
"Beri aku kesempatan," ucap Dani lagi. Dani mencoba meyakinkan.
"Kesempatan yang bagaimana yang harus aku berikan Dan? Kau tau? Saat ini aku terluka, bahkan aku takut untuk memulainya lagi," ucap Emely.
Rasa sakit yang diberikan Raymon masih membekas dihatinya. Bahkan, mendengar Dani akan meninggalkanya di telepon tadi membuatnya merasa sesak juga.
Dani memutar tubuh Emely sehingga keduanya saling berhadapan. Dani menggenggam tangan Emely dan melingkarkan tangan Emely ke arah lehernya.
Emely memejamkan matanya, benar-benar takjup dengan Dani yang memperlakukan dirinya begitu sangat manis, dan itulah yang membuatnya takut untuk merasakan sakit lagi jika suatu saat Nanti takdir tak merelakan mereka untuk bersama.
"Kesempatan untuk menyembuhkan lukamu Em," ucap Dani. Emely tersenyum dan memandang wajah tampan itu. Suasana tak setegang tadi, malah tampak begitu indah bagi Emely.
"Kau pikir kau itu hansaplas? Mana bisa menyembuhkan lukaku?" tanya Emely dengan kekehan tawa yang kecil.
"Aku bukan hansaplas, tapi mungkin aku betadien. Mungkin aku membuat kepedihan, tapi itu yang membuatku berproses menyembuhkanmu," ucap Dani.
Emely lagi-lagi mengulum senyuman. Lelaki ini benar-benar bisa membuatnya tenang dan nyaman. Emely menatap intens ke arah Dani mencoba memahami hatinya, memahami dirinya sendiri tentang apa yang diinginkannya.
"Okey, aku tidak akan menolak. Tapi ada satu hal yang harus kau lakukan," ucap Emely dengan tenang.
"Apa?" tanya Dani pada wanita yang saat ini begitu sangat cantik dan indah di dalam pandangannya.
"Temani aku hari ini," ucap Emely. Entah kenapa, dia ingin berdekatan dengan Dani. Mendapatkan kenyamanan dan ingin selalu ada disamping lelaki itu.
Dani terpaku, hari ini banyak sekali jadwal yang harus dia kerjakan. Bahkan Dafa mengatakan bahwa mulai hari ini Dani harus berangkat ke kantor ARW grup, karna berkas pengunduran diri dari MRD grup sudah selesai. Bahkan dia masih harus menemui mamanya seperti apa yang dijanjikan tadi.
"Em, tapi hari ini aku...." Emely mengarahkan telunjuknya ke arah bibir Dani. Rasa kecewa seakan bertubi menghujamnya. Hatinya terlalu rapuh. Dia tak mampu untuk menahan desakan rasa sakit di hatinya.
"Oke, aku mengerti Dan. Kau tak perlu menjelaskan apapun. Aku sedikit pusing, aku ke atas dulu," ucap Emely sambil melepaskan tangan Dani dari pinggangnya.
Dani ingin menahan, akan tetapi tangannya hanya mampu melayang di udara. Dani menghela napas panjang. Kenapa wanita itu? Dani mengambil kopi cangkir dan meneguknya sambil menatap ke arah Emely yang kiam menghilang dari pandangannya.
🎀🎀🎀
Di atas sana, papa Pradikta dan Mama Elyna saling berpandangan. Mereka tersenyum bahagian melihat pemandangan di bawah sana. Terlihat sangat romantis dan indah.
"Mereka manis sekali pa, apa papa masih meragukan mantu kita?" tanya mama Elyna.
"Entahlah, papa masih harus tau lebih banyak lagi," ucapnya sambil tersenyum.
"Iya, tapi jangan keterlaluan juga," ucapnya.
"Mama tenang saja," ucap papa pradikta.
"Udah subuh, mandi sana," ucap mama Elyna dan diangguki Papa Pradikta.
🎀🎀🎀🎀🎀
Emely menutup pintu kamarnya, menyandarkan tubuhnya di sana. Air matanya mengalir.
"Ya Allah, kenapa aku terus terusan menangis, kenapa aku terus terusan bersedih seperti ini? Bukankah Dani bukan siapa- siapa? Tolong Ya Allah, hilangkan rasa gelisah dan sedih ini," lirih Emely.
Tak lama dari itu, hendel pintu tampak bergerak. Segera Emely beralih dan mengusap air matanya.
__ADS_1
Dani masuk ke kamar, dia tampak teekejut melihat Emely masih berdiri disana. Wajah sembab Emely membuatnya gelisah.
"Em, aku minta maaf. Hari ini aku benar benar tidak bisa menemanimu," ucapnya.
Emely tersenyum dan menatap Dani dengan tenang.
"Sudahlah, lupakan Dan. Anggap saja tadi aku tidak berkata apapun juga. Lagi pula aku juga nanti mau ke kantor, mana bisa kita bersama," ucap Emely.
Dani tampak pias dan mengalihkan perhatiannya dari Emely. Entah, sebenarnya ada rasa yang seolah memintanya untuk tetap tinggal akan tetapi dia harus menyelesaikan urusannya. Entah, Emely benar-benar bisa membuatnya merasakan perasaan yang campur aduk.
Dani mengambil jas yang semalam dipesaan online. Emely mendekat ke arah Dani, mengambilkan dasi dan memasangkannya di leher suaminya. Dani memandang wajah cantik istrinya, Emely mendongak dan mendapati Dani memandangnya, diapun tersenyum tipis.
"Dan, jangan memandangku seperti itu, sampai kapanpun tetap saja aku cantik," ucap Emely sambil tersenyum puas.
Dani mengalihkan pandangannya kemudian berlalu setelah Emely selesai memasang kan dasinya. Emely menghela nafas panjang.
"Dan, langsung saja ke ruang makan, aku sudah menyiapkan tumis kangkung kesukaanmu," ucap Emely dengan tenang. Dani terdiam, meski sebenarnya mendengar apa yang disampaikan Emely.
"Dan, kamu mendengarku?" tanyanya.
"Iya, kita kesana bersama Em," jawab Dani.
"Ya Tuhan, kenapa aku dihadapkan dengan keadaan yang seperti ini?" ucap Emely sambil memejamkan matanya.
Beberapa saat kemudian, Emely keluar dari kamar sambil membenahi tatanan hijabnya. Netranya menatap Dani yang ternyata masih ada di depan kamar.
"Kamu masih disini, ku pikir sudah turun," ucap Emely.
"Kenapa lama sekali?" ketus Dani.
"Kita ke bawah sekarang," ucapnya sambil menggenggam tangan Emely.
"Dani please, jangan perlakukan aku dengan manis," batin Emely.
Mereka melangkah menapaki anak tangga menuju ke ruang makan. Beberapa menu telah tersedia di sana. Setelah menyelesaikan ibadah shalat dan mandi tadi, Emely sengaja memasak untuk sarapan bersama suaminya dan juga orang tuanya, dibantu oleh salah satu pelayan di rumahnya.
"Selamat pagi," suara itu membuat Dani dan Emely menoleh. Papa Pradikta dan Mama Elyna tampak bahagia dan menatap ke arah Dani dan Emely yang tampak begitu serasi.
"Pagi Ma, Pagi Pa," jawab Emely dan Dani bersamaan.
"Bagaimana tidurnya nyenyak?" tanya Mama Elyna sambil tersenyum memandang ke arah Dani dan Emely.
"Sangat nyenyak Ma," jawab Dani.
"Sangat nyenyak sehingga mengganggu waktu tidur orang lain dengan berceloteh di taman pagi pagi sekali," ucap Papa Pradikta sambil menatap ke arah Dani dengan sinis.
Dani dan Emely saling berpandangan, sangat memalukan. Jadi Papa Pradikta tau aksi di taman dini hari tadi?
"Kami,,," Dani mencoba untuk meminta maaf. Akan tetapi papa Pradikta tampak tak mau me dengarkan ucapannya.
"Jangan banyak bicara, duduklah!" titah papa pradikta.
Dani dan Emely menurut, kemudian duduk. Emely mengambil makanan untuk Dani kemudian memberikannya. Emely juga mengambil makanan untuk dirinya sendiri, netranya melirik Dani yang melahap makanan dengan tenang. Hanya dentingan sendok yang terdengar. Mereka tampak menikmati makan pagi ini.
__ADS_1
setelah sarapan, Dani segera membersihkan mulutnya dengan tisue. Dia memandang ke arah Emely yang kini telah menyelesaikan makan, begitu juga dengan papa dan mamanya.
Dani tampak menatap ke arah papa mertuanya, sedari malam datang seperti diasingkan dan tak tersambut dengan baik.
"Pa, Ma, terimaksih atas malamnya yang sangat indah. Hari ini saya pamit untuk pulang," ucap Dani dengan tenang dan mampu mengusik papa Pradikta.
Papa Pradikta menatap Dani dengan tajam, kemudian melirik Emely yang tampak bersedih. Papa Pradikta benar benar yakin bahwa Emely dan Dani sama sema memiliki perasaan yang belum sanggup untuk diterjemahkan.
"Kau mau pulang?" jawabnya sambil menatap tajam ke arah Dani.
"Ya, dan kalau boleh, aku akan menjemput Emely bersamaku malam nanti," ucapnya.
Papa Pradikta tampak terkejut dengan ucapan Dani, bahkan dirinya tak menyangka ucapan itu keluar dari bibir Dani.
Papa Pradikta tampak berdiri, mengecup pelan kening mama Elyna tanpa menjawab pertanyaan Dani.
Papa Pradikta berjalan ke arah Emely dan mengecup juga kening putri tercintanya.
"Papa pasrahkan jawabanya padamu, kau jawab sendiri mau atau tidak," ucap Papa.
"Papa berangkat dulu," ucapnya sambil menatap Dani kemudian melenggang pergi.
Dani memejamkan matanya, dia tau papa Pradikta adalah orang yang bijak. Kini netranya menatap mama Elyna dengan tenang.
"Aku juga harus berangkat Ma," Dani berdiri dan menatap Mama dengan tenang.
"Iya, hati-hati," ucap mamanya.
Dani mendekat ke arah mamanya dan memberikan salam kemudian melangkah ke luar diikuti oleh Emely.
"Aku berangkat Em," ucap Dani sambil menatap le arah Emely yang tampak tenang.
"Hem, hati-hati Mas," ucapnya. Emely mengambil tangan Dani dan menciumnya. Dani merasakan desiran halus yang sangat menyentuh hatinya. Bahkan dia seperti membeku dan tak mampu bergerak mendengar panggilan Emely yang menggelitik di telinganya.
Dani merogoh sakunya kemudian membuka dompet nya, ia menyerahkan kartu tanpa batas kepada Emely.
"Itu untuk keperluan mu, gunakan sesukamu," ucap Dani.
"Aku tidak butuh itu," sanggah Emely. Dani mengambil tangan Emely dan meletakan kartu itu di tangan Emely.
"Aku hanya menjalankan nafkah lahir untukmu, jika kau tak membutuhkan, kau bisa memberikanya pada orang lain," ucap Dani sambil menatap ke arah Emely.
Emely tersenyum tipis, bahkan Dani memikirkan nafkah lahir untuknya? Aish, jangan bahagia dulu Em. Bukankah Dani memang sangat royal?
"Aku berangkat, Rudi sudah di depan. Aku akan menjemputmu nanti malam," ucap Dani dengan tenang. Emely tampak bahagia sambil menatap kepergian Dani.
Namun, sebentar kemudian Dani kembali ke hadapannya.
"Ada yang ketinggalan?" tanya Emely.
Dani mendekat ke arah Emely dan mengecup pelan puncak kepala Emely kemudian kembali berjalan meninggalkam Mansion mewah itu.
Emely memejamkan mata indahnya, pantaskah dia bahagia?
__ADS_1
❤❤❤❤❤