Cintai Aku, Lupakan Dia!

Cintai Aku, Lupakan Dia!
CALD. Buku Nikah


__ADS_3

Pagi hari yang indah, Dani sudah rapi dengan baju kerjanya. Sedari malam dia tak tidur. Kutukan Emely benar benar manjur sekali baginya. Dani segera turun menuju ke ruang makan.


Suasana ruang makan yang tadi sedikit ramai tampak hening ketika melihat Dani berjalan dari atas tangga. Pandangan mata mereka seakan fokus pada satu objek yang sangat menyilaukan mata itu. Wajah tampan yang berkharisma dengan setelan jas mahal berwarna hitam membuat penampilan seorang Ardani Rahardian Wijaya tampak mempesona.


Seulas senyum terbit dari bibir seorang Mama Nina, melihat putranya membuat dirinya bahagia. Tidak bisa di pungkiri, Dani sangat tampan seperti suaminya.


Ganesa gadis dua puluh dua tahun itu juga menatap sosok tampan kakaknya. Kakak yang selalu terlibat percekcokan, namun membuatnya selalu nyaman saat melihat keberadaannya.


Aura hangat tampak menyelimuti ruang makan, Dani duduk di kursi utama kemudian menatap ke arah papanya, mamanya kemudian menatap wanita yang ada di depannya siapa lagi kalau bukan Ganesa.


"Selamat pagi Ma, Pa, dan kau Ganesa," sapa Dani pada anggota keluarganya itu.


"Pagi," jawab Mama Nina, Papa Hendra dan juga Ganesa bersamaan.


Beberapa pelayan bergerak maju menyiapkan makanan kesukaan Dani dan mengambilkan untuk tuan muda mereka itu. Sarapan pagi ini tampak hangat, hanya terdengar dentingan sendok yang begitu nyaring. Tapi, Dani hanya melihat saja makanan yang ada di piringnya.


Entah, dia sama sekali tak ada napsu makan sejak beberapa hari ini.


"Kau kenapa Kak? Sepertinya kau tak semanagat makan," ucap Ganesa.


"Nggak papa, aku hanya tidak napsu saja," ucap Dani sambil meneguk air putih di depannya.


"Hem, sepertinya kau mulai terkena Virus," ucap Ganesa sambil mengelap mulutnya dengan tisue.


"Virus apa maksudmu?" tanyanya.


"Virus rindu, apalagi memangnya?" jawab Ganesa sambil terkekeh pelan. Dani menggelengkan kepalanya dan menatap ke arah mamanya yang kini juga menatapnya.


"Mama boleh nanti aku menemui istriku? Atau mama masih ingin aku di sini?" tanyanya.


Mama Nina tampak menghela napas panjang dan menatap ke arah Dani. Badannya sudah enakan, mungkin ada baiknya dia segera bertemu dengan Elyna siang nanti sehingga mendapatkan hiburan.


"Mama sudah tidak papa, kamu boleh menemui istrimu," ucap Mama nina dan diangguki oleh Dani.


"Kalau begitu Dani harus berangkat sekarang Ma. Ada meeting pagi ini," ucap Dani sambil mencium pipi mamanya.


"Hati hati Dan," ucap Mamanya dan diangguki oleh Dani.


Dani juga berpamitan dengan Ganes dan papanya kemudian melenggang pergi.


Dani menuruni anak tangga dan segera menancap gas mobilnya. Dani melihat jam yang melingkar di tangannya yang menunjukan pukul 07.00. Dani menghela napas panjanh, dia merindukan Emely tapi sepertinya dia tak cukup waktu untuk kesana.


"Aku akan ke kantormu siang nanti Em," ucap Dani kemudian melanjutkan perjalanannya menuju ke kantor.


-


-


-


Emely yang sudah siap dengan baju kerjanya segera turun ke bawah, papa dan mamanya juga sudah ada disana.


"Pagi Ma, Pa," ucapnya dengan senyuman nan indah.


"Pagi Sayang. Tadi malam kamu pulang jam berapa?" tanya mamanya dengan tenang.

__ADS_1


"Aku pulang malam, soalnya aku jalan sama Mas Dani," jawabnya.


"Lalu dimana Dani? Kenapa tidak ikut turun?" tanya papanya.


"Mas Dani lagi ada keperluan Pa, makanya dia nggak pulang. Semalem kita berpisah di alun alun kota," ucap Emely dan diangguki oleh papanya.


Papa Pradikta dan Mama Elyna tampak mengamati mata Emely yang kini tampak sembab. Kenapa putrinya itu?


"Em, kamu baik baik saja Nak?" tanya papanya. Emely tersenyum dan mengangguk pelan.


"Em baik baik saja Pa," ucapnya.


"Lalu kenapa sepertinya kamu habis menangis Nak?" tanya Mamanya.


"Nggak papa, Em hanya...."


"Hanyq kangen sama Mas Dani?" goda mamanya. Emely menghela napas panjang, memang itu yang tengah dirasakannya. Kangen, rindu pada lelaki yang telah halal untuk dirindukan itu.


"Rindu itu wajar, jangan ditutupi. Semoga cepat selesai urusannya dan nanti Mas Dani bisa segera menemuimu," ucap Mama Elyna dan diangguki oleh Emely.


"Oke, sebaiknya kita sarapan dulu, pasti bibi sudah mempersiapkannya," ucap Papanya dan diangguku oleh Emely dan Mama Elyna.


Mereka beejalan menuju ke ruang makan, disana sudah tersedia menu makan istimewa. Segera mereka menyantap makan pagi ini.


Hanya dentingan sendok yang terdengar. Mereka menikmati makan pagi dengan tenang.


Beberapa menit berlalu, mereka telah menyelesaikan makan pagi ini. Mama Elyna mengambil ponselnya dan membuka pesan WA yang baru saja diterimanya.


"Ada apa Ma?" tanya Papa Pradikta sambil mengelap mulutnya dengan tisue.


"Itu teman mama yang kemaren? Belum jadi bertemu?" tanya Emely dan diangguki oleh Mama Elyna.


"Bagaimana jika nanti mama dan temen mama ke restauranmu saja?" ucap Mamanya.


"Itu sih terserah mama, tapi nanti siang rencananya Em mau mengantaekan makanan ke tempat Mas Dani," ucap Emely.


"Ya nggak papa, Nanti mama dan teman mama menunggumu dulu," ucap mamanya dan diangguki oleh Emely.


"Kalau mama dan teman mama mau berkunjung, itu adalah hal yang membahagiakan. Nanti Em akan mempersiapkan menu istimewa untuk mama," ucap Emely sambil tersenyum.


Mama Elyna mengangguk pelan dan membalas pesan kepada temannya.


Oke kita bertemu, kita bertemu di RE ya kau bisa makan dan belanja sepuasnya di sana


Oke, aku ikut apa katamu. jawab orang yang di sebrang.


"Oke, mama nanti akan ke sana Em," ucap mamanya. Emely mengangguk pelan dan meraih tasnya untuk segera berangkat.


Papa Pradikta dan Emely segera turun, setelah berpamitan sengan Mam Elyna mereka menancap gas mobilnya dan segera menuju ke kantor masing masing.


-


-


-

__ADS_1


Semilir angin pagi begitu menyejukan hati, Sifa dan salah satu abdi ndalem tengah merangkai bunga di kebun belakang. Banyak sekali bunga peliharaan Sifa yang berjejer rapi dan menambah keasrian rumahnya.


"Apa kalian tidak bermaksud mememani abah sarapan?" tanya abah yang kini baru saja selesai pengajian.


Sifa tampak mengakhiri aktifitasnya dan berjalan ke arah dimana abahnya berada. Deringan ponsel terdengar, Sifa tampak berhenti dan mengangkat panggilan dari Amara.


"Halo Asalamualaikum, ada apa pak lurah?" tanya Emely. Pak lurah terdengar menghela napas panjang dan mengeluarkan pelan.


"Waalaikumsalam. Maaf Neng Sifa, buku nikah Mas Dani dan Mbak Emely sudah jadi. Bisa minta tolong neng Sifa nanti agar memberi tau salah satu atau keduanya datang untuk mengambil," ucap Pak Lurah pada Emely.


Sifa tampak terdiam, hatinya dirundung duka mendengar kabar ini. Akan tetapi segera dirinya segera menjawab pertanyaan Pak Lurah.


"Iya pak lurah, saya usahakan Insya Allah nanti akan saya sampaikan. Apa ada surat pengantarnya pak?" tanya Sifa.


"Iya, ada Neng Sifa. Nanti saya akan mengantar suratnya pada neng Sifa," ucap Pak lurah di sebrang sana.


"Baik pak lurah, saya tunggu ya," ucap Sifa.


"Iya Neng, asalamualaikum," ucapnya.


"Waalaikumsalam," ucapnya lagi kemudian menutup ponselnya.


"Ada apa Nak?" tanya pak Kiai pada putrinya.


"Pak lurah, mau menitipkan surat untuk Tuan Dani dan Nona Emely," ucap Sifa.


Pak Yai menganggukan kepalanya dan menatap putrinya dengan tenang. Tak lama dari itu terdengar ketukan pintu dan dipastikan itu adalah pak lurah.


"Asalamualaikum pak Yai," ucap Pak lurah sambil berdiri di depan pintu.


"Waalaikumsalam," jawab Sifa dan Pak Yai bersamaan kemudian berjalan ke arah pintu.


"Silahkan duduk pak Lurah," ucap Sifa. Pak Lurah segera masuk berjabat tangan dengan Pak kiai kemudian duduk.


"Maaf lo mbak Sifa, saya jadi merepotkan." ucap Pak lurah.


"Tidak papa pak Lurah, selagi saya bisa Insya Allah saya bantu," ucap Sifa.


Pak lurah menyerahkan surat undangan Dari Desa untuk Dani dan Emely mengambil buku peenikahan yang sudah dipasrahkan kepenhurusannya pada pak lurah.


"Terimakasih Neng Sifa, ya sebenarnya bisa saja menitipkan bukunya pada neng Sifa. Tapi kan alangkah baiknya mereka ke sini, ya kita saling bermaafan karna sampai ada kejadian yang seperti ini di desa kita. Kita doakan juga pernikahan mereka sakinanh mawadah dan warohmah, mengingat mereka katanya memang sebenarnya saling tidak mengenal" ucap Pak lurah dan diangguki oleh pak kiai dan Sifa.


Sifa menghela napas panjang, sepertinya dia memang harus benar benar melupakan semua perasaan yang pernah bergelayut di hatinya.


Sifa mengambil surat yang diletakan oleh pak lurah di meja, dibacanya dengan cermat surat itu.


Sifa menghela napas panjang dan menatap ke arah pak lurah dengan tenang.


"Saya ambil suratnya pak lurah, nanti saya akan segera antarkan suratnya pada Tuan Dani dan Nona Emely," ucapnya dan diangguki oleh pak lurah.


"Kalau begitu saya pamit dulu Pak Yai, Neng Sifa," ucap Pak Lurah dan segera undur diri.


-


-

__ADS_1


__ADS_2