
Dani semakin tak mengerti ketika melihat vidio selanjutnya. Emely dan mamanya tampak masuk ke dalam RE bersamaan. Astaga, apa mamanya telah berubah? Bukankan tadi malam mamanya bilang masih belum bisa bertemu dengan Emely?
Lalu, apa Emely memaafkan mamanya yang sempat mengatainya pelakor dan sebagainya? Apa tak ada dendam dengan mamanya itu? Apa justru Emely yang merencanakan sesuatu untuk mamanya? Mengingat RE adalah daerah kekuasaan istrinya.
Lampu rambu rambu lalu lintas berubah hijau, Dani segera menancap gas mobilnya. Apa yang terjadi sebenarnya? Atau ada rencana jahat yang akan diperankan mamanya untuk istrinya? Apa setega itu? Bagaimana bisa mamanya tega? Sepertinya dia harus segera munuju ke RE grup untuk melihat dengan jelas apa yang terjadi selanjutnya.
Dengan kecepatan tinggi Dani menuju ke RE yang berada satu jam dari tempatnya berada.
*
*
*
Mama Nina dan Emely kini sudah berada di loby RE grup. Mama Nina memandang ke arah Emely yang kini menghentikan langkahnya.
"Kenapa kamu berhenti?" tanyanya sedikit ketus sambil menatap ke arah Emely yang kini memandangnya dengan senyuman indahnya.
"Maaf tante, aku mau ambil vocer yang aku bilang tadi. Tante tunggu di sini ya," ucapnya dengan santun.
Mama Nina tampak menautkan alisnya, bagaimana bisa wanita di depannya memberikan vocer? Dilihatpun penampilanya biasa saja. Mobil mewah? Bisa saja milik bosnya.
Dirinya punya segalanya, tak butuh vocer pemberian wanita di depannya. Lagian vocer belanja apa? Apa dia orang yang beruntung mendapat Hadiah Vocer blanja lima ratus ribu dari RE yang dibagikan Elyna sahabatnya? atau apa? Atau dia salah satu staf disini? Pikiran Mama Nina tampak berpikir yang tidak tidak. Tapi, demi mempertemukan Elina sahabatnya dengan wanita itu untuk memperjelas itu, dia harus sabar. Jadi, jika dia ketahuan modus biar mendapatkan hukuman.
"Sebenarnya aku tidak butuh apa yang kamu tawarkan, aku bisa membelinya tanpa kamu berikan vocer itu," ucap Mama Nina.
Emely tersenyum dan menatap wanita paruh baya itu dengan tenang.
"Tante, aku harus memberikannya. Karna aku sangat bahagia karna tante mau membantuku, mungkin vocernya tidak seberapa, tapi jika tante menolak aku akan bersedih. Tante sudah membebaskan aku dari kesedihan yang diakibatkan oleh lelaki yang tak punya perasaan dan sangat menyebalkan, jadi aku harus memberikannya," ucap Emely.
Mama Nina menautkan alisnya, apa wanita ini bertengkar dengan pacarnya? Mama Nina kemudian memejamkan mata indahnya. Tak ada salahnya dia mengikuti permainan wanita di depannya.
"Oke, lima menit. Kalau lebih, awas saja! Aku sudah tak mau menunggu lebih lama!" ketusnya.
__ADS_1
Emely mengangguk pelan, segera wanita cantik itu memutar tubuhnya dan melangkah ke sebuah ruangan. Yang pastinya adalah ruangan Lelyta dan Felix.
Tak lama dari kepergian Emely, seorang pelayan datang ke arah Mama Nina.
"Siang, apa ini Nyonya Nina Emira?" tanya pelayan itu dengan senyuman. Tadinya dia tau jika pimpinannya, Nona Emely bersama dengan wanita di depannya. Seperti yang dikatakan Bos besar tadi, dia meminta agar sahabatnya langsung diminta ke atas. Makanya langsung saja dia mendekat saat Emely menjauh, takut kehilangan jejak.
"Siang, benar mbak. Ada apa?" tanya Mama Nina sambil tersenyum.
"Nyonya Elyna menunggu anda, di atas. Beliau minta anda segera naik ke sana," ucapnya.
"Iya, tapi saya masih menunggu seseorang," jawabnya. Pelayan itu tersenyum, pasti menunggu bos Emelynya. Pelayan itu memgangguk dan tersenyum kembali.
"Baik, tidak papa Nyoya, kalau begitu saya harus kembali ke atas," ucapnya dan diangguki oleh Mama Nina.
*
*
Emely menghela napas setelah menandatangani vocer sepuluh juta rupiah itu. Felix menautkan alisnya, bagaimana bisa Emely memberi Vocer sebanyak itu?
Emely tersenyum dan menatap sahabatnya itu.
"Ini uang pribadi aku, bukan uang perusahaan. Nanti aku akan trasfer uangnya ke Lelyta. Mana oranganya?" tanya Emely.
"Lelyta masih belum ada masuk, nanti aku coba ke sana," ucap Felix.
"Terimakasih karna kamu sudah mau berbaik hati untuk itu Felix, soalnya aku belum bisa kesana atau sekedar mencari kabar karna aku...."
"Sudahlah, aku cukup tau kau sibuk. Sibuk dengan orang lain, dan tentu saja kau melupakan aku dan Lelyta," sahut Felix, membuat Emely menggelengkan kepalanya.
"Bukan begitu Fe, aku.... " sanggahnya.
"Tak usah membela diri Em, aku cukup tau. Kau berubah Em, tidak seperti Emely yang aku kenal," ucapnya kemudian melenggang pergi.
__ADS_1
Emely hampir mengejar Felix, akan tetapi sepertinya dia harus kembali pada orang yang membantunya. Urusan Felix di selesaikan nanti.
Segera Emely melangkah pergi, menuju ke tempat orang yang menunggu dirinya dengan wajah emosinya.
"Kenapa lama sekali? Kau mau mengerjaiku?" sentak Mama Nina yang mendapati Emely berdiri di depannya, Emely tampak memejamkan matanya.
"Maaf tante, ada sedikit masalah tadi, jadi agak lama," ucapnya.
"Ini untuk tante," ucap Emely sambil menyerahkan amplop coklat panjang pada Mama Nina. Mama Nina mengambil amplop itu dan membukanya.
"Mungkin tak seberapa, tapi itu rasa terimakasih aku pada tante," ucapnya.
Mama Nina tampak terkejut saat melihat nominal Vocer yang diberikan padanya. Bagaiamana bisa? pantas saja lama, pasti dia masih mengemis dulu, untuk sementara mama Nina membawa vocer itu. Setelah itu dia akan mengembalikan padanya nanti ketika mendapat kejelasan dan ketemu dengan Elyna.
"Ini terlalu banyak, sebenarnya saya tidak enak untuk menerimanya." Mama Nina tampak memandang Emely.
"Sekarang ikut aku, kita temui sahabatku. Jika kau kerja di sini pastinya kau kenal dengannya," ucapnya lagi.
Emely menautkan alisnya, sahabat? Siapa yang bersahabat dengan tante di depannya? Bukankah karyawannya seusia dengannya semua? Entahlah, tanpa menjelaskan siapa dirinya Emely mengangguk dan mengikuti langkah Mama Nina menuju ke atas.
Semakin penasaran ketika langkah Mama Nina menuju ke ruang VVIP, Bukankah ruangan ini yang di desain untuk sahabat mamanya. Lalu, apa ini sahabat mamanya? Kalau iya, Pantas saja dia nyaman di pelukan wanita ini.
Emely menghentikan langkahnya dan menatap pintu ruangan itu, menatap Mama Nina. Mama Nina memutar tubuhnya mengarah ke arah Emely yang berhenti dan tampak terdiam.
"Kenapa kamu berhenti?" tanya Mama Nina. Mama Nina semakin yakin bahwa wanita di depannya menyimpan sesuatu sehingga dia tampak takut masuk ke ruangan itu.
"Maaf tante, sepertinya aku tidak enak untuk masuk ikut tante," ucapnya.
"Masuk saja, aku yang mengajakmu. Kamu tak perlu tidak enak," ucapnya.
Emely memejamkan matanya, semoga kelakuannya tadi di parkiran tak membuat mamanya malu.
"Jangan takut, tidak akan terjadi apa-apa," ucap Mama Nina dengan tenang, kemudian membuka hendel pintu.
__ADS_1
Di dalam sana, Mama Elyna tampak berdiri dan tersenyum dengan lebar. Suara Emely dan Sahabatnya diluar sempat dia dengar hingga dia menyambut dengan senyuman indahnya.
❤❤🎀🎀🎀