
"Jangan banyak bicara Nyonya, pergilah sebelum kesabaranku benar benar habis," ucap Papa Pradikta sambil menatap tajam kenarah Nyonya Helena, ibu dari Raymon.
"Oke, tapi ingat ucapanku, jangan harap kita selesai sampai disini," ucapnya lagi dan mengikuti suami dan putranya dengan Amarah yang menggebu.
Emely mendekat ke arah papanya, menyandarkan tubuhnya ke pelukan papanya. Mencari ketenangan disana.
"Pa, maafkan Em jika nantinya papa mendapatkan masalah karna semua ini," ucap Emely.
"Em, sebenarnya tidak tau harus bagaimana. Bahkan Em bingung bagaimana harus bersikap, jika bukan papa dan mama, siapa lagi tempat Em untuk berkeluh kesah?" ucapnya sambil mengusap air mata yang mengalir.
Perasaanya campur aduk tak karuan. Bahkan dia tidak tau, harus bahagia atau bersedih karna semua ini.
Raymon sudah terlalu menyakiti dengan ucapannya, keluarga Raymon menyakitinya dengan kelakuannya yang memikirkan harta. Mungkin, pernikahan memang dibatalkan, tapi dia tak tau bagaimana kedepannya Raymon menyikapi semua ini. Apa yang akan dilakukannya?
"Semoga baik baik saja," batin Emely.
"Em, kenapa kamu menangis? Ada hal yang mengganggu pikiranmu?" tanya papanya. Emely mencoba tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Tidak ada pa," jawab Emely.
"Lalu kenapa kamu menangis?" tanya papanya lagi dengan hawatir. Emely terdiam, rasanya sesak sekali hatinya saat ini. Dia hanya ingin menangis, untuk mengurangi kesedihannya. Entah kesedihan karna apa.
"Papa adalah orangtuamu, apapun yang papa lakukan adalah usaha papa untuk membahagiakanmu, jangan kamu meminta maaf. Papa melakukan semua ini sudah dengan pemikiran yang matang Em. Jangan merasa bersalah," ucapnya sambil mengusap pelan pundak Emely yang semakin membuat wanita cantik itu terharu dan terisak.
Mama Elyna juga terharu, setidaknya dia lega putrinya kini bebas dari keluarga yang ternyata baru ketahuan busuknya dengan jelas malam ini.
"Papa I love you so much," lirih Emely sambil mengeratkan pelukannya pada papanya.
"Love you to Sayang," jawab papanya.
"Urusan dengan Raymon sudah selesai malam ini, tapi papa mau bertanya satu hal padamu," ucap Papa Pradikta sambil tersenyum sinis.
Emely yang merasa papanya sinis padanya kini melepaskan pelukanya.
"Tanya apa?" tanya Emely pada papanya itu.
"Tadi kamu bilang keadaanya berbeda. Katamu kamu bukan Emely yang dulu, apa papa boleh tau kenapa? Apa maksudmu bukan Emely yang dulu?" ucap papanya sambil menatap Emely yang kini menatap papanya juga.
__ADS_1
Emely seketika memejamkan matanya, astaga kenapa papanya menayakan hal ini? Apa iya dia harus mengatakan pada papanya kalau dia dan Ardani sudah melakukan ehem-ehem? batin Emely.
Papa Pradikta duduk di sebelah Mama Elyna. Emely juga duduk dengan pelan. Netranya masih menatap putri cantiknya dengan tatapan yang mengintimidasi.
"Jangan bilang maksud kamu, kamu berubah haluan mencintai suami sirimu itu," ucap Papanya dengan wajah yang susah untuk dijelaskan,membuat Emely merasa terintimidasi.
"Jangan harap papa akan merestui dengan mudah," lanjut papanya lagi.
Deg
Emely terdiam, kenapa dia sedih saat papanya berucap seperti itu? Entah, dia tak mau larut dalam perasaan yang entah perasaan apa.
"Tapi pa," sanggah Emely dengan wajah yang bersedih. Papa Pradikta menatap wajah Emely yang sedih.
Aku harus membuktikan sendiri, bagaimana sebenarnya hubungan diantara kalian. batin Papa Pradikta.
"Apa kamu tidak terima dengan penuturan Papa?" tanya Papa Pradikta dengan tegas, membuat nyali Emely menciut.
"Apa kamu mencintainya?" tanya papanya lagi seolah mendesaknya. Emely menghela napas, dia tak tau jawabanya. Bahkan peetanyaan papanya malah membuatnya sesak napas.
Papa Pradikta tersenyum, entah senyuman yang bagaimana.
"Papa akan menjadi orang tua yang selalu melindungi anak-anaknya. Papa dan mama sangat menyayangi anak anak kami, jangan harap papa membiarkan satu orangpun menyakitimu. Saat ini Raymon tersingkir, besok besok bisa orang lain yang tersingkir," ucapnya.
Emely merasakan bahagia memiliki papa yang sangat menyayanginya. Walau ucapan papanya membuatnya hawatir pada seseorang, akan tetapi dia yakin akan ada jalan yang akan menuntunya menuju kebahagiaan.
"Dani," lirih Emely.
Suara ribut di bawah sana terdengar di telinga Papa Pradikta, namun dia mengabaikan keributan disana entah meributkan apa.
🎀🎀🎀🎀
Dani yang tak suka diusir oleh orang yang berstatus sebagai mertuanya duduk dengan tenang di taman. Mengambil ponselnya dan membuka Email yang dikirimkan Rudi kemaren.
Pradikta Maheswara, dia pikir orang yang sangat lues dan enak diajak bicara. Akan tetapi, ternyata sangat lihai berbicara. Bahkan Dani yang biasanya selalu lincah itu, harus kalah telak olehnya.
Tak mau saja kalah telak lagi, Dani memutuskan untuk mengambil hati Tuan Pradikta agar mertuanya itu tak menghalanginya bertemu dengan Emely. Kenapa begitu? Kenapa dia tak trima harus dijauhkan dengan Emely? Haiz, Dani tak tau. Dani membuka ponselnya, membaca email masuk dari Rudi.
__ADS_1
Dani memejamkan matanya, membaca beberapa penjelasan dari Rudi .
Wilson Malaskay Ardiansyah.
Satu nama yang disebut oleh orang yang kini disekap di sebuah gudang. Tak mau menjelaskan apapun, akan tetapi orang itu memberitahukan nama yang masih memberikan teka teki itu.
Maaf bos, itu dulu yang bisa saya laporkan. Jangan potong gaji saya ya bos. Karna saya belum selesai mengerjakan ini, bos sudah memerintah saya mengerjakan itu.
Dani mengepalkan tangannya, kenapa informasi yang dia dapat tak berguna sedikitpun. Rudi, aku akan potong gajimu besok. Tunggu, siapa Wilson malaskay Ardiansyah? Pertanyaan yang mengiang di otak Dani.
Bug
Dani terkejut saat satu bogem mentah tiba-tiba mendarat dipipinya. Tangannya terulur menyentuh ujung bibirnya yang berdarah. Neteranya menatap ke arah tiga orang yang kini berdiri dengan angkuh di depannya.
Raymon berada di depan seorang lelaki dan wanita. Tanganya masih terkepal setelah menonjoknya.
Dani menatap Raymon dengan mata tajam. Masih sangat terekam jelas diingatanya bahwa lelaki itu adalah kekasih dari istri sirinya. Kenapa dia memukulnya? Tak terima di pukul, kini Dani meraih kerah baju Raymon dan melayangkan satu pukulan juga.
Raymon mundur beberapa langkah, dengan wajah emosi berjalan Dani berjalan ke arah Raymon dan memberikan Bogem mentah di pipi Raymon lagi. Raymon tampak memegang pipinya kemudian membalas hantaman Dani. Keduannya terlibat baku hantam dan saling membagi pukulan dan tendangan.
"Kau, lelaki bangsat yang berhasil membuat pernikahanku dan Emely hancur! Karna kau Tuan Pradikta membatalkan pernikahan ini, aku pastikan hidupmu tak kan tenang karna ini!" sentak Raymon sambil mendorong tubuh Dani.
Tuan Wilson dan Nyonya Wilson hanya menautkan alisnya mendengar ucapan Raymon. Jadi dia lelaki yang dijebak orang suruhannya? Tapi kenapa wajahnya sangat fameliar? Siapa lelaki itu?
Dani menyeka darah yang mengalir dari pipinya. Entah, mendengar ucapan Raymon membuatnya terasa bahagia. Emely batal menikah?
Dani terkekeh dan menatap Raymon dengan tawa yang menghina.
"Terimasaja apa yang sudah menjadi takdirmu, Emely milikku bro! Dia wanitaku!" ucapnya sambil tersenyum puas.
Raymon tampak marah, kembali mencengkram kerah baju Dani dan mencoba memberi pukulan. Tapi, semakin Raymon marah, dirinya semakin yakin jika memang apa yang dikatakan Raymon adalah kebenaran dan membuatnya merasa lega.
Emely dan Papa Pradikta juga mama Elyna yang mendengar perkelahian segera keluar. Mereka yang baru saja sampai di tempat itu, mendengar dengan jelas ucapan Dani. Emely memejamkan matanya. Desiran halus merambat di hatinya.
"Dia miliku, Dia wanitaku," ucap Papa Pradikta dan membuat Emely menatap ke arah papanya yang kini menatap tajam dua manusia yang beradu kekuatan.
🎀🎀🎀🎀🎀
__ADS_1