Cintai Aku, Lupakan Dia!

Cintai Aku, Lupakan Dia!
CALD. Merasa dibela


__ADS_3

"Kau mau pergi?" tanya Felik.


"Ya, aku akan pergi. Tolong hendel semua urusan. Hari ini Lelyta tak hadir, aku mungkin langsung pulang juga," ucap Emely lagi.


"Dengannya?" tanya Felix lagi sambil melirik ke arah Dani dengan tatapan tajamnya.


Dani menghela napas panjang, ini kedua kalinya dia harus mendengar pertanyaan dari Felix yang tampak mengusiknya.


"Ya, aku bersamanya. Kau keberatan?" tanya Emely pada Felix.


"Sepertinya dia bukan orang yang tepat untuk menjagamu," ucap Felix.


Dani maju beberapa langkah dan menatap Felik dengan senyum yang begitu sinis.


"Kau tau apa? Kau hanya karyawan disinikan? Jaga baik baik ucapanmu jika kau masih mau bekerja di sini," ucap Dani dengan tegas.


"Aku karyawan sekaligus sahabat Emely, kau siapa? Pebinor? Perebut bini orang? Apa ini yang menyebabkan pernikahan Emely gagal?" sinis Felik.


Emely memejamkan matanya, kabar kegagalan pernikahannya sudah menyebar? Emely menatap ke arah Felix dengan geram.


"Bisa kau lebih sopan Felix? Kau memang sahabatku, tapi kita bukan suami istri. Aku bebas melakukan apapun, lagipula aku tidak menghianatimu," ucap Emely sambil menatap tajam ke arah Felik.


Dani tersenyum bahagia, dia merasa dibela oleh Emely. Dani mengulurkan tangannya. Menggenggam tangan Emely kemudian melangkahkan kaki menuju ke arah pintu. Tak perduli dirinya dengan ucapan orang orang yang kini melihat kebersamaan dirinya dengan Emely.


Emely mengikuti langkah Dani sambil menghela nafas panjang, memberikan udara yang lapang untuk pernapasannya yang tadinya terasa sesak menurutnya karna perdebatan antara Felix dengan Dani.


Felix memejamkan matanya, kenapa sahabat dan suami istri? Apa maksud Emely? Felix tampak tak terima dengan apa yang dikatakan Emely. Felix mengikuti langkah Emely dan Dani ke depan.


"Em, hentikan! Kenapa kau pergi disaat yang tidak tepat? Disaat banyak masalah yang bergulir, ini membahayakanmu Em," ucap felix.


Emely memejamkan matanya. Bahaya baginya? Bahkan dia tak perduli, tapi jika Sifa tau bagaimana? Bukankah dia akan sakit? Hais, entahlah. Dia tak perduli, dia ingin makan dan ditemani Dani malam ini. Setidaknya malam ini saja.


Dani yang merasa geram kini mendekat ke arah Felix dan menatap pria tampan itu dengan tenang.


"Kau, bisakah kau diam? Kau pikir aku tidak bisa menjaganya? Jangan campuri urusanku?" ucap Dani dengan tegas, membuat Felix sedikit gentar.


"Kau siapa? Bukan menjaga pasti kau akan membayakannya," ucap Felix.


Merasa geram Dani menggelengkan kepalanya dan melayangkan satu bogem mentah pada Felix.


"Diam di tempatmu dan jangan campuri urusanku!" sentaknya dengan emosi.


Emely membelalakan matanya, bagaimana bisa ini terjadi?


Tanpa banyak bicara lagi Dani menarik Emely menuju ke mobil.


Felix mengepalkan tangannya, kenapa disaat Raymon menghilang malah ada lagi yang muncul seperti ini?


👒👒👒👒👒👒


Dikoridor rumah sakit. Lelyta masih saja melirik ke arah Dafa yang sejak tadi sangat menyebalkan. Hatinya masih saja menggerundel memaki Dafa yang menurutnya sangat keterlaluan membayarnya lima ratus juta kepada Tuan Wilson.

__ADS_1


"Ya Tuhan, kanapa lelaki menyebalkan ini tak kunjung pergi? Kenapa malah dia disini dan menungguku? sangat menyebalkan," batin Lelyta mencerca.


Lelyta menoleh kearah Dafa yang sedang memainkan ponselnya. Dafa tersenyum senyum melihat Vidio? Vidio apa? Entahlah.


Tak berapa lama kemudian, seorang dokter keluar dari ruang pasien. Segera wanita cantik itu menemui dokter itu.


"Bagaimana Dok keadaan ibu saya?" tanyanya sambil menatap Dokter dengan tenang.


"Keadaanya sudah membaik, akan tetapi seharusnya beliau banyak banyak istirahat. Jahitan yang ada belum kering paska oprasi ginjal, tapi sepeetinya ibu anda kelelahan" ucap Dokter.


Lelyta memejamkan matanya, ini semua karna Tuan Wilson dan Nyonya Helena. Jika dia masih berada di rumahnya pasti akan ada kejadian seperti ini lagi, lalu kemana dia harus membawa ibunya?


"Oh, terimaksih Dok, saya akan lebih menjaga ibu saya agar tidak teelalu capek," ucapnya.


"Sama sama, kami permisi dulu," ucap Dokter itu kemudian melangkah pergi.


Lelyta segera masuk ke dalam. Dafa yang sejak tadi melihat Vidio kiriman Rudi yang melaporkan aktifitas Dani yang menonjok Felix kini memasukan ponselnya.


"Dani, Dani, aku yakin sekali kau sedang jatuh cinta," ucapnya kemudian berdiri mengikuti langkah Lelyta.


Lelyta membuka pintu, ia berjalan pelan. netranya menangkap perempuan paruh baya terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit, dengan baju pasien yang melekat ditubuhnya. Lelyta mendekat, meraih tangan ibunya dan menciumnya.


"Bu segera sembuh. Jangan membuat Lely Khawatir," ucap Lelyta pelan, setitik air mata mengalir dari mata indahnya, sehingga membuat ibunya terbangun merasakan tetesan air mata Lelyta.


"Lely, jangan bersedih Nak," ucap ibunya.


"Ibu, apa mengganggu? Maaf kan aku," ucapnya sambil mengusap air mata.


"Kamu tidak mengganggu Nak. Terimakasih sudah menemani ibu. Bahkan kamu selalu ada buat ibu. Jangan bersedih, ibu jadi ikut sedih," ibunya menangis, ia mengusap air mata Lelyta. Lelyta mencoba tersenyum.


"Hanya ibu yang Lely punya. cepatlah sembuh," ucapnya sambil mengecup tangan mungil yang menggendongnya dari kecil.


"Kata doktee ibu harus banyak istirahat, jangan kelelahan. Jadi sementara waktu kita disini sampai ibu sembuh. Lely akan mencoba mencari rumah agar kita bisa aman dari Tuan Wilson," ucapnya.


"Kamu hati hati Lel," ucap ibunya dan diangguki oleh Lelyta.


"Pasti, ibu jangan mengjawatirkan aku. Doakan saja Lelyta untuk kuat," ucapnya sambil memeluk ibunya.


"Ibu istirahat ya, Tuan Dafa masih ada di luar, aku akan menemuainya," ucapnya dan diangguki oleh ibunya.


Dafa berdiri di samping pintu, tadinya mau masuk, akan tetapi melihat interaksi ibu dan anak itu membuatnya mengurungkan niatnya.


Disaat itu, tampak Lelyta keluar dari ruangan ibunya. Dafa segera menarik tangan Lelyta untuk mengikuti langkahnya. Lelyta terkejut menatap orang di depannya. Wajahnya dingin tanpa senyuman.


Lelyta mencoba melepas genggaman tangan Dafa. Namun Dafa tak memberikan kelonggaran sedikitpun. Hingga akhirnya mereka tiba didepan restauran yang tak jauh dari tempatnya berada.


Dafa melepaskan genggaman tangannya, Lelyta terlihat begitu emosi menatap orang di depannya dengan sinis.


"Kau, kenapa menariku kesini?" tanyanya sinis. Dafa, laki-laki itu hanya tersenyum tipis. Lelyta mencoba untuk pergi.


"Kau diam saja disini, Nona. Jika kau berani melangkah selangkah saja, saya pastikan hidup anda tidak bisa tenang untuk kedepannya. Seharusnya kau menurut, aku sudah membelimu untuk menjadi pelayanku," ucapnya.

__ADS_1


Lelyta terdiam, ancaman Dafa benar benar menakutkan dan membuat Lelyta mengumpat di dalam hati, bagaimana ada orang semenyebalkan itu. Menggunakan kekuasaan diatas segalanya.


"Duduklah Nona," ucap Dafa sambil melirik kursi panjang di depannya.


"Makanlah," ucap Dafa lagi. Ya, memang Dafa sudah memesan makanan sejak tadi. Dafa meraih makanan dan menikmatinya. Lelyta yang memang lapar kini juga menikmati makanan dan jus yang tersedia di meja itu.


Dafa tersenyum tipis melihat Lelyta yang lebih segar dari pertama bertemu tadi. Lebih segar, lebih cantik dan lebih mempesona. Hais, apa yag ada di pikirannya? Segera Dafa menyelesaikan makannya.


Setelah selesai makan, Lelyta mengetokkan jari-jemari diatas meja, membuang segala kegugupan yang menyeruak di benaknya karna dia menyadari Dafa melihat ke arahnya.


"Kau kenapa?" Suara itu membuyarkan lamunan Lelyta. Lelyta menatap Dafa dengan tenang, sebenarnya Dafa tak banyak bicara. Tapi entah kenapa wanita itu merasa tak nyaman saja.


Dafa yang sudah menyelesaikan makannya kini melirik jam yang melingkar ditangannya, satu jam sudah mereka bersama di restauran ini.


"Sebenarnya ada banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan padamu, dan akupun tau kau bisa menjawabnya," ucap Dafa lagi.


"Siapa namamu? Sepertinya tanpa aku menyebutkan kau sudah tau banyak tentangku." ucap Dafa dan sanggup membuat Lelyta tersenyum.


"Kau bertanya padaku Tuan Dafa?" tanya Lelyta. Dafa tersenyum dan mengulurkan tangannya.


"Ya, siapa namamu?" tanyanya.


Lelyta yang sempat sebal kini menerima uluran tangan Dafa.


"Lely, Aurora Lelya Anggita," ucapnya sambil tersenyum dan diangguki oleh Dafa.


"Senang bertemu denganmu," ucapnya. Lelyta tampak menggelengkan kepalanya dan menatap Dafa dengan tenang.


"Senang juga bertemu denganmu meski itu menyebalkan. BTW, terimakasih telah menyelamatkan kami," ucap Lelyta.


Dafa mengangguk pelan.


"Sama sama, tapi itu tidak gratis. Kau harus menjawan jujur pertanyaanku," ucapnya.


"Memang selain nama apa yang ingin kau tanyakan?" tanya Lelyta. Dafa memberikan sebuah berkas dan diterima oleh Lelyta.


"Bisa kau jelaskan semuanya?" tanya Dafa pada lelyta yang saat ini membaca dengan detail profil miliknya. Ya, dengan cepat lelaki itu bisa mencari tau tentang Lelyta.


"Kau sedang menyelidiki sesuatu Tuan Dafa?" tanyanya.


"Aku hanya meminta kau menjelaskan, apa aku tampak seperti menyelidiki?" tanya Dafa balik, Lelyta tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


Lelyta kini yakin bahwa memang Dafa adalah orang Ardani dan pastinya dia diutus untuk menyelidiki hal yang menimpa bosnya itu. Lelyta yang memang menjadi dalang pertemuan Emely dan Dani tidak bisa mengelak. Mungkin dengan bercerita pada Dafa dia akan menemukan jalan untuk bisa mendapat maaf dari Emely nantinya.


"Semua yang ada disini benar, aku bekerja pada Emely, aku asisten pribadinya. Aku yang membuat secedjol kerja Emely." ucapnya.


"Lalu bagaimana kau bisa berhubungan dengan Tuan Wilson?" tanya Dafa.


"Seperti yang kau tau, ibuku adalah asisten rumah tangga di sana," ucap Lelyta. Dafa menatap Lelyta dengan tenang. Dafa bahagia nantinya akan mendapatkan informasi yang dia mau.


"Lalu, apa tuan Wilson melibatkanmu dalam rencananya? Kenapa kau disekap olehnya?

__ADS_1


🎀🎀🎀🎀


__ADS_2