
Rumah megah di pinggiran kota, dengan arsitektur mempesona, indah dan begitu memukau. Namun, sayang sekali keadaan yang ada di dalam rumah itu saat ini tengah tidak baik baik saja.
Saat ini, seorang laki-laki paruh baya menatap tajam ke arah wanita yang tak lain adalah istrinya sendiri. Wanita yang sedari tadi menekan Tuan Hendra untuk mengatakan apa yang terjadi diluaran sana. Sebenarnya tidak ingin dia mengatakan tentang kebenaran yang terjadi, mengingat istrinya bersahabat baik dengan keluarga Sinta. Dipastikan dia akan mengusik Emely, putri dari Tuan Pradikta.
Nyonya Nina, wanita itu hanya mampu berdiam. Entah, emosi seakan merajai hatinya. Dani tak sekalipun mengangkat panggilan teleponnya, dan saat ini suaminya juga tak mau menceritakan apa yang terjadi di luaran sana. Bukankah ini sangat menyedihkan? Keluarga Sinta masih saja menekan mereka untuk bisa melaksanakan pernikahan, lalu apa yang akan terjadi nantinya jika sampai saat ini Dani tak diketahui keberadaannya?
"Tenangkan dirimu, Ma," ucap Tuan Mahendra dengan tenang.
"Tenang papa bilang? Saat semuanya kacau karna Dani, papa masih bisa tenang? Apa papa tidak bisa melihat kebingungan mama? Gara gara wanita itu, kita malu. Sekarang, bahkan papa tidak mau menceritakan apapun, lalu haruskah mama tenang?" cerocos Nyonya Nina panjang lebar.
Pandangan mata Tuan hendra beralih ke arah istrinya. Apa yang harus dia katakan?
"Ma, semua butuh tenang. Tidak bisa dihadapi dengan amarah," sentaknya.
__ADS_1
"Jika papa benar benar tidak mau membagi tau tentang apa yang terjadi, jangan salahkan mama bila mama bertindak sendiri. Mama akan mencari keberadaan Dani dan juga wanita itu. Mama yakin mereka bersama, mama yakin si pelakor murahan itu telah meracuni otak Dani," ucap Nyonya Nina dengan penuh emosi. Wajah Emely masih teengiang di pikiranya, sangat jelas tercetak di ingatannya.
"Ma, jangan berburuk sangka. Coba mama tenang dan berpikir jernih, besok kita bertemu sien dan keluarganya. Kita bicarakan masalah ini baik-baik," ucap Tuan Mahendra.
"Untuk saat ini mama tidak bisa tenang, mama akan mencari keberadaan Dani sendiri jika papa tidak mau memberitau," ucap Nyonya Nina sambil berjalan ke arah luar.
Tuan Hendra hanya bisa menghela napas panjang. Antara menceritakan atau tidak, yang jelas saat pikirannya sangat kacau. Shien sahabatnya, atau Tuan Pradikta rekan bisnisnya yang harus dia jaga perasaannya? Disaat seperti ini, kenapa istrinya tak bisa diajak kompromi? Entahlah, Tuan Hendra segera melangkah meninggalkan ruang tamu menuju ke kamarnya.
"Pa, apa yang terjadi?" Ganesa yang bertemu dengan papanya diujung tangga. Tuan Mahendra mengusap pundak wanita cantik itu dan menghela napas panjang.
Ganes menghela napas panjang, tadi Dani menghubunginya dan memintanya untuk mencari cara menunda kehamilan sesudah bercinta, dan juga cara mengembalikan kepr*w*nan. Lalu, apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa informasi yang di dapat dari papanya juga tak lengkap.
"Pa, memangnya apa yang terjadi pada Kak Dani?" tanyanya. Tuan Mahendra mengerutkan keningnya. Apa putrinya benar benar tak tau?
__ADS_1
"Kau cari tau sendiri dari kakakmu, Papa pusing memikirkannya," ucap papanya kemudian melenggang pergi. Ganesa menggelengkan kepalanya, banyak pertanyaan dalam hatinya. Dia akan mencari keberadaan kakaknya yang semenjak pagi menghilang.
🎀🎀🎀
Nyonya Nina mengambil ponselnya dan menghubungi orang di sebrang.
"Selamat malam Nyonya, ada apa?" tanyanya.
"Kau cari keberadaan Dani dan segera informasikan secepatnya, aku tidak mau lebih dari jam lima pagi kau sudah memberikan informasi itu," ucap Nyonya Nina.
"Baik, Nyonya. Akan saya usahakan," ucapnya.
"Baik, aku tunggu berita baiknya," sahut Nyonya Nina kemudian menutup ponselnya.
__ADS_1
"Awas saja kau, aku tidak akan melepaskanmu wanita murahan," lirihnya.
🎀🎀🎀🎀