
Dafa mengendarai mobil membelah jalan yang sepi menuju ke sebuah tempat yang masih tampak berlalu lalang beberapa orang. Netranya menatap waspada pada mobil mewah yang kini berhenti di sebuah parkiran mobil yang berada jauh dari tempat itu.
"Dafa, apa kau yakin dengan Sinta?" tanya papa Hendra sambil melirik ke arah Dafa yang kini sedang memastikan bahwa orang keamanan sudah sampai di tempatnya saat ini.
Dafa menatap omnya dan menganggukkan kepalanya.
"Aku pikir dengan dia tidak mengganggu lagi Nona Emely selama ini sudah menjawab pertanyaan yang om lontarkan, lagi pula menurut data yang saya temukan, ini memang dealer mobil milik Tuan Shien," ucap Dafa sambil mengamati ponselnya.Dia memang meminta orangnya untuk menyelidik tempat ini dulu sebelum dia pergi tadi.
"Oke jika menurutmu ini benar, om hanya berharap ini bukan jebakan. Yang om harapkan Dani bisa ditemukan dan kita juga bisa membawanya pulang. Lagi, sahabat Emely juga perlu kita selamatkan. Mendengar semua yang kau ceritakan bahwa dia adalah orang yang selama ini disakiti oleh keluarga mantan tunangan Emely membuat om simpati, om jadi ingin ada lelaki yang bisa menjaganya, seperti Dani yang ada di samping Emely," ucap papa Hendra sambil melirik ke arah keponakannya itu.
Unik uhuk
Mendengar ucapan Papa Hendra Dafa tiba tiba saja tersedak udara. Dia tampak menatap papa Hendra dengan tajam, apa maksud dari om nya ini? Benar benar tidak masuk akal.
__ADS_1
"Kenapa Om memandangku seperti itu?" sewotnya saat melihat kakak dari ibunya itu seolah memintanya untuk melakukan apa yang menjadi harapannya.
"Jangan banyak tanya om yakin kau tau apa maksud Om, Sinta memberikan pesan untuk mengikuti dia, sebaiknya kita segera bersiap," ucap Papa Hendra sambil menatap ke arah ponselnya yang kini menampakkan nama Sinta disana.
Om segera bersiap, ikuti langkahku. Aku akan membukakan pintu rahasia dari belakang. Pastikan pengamanan benar benar terjaga. Aku tidak mau sesuatu terjadi.
Papa Hendra membaca pesan yang dikirim oleh Sinta padanya.
Oke. Balasnya dengan cepat.
Dafa memgangguk pelan, kedua orang tampan beda usia itu tampak keluar dari mobil. Papa Hendra berjalan mengikuti langkah Sinta, sedang Dafa masih berhenti menunggu jarak agar keduanya tidak dicurigai.
Dafa tampak terkejut melihat mobil yang tidak asing berada di sebrang jalan, dia menghela napas dalam dalam. Ya, itu adalah mobil adik nakalnya, pasti disana juga ada kakak iparnya.
__ADS_1
Benar benar dua wanita keras kepala dan sangat kompak. Dafa tampak menggerutu dalam hatinya.
Dafa mengambil ponselnya dan memberikan pesan singkat pada orangnya.
Kau jaga penghuni mobil bernomer plat xxxxx di sebrang jalan. Pastikan keduanya baik baik saja selam aku dan Om Hendra di dalam. Kirim.
Siap Bos. Tak lama dari itu,sebuah pesan masuk dalam ponselnya.
Setelah memastikan Ganes dan juga Emely aman, kini Dafa melangkah. Dia sengaja tidak memberi tau papa Hendra jika anak gadisnya dan menantu kesayangan yang keras kepala itu mengikuti. Dia takut akan mengganggu konsentrasi om nya.
Dengan langkah hati hati dan waspada, dipasangnya beberapa alat dalam tubuhnya. Dafa mengikuti langkah Om nya membelah lalu lalang orang yang kini sibuk di dealer yang lumayan ramai itu. Kini, mereka telah sampai pada pintu yang kemudian menampakan sebuah lorong panjang yang sangat sepi.
"Sinta, kau yakin ada Dani disini?" tanya Papa Hendra seolah mengintimidasi,"
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...