Cintai Aku, Lupakan Dia!

Cintai Aku, Lupakan Dia!
CALD. Suara minta tolong


__ADS_3

"Siapa itu?" tanya Dafa sambil menatap tajam ke arah Tuan Wilson.


"Pasti itu salah satu asisten rumah tangga kami yang sedang minta pertolongan," jawab Tuan Wilson sambil tersenyum.


Dafa menatap ke atas sana, berharap ada sesuatu yang menuntunnya untuk naik ke atas.


"Tapi kenapa suaranya seperti ketakutan?" tanya Dafa lagi dengan penasaran.


"Iya, itu memang kebiasannya. Biasalah, diatas ada kucing, mungkin kucingnya mengamuk sehingga dia ketakutan," ucap Tuan Wilson dan diangguki oleh Dafa. Sebenarnya Dafa tak percaya. Bahkan dia seperti sedang di bodohi.


"Tolong aku, siapa diluar?" teriak orang itu lagi dan membuat Dafa kembali menatap Tuan Wilson.


"Apa tidak kau tolong dulu saja? sepertinya dia sangat mengganggu meeting kita," ucapnya kemudian menatap ke arah Tuan Wilson dengan tatapan yang sangat tajam.


"Apa bisa kalian mulai saja? Saya akan kesana untuk menegurnya, " ucap Nyonya Wilson disela keheningan.


Dafa dan Tuan Wilson saling memandang, mereka mengangguk bersamaan. Diskusi dimulai.


Dafa dan Tuan Wilson membicarakan kerja sama, lelaki itu sesekali mencuri pandang ke atas. Masih penasaran saja dengan suara minta tolong yang didengar beberapa kali, dan anehnya lagi tanpa ada satu orangpun yang menolong.


"Sepertinya aku harus mencari tau. Tuan Wilson sepertinya sangat licik seperti yang dikatakan Dani. Aku harus lebih berhati-hati," ucap Dafa dalam hati.


Menerima kerja sama yang diajukan oleh Tuan Wilson adalah salah satu upaya Dani untuk membongkar motif kejahatan yang dilakukan Tuan Wilson kepada dia dan emely.


Nyonya Wilson menuju ke atas, membuka pintu yang kemudian menampakan wajah cantik Lelyta dan ibunya.


"Apa kau tidak bisa diam?" tanya Nyonya Wilson dengan tatapan tajamnya.


"Aku tidak bisa diam," ucap Lelyta. Wanita cantik itu melirik pintu kamar, dengan gerakan cepat lelyta menutup pintu dengan kakinya sehingga menimbulkan suara, dia menarik tangan Nyonya Wilson, memluntirnya dan mendudukan wanita itu di kursi yang tadi digunakan untuk menyekapnya.


Lelyta juga mengikat tangan Nyonya Wilson, mengikat mulut wanita itu dengan kain di pojok ruangan.


Ibu Rani tampak terkejut dengan apa yang dilakukan putrinya. Lelyta, putrinya itu memang sedikit bar bar.


Nyonya Wilson tampak bergerak gerak meminta di lepaskan, tapi Lelyta hanya tersenyum dan menatap wanita itu dengan sinis.


"Ini harga yang harus kau bayar atas ulahmu, terimakasih telah menolongku Nyonya Wilson. Aku dan ibuku akan keluar dari sini," ucap Lelyta sambil memapah ibunya.

__ADS_1


Lelyta menyembul ke luar pintu, berharap tak ada siapapun yang ada di luar. Yang ingin dia lakukan saat ini adalah turun ke bawah, meminta perlindungan dari Ardani. Mungkin ini adalah jalan satu satunya yang bisa dia lakukan. Kalau kabur, sudah pasti nantinya mereka akan dikejar dan ujung-ujungnya akan tertangkap.


🎀🎀🎀🎀


Tiga puluh menit berlalu. Keduanya menghela Nafas panjang. Dafa membaca beberapa notuline yang menjadi kesepakatan.


"Jadi bagaimana untuk penawaran terakhir? Perusahaan kami sanggup untuk menghendel seratus persen modal, tapi kalian hanya memberikan kesempatan delapan puluh persen saja. Lantas apa tidak akan menyesal dikemudian hari? Kami berbaik hati kali ini, jangan satu Jam kedepan, bahkan esok hari. Karna kami bisa saja berubah fikiran," ucap Dafa tegas. Sudut bibirnya terangkat mengulas senyum tipis di sana.


Tuan Wilson tampak menimbang, dia juga tidak mau terjebak dalam situasi yang nantinya akan mencelakakan dirinya sendiri.


Dafa menatap Tuan Wilson, lelaki yang kini tampak gelisah karna istri tercintanya tak kunjung kembali ke tempat ini. Apa yang terjadi sehingga wanita itu tak balik balik?


Apa wanita bar bar itu berbuat ulah? Lelyta sangat sulit untuk ditangkap, hanya karna wanita itu lengah pada akhirnya bisa disekap. Lalu, apa yang terjadi di atas? Karna tadi beberapa kali tersengar sedikit ricuh.


"Terimakasih atas penawarannya, Tuan Dafa. Delapan puluh persen saya rasa sudah lebih dari cukup," ucap Tuqn Wilson. Dafa mengangguk anggukan kepalanya. Netranya kembali melirik ke atas sana. Masih penasaran saja dengan keanehan yang diciptakan di sini.


"Okey, kalau begitu anda harus menandatangani beberapa berkas. Aku harap kita bisa bekerja sama dengan baik," ucap Dafa sambil mengeluarkan beberapa berkas penting kerja sama itu. Tuan Wilson mengangguk sambil menandatangani berkas persetujuan.


"Tuan, boleh saya menumpang ke toilet?" tanya Dafa pada Tuan Wilson yang sepertinya malah berpikir panjang. Apa yang harus dia katakan? Toilet di bawah kebetulan sedang mampet, yang ada hanya di atas. Lalu, apa yang terjadi di atas? Bagaimana kalau sampai terjadi hal yang tidak diinginkan?


"Sepertinya anda tengah memikirkan sesuatu sesuatu. Sehingga tidak menjawab pertanyaan saya," ucap Dafa sedikit sinis. Tuan Wilson memandang Dafa, menyerahkan beberapa berkas penting pada lelaki itu. Dengan elegan Dafa mengambilnya.


Dafa tersenyum sinis, mungkin dengan begitu dia bisa mendapatkan informasi yang dia mau.


"Diatas aman?" tanya Dafa sontak membiat Tuan Wilson menatapnya.


"Aman Tuan," jawabnya ketar ketir.


"Oke, saya kesana sekarang," ucap Dafa. Tuan Wilson tampak mengikuti langkah Dafa.


"Anda mau mengantarku? Cukup anda beri tau dimana tempatnya. Aku pikir aku tidak akan tersesat," ucapnya dengan tegas bersamaan dengan senyum licik yang menegaskan dia bisa melakukan apa saja.


Tuan Wilson sedikit gentar, perasaan takut menyelinap di hatinya. Bagaimana jika Dafa menemukan sesuatu yang ganjal? Bagaimana bila Dafa menemukan sesuatu yang mencurigakan? Tuan Wilson menghela napas panjang dan menghembuskan pelan.


"Baik, anda bisa lurus dan belok kanan," ucap Tuan Wilson dan diangguki oleh Dafa. Dafa melangkah ke atas, benar benar dia penasaran dengan beberapa kali suara minta tolong dan dobrakan pintu setelah Nyonya Wilson ke atas.


Di waktu yang bersamaan, Lelyta dan ibunya berjalan pelan dari lorong kamar tersembunyi menuju ke bawah sana.

__ADS_1


Brak


Dafa yang berbelok dengan tiba tiba membuat Lelyta terkejut. Dafa juga sama. Mereka saling memandang. Dafa terdiam melihat Lelyta yang tampak berantakan. Netranya beralih menatap wanita paruh baya di rengkuhan Lelyta. Dia juga mengamati penampilan Lelyta yang elegan tapi saat ini terkesan berantakan.


Lelyta melirik Dafa, dia juga menyadari penampilan Dafa yang begitu elegan, wajah tampan yang sempat membuatnya sedikit terpesona. Bahkan, dia yakin ini adalah salah satu tamu Tuan Wilson. Apa iya dia harus meminta pertolongan padanya?


"Tuan, apa kau mau menolongku?" ucap Lelyta dan mampu membuat Dafa menautkan alisnya. Dafa memandang dua orang di depannya.


"Sepertinya terjadi sesuatu dengan mereka," batin Dafa.


"Apa yang bisa kulakukan?" tanya Dafa. Lelyta tersenyum dan menatap Dafa dengan tegang.


"Bantu kami keluar dari sini," ucapnya. Dafa menautkan alisnya.


"Maksud saya beri kami tumpangan, dan izinkan kami pada bos untuk ke rumah sakit. Ibu saya sakit, tangan saya juga terluka, kami takut meminta izin sendiri. Pasti tidak dikasih izin berdua," ucapnya sambil menatap tangannya yang teeluka juga menatap ibunya yang lemah.


Dafa teesenyum sinis, ada yang tidak beres dan ada yang disembunyikan wanita ini. Entah itu apa. Yang jelas rasa penasaran Dafa sudah terobati. Dia telah menemukan kejanggalan yang sejak tadi dia pikirkan. Dia yakin, ini adalah kejanggalan itu. Lalu, dimana Nyonya Wilson? Entahlah.


"Oke, kita turun sekarang," ucap Dafa. Lelyta tampak tersenyum bahagia.


"Terimakasih Tuan," ucapnya dan diangguki oleh Dafa.


Lelyta melangkahkan kakinya. Menghela napas panjang. Dadanya sedikit lega mendengar jawaban lelaki itu.


"Apa aktingku sukses?" batin Lelyta.


"Nona" suara itu mengagetkan Lelyta.


Lelyta berhenti di tempat, menunggu sang pemilik suara menghampirinya. Yang benar saja orang itu berdiri di depannya.


Lelyta sedikit gugup, saat pandangan mereka bertemu. Tiba-tiba saja ibu yang ada di rengkuhan Lelyta merasakan pusing yang mengakibatkan Lelyta sedikit terhuyung. Dafa dengan sigap meraih pinggang Lelyta.


Lelyta yang terkejut dan menepis tangan Dafa.


"Maaf Nona. Apa ibu Nona baik-baik saja?" tanyanya. Lelyta tersenyum sinis.


"Aku tidak papa.Terimakasih telah membantu Nak," jawab ibu Rani.

__ADS_1


"Maaf Tuan, sebaiknya kita segera pergi. Aku takut ibu kesakitan lagi nanti," ucap Lelyta. Wanita itu menghawatirkan keadaan Emely. Apa yang terjadi padanya saat ini? Ingin rasanya cepat cepat keluar dari sini dan segera menghampiri Emely.


🎀🎀🎀🎀🎀🎀


__ADS_2