
"Bagaimana kalau sepasang pengantin baru kita pulangkan saja, Pak Yai?" ucap pak lurah.
Pak Kiai tersenyum sambil menatap ke arah Emely yang tampak bahagia, Pak Kiai tau sejak awal jika pernikahan itu tengah menyiksa mereka. Akan tetapi, dia juga mengikuti aturan yang diberikan oleh desa.
"Kalau saya ya bagaimana baiknya saja, saya ikut apa kata Pak Lurah," ucap Kiai Yusuf dengan tenang.
"Kalau sekiranya begitu, ya biarkan Neng Emely dan Mas Dani pulang saja. Nanti, kita akan menghubungi mereka jika berkas isbat pernikahan sudah selesai, lagi pula acara resepsi pernikahan bisa juga dilaksanakan di kediaman mereka sendiri," ucap Pak Kiai.
Pak lurah menghela napas panjang dan merasa lega mendengarkan pernyataan Pak Kiai.
"Asalamualaikum, maaf saya lancang masuk ke sini. Ini ada apa? Kenapa membawa bawa nama saya ya?" suara di samping pintu membuat semua orang menoleh.
Dani berdiri sambil memandang Emely yang duduk di samping seorang pemuda di kursi panjang, dikarenakan sudah tidak ada tempat lagi. Melihat itu membuat Darah Dani seakan mendidih. Kenapa dia seperti punya penyakit emosian saja?
"Waalaikumsalam, Mas Dani. Kebetulan sekali, memang kami disini juga ada perlu dengan Mas Dani. Mari silahkan duduk," ucap Pak Kiai mempersilahkan.
Dani berjalan ke arah kursi panjang, dimana Emely duduk. Dan dia duduk diantara Emely dan pemuda itu. Emely menautkan alisnya saat Dani memintanya bergeser, menjauh dari lelaki yang ada di sampingnya.
"Ada apa Pak Kiai? Pak Lurah," tanya Dani dengan tenang.
Pak Kiai tersenyum dan memandang ke arah sepasang suami istri yang ternyata dilihat dari kaca matanya sangat serasi itu. Yang satu sangat tampan dan berkarisma, tegas dan bijaksana, yang wanita ternyata sangat cantik dan terlihat sangat solihah ketika beepenampilan seperti ini.
"Jadi, mereka adalah beberapa tenaga pengajar untuk mengajar di sekolah dekat lapangan. Saya bingung harus menempatkan mereka dimana Mas Dani, seharusnya mereka tinggal di rumah dinas. Dan sekarang disana ada Mas Dani dan Mbak Emely. Makanya kami bermusyawarah, bagaimana enanya kalau kita pulangkan saja Mas Dani dan Mbak Emely?" ucap pak lurah menjelaskan dengan gamblang kepada Dani.
Dani menghela napas panjang dan menatap ke arah Emely yang dengan reflek menggenggam tangan Dani di bawah sana.
__ADS_1
"Dani, kita bisa pulang. Kita bisa tinggal dan menjalani kehidupan masing masing tanpa kita kabur," lirih Emely di telinga Dani.
Dani memejamkan matanya, ucapan Emely justru membuatnya sesak. Dani melirik tangan Emely yang masih menggenggamnya dengan erat, ini terasa seperti hal yang dilakukannya saat menenangkan Emely ketika pernikahan akan terjadi. Seharusnya dia senang akan pulang, tapi kenapa justru ada hal lain yang seakan membuat dirinya bersedih.
"Bagaimana Mas Dani? Mbak Emely, apa kalian setuju? Untuk berkas pernikahan nanti, kita akan menghubungi kalian jika berkas isbat pernikahan sudah selesai di pengadilan, lagi pula acara resepsi pernikahan bisa juga dilaksanakan di kediaman kalian sendiri," ucap Pak lurah.
"Kalau saya setuju saja pak, saya ikut peraturan yang dibuat bapak dan Pak Kiai saja," jawab Emely. Rasanya sudah sepeeti mendapat durian runtuh. Nanti malam keluarga Raymon akan ke rumahnya, artinya dia bisa bertemu dan menjelaskan apa yang terjadi.
Emely hendak melepaskan genggaman tangannya pada tangan Dani, akan tetapi Dani seakan menolak. Menggenggam tangan Emely dengan erat. Emely terkejut, melirik Dani yang saat ini diajak bicara oleh pak lurah dan pak kiai.
"Kalau Mas Dani bagaimana?" tanya Pak Lurah.
"Saya juga ikut saja pak," jawab Dani. Meakipun terasa keberatan. Rasanya mau menolakpun tak bisa. Dia akan membicarakan nanti dengan Emely di Rumah nantinya.
"Alhamdulilah, pada akhirnya kita bisa memperoleh kesepakatan," ucap Pak Lurah dan Pak Kiai.
"Iya Pak Kiai," sahutnya sambil tersenyum.
"Abah lihat, neng sangat cantik dengan gaun seperti ini. Bahkan kalian tampak serasi dan tampak bahagia, ya abah beeharap kalian selalu bahagia. Selalu dalam lindungan Allah, karna kalian menikah dengan suatu hal yang mungkin terpaksa. Semoga ke depannya bisa ada cinta dari Allah untuk kalian, sakinah, mawadah dan warohmah. Tak lupa juga ibadahnya," ucap Pak kiai panjang lebar.
Emely dan Dani hanya tersenyum, mungkin di hati mereka berucap kata Amin, akan tetapi mulut mereka benar benar sulit untuk berucap.
"Kalau begitu, sekarang juga kalian bisa bersiap. Kami akan menghubungi lagi nanti jika dari KUA sudah memberi kabar," ucap Pak Lurah dan diangguki oleh Dani dan Emely.
"Kalau begitu kami permisi dulu, Pak Lurah, Pak Kiai. Mohon maaf karna kami sempat membuat onar disini. Semoga kami bisa menjalankan apa yang menjadi doa pak kiai tadi," ucap Dani.
__ADS_1
"Amin," sahutnya.
"Asalamualaikum, kami pergi pak," ucap Dani dan Emely bersamaan.
"Waalaikumsalam," jawab Pak Kiai dan Pak lurah bersamaan juga. Emely dan Dani berjalan ke luar ndalem, berjalan bersama ke arah rumah Dinas untuk berkemas.
🎀🎀🎀
Sifa dan Dokter Arfan yang saat ini berada di samping ndalem mendengar juga apa yang dibicarakan oleh segerombolan orang di dalam. Tadinya Dokter Arfan dan Sifa mau mencari Dani karna nomer antrian sudah sampai padanya.
Tapi, ternyata Dani ada di ndalem. Sifa pada akhirnya berhenti di samping ndalem, dia melihat dengan jelas tangan Dani dan Emely yang saling menggenggam dari jendela. Sepertinya mereka bahagia dengan keputusan yang terjadi.
Sifa memejamkan matanya, sepertinya dia harus membuang jauh jauh perasaan yang ada dalam hatinya, karna ternyata Dani dan Emely memang bisa sangat dekat seperti ini, meski mereka baru saja dipertemukan.
"Jadi mereka sudah menikah?" tanya Dokter Arfan sambil berjalan dengan Sifa untuk kembali ke ruang donor. Dokter Arfan melihat gurat kesedihan di wajah Sifa.
"Ya, benar sekali Kak. Mereka sudah menikah, meskipun mereka terjebak dan terpaksa, tapi nyatanya tidak diperlukan cinta terlebih dahulu. Mereka bisa berpacaran setelah menikah, karna nyatanya cinta bisa hadir jika mereka selalu bersama," ucap Sifa.
Dokter Arfan menatap Sifa dengan tenang, menyentuh? Bahkan tangannya hanya bisa melayang kemudian turun kembali. Setelah tadi bertanya pada Sifa tentang keberadaan Sifa disini, ternyata jawaban Sifa sangat mengejutkan. Sifa salah satu putri pemilik pesantren ini, Arfan hanya bisa mengangguk dan semakin terkagum pada sosok Sifa.
"Apa kau menyukai Ardani?" tanya Dokter Arfan pada Sifa yang kemudian hanya dijawab kekehan tawa di bibir Sifa..
"Kenapa kakak bertanya seperti itu? Jangan menduga yang tidak tidak," ucapnya.
"Kalau begitu sebaiknya kita kembali ke ruang donor, sepertinya banyak juga yang menunggu," ucap Dokter Arfan dan diangguki oleh Sifa.
__ADS_1
🎀🎀🎀🎀