
"Bersiap kemana? Kenapa diam saja? Apa kalian memang tak mau membagi denganku?" tanya wanita itu dengan menyedekapkan tangannya di depan dada.
Semua mata memandangnya dengan diam, sorot mata wanita itu tampak emosi. Dia mengamati orang orang di depannya.
Tatapan Wanita itu menatap ke arah Emely yang tampak waspada. Ganes teringat jelas bahwa Emely pernah berdebat dengannya. Mereka belum saling mengenal, mungkin saat ini kakak iparnya itu salah paham dengannya. Atau malah menganggap dirinya orang lain.
"Kami mau makan malam," ucap Oma Rosy. Wanita itu tampak membelalakan matanya.
"Makan malam? Lalu kalian tak mengajakku?" sentaknya. Semua orang hanya diam.
"Apa kalian pikir aku akan diam saja?" bentaknya lagi.
Deg
Emely memejamkan matanya. Siapa wanita itu? Kenapa begitu emosi? Lalu, kenapa semua orang tampak tunduk padanya?
"Aku akan menggagalkan rencana kalian.... jika kalian tidak mengajakku," ucapnya, wajahnya berubah sumringah dengan senyuman indahnya.
Merasa semua dalam keadaan tegang, kini Ganesa memonyongkan bibirnya, mendekat ke arah papanya, dan menciumnya. Ke arah oma, mama, dan Dani secara bergantian.
"Sayang, kau dari mana saja?" tanya papanya. Ganes hanya tersenyum dan menatap ke arah Dani.
"Kenapa malah ada Nala? Apa kau melupakan aku dan malah mau menganjak sepupumu yang menjengkelkan ini?" sentaknya pada Dani saat sudah di depan Dani. Netranya melirik ke arah Nala yang berdiri dengan tenang.
Nala membelalakkan matanya dan menatap Ganesa dengan tajam. Ya, Ganesa yang tiba tiba merindukan keluarganya kini benar benar pulang.
"Apa apaan kau itu Nes, aku ke sini untuk memeriksa keadaan kakak ipar. Kenapa marah tak jelas? Memangnya jika kau yang diminta kau bisa melakukan?" sewot Nala.
"Aku memang bukan dokter, mana bisa aku memeriksa," protes Ganes.
"Lagian kamu keluar kantor tak bilang padaku. Mana aku tau," tambah Ganesa.
__ADS_1
"Bagaimana bisa aku bilang, kalau waktu sampai ke sini hanya diberi lima menit," jawab Nala.
"Stop!!! Kenapa kalian ribut terus. Bikin pusing aja!! Nes, Nala Jika kalian ikut sebaiknya cepat ganti baju." ucap Dani.
"Kau mengajaknya? Apa kau yakin dia tidak merusak acara kalian?" tanya Ganes dan Nala secara bersamaan.
Dani menutup telinga dengan kedua tangannya, Ganes dan Nala selalu seperti ini jika bertemu. Dari kecil selalu bertengkar walau akur kembali. Nala dan Dafa, putra dari kakak Mama Nina. Kakak beserta suaminya mengalami kecelakaan hingga Dafa dan Nala tinggal di mansion ARW bersama mereka sejak kecil. Sampai pada akhirnya mereka dewasa, mandiri kemudian memilih tinggal di apartemen. Namun, tetap saja rumah ternyaman adalah mansion ARW.
Emely masih diam mengamati interaksi tiga orang didepannya. Apa dia salah paham? Siapa Nala dan wanita yang dipanggil Ganes itu?
"Aku boleh bertanya?" Emely yang dari tadi belum menemukan jawaban yang diinginkannya kini tiba tiba menyela. Hais, rasa penasaran bergelantung di otaknya membuat dirinya nyeplos saja.
Ketiganya menghentikan pertengkaran, mama, oma dan papa juga menatap ke arah Emely.
"Ada apa Nak?" tanya Oma Rosy pada Emely, mendekat ke arah cucu menantunya. Emely diam, dia sebenarnya tidak enak juga menyela. Tapi sepertinya janin dalam perutnya yang ingin ikut nimbrung di perdebatan itu.
"Oma, Nala dan Ganes itu siapa?" tanya Emely.
Nala menghela napas panjang. Bahkan sejak tadi bersama malah mereka tak tau siapa dirinya?
"Astaga, kamu sih Nes nyerocos aja. Kita jadi dikenal kakak ipar dong," ucap Nala.
Ganes menatap Emely, keduanya saling berpandangan. Masih ada rasa canggung pada diri Emely. Hingga pada akhirnya Ganes mengulurkan tangannya.
"Hai, Nona. Senang bertemu lagi, masih ingat kita pernah bertemu?" tanyanya. Emely membalas uluran tangan Ganes dan mengangguk juga.
"Aku Ganesa Ariyana Wijaya, adik kak Dani. Dan tentunya saat ini aku adalah adikmu juga," ucap Ganes sambil tersenyum.
Emely memejamkan matanya, adik? Jadi selama ini dia salah paham? Dia pikir wanita di depannya mainan Dani. Nyatanya adik? Manis sekali mereka, seperti dirinya dan kakaknya. Bahkan, lama sekali dia tak bertemu dengan kakaknya. Dimana sebenarnya Kak Vinonya?
"Kau memanggilku Nona? Sepertinya aku akan memecatmu dari gelar adik ipar jika memanggilku seperti itu lagi," ucap Emely dengan ketus.
__ADS_1
Ganesa membelalakan matanya, tadi seperti bocah. Sekarang galak sekali.
"Lalu aku harus memanggilmu apa?" tanya Ganesa tak kalah ketus.
"Heh, manis dikit kenapa? Yang ramah kek, tentu saja panggil kakak ipar," Kini Nala mengambil alih tangan Emely dari tangan Ganes.
"Hai, Kak. Perkenalkan aku Nala, sepupu yang paling cantik. Karna kakak aku tampan sekali," ucapnya. Emely tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Kenapa narsis sekali sih," Ganes tampak sebal. Nala hanya diam saja dan tersenyum.
"Lalu dimana Kak Dafa yang menyebalkan itu? Kenapa sudah beberapa hari tidak ada kelihatan? Menyebalkan, kenapa kalian semua menghilang saat keadaan mendesak dan membuatku hawatir. Lalu, saat semuanya baik baik saja kalian melupakan aku. Kalian kau anggap apa aku ini?" sewot Ganesa.
Emely masih saja menyimak, jadi Dafa dan Nala adik kakak?
Sedangkan Dani memejamkan mata sejenak. Otaknya berpikir, Ganes memang yang menghendel perusahaan selama beberapa hari. Dafa yang masih mengurus tentang kerja sama dengan Tuan Wilson untuk mencari informasi masih terus beraksi. Dani masih membutuhkan beberapa informasi yang saat ini masih sulit untuk dimengerti.
Yang jelas dia tidak akan melepaskan orang yang telah bertindak jauh. Walau saat ini dia dan Emely saling mencintai, tapi tindakan kriminal pada Lelyta dan ibunya harus tetap mendapatkan ganjaran. Dia harus mengumpulkan banyak bukti untuk menjerat Tuan Wilson.
"Kau memang harus bekerja keras, biar tidak manja. Sebaiknya kita semuanya segera bersiap." ucap Dani dan diangguki oleh semuanya.
...****************...
Mansion keluarga Pradikta.
Kabar jika Emely dan Dani telah mendapatkan buku nikah, juga kabar kehamilan Emely telah sampai di telinga Mama dari Mama Elyna. Kebahagiaan lengkaplah sudah bagi Mama Elyna dan Papa Pradikta yang kini berada di balkon rumah. Menatap ke arah gerbang yang menjulang tinggi.
"Mama bahagia sekali, mendengar kabar kehamilan Emely, Kehamilan Micela, ditemukanya Davina yang kini sudah memiliki putra kembar," ucap Mama Elyna.
"Papa juga bahagia, akhirnya kita punya waktu untuk berkumpul. Satu jam lagi, keluarga Pradikta, MRD dan keluarga ARW berkumpul disini. Vino, Davina dan Emely juga akan bertemu. Bahkan Emely dan Micela juga, papa harap setelah tau tentang semuanya. Tak akan terjadi suatu apapun, mereka saling memaafkan satu sama lain," ucap Papa Pradikta sambil merangkul pundak istrinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1