
Dani menatap kepergian Raymon dengan geram, kemudian melirik jam yang menunjukan pukul pukul 01.00. Segera Dani melangkah menuju ke kamar, dia ingin melihat apa yang dilakukan Emely di dalam sana.
Dibukanya pintu kamar, dia melihat Emely berdiri di samping jendela. Tangannya menyentuh kaca dan melihat kepergian Raymon dengan mobil mewahnya.
Mungkin perasaannya sangat kacau, Emely hanya bisa menangis dalam diam. Rasanya hari ini lengkap sudah penderitaannya, dan semuanya karna ulah Ardani Rahardian Wijaya.
"Ku pikir tak ada gunanya menangisi lelaki seperti itu," Dani menyandarkan dirinya di dinding kamar, memasukan tangannya di kantong celana. Netranya menatap ke arah Emely yang meratapi nasipnya dalam kesedihan. Kesedihan yang diciptakan karna ulahnya.
Emely pikir, Raymon akan mau mendengarkan penjelasan darinya, akan tetapi nyatanya semua tak seperti yang dia harapkan. Bahkan dia adalah sampah dimata Raymon.
Sangat menyakitkan ketika dia jatuh, bukan dukungan yang di dapat dari orang terdekat, orang yang dia cintai, akan tetapi sebuah perkataan yang menjatuhkan mentalnya. Menjatuhkan semangatnya, menyakiti hatinya. Siapa yang mau kejadian seperti ini? Manusia selalu berharap yang terbaik, jika Tuhan berkehendak lain haruskah mengeluh dan menyalahkan Sang pencipta?
Emely terdiam, tak menyahut ucapan Dani. Sejujurnya hatinya salut dengan Dani yang tadi membelanya mati-matian di depan Raymon. Bahkan, lelaki itu tak terima ketika Raymon menyebutnya Jal*ng. Akan tetapi, tetap saja dia masih saja benci dengan Dani yang membuat hidupnya seperti ini.
"Lalu, apa aku harus tertawa terbahak bahak begitu? Dia seperti itu karna aku tidak bisa menjaga diri," ucap Emely. Netranya masih memandang ke arah luar. Menatap malam yang sepi.
__ADS_1
Dani tersenyum sinis, memang benar apa kata Emely. Tapi, tidak seharusnya juga Raymon mengatakan hal menyakitkan seperti itu, walau dia dalam keadaan yang kecewa.
"Dia bukan lelaki yang baik untukmu," ucap Dani. Emely terusik dengan ucapan Dani.
"Lalu, apa kau pikir lelaki yang baik untukku itu kau?" tanya Emely.
Emely memutar langkahnya dan menatap Dani yang kini memandang dirinya dengan tenang. Dani tertawa dan menatap Emely dengan kekehan tawanya.
"Apa kau pikir aku mau pada wanita sepertimu? Kau harus tau, jika tidak dipaksa warga, aku tidak akan mau menikah denganmu. Jika bukan karna obat perangsang itu, aku juga tidak akan melakukan hal itu padamu Nona Emely!" ucap Dani dengan tegas.
"Lalu, kenapa juga kau tadi diam saja? Apa tidak punya mulut? Obat perangsang? Kau pikir aku percaya? Mana tau kamu hanya berbohong?! Mengatasnamakan semuanya diatas kata terpaksa dan mengatakan itu adalah hak suami diatas status pernikahan untuk membela diri sendiri," ucap Emely.
Dani mengepalkan tangannya, dia tidak suka Emely menuduhnya seperti itu. Sepertinya memang dia harus secepatnya membuktikan jika memang dia dijebak.
"Aku hanya tidak mau berdebat, percuma menolak karna pada akhirnya kita tetap dinikahkan. Membuang energi!" sentak Dani.
__ADS_1
"Omong kosong," sentaknya.
Emely tersenyum kecut, ucapan Dani benar-benar membuatnya muak. Dani menghela napas panjang.
"Terserah apa katamu, seharusnya kau bisa menilai, jika dia tak baik untukmu. Tapi nyatanya kau masih buta dan tak bisa membacanya," ucap Dani.
"Jangan sok baik, apalagi banyak menasehatiku dan sok perhatian. Kau itu manusia laknat, kau telah menghancurkan hidupku. Aku membencimu Tuan Ardani!" sentak Emely sambil memukul dada bidang Dani.
Seketika Dani terdorong mundur hingga mentok di dinding, Emely yang terus maju pada akhirnya berhadapan dengan Dani dengan jarak yang begitu dekat. Keduanya saling berpandangan dan saling beradu napas.
"Aku akan membuktikan semuanya Emely. Lagi pula aku mencintai orang lain, kau bukan siapa siapa bagiku, beri aku waktu untuk menunjukan padamu. Aku janji, aku akan membebaskanmu dari masalah ini nantinya. Kau berhak bahagia, yang pasti bukan dengan pria itu. Kau bisa melakukan oprasi pengembalian kep*aw*nan. Untuk mencegah kehamilan karna kau dan aku terlanjur berhubungan, kau bisa minum postpil. Aku rasa semuanya bisa diatasi. Jika laki laki itu benar benar mencintaimu, dia tau kondisimu bukan malah menghakimimu," ucap Dani sambil mendorong tubuh Emely kemudian melenggang pergi.
Emely memejamkan matanya, rasa sakit menghujam hatinya. Apa tadi? Oprasi Ke*r*w*nan? Obat pencegah kehamilan? Dani? Kenapa ada manusia seperti Dani?
🙈🙈🙈🙈🙈
__ADS_1