Cintai Aku, Lupakan Dia!

Cintai Aku, Lupakan Dia!
CALD. Lega


__ADS_3

"Waalaikumsalam," jawab mereka bersamaan.


Emely dan Sifa saling berpandangan. Ada rasa canggung di hati Sifa, pasalnya kemarin dia seperti duri antara Emely dan Dani sehingga menyakiti Emely.


Mana mungkin Emely tak kenapa napa, pasti dia salah paham atas kedatangannya di ARW grup. Sehingga dia pergi dan meninggalkan rantang makanan di pos satpam.


Dari rasa bersalah itu, dia ingin meluruskan yang menjadi persangkaan yang salah itu. Walau sempat mencintai Dani, tapi dia sadar bahwa jodoh tak akan salah alamat. Dani bukan jodohnya, dan dia harus membicarakan ini pada Emely yang dari awal memang tau bahwa ada rasa antara dirinya dan Dani.


Tadinya, Sifa tau bahwa Emely dan Dani ada di kantor desa karna kabar dari Pak Lurah. Dia memutuskan ikut abahnya yang diundang ke sana.


Sifa dan Pak Kiai mendekat, Pak Kiayi duduk di sebelah pak lurah.


Sedang Sifa masih berdiri, hanya kursi di sebelah Dani yang kosong. Tak mungkin dia duduk di sebelah lelaki itu, Dani yang peka dan tau ada hal tak nyaman antara dirinya, Emely dan Sifa, kini menggeser duduknya, hingga Emely juga melakukan hal yang sama.


"Sini, duduk di sampingku, Sifa." Emely menunjuk kursi sampingnya yang kosong. Sebenarnya hatinya tak karuan melihat keberadaan Sifa disana. Tak nyaman? Pasti. Tapi dia mencoba untuk tenang dan mencoba menepis semua prasangka.


Bahkan, dia juga sudah membaca pesan WA Sifa di ponselnya yang tadi dia nyalakan. Dan fik, apa yang dikatakan Dani benar, Sifa sudah mencoba mencari keberadaannya.


Emely juga sudah menanyakan pada resepsionis tentang kedatangan Sifa. Dan benar saja, memang Sifa datang dan menitipkan berkas. Namun, karna perkelahian antara Dani dan Felix membuat kegaduhan, resepsionispun tidak mau menyela Emely yang saat itu tampak bingung.


Sifa mengangguk dan segera duduk di samping Emely. Mereka menatap Dani yang berbincang dengan pak Lurah dan Pak kiai panjang lebar. Saling memaafkan dan sekarang tampak bergurau. Sifa dan Emely saling berpandangan melihat keasikan tiga pria beda generasi itu.


"Boleh kita berbicara berdua?" Sifa tampak menyampaikan ajakan pada Emely.


Emely menatap Dani yang sedang asik, pada akhirnya dia menganggukkan kepalanya. Dua wanita cantik itu memisah dari kerumunan. Dani menoleh menyadari istrinya dan juga Sifa beranjak dari ruangan itu.


"Mungkin mereka tak nyambung dengan kita, biarkan saja mereka berbincang di luar," Pak Lurah tampak berbicara.

__ADS_1


Dani tersenyum, meski ada perasaan tak nyaman. Tak baik juga jika dia menyusul dua wanita itu. Mereka wanita dewasa, pasti bisa menyelesaikan masalah hati yang terjadi. Nantinya dia juga akan melakukan hal yang sama. Ketiga pria itu melanjutkan mengobrol.


Sedangkan, Emely dan Sifa kini berada di taman belakang kantor desa, memandang ke arah sawah yang sangat subur dan hijau. Keduanya duduk dengan tenang.


"Aku,"


"Aku,"


Keduanya berucap bersamaan, hingga keduanya tertawa bersama. Kecanggungan berangsur menghilang. Keduanya terlihat santai.


"Kamu dulu saja," ucap Sifa.


"No, kamu dulu saja." Emely menjawab.


Sifa tersenyum kemudian menatap Emely dengan tenang. Emely menatap Sifa juga, menanti apa yang akan diucapkan wanita cantik itu padanya.


Deg


Emely tampak terharu, maaf? Bukankah sebenarnya tidak ada kelakuan Sifa yang salah? Bukanya ini hanya kebaperan masing masing saja? Jika ini tentang Dani, bukankah Sifa yang malah tersakiti karna kehadirannya? Bukankah seharusnya Sifa yang memiliki Dani? Emely tampak dilema, apa yang harus dia lakukan? Apa cemburunya berlebihan?


"Maaf untuk apa Sifa? Seharusnya aku yang minta maaf, aku yang seharusnya tak ada diantara kamu dan Dani," ucap Emely. Sifa menggeleng pelan.


"Apa yang kamu katakan? Kamu tak pernah salah. Itu bukan salahmu," ucap Sifa.


Keduanya saling memandang, mata mereka sama sama berkaca, hingga lelehan tangis meleleh di pipi masing masing.


Sifa mencoba memposisikan diri menjadi Emely. Belum tentu dia sanggup menjadi Emely. Menikah terpaksa, sedang dia telah merencanakan pernikahan dengan orang yang dicintainya. Itu bukan perkara yang mudah, tetapi mampu dilalui Emely. Bahkan, sepertinya Emely dan Dani saat ini tengah baik baik saja dan menerima takdir itu dengan ikhlas. Lantas, apa pantas dirinya berada diantara keduanya dengan perasaan yang sama? Tidak, Sifa berniat mengakhiri permasalahan ini.

__ADS_1


"Tapi aku tau kamu mencintai Mas Dani, itu bahkan jauh sebelum aku menikah dengannya. Aku bisa meninggalkan dia bila itu membuat kalian bahagia," ucap Emely sambil mengusap air matanya .


Deg


Saat ini Dani yang sudah mengakhiri pertemuan dengan pak yai dan pak lurah tampak berdiri di belakang sana. Dia mendengar apa yang dibicarakan dua wanita itu. Menyakitkan saat mendengar penuturan Emely barusan. Emely rela meninggalkannya demi melihat Sifa bahagia? Dani mengepalkan tangannya, bahkan nama Sifa tak lagi memenuhi otaknya. Bahkan, Sifa bisa mendapatkan orang lain yang mungkin lebih baik darinya. Apa istrinya itu minta dihukum? Berani beraninya berbicara seperti itu? Dani masih terdiam, mendengar apa yang masih akan dibicarakan dua wanita itu.


Sifa tersenyum dan mengusap air matanya.


"Aku minta maaf karna membuatmu salah paham, Em. Aku tidak mau ada kecanggungan dan ketidak nyamanan diantara kita tentang perasaan ini terus berlanjut," ucap Sifa.


"Aku juga ingin, kamu melupakan tentang pikiran yang menganggap aku dan Dani mempunyai perasaan lain. Aku dan Dani tidak pernah ada apa-apa, bahkan sampai saat ini aku dan Dani tidak pernah terlibat hubungan apapun. Jika dulunya aku mencintai Dani atau sebaliknya, nyatanya kami tidak saling mengungkap dan tidak saling bersatu. Anggap saja kami tidak berjodoh. Dan Dani adalah jodoh kamu, buktinya saja ketika kamu merencanakan menikah dengan orang lain, nyatanya Dani yang berhasil menghalalkanmu," ucap Sifa.


Deg


Jantung Emely berdetak hebat, Apa ini keindahan takdir? Beginikah sebenarnya hikmah dari semua yang terjadi? Apa memang Dani jodoh yang tepat untuknya? Emely tak mampu berkata lagi, diraihnya Sifa dalam dekapannya. Keduanya saling memeluk. Saling menyalurkan rasa lega.


"Terimakasih Sifa, aku juga minta maaf jika aku mempunyai salah padamu," ucap Emely.


"Kamu tak salah apapun Em. Kita hanya diuji. Lupakan semuanya. Dan aku minta, tolong jangan melibatkan aku dalam hubungan kalian. Bahagialah dengan Dani. Sakinah, mawadah dan warohmah. Doakan aku juga segera dipertemukan dengan jodoh yang ditakdirkan untukku," ucapnya. Sifa merasa lega, walau tadinya sakit, ternyata berdamai dengan keadaan membuatnya jauh lebih baik.


Sifa memejamkan matanya, Emely setegar ini? Bahkan rasa kagum pada Emely menyelimuti otaknya.


Dani menghela napas lega, mungkin Sifa hebat. Tapi baginya Emely jauh lebih hebat dimatanya. Tuhan tak pernah salah menempatkan jodoh. Dan Dani harus menghukum wanita yang tadi bermaksud merubah takdir itu.


Dani berjalan ke arah dua wanita yang tengah berpelukan itu.


"Apa masih lama kalian berpelukan seperti itu? Aku tidak banyak waktu hanya untuk menunggu kalian," ucapnya dan mampu membuat Emely melepaskan pelukannya.

__ADS_1


❤❤❤


__ADS_2