
Dafa menganggukan kepalanya. Membantu Lelyta memapah ibunya menuruni anak tangga-demi anak tangga agar bisa sampai ke ruang tamu.
Tuan Wilson di bawah sana tampak mengepalkan tangannya. Bagaimana bisa Lelyta bersama dengan Tuan Dafa? Bagaimana bisa wanita itu keluar? Dimana istrinya? Beberapa pertanyaan kini berkeliaran di otak Tuan Wilson.
"Maaf Tuan, saya terlalu lama di atas sehingga anda menunggu," ucap Dafa sambil duduk kembali.
Sedangkan Lelyta dan ibunya berdiri di samping Dafa.
Tuan Wilson tampak khawatir. Apa yang dikatakan wanita bar bar itu? Kenapa bisa membuntut di belakang Tuan Dafa yang sepengetahuanya adalah CEO Dari ARW Group?
"Sebaiknya kita selesaiakan berkas kerja sama yang tadi dulu," ucap Tuan Wilson.
"Oh Iya," jawab Dafa kemudian duduk di Sofa. Tuan Wilson memandang ke arah Lelyta dan ibunya yang masih mematung di sana.
"Bi Rani, kenapa kau dan putrimu masih berdiri di situ? Apa yang kalian inginkan?" tanyanya dengan tatapan mata tajam.
Lelyta dan ibunya tampak berdiam, dia sangat tidak nyaman dengan tatapan Tuan Wilson yang seperti ingin mengeluarkan bola matanya. Pikiran bar bar Lelyta melayang, tangan kanannya seakan ingin menc*lok bola mata Tuan Wilson yang menatapnya itu.
"Maaf Tuan, kami ingin meminta izin untuk cuti berobat, saya sudah sangat letih, putri saya juga tergores," ucap Ibunya.
"Tergores apa?" tanyanya seakan teekejut melihat tangan Lelyta. Tuan Wilson sengaja ikut masuk ke dalam drama yang saat ini dimainkan oleh ratu drama Aurora Lelya Anggita yang sering disapa Lelyta itu.
Lelyta menautkan alisnya, emosi dalam dadanya seakan meledak mengingat betapa sadis mereka menggores tangannya kemudian memainkan drama seakan tak tau apa apa? Kalau saja saat ini dia tidak butuh keluar dari tempat ini. Satu tonjokan bakal melesat ke salah satu anggota tubuh lelaki itu.
"Nanti saya akan meminta sopir untuk mengantar kalian, lebih baik kalian tunggu saja di depan," ucap Tuan Wilson.
"Tapi Tuan,,,"
"Apa kalian tak percaya padaku?" tanya Tuan Wilson sok baik, menyela ucapan Lelyta.
Lelyta menghela napas panjang, drama yang bagaimana yang harus dia mainkan untuk menjawab ucapan Tuan Wilson. Lelyta memandang Dafa yang tampak duduk sambil menyilangkan kaki, bersandar di sofa dengan tenang.
Bagaimana bisa lelaki itu diam saja? Bukankah dia tadi setuju untuk membantunya keluar dari rumah i*lis ini? Sangat membangongkan. Sangat menyebalkan.
"Awas saja, nanti aku akan membuat perhitungan denganmu," batin Lelyta sambil menoleh ke arah Dafa yang kini mengamati Lelyta dengan senyuman entah senyuman yang bagaimana. Senyum menyebalkan, senyum mengejek. Dafa seperti bisa membaca pikiran Lelyta yang kini menggerundel menahan emosi jiwa.
"Segera ke depan, apa kalian tidak tau sopan santun? Aku sedang ada tamu penting," ucapnya.
Apa? Sopan santun? Sopan santun yang bagaimana yang Tuan Wilson tanyakan? Bahkan dirinya telah melakukan tindakan kejah*tan dan sekarang masih berbicara sopan santun? Drama apa lagi ini? Lelyta mengepalkan tangannya, Dafa tersenyum smirk melihat kelakuan bar bar gadis cantik yang tampak berantakan itu.
__ADS_1
Melihat tampang emosi Lelyta membuat Dafa segera menatap ke arah Tuan Wilson.
"Tuan Wilson, sebenarnya aku yang meminta mereka turun. Aku juga yang meminta mereka kesini. Aku yang meminta mereka izin padamu," ucap Dafa sambil menurunkan kakinya dan menatap Tuan Wilson yang seakan merasa teekejut dan tertekan.
Lelyta menghela napas panjang. Kanapa tidak dari tadi? Kenapa baru sekarang berbicara setelah emosinya di ujung tanduk? Apa sengaja? Apa suka melihat seorang wanita marah? Dasar lelaki menyebalkan. Gerutu Lelyta yang saat ini mencoba untuk menguasai hati dan pikirannya agar tetap terkondisikan.
"Tapi Tuan, Apa tidak merepotkan?" tanya Tuan Wilson.
"Anda tenang saja, mereka tidak merepotkan. Mereka juga aman bersamaku. Bahkan aku akan membiayai pengobatan mereka sampai sembuh, asal mereka ada di dalam pengawasanku," ucap Dafa sambil menatap ke arah Tuan Wilson yang menampakan wajah piasnya.
Lelyta masih menyimak ucapan Dafa, apa sebenarnya dia tau drama ini dan ikut berperan didalamnya? Astaga, kenapa dia terlambat menyadari bahwa memang sepertinya Dafa bukan orang sembarangan?
"Maksud anda?" Tuan Wilson menatap ke arah Dafa yang menyeruput kopi di cangir berwarna putih tulang itu.
"Ya, aku akan membiayai semua pengobatan. Asal mereka bekerja denganku, aku lihat disini banyak sekali pelayan dan anda tidak terlalu perlu pada mereka," ucap Dafa.
Lelyta membelalakan matanya, apa? Jadi pelayan untuknya? Kenapa begitu? Pikir Lelyta dengan emosi yang lagi lagi naik. Entahlah, itu dipikir belakang. Yang jelas saat ini dia ingin cepat keluar dari sini.
"Tapi Tuan Dafa," Tuan Wilson seakan tak terima. Lelyta dan ibunya hanya diam dan menunduk. Berharap lelaki aneh itu bisa merayu Tuan Wilson untuk memberikan izin kepadanya.
"Tak ada kata tapi yang aku dengar dari mulutmu! Aku mau itu artinya harus teelaksana! Anda tidak bisa membantah Tuan Wilson, kalau anda protes satu kali saja, maka kita batalkan kontrak kerjasama kita. Dan kau, akan membayar mahal untuk itu," ucap Dafa tampak emosi sambil melemparkan berkas kontrak di atas meja, kemudian menatap ke arah Tuan Wilson yang sedari tadi tampak tak suka seorang wanita dan ibunya pergi.
Tuan Wilson memejamkan matanya, apa istimewanya Lelyta? Bagaimana bisa wanita itu membuat Dafa seperti terpel*t oleh Lelyta?
Lelyta menautkan alisnya, bisa juga lelaki itu mencari jalan. Apa dia memang berkuasa? Bagaimana bisa Tuan Wilson takut sekali padanya? Pikir Lelita.
"Maaf Tuan, aku tidak akan protes lagi. Tuan boleh menjadikannya pelayan," ucap Tuan Wilson. Dafa menatap Tuan Wilson dan mengangguk.
"Bagus, jangan banyak protes, jangan banyak bicara. Sekarang aku harus pamit undur diri, mereka bukan lagi pekerjamu. Tapi dia pekerjaku," ucapnya.
Tuan Wilson tampak menghela napas panjang dan mendekat ke arah Lelyta.
"Awaa saja jika mulutmu ember, aku tak akan melepaskanmu," ucapnya dengan sinis.
Lelyta hanya diam sambil mengamati Dafa yang kini meletakan sebuah cek yang beetukiskan limaratus juta.
"Lima ratus juta untuk ganti rugi wanita cantik ini, kau bisa mencari ganti yang lain," ucapnya sambil menatap Tuan Wilson yang tampak membolakan matanya.
__ADS_1
Lelyta membelalakan matanya, lima ratus juta dia dihargai? Sangat jengkel wanita itu pada lelaki yang dikiranya baik itu. Kenapa seperti ini? Bukankah ini menjengkelkan?
"Trimakasih Tuan, bawa mereka. Saya akan mencari ganti yang baru," ucap Tuan Wilson.
Dafa melirik jam tangannya yang menunjukan pukul 02.40 itu. Artinya Dani sudah selesai meeting dengan klien lainya.
"Maaf, saya harus pamit. Saya tidak ada banyak waktu," ucap Dafa sambil mengangkat tas kerjanya.
"Baik Tuan Dafa. Terimakasih keeja sama ini," ucapnya.
"Sama-sama," jawabnya sambil berjabat tangan kemudian melangkahkan kakinya.
"Oh iya," Dafa menghentika langkahnya dan menatap ke arah Lelyta dan ibunya.
"Kalian berdua bekerja denganku, jangan lagi kembali ke sini. Kalau sampai Tuan Wilson mengusik kalian, bilang padaku," ucapnya sambil tersenyum kemudian melangkah pergi.
Lelyta terdiam dan menggelengkan kepalanya.
"Segera ikuti Tuan Dafa. Awas saja kau bercerita macam macam," ucap Tuan Wilson.
Lelyta dan ibunya berjalan mengikuti langkah Dafa ke parkiran.
"Masuk," ucap Dafa pada Lelyta. Lelyta membuka pintu dan meminta ibunya masuk. Dia juga masuk ke dalam mobil.
"Kau pikir aku sopir kalian!" ucap Dafa sambil melirik kaca sepion. Dia masih berdiri di luar.
Lelyta dan ibunya saling berpandangan. Lelyta benar benar geram.
"Ibu disini ya," ucapnya dan diangguki ibu Rani. Lelyta keluar dan kini menatap ke arah Dafa yang menampakan wajah songongnya.
"Kau, aku akan mengembalikan uangmu. Antat aku ke rumah sakit!" ucapnya dengan geram kemudian beejalan untuk duduk di sebelah kemudi.
Entah keberanian dari mana Dafa menarik tangan Lelyta. Lelyta terkejut, menatap tangan yang kini digenggam erat oleh Dafa.
Sebuah perasaan terselip di benaknya. Sebal. Lelyta merasakan geram yang amat menyiksanya. Tidak mau terlalu lama larut dalam perasaan itu, Lelyta segera menarik tangannya. Menatap tajam kearah Dafa.
"Jaga sikap anda, Tuan. Saya bisa saja berteriak dan memenjarakan anda atas tuduhan pelecehan,"ucap Lelyta tegas.
"Uhuk, uhuk..." Dafa tersedak udara, ia mengamati wanita di depannya. Tadi seperti kelinci. Kenapa berubah menjadi seekor singa?
__ADS_1
"Menarik," lirih Dafa.
🎀🎀🎀🎀🎀