
Dor
Tuan Shien tampak tersenyum puas setelah melepas satu tembakan yang membuat satu anak buah Dafa tumbang. Tangannya masih mengarahkan senjatanya pada Dafa dan papa Hendra juga Vino bergantian. Mereka tampak mengangkat tangan ke atas, karna memang mereka tak membawa senjata api.
"Kau, apa yang kau mau Shien? Bahkan aku sudah memberi beberapa perusahaan untuk perdamaian yang kita sepakati. Lalu, bagaiamana bisa kau mengusik kebahagiaan kami lagi?" Papa Hendra tampak menatap orang yang dulu bersahabat dengannya itu.
"Kau pikir itu impas?" tanya Tuan Shien.
"Aku ingin putramu menikah dengan putriku, hanya perusahaan kecil yang kau berikan? Itu tak berarti apapun bagiku Hendra," ucap Tuan Shien.
"Bukankah kita bersahabat Shien? Bahkan aku selalu membantu apa yang menjadi kesulitanmu. Tapi kenapa kau membalasku dengan niat jelek. Mau merebut harta dengan cara kotor, seharusnya kau bilang padaku baik baik. Tapi kau tau, kau merusak persahabatan kita, rencana jahatmu itu membuat aku kecewa," ucap Papa Hendra.
"Kupikir dengan memaafkanmu dan memberi kesempatan untuk tetap membiarkanmu hidup dan memberi beberapa perusahaan untuk dikembangkan bisa membuka pikiranmu, akan tetapi ternyata kau terlalu serakah Shien," ucap papa Hendra.
"Persetan dengan semua itu, kalian sudah berani masuk dalam kandang singa. Jangan harap kalian semua bisa keluar dengan selamat. Aku pastikan, kalian akan mati sama seperti Lelyta, ibunya, Dani, dan juga Emely dan Ganesa," ucap Tuan Shien dengan senyum sinis.
Deg
__ADS_1
Emely dan Ganesa? Dimana mereka? Vino, Dafa dan papa Hendra tampak terkejut. Terlebih papa Hendra yang tak mengetahui jika Emely dan Ganesa ada disini. Seingatnya dia meminta kedua putrinya itu pulang.
"Dimana mereka?" tanya Tuan Hendra.
Tuan Shien memencet sebuah tombol, memperlihatkan keberadaan Ganesa dan Emely yang berada di sebuah ruangan yang pengap dan sangat panas karna sempit sekali. Ya, Tuan Shien yang melihat CCTV di ruangannya bisa melihat siapa saja yang masuk ke ruangan itu. Ganesa dan Emely yang bersembunyi di sebuah ruangan kecil itu kemudian di kunci tanpa bisa keluar.
Kini sebuah layar besar memperlihatkan Ganesa dan Emely yang sangat pucat karna tak bisa bernapas dengan lapang. Bahkan Emely sudah berkeringat dan tampak tersiksa. Ganesa sama saja, walau sedikit lebih baik, tapi wanita itu juga tampak pucat. Ruangan itu hanya bisa untuk duduk dan berdiri saja, tanpa bisa bergerak kemana mana.
Vino tampak mengepalkan tangannya, Dafa juga sama Papa Hendra mengepalkan tangannya. Sangat memuakan perbuatan Shin sahabatnya.
Dor Dor
"Dani," lirih Papa Hendra yang tampak prihatin melihat putranya.
"****," umpat Tuan shin saat melihat Dani yang masih hidup itu.
"Apa kerjamu Wilson, bagaimana bisa Dani bebas?" kesalnya.
__ADS_1
Tuan Shin meringis kesakitan dan berdiri, dua tembakan yang dilontarkan Dani telah mengenai lengan dan bahunya, akan tetapi dia seperti kebal dan mempunyai banyak nyawa. Dengan Emosi Tuan Shien melepaskan peluru dan terjadi adu tembakan yang membuat suasana semakin porak poranda. Vino yang saat ini tidak membawa senjata memiliki celah untuk mendekat ke arah lawan yang kini mulai menyerang .
Dafa dan Om Hendra mengambil alih lawan yang kini menyerang ke arah mereka. Sedangkan Dani masih meneruskan baku tembak yang memekak telinga.
Hingga pada saatnya, Peluru Tuan Shin habis, mau tidak mau Tuan Shien membuang pistolnya. Tuan Shien maju menyerang Dani yang kini mengarahkan beberapa tendangan dan pukulan, melihat Emely yang kesakitan membuat kekuatannya seakan pulih kembali.
Disaat itu, Tuan Shin menggerakkan sebuah kode, yang tak berapa lama kemudian datang beberapa pasukan yang datang. Beberapa orang datang melawan mereka. Tuan Shin mundur perlahan dan menghilang. Dani, Dafa, Vino, Papa Hendra yang kualahan menghadapi lawan tak bisa mengejar Lelaki tua itu.
"Dani, memisah dari sini. Jaga keselamatan Emely," ucap Papa Hendra.
Dani mengangguk pelan, dia yakin sasaran Tuan Shin saat ini adalah istrinya. Istri yang sangat dicintainya.
Dor
Dani hampir saja memisah, akan tetapi sebuah tembakan mengenai lengan kirinya. Darah segar mengalir. Sakit? pasti.
Sejenak semua terhenti, menyaksikan Dani yang masih berdiri tegak dan melirik ke arah orang yang baru saja melayangkan satu tembakan padanya itu.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...