
Adzan magrib berkumandang dengan merdu, Santri putra dan santri putri tampak berbondong bondong berjalan ke arah masjid untuk melaksanakan shalat berjamaah.
Mereka berjamaah dengan khusyuk, beribadah kepada sang Maha Penguasa langit dan bumi.
Setelah berdzikir dan mengagungkan nama Allah SWT, jamaah shalat Magrib memanjatkan doa kepada Sang Maha Kuasa. Meminta keselamatan dunia dan akhirat.
Diantara mereka yang berdoa adalah Sifa, Sifa meminta kepada Sang penguasa agar menenangkan hatinya. Meminta kepada sang Kuasa agar diberikan kesabaran, diberikan kebahagiaan dunia dan Akhirat.
Tak lama dari itu, para jamaah berbondong-bondong kembali ke asrama. Sifa juga melakukan hal yang sama.
Sifa berdiri di depan ndalem, menatap ke atas. Menatap bintang yang indah dan bertaburan. Salah satu benda langit yang sangat indah yang diciptakan oleh Sang Maha pencipta.
"Sifa, apa yang kamu pikirkan Nak?" tanya Kiai Yusuf pada putri bungsunya yang kini tampak bersedih. Kiai Yusuf yang baru saja mengimami Sholat berjamaah kini duduk di samping Sifa. Menatap wajah cantik tanpa polesan make up itu.
Sehabis donor darah tadi siang, wajah Sifa selalu murung. Bahkan, ketika membantu Dokter yang mengenalkan dirinya bernama Arfan itu, putri bungsunya juga tak sebahagia pagi tadi.
"Abah perhatikan kamu sedang bersedih, coba ceritakan pada abah. Siapa tau, abah bisa membatu kesulitan yang kamu hadapi," ucap Kiai Yusuf.
"Sifa tidak apa apa bah, Sifa lagi tidak enak badan saja," ucapnya sambil menatap ke arah Abahnya dengan tenang.
Sifa berdiri, hendak masuk ke dalam ndalem. Akan tetapi pak Kiai menahan langkah putrinya.
"Abah tau, kamu menyembunyikan sesuatu. Ceritakan pada abah," ucap Abahnya sambil tersenyum. Kiai Yusuf tau pasti bagaimana Sifa, putrinya itu sedang menyembunyikan sesuatu.
Pada akhirnya, mau tidak mau Sifa kembali duduk, ditatapnya wajah Kiai Yusuf dengan teduh.
"Bah, bagaimana bila Sifa memiliki perasaan pada orang yang tadinya itu masih sendiri, dan tiba tiba saja orang yang dia sukai itu menikah dengan orang lain dengan keterpaksaan? Apa salah, perasaan yang Sifa miliki?" tanya Sifa pada abahnya.
Kiai Yusuf terkekeh pelan dan menatap ke arah putrinya.
"Jadi putri abah tengah patah hati?" tanya Kiai Yusuf. Sifa memejamkan matanya, salah atau tidak dia bertanya pada abahnya?
Sifa tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Apa yang kamu maksud adalah Ardani dan Emely?" tanya Pak Kiai pada Sifa lagi.
Deg
Jantung Sifa berdetak tak karuan, apa abahnya bisa membaca pikirannya? Sifa menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Pastinya dirinya sangat malu saat ini. Pasalnya, beberapa kali Kiai Yusuf mencoba menjodohkan putrinya itu dan selalu mengatakan belum siap.
Sifa yang bekerja di luar pondok membuat pak Kiai hawatir dan berpikir bahwa menikah adalah jalan yang sangat tepat. Akan tetapi putrinya masih saja menolaknya.
Kiai Yusuf kembali menatap ke arah putrinya.
"Apa benar?" tanya Pak Kiai lagi. Sifa memejamkan mata indahnya dan mengangguk pelan. Tak ada yang bisa dia sembunyikan dari abahnya.
"Sifa, sejak usia 4 bulan di kandungan, Allah SWT telah menakdirkan bahwa rezeki, mati dan jodoh itu telah ditentukan. Jadi, jika Ardani sudah dengan sah menikahi Emely, berarti mereka memang telah di berjodoh. Tugas kamu yang teelanjur mencintai Ardani adalah berusaha untuk melupakan, mengikhlaskan, karna jika masih berkelanjutan itu semua akan mengakibatkan dosa. Berdoalah, meminta kepada Allah agar jodohmu segera dipertemukan," ucap Kiai Yusup pada putrinya.
Sifa terdiam, berusaha menekan hatinya agar tidak terlalu larut dalam kesedihan. Ditatapnya wajah abahnya dan mengangguk pelan.
"Kalau begitu Sifa ke dalam dulu bah, terimakasih ataa nasehat abah. Asalamualaikum," ucap Sifa kemudian diangguki oleh Kiai Yusuf.
🎀🎀🎀🎀🎀
Dani melirik Emely yang fokus pada jalanan. Tak ada keinginan untuk memulai obrolan.
Chittttt,,,,
Mobil itu oleng ke kanan dan kekiri membuat tubuh Emely bergerak kesana kesini. Emely yang panik memejamkan matanya dan mengeratkan pegangannya pada dasboar depan.
"Dani, ada apa? kenapa mobilnya seperti ini?" ucapnya.
Dani menghentikan mobilnya. Emely menghela napas panjang, mereka saling berdiam dan saling berpandangan. Perasaan lega menghampiri Emely saat Mobil bisa berhenti dengan sempurna.
"Ada apa?" ketus Emely sambil menatap tajam ke arah Dani.
Dani mengernyitkan dahinya, dari tadi istri siri di sampingnya hanya diam seribu bahasa dan sekarang berteriak keras sekali? ucapan Emely berhasil membuat Dani menyunggingkan senyum tipis.
__ADS_1
Tanpa menjawab ucapan Emely, Dani keluar dari mobil dan berdiri menyandar pintu mobil.
Emely keluar dari mobil dan menatap Dani dengan sorot mata tajamnya. Ini benar-benar menguji kesabarannya saat mendapati kenyataan ini, bagaimana bisa Dani berhenti di tengah hutan seperti ini?
"Dan, ini sudah magrib. Apa yang kau tunggu disini?" sentak Emely dengan geram. Dani hanya diam, menatap wajah putih bagaikan rembulan di gelap malam itu.
"Kenapa kau menyebalkan sekali? Bagaimana kalau ada binatang buas, bagaimana kalau aku di patok ular? Bagaimana kalau aku cela,," sebelum Emely panjang lebar bicara. Dani menempelkan jari telunjuknya ke arah bibir Emely, membuat Emely menghentikan bicaranya yang nyerocos.
"Jangan banyak bicara Nona Rakhayla Emwly Pradikta. Kau akan selamat jika dalam perlindunganku. Diamlah!" sentaknya. Emely terdiam, netranya mengamati jari telunjuk Dani yang masih ada di bibirnya.
"Singkirkan jari laknatmu," sentaknya. Dani terkekeh dan malah meraih pinggang Emely dalam dekapannya. Tangan kanannya memdongakkan wajah Emely.
"Lepaskan aku," ucap Emely. Dani tersiam dan tak menggubris ucapan Emely. Meraih Emely dalam dekapan seolah menjadi kebiasaan yang menjadi candu untuknya.
"Dani, lepaskan aku aku bilang!" sentaknya.
"Aku akan melepaskanmu jika kamu mau melakukan apa mauku," ucapnya.
"Aku bukan pembantumu," sentaknya.
"Kau memang bukan pembantuku, tapi kau teman tidurku!" ucapnya.
"Kau ngawur Dan," sentak Emely.
"Okey, sampai malam akan terus seperti ini." ucap Dani. Emely membelalakan matanya dan menatap Dani dengan geram.
"Lepaskan aku," sentaknya lagi.
"Cium aku dulu," ucap Dani.
"Aku tak sudi," sinisnya dan mendorong tubuh Dani. Akan tetapi Dani tak bergerak sedikitpun sehingga sebuah mobil berhenti di depan mereka. Dua bodiguard turun dari mobil dan memberikan salam hormat pada Dani.
"Selamat Malam Tuan Muda," ucap salah satu dari mereka. Masih dalam posisi memeluk Emely, Dani menatap wajah bodiguar itu dengan sorot mata yang tajam.
__ADS_1
🎀🎀🎀🎀
Like, komen dan hadiahnya yok. Suatu kebanggan bagi author jika kalian mau mendukung...🙈🙈🙈 Sumbangkan jempol kalian dengan ihklas ya... Agar author tetap semangat.