
Dani dan Dafa berada disebuah gedung yang begitu mewah. Mereka berada dI ARW grup.
"Duduklah!" ucap Dani sambil melirik sepupunya yang kini tampak membawa kabar yang membahagiakan.
"Kabar apa yang kau bawa? Kau tau. aku meninggalkan Emely yang sedang bahagia, membuat wanita itu tampak bersedih," Protesnya dan malah membuat Dafa terkekeh pelan.
"Aku hanya meminta waktumu dua jam paling lama, lalu apa aku salah?" tanya Dafa.
"Dua jam untukmu, lalu aku harus pulang malam ini. Mama menungguku untuk menyelesaikan permasalahan dengan Sinta dan keluarganya," ucap Dani sambil memijat pelipisnya.
"Jalan apa yang kau tempuh?" tanya Dafa.
"Aku akan mencoba memberi pengertian pada mama dengan Vidio yang kau kirim waktu itu," ucap Dani.
"Semoga kau bisa merayu hati tante Nina hingga beliau bisa memaklumimu, jika urusanmu selesai kau bisa membawa Emely ke hadapan orang tuamu. Memperkenalkan dirinya di hadapan publik juga," ucap Dafa.
Dani melempar bantal sofa ke arah Dafa. Sepupunya itu sok bijak sekali menasehatinya.
"Kenapa melempariku?" sentaknya.
"Aku hanya gemas, kau tampak bijak sekali," ucap Dani.
"Memangnya aku salah? Sepertinya tidak juga, kau sepertinya memang telah jatuh cinta pada istrimu itu," ucap Dafa sambil menatap ke arah Dani dengan tenang.
Dani mengusap kasar wajahnya, sepertinya apa yang dikatakan Dafa memang benar. Tapi lagi lagi dia belum mampu untuk memastikanya.
"Aku hanya bisa berdoa semoga mendapatkan jawaban yang terbaik," ucap Dani.
"Ada kabar dari Desa?" tanya Dafa.
Dani menggelengkan kepalanya. Sudah hampir sebulan, dan belum ada kabar sama sekali.
"Aku juga akan menanyakan itu nantinya, semoga berkas yang diajukan untuk mendapatkan pengakuan pernikahan dari hukum bisa segera keluar sehingga kabar miring tak lagi menerpa Emely," ucap Dani.
"Semoga saja, lagi pula aku sudah melengkapi semua berkas pengajuan isbat nikahmu (Isbat Nikah adalahΒ permohonan pengesahan pernikahan siri yang diajukan ke pengadilan untuk dinyatakan sahnya pernikahan dan memiliki kekuatan hukum. Sesungguhnya perkawinan hanya dapat dibuktikan dengan akta nikah yang dibuat oleh Pegawai Pencatat Nikah) yang diuruskan oleh pak lurah desa itu tepat keesokan harinya seperti yang kau minta," ucap Dafa.
Dani menghela napas panjang, meminta pada Tuhan agar semua urusannya dimudahkan.
"Kenapa kau nglantur sampai kemana mana, memangnya kabar apa yang kau bawa?" tanya Dani pada Dafa yang kini menyandarkan tubuhnya di sofa sambil mengamati langit langit ruangan itu.
Dafa malah memikirkan Lelyta, wanita yang mengusik hatinya. Wanita yang saat ini masih di rumah sakit untuk menjaga ibunya.
"Aku sudah menemukan titik temu masalah yang membelitmu," ucap Dafa.
"Siapa mereka? Motif apa?" tanya Dani.
"Akar masalahnya pada Emely, sebenarnya kita tak ada sangkut pautnya. Tapi seseorang menyangkutpautkan kau, karna dia yakin kau bisa melindungi Emely," ucap Dafa.
"Maksudmu? Jangan berbelit belit Dafa, aku tak suka itu," ucap Dani sambil menatap Dafa dengan penasaran.
Dafa menghela napas panjang, menceritakan semua yang disampaikan oleh Lelyta padanya. Mencoba memberikan penjelasan pada Dani.
Dani memejamkan matanya, harus bahagia atau harus bagaimana? Lelyta sahabat Emely, memilihnya untuk mendampingi Emely? Lalu, takdir seakan mengijabah apa yang wanita itu mau. Dani menghela napas panjang dan memejamkan matanya.
"Lelyta memang salah menjebakmu, tapi dia terpaksa. Dia beruntung bahwa kau yang saat itu merenggut kehor*atan Emely, bukan orang lain," ucap Dafa.
__ADS_1
"Ini semua karna Tuan Wilson?" tanya Dani. Dafa mwnganggukan kepalanya.
" Tuan Wilson sangat keterlaluan, dia mempermainkan aku, Emely dan Lelyta juga. Dia mengambil keuntungan dari kesusahan kami," ucap Dani.
Dani memejamkan matanya, jadi apa Raymon tidak terlibat sedikitpun? Kenapa Dafa tak menyinggung soal Raymon sedikitpun? Apa artinya Raymon benar benar tak tau masalah ini? Lalu, apa Emely masih juga menyimpan rasa cinta untuk Emely?
"Kau tidak mendengar informasi dari Malaskay Raymon Ardiansyah?" tanya Dani pada Dafa yang kini memandang ke arahnya dengan tenang.
"Lelyta tak menyebut nama itu sedikitpun," ucap Dafa pada Dani.
"Cari tau tentangnya," ucap Dani pada Dafa. Dafa menghela napas panjang. Dia pikir pekerjaanya sudah selesa, ternyata masih ada beberapa hal yang harua dia selidiki.
"Oke, ada lagi yang kau tugaskan untukku Kakak sepupu?" tanya Dafa.
"Sinta, Tuan Shin dan Nyonya Helena, apa ada pergerakan yang berarti setelah saat itu?" tanya Dani.
Dafa tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Sudah aku bilang, mereka tak cukup kuat. Kita sudah mengalahkan mereka, untuk mengatasi kemarahan mereka, kau bisa memberikan satu perusahaan yang tidak bisa kau urus agar mereka bungkam dan tak mengusikmu lagi," ucap Dafa.
Dani terkekeh dan menatap adik sepupunya itu dengan tenang.
"Kau cukup cerdas untuk ini," ucap Dani. Dafa tersenyum tipis.
"Kau meragukanku Tuan Ardani?" tanya Dafa. Dani menghela napas panjang dan menggeleng pelan.
"No, aku percaya pada kempuanmu. Sekarang aku harus pulang. Aku harus menemui mama kali ini juga," ucap Dani.
"Hem," jawab Dafa.
"Halo Ma," ucap Dani.
"Dani, apa kau tak sayang pada mama? Sejak pagi mamamu menunggumu, bagaimana bisa kau terus mengabaikannya?" ucap suara papa Hendra di sebrang. Dani menghela napas panjang kemudian mencoba menjawab.
"Dani pulang sekarang Pa, maafkan Dani," ucap Dani.
"Cepatlah pulang Dan, kasian mamamu," ucap papa Hendra prustasi.
Dani menutup ponselnya kemudian bersitatap dengan Dafa yang juga menatapnya dengan tenang.
"Kenapa?" tanya Dafa.
"Mama sepertinya jatuh sakit karna banyak pikiran, aku harus segera menemuinya," ucap Dani dan diangguki oleh Dafa.
"Hati hati," ucap Dafa.
Dani menyambar kunci mobil kemudian berlari kecil menuju ke arah parkiran depan.
πππππ
Dani mengendarai mobilnya dengan tenang, sudah beberapa minggu dia dan mamanya tampak menjauh. Dan saat ini, dia harua segera menyelesaikan permasalahan yang ada.
Sampailah Dani di mansion ARW. Segera Dani melangkahkan kakinya. Suasana begitu sepi.
"Selamat Malam Tuan Muda," sapa pelayan padanya.
__ADS_1
"Selamat malam, dimana Papa dan Mama?" tanya Dani pada pelayan itu.
"Nyonya Nina dan Tuan Hendra ada di kamar," jawabnya.
Dani berlari kecil menuju ke arah dimana ke dua orang tuanya berada.
Setelah sampai di depan kamar papa dan mamanya, Dani kini mengetok pintu.
Papa Hendra yang mendengar pintu di ketuk, kini segera membuka pintu. Ditatapnya wajah lelah putranya itu.
"Masuklah," ucap Papanya. Dani melangkah masuk ke dalam kamar yang luas itu. Tampak Mama Nina kini terbaring miring. Dipastikan mamanya itu tengah tidak baik baik saja.
"Mamamu diam sejak kemaren, tak mau makan, tak mau bangun, tak mau apapun. Dia berharap bisa bertemu denganmu," ucap Papanya.
Dani menghela napas panjang, dia mendekat ke arah mamanya. Sejak kemaren, Mama Nina tampak murung. Mama Nina juga yang meminta Sinta untuk segera meninggalkan mansionya. Meminta Sinta untuk segera kembali ke rumahmya sendiri.
"Ma," Dani menyentuh lengan mamanya. Sebenarnya lelaki itu sangat mencintai ibunya. Hanya saja akhir akhir ini semua masalah seakan menumpuk hingga merenggangkan hubungannya dengan mamanya.
"Ma," panggilnya lagi. Mama Nina masih terdiam membelakanginya.
Dani memejamkan matanya, kemaren mamanya menelpon dan memintanya untuk membantu keluar dari masalah. Lalu, bagaimana bisa dia malah mengabaikan?
"Ma, maafkan Dani. Dani tau Dani salah, Dani tau Dani tidak berbakti. Dani minta maaf, jika Mama tidak memaafkan Dani tidak papa. Dani tau mama sudah terbangun tapi tidak mau menatap Dani. Oke, tidak papa Ma, mungkin memang mama butuh istirahat yang cukup," ucap Dani kemudian berdiri.
Papa Hendra hanya diam, dia tak bisa menyalahkan Dani atau pun istrinya. Sebenarnya semua butuh untuk dibicarakan. Tapi mungkin waktunya saja yang kurang tepat.
Papa Hendra menepuk pundak Dani dan menatap putranya dengan tenang.
"Segera kembalikan suasana rumah seperti dulu, kita bahagia bersama. Alangkah lebih baik lagi kau bisa memperjelas pernikahanmu, membahagiakan mamamu. Mungkin, bila nanti mamamu belum bisa menerima istrimu, setidaknya dia akan terbiasa dengan kenyataan kalau memang kamu sudah menikah," ucap papanya.
Dani menghela napas panjang dan menganggukan kepalanya. Dani hampir saja melangkah, akan tetapi suara mamanya menghentikan langkahnya.
"Dani kesinilah, peluklah Mama," ucap mamanya. Dani seketika berbalik arah dan berjalan ke arah mamanya yang masih pada posisi yang sama.
Dani berjalan mendekat dan kini berada di depan mamanya, mama Nina bangun dari baringnya kemudian merentangkan tangannya. Air mata mama Nina tampak menetes.
"Kau, apa jika mama mati kau baru mau pulang? Kenapa kau itu memikirkan dirimu sendiri? Pergi lama tanpa mengabari. Pergi lama dan meninggalkan masalah. Apa mama tak sedikitpun ada di pikiran kamu? Apa dengan mempermalukan mama hidupmu bajagia?" tanya mamanya di tengah isak tangisnya.
"Dan lagi, kau malah menikah dan tak mengabari mama, bahkan kamu menikah dengan wanita itu, wanita yang menggagalkan pernikahanmu. Dimana naluri kamu? Apa sebegitu istimewanya dia sehingga kamu membangkang pada mama?" cerocosnya lagi.
Dani memejamkan matanya, pasti mamanya mendapatkan informasi yang tak akurat. Mendapat informasi tambal sulam yang menyesatkan pikiran mamanya.
Papa Pradikta kini duduk di sofa, melihat interaksi ibu dan anak itu. Ibu dan anak yang saling menyayangi tetapi kini tengah di uji.
"Ma, itu semua tak seperti yang mama pikir. Aku meninggalkan masalah dirumah, justru aku malah terlibat dengan masalah yang baru," ucap Dani.
Mama Nina terdiam, mencoba mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh Dani selanjutnya.
"Dani menikah karna terpaksa, bahkan sampai sekarang Dani belum mendapatkan bukti nikah resmi dari negara, mama salah paham bila menganggap Dani meninggalkan pernikahan dengan Sinta kemudian menikah dengan Emely," ucap Dani.
Mama Nina melepas pelukannya, Emely? Nama itu kenapa tak asing baginya? Tapi entahlah, siapapun namanya. Wanita itu sudah terlanjur menggores luka dalam hatinya.
"Salah paham bagaimana? Mama tau foto pernikahan kamu dengan wanita itu dari Sinta, mama kesana kamu sudah tidak ada," ucap mamanya lagi.
"Mama yakin Sinta baik?" tanya Dani dengan tenang.
__ADS_1
ππππ