Cintai Aku, Lupakan Dia!

Cintai Aku, Lupakan Dia!
CALD. Telepon dari Papa


__ADS_3

"Bagaimana Nona cantik? Kau salah satu orang yang beruntung karna mendapatkan penawaran yang sangat membahagiakan ini.


"Jarang jarang wanita yang mendapatkan kesempatan ini. Banyak sekali pengagum rahasiaku yang sebenarnya menanti kesempatan ini tapi tidak juga kunjung aku beri," ucap Dani.


"Berapa banyak?" tanya Emely dengan tenang.


"Entah, mereka selalu muncul di kolom komentar dan selalu membuat othor ramah berbunga bunga," ucapnya.


"Benarkah?" tanyanya sambil menatap langit langit ruangan kerja itu.


"Kau itu terlalu narsis bang," canda Emely kemudian menatap Dani dengan teduh.


"Jadi bagaimana?" tanya Dani lagi.


"Oke, aku akan mencoba. Jika kamu mampu merebut hatiku dan juga sebaliknya maka kita akan bersama, tapi jika kita gagal maka kita akan hidup sendiri sendiri. Bagaimana?" tanya Emely.


"Sepertinya tak akan sulit Em, aku yakin dalam satu minggu aku bisa melihatmu bertekuk lutut dihadapanku?" ucap Dani. Emely tersenyum dan memandang Dani dengan wajah yang merah merona.


"Itu terlalu lama Tuan, Bahkan saat ini aku bisa melakukan itu," ucap Emely.


"Apa yang bisa kau lakukan untuk membuatku bertekuk lutut di hadapanmu?" tanya Dani dengan penasaran. Dahinya berkerut dan menatap Emely.


Emely terkekeh pelan dan menatap Dani dengan teduh.


"Mau bukti?" tanya Emely. Dani menautkan alisnya dan menatap Emely dengan tenang.


Emely mundur beberapa langkah, melepaskan kerudungnya, meletakan kain berwarna merah muda itu di kursi kemudian maju kembali. Emely melepaskan kancing baju paling atas dan membuat Dani mengalihkan pandangannya.


Dani mengepalkan tangannya, dia pikir apa yang akan dilakukan. Ternyata menjadi wanita penggoda. Mana sanggup dia menahan jika Emely mendekatinya seperti ini?


Emely berjalan ke arah Dani, merangkulkan tangannya ke leher Dani. Berjinjit kemudian mengusap pelan dada bidang Dani.


"Aku bisa menjadi kucing yang baik, kelinci yang imut. Aku juga bisa menjadi ular yang akan membelitmu, Tuan," ucap Emely.


Dani mendorong Emely, melirik dada Emely yang menggodanya. Dani mengepalkan tangannya, memandang Emely yang saat ini tersenyum. Darahnya seakan panas, sesuatu di sana telah terbangun. Dani maju beberapa langkah dan mengancingkan baju Emely kembali.


Tangan Emely terlulur menggenggam tangan Dani yang kini menempel sempurna di depan dada Emely. Jantung Dani berdetak tak beraturan.


"****," batinya menggerutu.


Dani menghela napas panjang dan menatap Emely dengan geram. Dirasakan dengan tangannya jantung Emely sama cepatnya berdetak.


"Em lepas," ucapnya sambil memejamkan matanya.


Emely tersenyum, dia sebenarnya tidak segila ini. Dia hanya ingin tau reaksi Dani. Merasakan hal yang sama dengan apa yang dia rasakan atau tidak.


"Kau menyerah?" tanya Emely.


"Aku bahkan belum memulainya, sekarang berlutut dihadapanku. Bilang padaku untuk melepaskan tanganmu," ucapnya


Dani mengeratkan genggaman tangannya dan menatap Emely dengan tenang. Dani tak mau memberontak, pasalnya jika terus seperti ini tubuh bagian bawahnya akan menderita.


"Oke," jawabnya.


Dani berlutut di depan Emely, Emely tak melepaskan tangan Dani, dan kini Dani benar benar ada di depannya.


Ingin dia memberontak pada Emely, dia mendongak dan menatap Emely dengan tenang. Tapi sepertinya memberontakpun tak akan menyelesaikan masalah. Alhasil dia harus menuruti kemauan wanita itu agar terlepas dari siksaan yang menyakitkan.


"Katakan sekarang, minta aku untuk melepaskan tanganmu," ucap Emely.

__ADS_1


Dani menghela napas panjang, mengesampingkan segala rasa yang membuncah dalam hatinya.


"Tetaplah menjadi istriku Em, temani hidupku saat ini, esok dan selamanya, sampai takdir Tuhan memisahkan kita dengan kematian," ucap Dani.


Deg.


Seketika Emely melepaskan tangan Dani. Apa apaan ini? Kenapa bisa begini? Bukan ini yang ingin dia dengar. Dia hanya ingin bercanda dengan Dani. Lalu apa ini candaanya juga?


Dani tersenyum dan menatap Emely dengan tenang. Diraihnya kembali tangan mungil itu dan diciumnya.


"Aku mencintaimu Emely sayang, beri aku satu kesempatan," ucap Dani sambil menatap Emely sambil tersenyum.


Tidak, ini pasti lelucon. Pikir Emely.


Dani menautkan alisnya, dia tau wanita ini sedang dalam kebimbangan. Bahkan dia tak percaya dengan apa yang dikatakan Dani. Dani merasa bahagia sekali bisa membuat Emely bungkam.


"Aku,"


"Diamlah, tidak penting bagiku mendengar jawabanmu, Tugasmu berada di dekatku sampai nanti maut memisahkan kita," ucap Dani lagi sambil berdiri.


"Sekarang kemasi barangmu, kita pergi dari sini," ucap Dani.


"Jangan lupa pakai penutup kepala lagi," ucap Dani lagi.


"Apa lagi?" tanya Emely saat Dani memandangnya dengan tenang. Tak banyak bicara Dani memajukan kepalanya dan mencium puncak kepala Emely dengan mesra.


Ada sebuah kenyamanan yang didapatnya pada posisi seperti ini. Apa yang dia rasakan sama persis saat mengecup kening wanita itu seusai ijab qobul pernikahan beberapa minggu yang lalu.


Emely kembali merasakan jantungnya berdetak hebat. Emely segera menjauh. Dia tidak sanggup bila harus menampakan wajah merahnya di depan Dani.


"Aku ke kamar mandi dulu Mas" ucap Emely dan diangguki oleh Dani.


Dani membuka matanya. Dipandangnya ruangan kerja kekinian yang begitu megah itu. Bangunan berlantai empat dengan arsitek yang menawan dan bertuliskan RE grup itu.


🎀🎀🎀


Setelah dari toilet dan rapi, Emely melangkahkan kakinya dengan tenang menuju ke bawah. Karyawannya menyambutnya dengan senyum, Emely membalasnya dengan senyuman yang menawan.


Tadinya dia ingin membuat makanan untuk Dani. Tapi rasa malas malah datang. Kini dia ingin keluar saja bersama suaminya itu. Emely menghentikan langkahnya beberapa makanan rasanya ingin dia makan di sore ini.


Beberapa saat kemudian terdengar deringan ponsel yang begitu nyaring. Emely segera mengambil ponselnya yang memperlihatkan nama papa disana. Segera Emely menggeser tombol hijau dan meletakan ponselnya di telinganya.


"Halo assalamualaikum Pa," sapanya dengan lembut.


"Em, kamu baik-baik saja?" tanya papanya. Emily mengernyitkan dahinya.


"Iya, Em baik-baik saja Pa, kenapa? Papa merindukan aku?" tanyanya narsis.


"Papa hanya merasa tidak enak saja, papa pikir terjadi sesuatu denganmu, mengingat banyak wartawan yang datang ke kantormu," ucap papanya. Emely memejamkan matanya. Begitulah ikatan darah, bahkan apa yang dirasakannya tadi pasti sampai di batin orang tuanya.


"Em baik-baik saja Pa, bahkan sekarang Em sangat bahagia. Em tidak bersedih sama sekali," ucapnya.


"Apa karna mantu papa ada disana?" tanya papanya. Emely memejamkan matanya. Bagaimana bisa papanya tau jika ada Dani disini?


"Iya," jawab Emely gugup.


"Iya?" suara papa tampak terkekeh di sebrang sana.


"Maksud Em memang Mas Dani ada disini, tapi tidak karna itu juga kali pa," tambah Emely.

__ADS_1


"Lalu?" tanya papanya dan membuat Emely tersenyum.


"Ah papa, aku nggak papa. Sekarang Em lagi mau keluar, Em lapar banget pa," ucap Emely.


"Keluarnya sama Mas Dani?" goda papanya. Emely terdiam menahan tawanya.


"Hei gadis, kamu mendengar papa?"


"Hem," jawabnya.


"Makan makan aja dong sayang, tinggal pesen aja kan," ucap papanya.


"Aku nggak mau makanan yang ada disini, aku mau makanan yang lain," ucap Emely.


"Pengen apa?" tanya papanya.


"Pengen es krim, pengen rujak buah, pengen makan nasi goreng di pinggiran jalan, sama pengen makan cilok di alun alun kota," ucap Emely sambil menghitung apa yang dia ucapkan dengan jari jemarinya.


Papa pradikta tertawa dan menggelengkan kepalanya.


"Kau itu mengingatkan papa pada saat hamil kakakmu, apa yang dia minta sama seperti yang kamu mau saat ini," ucap papanya. Emely hanya terkekeh saja.


"Ya sudah, sana pergi. Papa juga mau ada acara nanti malam bersama mama," ucap Papanya.


"Oke pa," jawab Emely.


"Bahagia selalu Nak," ucap papanya.


"Amin," jawabnya.


"Asalamualaikum,"


"Waalaikumsalam,"


Emely menutup ponselnya, dari belakang seseorang memeluknya dengan erat. Emely tau, siapa pelaku yang memperlakukannya seperti ini. Hanya satu orang yang mampu membuatnya merasakan seperti ini. Bagaimana bisa lelaki itu menyusul ke sini? Bagaimana bisa juga tadi dia masuk ke RE grup? Apa dia menekan karyawanya?


"Apa yang mau kau makan? es krim, pengen rujak buah, pengen makan nasi goreng di pinggiran jalan, sama pengen makan cilok di alun alun kota," tanya suara di belakangnya.


Emely memejamkan matanya, dan mengangguk. Dani memutar tubuh Emely sehingga keduanya saling berpandangan.


"Apa kau yakin makan itu semua?" tanya Dani.


"Hem, kenapa? Kau tak mau mengantar?" tanya Emely.


"Dengan senang hati, lagi pula sudah lama sekali aku tak liburan dengan sederhana," ucap Dani.


"Benarkah?" tanya Emely.


"Hem, tapi aku tak menyangka makanmu sebanyak itu," ucap Dani sambil terkekeh.


Emely menggelengkan kepalanya, mengambil tas yang sudah di bawakan Dani dari tangan Dani.


"Kita brangkat sekarang," ucap Dani dan diangguki Emely.


Keduanya berjalan bersamaan, hingga mereka bertemu dengan Felik yang berdiri sambil menatap tajam ke arah Dani.


"Felix, aku pergi dulu," ucapnya pada sahabatnya itu.


"Dengannya?" tanya Felix sambil melirik ke arah Dani dengan tatapan tajamnya.

__ADS_1


🎀🎀🎀🎀🎀


__ADS_2