
Emely memejamkan mata, merasakan kenyamanan. Hais, kenapa pundak Lelyta sangat menentramkan? Kenapa rasanya sangat hangat? Kenapa Emely merasa pundak ini bagai pundak ternyaman baginya?
"Lel, kau bisa membantu menerjemahkan perasaanku? Perasaan apa yang sebenarnya aku rasakan pada Ardani?" tanya Emely lagi sambil memandang ke arah hamparan lautan yang indah.
Memandang ke arah ombak yang sangat dia sukai. Memandang ombak laut bisa membuat suatu kebahagiaan tersendiri baginya.
Tak ada jawaban dari orang yang diajaknya bicara. Emely menghela napas panjang.
"Oke, tidak papa jika kamu tidak mau menjawab. Yang penting kamu mendengarkan aku," ucap Emely dengan tenang.
"Nanti malam Raymon datang ke rumah Lel. Kau tau, bukan membicarakan hubungan kami, akan tapi mereka malah akan membicarakan perusahaan. Perusahaan yang dititipkan papa pada mereka. Kata papa perusahaan itu nantinya akan menjadi milik aku dan Raymon. Tapi, jika aku menghianati Raymon maka perusahaan itu akan jatuh ke tangan mereka. Dan pernikahanku dengan Ardani, adalah alasan mereka menyebut aku berhianat. Ini menyakitkan bagiku Lel. Aku seperti bahan taruhan saja," ucap Emely.
Deg
Dani yang kini menjadi tempat bersandar Emely tampak terkejut. Bagaimana bisa Emely dijadikan seperti barang taruhan? Apa semua ini ada hubungannya dengan obat perangsang itu?
Bahkan dirinya sampai sekarang belum membaca laporan yang diberikan oleh Rudi yang ada di emailnya. Dani mengepalkan tangannya, siapapun mereka, dia harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi. Pikir Dani.
Emely merasa janggal, kenapa Lelyta tak menyahut sedikitpun? Apa Lelyta bosan dengan cerita yang dia ceritakan?
"Lel, kenapa kau diam saja sih?" Emely bangun dari pundak itu. Emely menoleh, betapa terkejutnya dia saat menatap ke arah seorang yang kini juga menatapnya dengan senyumannya.
"Selamat Sore, Nona Rakhaila Emely Pradikta," sapa Dani kemudian berdiri membersihkan celana yang kini menempel pasir pantai.
Emely yang masih terkejut kini hanya bisa melongo, jadi yang diajaknya bicara sejak tadi adalah Dani? Astaga, bagaimana bisa? Emely seperti tidak punya wajah di depan Dani, astaga bukankah pertanyaannya tadi bisa membuat Dani besar kepala?
Emely berdiri, menatap Dani yang tampak biasa saja dan tampak tak terjadi apa-apa. Lalu, harus apa dia? Protes? Atau apa?
"Apa kau terpesona denganku Nona Emeely? Kenapa menatapku seperti itu? Aku tau aku memang sangat tampan. Bukan hal yang aneh saat wanita sepertimu terpesona dengan ketampananku," ucap Dani dengan narsisnya.
Emely menggeleng pelan. Dani melangkah maju, menikmati terpaan angin yang berhembus kencang. Memandang indah pemandangan ombak yang berkejaran kesana-kesini.
Dani berdiri tegak sambil memasukan kedua tangannya di saku celana. Hingga pada akhirnya Emely berdiri di sampingnya.
"Apa yang kau lakukan disini? Kau mengikutiku?" tanya Emely sambil menikmati angin laut yang berhembus dan membuat bajunya bergoyang-goyang.
__ADS_1
Dani terkekeh dan menoleh ke arah Emely yang memandang ke depan sana.
"Belajar menuduh dari mana?" tanya Dani.
"Aku tidak menuduh," ucapnya.
"Lalu?" tanya Dani sambil berjalan ke arah Emely. Berdiri tegak di depan Emely, tangannya masih diposisi yang sama, berada di saku celana.
"Aku hanya bertanya," ucap Emely.
Dani mengulurkan tangannya, mengangkat dagu Emeli sehingga membuat wanita cantik yang kini berhijab itu mendongakkan wajahnya. Mereka saling memandang di tengah terpaan angin yang membuat keduanya tampak romantis.
Dani tersenyum tipis, menatap wajah Emely sesedih ini membuat otaknya memikirkan satu nama orang yang saat ini ada dalam benaknya. Nama orang yang dirasa menjadi salah satu alasan Emely bersedih. Tapi, dia tidak bisa bertindak gegabah, mungkin dengan cara halus dirinya bisa mengatasi semuanya.
Dani masih menatap Emely yang cemberut di tengah terpaan ombak kecil di pinggiran pantai. Dani mengeluarkan ponselnya dan menekan kamera. Dani mengarahkan kamera ke arahnya dan Emely.
"Lihatlah, kau sangat jelek saat bersedih. Tersenyumlah Em," ucap Dani santai.
Cekrek Cekrek
Beberapa kali Dani memencet kamera dan tak kunjung mendapatkan pose yang sempurna. Dani menghela napas panjang dan kembali menatap ke arah Emely.
"Sempurna," ucap Dani dengan senyumannya.
Hatinya bahagia melihat Emely tersenyum bahagia. Dani mendekat dan tersenyum, mereka berpose kembali sehingga membuat satu jebretan yang sangat mempesona.
"Ini lebih bagus," ucap Dani.
Emely melangkah maju, riak ombak perlahan membasahi kaki Emely ketika ia menginjakkan kaki di pantai dan melepas alas kakinya. Emely mengamati ponsel Dani dan terkekeh pelan.
"Kau jangan memandang foto itu terus menerus," ucapnya. Dani menautkan alisnya.
"Kenapa?" tanya Dani antusias.
"Itu akan membuatmu merindukan kehadiranku," ucapnya. Dani terkekeh sambil menatap Emely yang merentangkan tangannya menangkap air laut.
__ADS_1
Debur dan buih ombak nampak berkejaran menuju ke arah mereka. Pandangan mata keduanya lepas memandang cakrawala nan jauh di depan. Sementara burung burung terbang sambil sesekali meneriakkan suaranya yang khas.
Dani mendekat, tangannya terulur meraih Emely dalam dekapanyannya. Kedua tanganya melingkarkan sempurna di pinggang Emely sambil mengamati hamparan lautan yang luas.
Emely memejamkan matanya, merasakan kehangatan dari dekapan seseorang yang telah sah menyentuh dirinya. Dani meletakan dagunya di pundak Emely sehingga lelaki itu mampu mencium bau wangi tubuh Emely yang membuat candu itu.
"Lepaskan aku!" pinta Emely.
"Jangan memberontak, diam lah!" ucap Dani. Dani lebih mengeratkan dekapannya. Angin pantai kesana kemari menerpa keduanya. Dani merasakan desiran lembut yang menguasai hatinya.
"Dani aku mohon, lepaskan aku," pinta Emely lagi. Emely terdiam, sambil mendengarkan suara gemuruh ombak yang mendekat.
"Aku bilang diam," ucap Dani lagi.
Dani memutar tubuhnya, membuat Emely kini berada di depannya. Dani mengusap wajah cantik Emely dan tersenyum tipis.
"Bukankah kita berteman? Kau tenang saja Em, aku akan membantumu mengusut tuntas tentang Perusahaan, kau tidak perlu hawatir, aku juga akan mencari dalang dibalik kejadian yang membuat kita seperti ini, aku harap kau bersabar," ucap Dani panjang lebar.
"Benarkah?" tanya Emely.
"Iya," jawab Dani.
"Trimakasih atas bantuanmu Dan," ucap Emely.
"Hem, tapi itu tidak gratis. Ucap Dani dengan senyum sinisnya. Emely menatap Dani dengan tajam.
"Lalu?" tanyanya.
"Kau harus menemani tidurku malam ini," ucap Dani.
Memang, semalaman dia tak bisa tidur. Wajah Emely selalu melintas dalam benaknya. Bahkan tak ditemukan kenyamanan yang sama, selain dia memeluk tubuh wanita itu. Dia berharap Emely mau menyetujui permintaannya.
Emely menghela napas panjang, mencoba untuk meresapi setiap kata yang keluar dari mulut Dani. Sangat tidak masuk akal. Ini gila.
"Kurasa kau harus bangun dari tidurmu tuan Dani, kau mulai tidak waras," ucap Emely sambil mendorong Dani menjauh darinya dan melangkah pergi.
__ADS_1
Dani teekekeh pelan, bahkan dia tak tau kenapa dengan dirinya. Dia menatap Emely yang menjauh, dikejarnya wanita cantik itu dan diangkat ala bridal style. Angin laut berhembus kencang menerpa dua manusia yang entah sedang merasakan apa.
🎀🎀🎀🎀