
"Apa maksudmu Ray?" tanya Delon sambil mengarahkan pandangannya ke arah Raymon.
"Aku bercanda Bro," ucap Raymon lagi.
Delon menautkan alisnya, netranya berganti memandang ke arah Ardani yang kini masih tampak biasa saja. Ardani berjalan ke arah Raymon dan menatap Raymon dengan tenang.
Emely, wanita itu entah kenapa merasa gugup melihat Ardani ada di depannya, bahkan hanya untuk berkata sepatahpun tak sanggup.
"Sepertinya selera humor anda sangat baik Tuan. Kenalkan, aku Ardani Rahardian ..." Dani mencoba memperkenalkan dirinya dan mengulurkan tangannya. Akan tetapi, Raymon segera menyahutnya sehingga Dani belum menyebutkan nama besar yang ada di nama belakangnya.
"Oh, Tuan Ardani, senang berkenalan dengan Anda Tuan," jawab Raymon dengan membalas ucapan Ardani.
Dani tersenyum dan menatap ke arah Raymon juga Delon dan beberapa pembisnis yang berkumpul di sana.
"Bolehkan aku berkenalan dengan kekasihmu?" tanya Dani sambil menatap ke arah Emely yang saat ini tampak terdiam. Raymon sedikit pias.
"Sepertinya tidak usah, aju juga bercanda Tuan. Saya harus pamit, sampai jumpa lain waktu Tuan Raymon," ucap Dani sambil melepas tangannya.
"Oh iya, Tuan Raymon. Sesekali bolehlah kita minum bersama sebagai tanda peekenalan, kurasa ada milikku yang saat ini terbawa olehmu," ucap Dani lirih tepat di telingan Raymon, Raymon mengepalkan tangannya. Dani tersenyum sinis.
Emely mendengar ucapan Dani, apa maksud lelaki aneh itu? Apa yang dimaksud dia? Hais, kenapa datang sebongkah kebahagiaan yang kini dirasakannya. Akan tetapi kebahagiaan itu menghilang saat Nicho yang baru saja dari dalam berjalan keluar bersama dengan Sifa menghampiri Dani.
"Dan, kau buru buru?" tanya Nicho.
"Tidak juga, ada apa?" sahutnya.
"Bukankah kau melewati Sheyna bontique? Bisakah kau membawa Sifa sekalian bersamamu?" tanya Nicho.
Nicho mencoba mempropokasi Dani, karna lelaki itu tau asisten dari sahabatnya menyukai Sifa.
"Pak Nicho, apa apaan. Saya bisa naik taksi online saja," ucap Sifa terkejut dengan ucapan Nicho. Pasalnya dia tau bahwa Dani adalah suami Emely, meski dia menyukai Dani juga, dia tak mau mengganggu pasangan sah itu.
Dani menoleh ke arah Sifa yang kini tampak memerah wajahnya.
__ADS_1
"Kita searah, bisa saja aku mengantarmu," jawab Dani.
"Maaf Pak, saya bisa pulang sendiri," jawab Sifa lagi.
"Sifa, Aku kenal baik dengannya. Kau bisa mengatakan padaku jika dia macam macam padamu," ucap Delon sambil menatap Sifa dengan senyum.
Sifa terdiam, Delon memang orang terdekat Kedua atasannya. Bagaimana bisa dia menolak? Sifa hanya terdiam.
"Bagaimana Sifa?" tanya Dani pada Sifa.
Emely terdiam, hatinya dag dig dug tak karuan dengan apa yang akan di ucapkan Sifa. Akan tetapi, dia tau Sifa juga menyimpan rasa pada Dani.
"Aku..."
"Sebaiknya kau bersamanya, kalian searah kan? Aku rasa lebih aman jika kamu bersama dengan orang yang kenal baik dengan Kak Delon, bukankah begitu kak?" Emely menyahut bersamaan dengan ucapan Sifa.
Emely yang berhasil melepaskan cengkraman tangan Raymon menatap ke arah Dani dan Sifa juga Delon bergantian dengan senyuman indahnya.
"Benar kata Emely Sifa, lagi pula Dani juga tidak keberatan," ucap Delon.
Dani hanya diam sambil menatap Emely, bagaimana bisa wanita itu malah memintanya untuk bersama dengan Sifa? Dani menghela napas panjang, Kenapa hatinya berubah? Bukankah seharusnya dia bahagia bisa bersama Sifa. Lalu, bagaimana bisa dia malah biasa saja. Bahkan, dia merasa sebal dengan istrinya itu ketika tidak menahannya saja. Apa Emely benar benar akan kembali pada Raymon?
"Kak, aku harus pulang sekarang, sampai jumpa lain wakti," Emely mendekat ke arah Raymon dan menjabat tangannya.
"Hati-hati, jangan ngebut." ucap Delon dan diangguki oleh Emely.
Emely berjalan dan meninggalkan gedung megah itu diikuti oleh Raymon. Dani dan Sifa juga bebarengan melangkah.
Emely dan Raymon kini saling menatap dan saling terdiam.
"Aku harus pergi, sampai ketemu nanti malam," ucap Emely kemudian masuk ke dalam mobilnya. Raymon juga melakukan hal yang sama.
Dari dalam mobil, Emely bisa melihat Dani dan Sifa yang saat ini berjalan beriringan menuruni anak tangga menuju ke mobilnya.
__ADS_1
Emely memejamkan matanya, kenapa hatinya begitu rumit. Kenapa dia merasa sedih? Bagaimana bisa dia sesedih ini? Bukankah dia dan dani tidak saling mencintai?
"Emely, plise Dani bebas melakukannya. Dia bukan siapa siapa bagimu," lirih Emely sambil mengusap dadanya yang terasa sesak. Emely melajukan mobilnya menuju sebuah tempat yang nantinya bisa menenagkan pikirannya.
🎀🎀
Dani dan Sifa kini telah berada di dalam mobil, Dani bisa melihat kepergian mobil Emely dengan jelas. Ditatapnya mobil itu hingga menghilang di balik pagar.
"Maaf Dani, aku tidak bermaksud untuk ikut denganmu. Tapi aku," Sifa yang merasa tidak enak kini hanya bisa meminta maaf.
Sulit dijelaskan keadaan yang saat ini ada diantara mereka. Sifa memejamkan matanya, mencoba untuk menghilangkan perasaan yang pernah tumbuh untuk orang di depannya.
Dani, bahkan saat dengan Sifa seperti ini perasaanya tak sebahagia dulu. Entah, Emely selalu membayangi wajahnya. Bahkan saat ini, untuk menghubungi ponsel Emelypun tak ada. Oke, nanti dia akan menghubungi Rudi untuk kembali memantau Emely.
"Sudahlah Sifa, tidak masalah. Aku tidak keberatan mengantarmu, lagi pula kita memang searah," ucap Dani dan diangguki oleh Sifa.
Sifa terdiam, sepertinya dia memang harus benar benar membuang perasaannya pada Dani. Bagaimanapun Dani pria beristri, dia tak mau menjadi seorang wanita yang menyukai lelaki beristri.
Tak lama kemudian, sampailah mereka di depan Sheyna bontique. Sifa turun dari mobil dan memgucapkan terimakasih pada Dani. Dani melirik jamnya yang menujukan pukul 15.00.
Segera dirinya memutar arah, tadinya dia akan ke MRD grup untuk mengantarkan surat pengunduran diri secara formal. Akan tetapi, sepertinya dia harus mengejar laju mobil Emely, dia harus tau apa yang dilakukan wanita itu saat ini. Wanita yang kini selalu mengusik pikirannya.
🎀🎀🎀🎀
Emely memandangi pantai di depannya. Matanya sembab. Pikirannya melayang, memikirkan kejadian-kejadian yang akhir-akhir ini menguras fikiran dan tenaganya. Dia ditemani oleh Lelyta yang tadi bertannya keberadaannya, sahabat yang selalu ada disaat suka dan dukannya.
"Emely, tenanglah. Allah bersama kita," ujar Lelyta sambil merangkul pundak Emely. Emely menyandarkan kepalanya dipundak sahabatnya. Rasanya lega sudah menceritakan apa yang dia rasakan pada Lelyta tentang kesedihannya.
"Terimaksih Lel," ucapnya sambil melemparkan kerikil dan bangun dari pundak Lelyta.
Lelyta melihat ke arah sana, ada penjual jagung bakar. Sepertinya sangat enak. Lelyta pergi untuk membelinya.
Emely tak tau lelyta pergi, kini bersandar kembali di pundak orang di sampingnya.
__ADS_1
"Lel, kau bisa membantu menerjemahkan perasaanku? Perasaan apa yang sebenarnya aku rasakan pada Ardani?" tanya Emely.
🎀🎀🎀🎀