ucap Dani sambil menyuapkan kembali bubur kepada istrinya. Emely membuka mulutnya dengan tenang.


"Segera habiskan, setelah ini kita harus segera menuju ke kantor desa. Mengambil buku nikah," ucap Dani.


Emely menganggukkan kepalanya dan segera menghabiskan bubur yang disuapkan oleh Dani. Sesekali Dani juga menyuapkan bubur ke mulutnya, membuat Emely tersenyum singkat sambil menatap ke arah Dani.


"Buburnya enak kan Mas?" tanyanya. Dani tak menjawab. Dia berdiri, mengusap puncak kepala Emely dan menciumnya dengan singkat.


"Aku ke dapur dulu, mengembalikan ini. Kamu tetap disini tunggu aku," ucapnya kemudian melenggang pergi ke dapur membawa nampan.


Tak berapa lama kemudian, Dani kembali ke ruang makan. Emely sudah berdiri menyambut Dani dengan senyuman indahnya. Dani menautkan alisnya ketika melihat Emely yang tak seenerjik biasanya.

__ADS_1


"Sayang, apa kamu masih mual? Perlu obat? atau butuh di minyak angin?" tanya Dani. Emely menggeleng pelan, menatap Dani yang kini meraih pinggangnya dan berdiri tepat di depannya. Menatap dengan tatapan lembut. Menerima perlakuan manis seperti ini membuat Emely bahagia. Sangat bahagia.


"Aku tidak merasa sakit Mas, tapi aku pengen makan pisang," ucap Emely sambil menutup mulutnya yang memang menginginkan pisang. Semakin di tahan semakin terngiang. Bahkan dia sendiri bingung dengan keanehan yang terjadi pada dirinya itu. Keanehan yang terjadi dan merasa bukan dirinya sendiri sejak beberapa hari yang lalu.


"Pisang?" tanya Dani sambil menautkan alisnya. Emely menganggukan kepalanya. Dani menghela napas panjang. Kenapa makanan yang diminta Emely makanan yang tidak ada di depannya. Bahkan tadi dia sudah ke pasar, lalu apa harus ke pasar lagi untuk membeli apa yang Emely mau?


"Kita ke kantor desa sekarang, kita mencari pisang sekalian pulang. Besok aku harus bekerja," ucap Dani. Keduanya berjalan beriringan menuju ke mobil dan menuju ke kantor desa yang tak jauh dari tempat mereka berada.


***


Di waktu yang sama di tempat yang berbeda, Lelyta tampak tersenyum dengan indah saat mendengar penuturan dari dokter bahwasanya ibunya sudah diperbolehkan untuk pulang. Kesehatan ibunya sudah membaik.


Segera wanita cantik yang selama tiga hari di rumahsakit itu menghampiri ibunya.


"Bu, kita sudah bisa pulang," Lelyta memeluk ibunya dengan erat. Ibu baginya adalah kebahagiaan untuknya. Ibu adalah harta berharga yang dia miliki saat ini.


"Lalu, bagaimana cara kamu membayar rumah sakit ibu nak?" tanya ibunya.


Lelyta tersenyum singkat, tadinya dia mau menyicil. Tapi, alangkah terkejutnya saat tagihan rumah sakit sudah terbayar lunas. Bahkan dia tak tau siapa yang baru saja melunasi tagihan rumah sakitnya. Apa Dafa? Lelyta menatap ke arah ibunya.


Ibu Leni mengusap pelan puncak kepala putrinya, tersenyum singkat dan menutup tas punggung berwarna hitam.


Mereka yang selesai berkemas segera berjalan ke arah pintu, Lelyta tampak terkejut saat membuka pintu. Dafa, lelaki itu kini berdiri tepat di depannya.


"Dafa," ucapnya.


Lelaki yang memakai celana panjang dan kemeja kotak itu tampak berdiri dan menatap Lelyta dengan tatapan dingin.


"Sebaiknya ibu, juga kau ikut aku. Ingat, aku telah menukar kalian dengan dana 500 juta. Bekerja denganku dan tidak ada penolakan," ucapnya. Lelyta tampak membelalakan matanya.


Kenapa lelaki ini selalu mengungkit dana lima ratus juta yang sama sekali tidak meminta persetujuan darinya?


"Dafa, aku sudah pernah bilang. Aku akan menggantinya. Tapi kau tidak bisa seenaknya," jawab Lelyta.


"Aku tak butuh uang ganti yang kau maksud. Aku ingin kau dan ibumu bekerja padaku," ucapnya.

__ADS_1


"Aku punya pekerjaan, aku dan ibu akan menggangi semua biaya yang kau keluarkan. Terimakasih," ucap Lelyta sambil menggandeng tangan ibunya.


Tapi, ibu malah tak mau untuk mengikuti langkah kakinya.


"Bu, sebaiknya kita pergi. Jangan hiraukan dia Bu," ucap Lelyta. Ibu tampak tersenyum dan menatap Lelyta.


"Nak, kamu tidak boleh seperti itu. Nak Dafa sudah baik menolong kita, mengeluarkan kita dari rumah Tuan Wilson. Alangkah baiknya jika kita menuruti apa yang dia mau, lagi pula dia baik tidak meminta uang tunai. Dia meminta kita untuk bekerja padanya," ucap ibu Leni.


Dafa yang kini menyedekapkan tangannya di dada dan bersandar di dinding berdiri tegak dan menatap Lelyta dengan tenang.


"Dengar, ibumu saja tau apa yang harus dilakukan. Sebaiknya kau mengikuti apa mauku, sebelum aku berubah pikiran dan mengembalikan kau ke tempat dimana aku menemukanmu," sinisnya. Lelyta tampak geram. lelaki di depannya benar benar menguji kesabaranya.


"Maafkan putri Saya, Nak Dafa. Tapi saya mohon jangan kembalikan kami ke sana, ibu janji akan bekerja lebih giat di temoat Nak Dafa," ucap ibu. Dafa tersenyum dan menatap ibu Leni dengan tenang.


"Saya maafkan kali ini, tapi sekali lagi membangkang. Maka aku akan bertindak tegas," ucap Dafa sambil melenggang pergi.


Lelyta mengepalkan tangannya. "Sangat menjengkelkan," gumamnya.


"Lel, ikuti apa maunya nak." Ibu menggenggam tangan putrinya dan mengajaknya mengikuti langkah Dafa.


***


Dani dan Emely kini berhadapan dengan pak lurah di kantor desa, pak lurah berucap panjang lebar. Meminta maaf bila ada kesalah pahaman yang melibatkan Dani, Emely dan juga warga desa.


"Semua sudah berlalu pak. Mungkin kami memang ditakdirkan berjodoh dengan cara yang unik. Bahkan, kami juga berterimakasih. Karna saat ini kami bahagia menerima buku nikah ini. Kami bahagia, berharap sakinah, mawadah warohma sampai maut memisahkan," ucap Dani.


Deg


Emely memejamkan matanya, tak ada keraguan lagi dalam hatinya. Dia yakin cinta Dani hanya untuknya. Emely mengeratkan genggaman tangan Dani yang dari tadi memang menggengam tangannya.


"Assalamualaikum,"


Sampai pada akhirnya suara yang dipastikan suara Sifa dan Kiai Yusuf mengucapkan salam bersama.


❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2