Cintai Aku, Lupakan Dia!

Cintai Aku, Lupakan Dia!
CALD. Menantu


__ADS_3

"Dani, Emely," lirih Mama Elyna dan membuat Mama Nina terkejut sambil menoleh ke arah sahabatnya.


Emely dan Dani saling menatap, saling menyalurkan sebuah kerinduan. Sejak tadi dia menahan itu semuanya dan saat ini legalah sudah, walau wajahnya babak belur karna Felix. Tapi, bertemu dengan istrinya adalah obat termanjur untuk sakit yang menderanya.


"Sayang maafkan aku, gara-gara aku wajahmu jadi lebam seperti ini," Dani berucap sambil mengusap wajah Emely yang tampak membiru.


Emely menggelengkan kepalanya, rasanya masih sebal pada lelaki di depannya. Dia mendorong tubuh Dani untuk menjauh darinya. Akan tetapi Dani malah mengeratkan pelukannya. Mereka tampak bertatapan, sorot mata kecewa tampak sekali dari wanita itu.


"Dengarkan aku, pasti kau salah paham Em," bisik Dani.


"Salah paham? Aku rasa tidak, itu sudah sewajarnya. Bukankah kau mencintainya? Lepaskan aku," Emely tampak geram.


Emely mencoba untuk melepas pelukan Dani lagi, Felix yang saat ini berada tak jauh dari mereka berjalan ke adah Dani. Meraih kerah baju Dani. Emely kembali terkejut. Menatap Dani dan Felix bergantian.


"Apa-apaan kalian ini, benar-benar memalukan! Bukan dengan berkelahi cara menyelesaikan masalah, kalian itu sudah dewasa!" sentak Emely dengan emosi yang membuncah.


"Dia yang memulai!!" ucap keduanya bersamaan. Keduanya juga mengalihkan pandangan.


"Aku tidak bertanya siapa yang memulai, aku hanya minta pada kalian hentikan!" sentaknya.


"Apa kau dengar Tuan Dani?" tanya Felix dingin.


"Kenapa kau yang bilang seperti itu? Harusnya aku. Lepaskan tanganmu!" sentak Dani.


Felix tampak mendorong Dani lagi, Dani mengibas jasnya dengan elegan.


"Ku pastikan hidupmu tidak akan baik baik saja kedepannya," lirih Dani sambil menatap Felix dengan geram.


"Aku tidak takut, aku melakukan apa yang seharusnya aku lakukan. Menjaga sahabatku dari manusia ban*sat sepertimu," jawab Felix. Dani mengepalkan tangannya geram.


"Apa kau bilang? Apa seharusnya seperti itu? Menghalangi suami untuk bertemu istrinya? Manghalangi seorang suamu untuk mendekati istrunya? Apa kau bercita cita menjadi pebinor?" sentak Dani.


Deg


Felix tampak terdiam, berbagai pertanyaan mengiang di otaknya. Dipandangnya Emely yang tampak memejamkan mata, kemudian memandang Dani yang melihat dirinya dengan senyum sinisnya.


"Apa benar begitu Em?" tanya Felix dan diangguki oleh Emely. Felix memejamkan matanya dan menatap ke arah Dani.

__ADS_1


"Kau sudah jelas? Kau itu manusia menyedihkan. Aku tidak sudi melihat wajah manusia licik seperti mu. Pergi dari hadapan ku jangan pernah menunjukkan wajahmu di hadapan ku!" sentak Dani.


Emely melirik Dani dengan emosi, kemudian menatap Felik yang juga menatap ke arahnya. Rasa kecewa begitu jelas dari sorot matanya, dia menggelengkan kepalanya dan melenggang begitu saja.


"Felix, aku bisa menjelaskan," ucap Emely. Akan tetapi tak dihiraukan oleh Felix.


"Kau tidak aku izinkan mengejarnya," ucap Dani saat Emely hampir saja melangkahkan kakinya.


Mama Nina kini menatap Mama Elyna yang hampir saja melangkah memdekat ke arah Emely dan Dani yang kini beradu tatapan tajam. Mama Nina menghentikan langkah sahabatnya dengan memegang lengannya.


"Maaf Nin, aku harus kesana. Aku tinggal sebentar ya, aku harus melihat keadaan putriku dan juga menantuku," ucap Mama Elyna tampak panik kemudian melangkah ke arah putra dan putrinya.


Deg


Mama Nina memejamkan matanya, putri dan menantu? Apa apaan ini? Dani putranya, jadi wanita itu benar benar Emely? Lalu, apa maksud sahabatnya putrinya adalah Emely?


Mama Nina tampak terhuyung ke belakang, badanya terasa lemas. Tangannya mencari pegangan, netranya menatap ke arah Mama Elyna yang kini berada diantara Dani dan Emely. Mama Nina menatap Mama Elyna mengusap pipi Dani dan juga Emely bergantian.


Apa maksud semua ini? Apa orang yang tadi di jelek jelekan di depan sahabatnya adalah putri dari sahabatnya sendiri? Mama Elyna mencoba untuk tenang, menghela napas panjang.


"Kalian jangan bertengkar lagi, sebaiknya kalian bicarakan baik baik," Mama Elyna menasehati.


"Iya Ma, ini hanya kesalah pahaman kecil. Sebaiknya kita kembali kesana bersama tadi bukankah kalian sedang bersama Mamaku? Tak menyangka saja bahwa kalian semua sedekat ini, sepertinya momen ini harus aku abadikan," ucap Dani sambil mengarahkan pandangan matanya ke arah Mama Nina.


Deg


Mama Elyna dan Emely tampak terkejut, mereka mengikuti arah kemana mata Dani memandang. Mama Elyna tampak menutup mulutnya, bahkan Emely melakukan hal yang sama.


"Mama Nina?" tanya Mama Elyna mencoba meyakinkan. Dani menganggukan kepalanya. Sedikit rasa penasaran menggelayut di otaknya. Kenapa tampak terkejut? Bukankah mereka sudah saling mengenal?


Mama Elyna tampak memejamkan matanya, apa Dani putra dari Nina? Jadi yang diceritakan Nina tadi adalah putrinya? Rasa sesak menyeruak di Dadanya. Netranya menatap ke arah sahabatnya itu. Keduanya saling berpandangan.


Emely menatap Mama Nina, memastikan sesuatu. Apa itu orang tua Dani? Pantas saja dia begitu nyaman dalan dekapan wanita itu.


Mama Nina yang merasa di perhatikan tiga orang sekaligus dengan pandangan aneh mencoba untuk menguatkan hatinya. Dengan langkah tenang Mama Nina menuju ke tempat dimana Emely, Dani dan sahabatnya berada.


Kini, beliau berdiri tepat di depan ketiga orang itu. Dia menghela napas panjang, menatap Mama Elyna yang memandangnya dengan diam.

__ADS_1


"El, aku benar benar tidak mengerti. Dani mama benar benar bingung, coba jelaskan padaku El, dan kamu Dani, coba jelaskan semua ini," ucap Mama Nina sambil mengusap air mata yang membendung di matanya.


"Aku yang seharusnya bertanya Nin, apa maksudnya?" tanya Mama Elyna.


"Emely putriku, lalu apa Dani putramu?" tanya Mama Elyna tampak sedikit meninggikan suaranya saat mengingat dengan jelas bagaimana Mama Nina menjelekkan menantunya yang ternyata adalah Emely putrinya.


Deg


Mama Nina tampak menunduk, rasa malu begitu tampak dalam wajahnya. Bagaimana bisa? Apa setelah Davina dan Alvino Elyna mempunyai putri lagi?


"Ya, Dani adalah putraku," ucap Mama Nina.


Deg


Mama Elyna dan Emely tampak terkejut. Bagaimana bisa dunia sesempit ini.


Sedangkan Dani hanya bisa bengong menyaksikan pertunjukan drama baginya itu. Jadi mereka sama sama tak tau? Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah fakta yang begitu mencengangkan itu terungkap, saat dia tau bahwa mamanya dan mama Emely ternyata saling mengenal. Bahkan mereka adalah sahabat dekat.


Mama Elyna dan Mama Nina mengusap wajah kasar, kemudian mereka mendekat dan saling berpandangan.


"Astaga," ucap keduanya serempak dan entah tak tau apa yang harus mereka ucapkan. Mereka terkekeh pelan dan saling berangkulan.


"Sepertinya kau harus aku hukum karna banyak mengatai putriku Nin," ucap Mama Elyna.


"Seharusnya kau yang harus menasihati putrimu agar bertamu dengan baik, bukan disaat yang urgent," sangkal mama Nina.


Keduanya berangkulan, menuntaskan rindu setelah sekian tahun tak bertemu.


Dani kini melirik ke arah Emely yang meliriknya juga. Tak menunggu lama, lelaki tampan yang menyadari istrinya masih marah itu mengangkat tubuh Emely dan membawanya ke arah mobil.


"Ma, aku bawa putrimu pergi," ucapnya.


Emely yang masih terkejut bahkan tak sanggup berkata apapun, dia melingkarkan tangannya di leher Dani.


"Kita hanymoon malam ini, Sayang," lirihnya. Emely membelalakan mata indahnya. Mencoba untuk memberontak akan tetapi sebenarnya dia sangat nyaman dalam posisi seperti ini.


🎀🎀🎀🎀🎀

__ADS_1


__ADS_2