Cintai Aku, Lupakan Dia!

Cintai Aku, Lupakan Dia!
CALD. Pernikahan yang tak diinginkan


__ADS_3

"Tidak bisa begitu Om, aku tidak bersalah. Ini semua kesalahan dia !" sentak Emely.


Dani mengeratkan rahangnya, apa wanita itu pikir dia setuju begitu? Tidak, dia hanya malas berdebat. Apalagi dengan warga yang main keroyokan itu.


"Em, tolong mengertilah setiap desa punya peraturan. Kamu sudah melanggar peraturan disini, pertanggung jawabkan! Kita bicarakan solusinya nanti," lirih papanya, tak ada yang bisa dia pikirkan. Kepalanya sudah terlalu banyak pikiran sehingga tak bisa berpikir dengan jernih.


"Tapi Pa," lirih Emely.


"Em, percayalah semua akan baik baik saja," ucap Vino. Emely terdiam, sepertinya dia harus mencoba menerima semua yang terjadi.


"Asalamualaikum," sapa Pak Kiai yang baru saja masuk ke dalam, kemudian berjabat tangan dengan semua orang yang berkumpul di dalam kantor desa itu.


"Waalaikumsalam," jawab mereka serempak. Pak Kiai duduk dan menghela napas panjang, menentukan sebuah keadilan itu sangat susah.


Pak Kiai sudah mendengar cerita Emely dan Dani dari Pak lurah. Dan untuk memutuskan sebuah keputusan harus dengan beberapa pertimbangan.


"Sebenarnya juga berat jika pada kebenaranya kalian tidak melakukan apapun dan harus menerima hukuman ini, akan tetapi peraturan disini memang seperti itu. Jadi, untuk menjaga keamanan kalian dari warga, kami dan para perangkat desa memutuskan untuk tetap menikahkan kalian. Ambil hikmahya saja. Mungkin Allah telah menakdirkan jalan ini untuk kalian beribadah dengan secepat ini. Pernikahan adalah ibadah, jadi jangan dianggap beban," ucap pak Kiai.


Dani dan Emely saling menatap dengan sorot mata yang entah bagaimana. Emely memejamkam matanya. Pernikahan macam apa? Pernikahan yang tidak dia inginkan sama sekali dengan manusia laknat itu.


Dani menghela napas panjang, impianya menikah dengan Asifa. Wanita cantik yang baik, santun dan pandai seperti Nada, tapi kenapa malah harus mendapatkan wanita macam Emely yang tak ada istimewanya sesikitpun?

__ADS_1


"Saya setuju, jika memang hanya ini yang bisa dilakukan, saya setuju saja," jawab Pak Pradikta.


Emely menghela napas panjang dan menatap ke arah papanya. Papa Pradikta mengusap pundak Emely dan mengangguk pelan.


"Bismilah, kamu bisa," ucap papanya.


"Kalau begitu kalian berwudu dahulu," pinta Pak Kiai.


Emely dan Dani melangkah pergi ke toilet. Emely menatap wajahnya di cermin, tanpa riasan, tanpa make up tanpa kebaya, kini Emely hanya memakai baju kerja lengan panjang dan celana panjang. Diletakannya pasmina berwarna putih di kepalanya. Pasmina yang diberikan oleh pak kiai tadi.


Emely memejamkan matanya, mencoba menenangkan dirinya yang saat ini begitu tergoncang.


Emely segera keluar dari toilet, dia menuju ke ruang utama lagi. Dilihatnya Dani dengan setelan lengkapnya telah duduk di depan pak kiai.


Emely segera melangkah dan mendekat ke arah Dani, Dani melirik ke arah Emely. Jantungnya berdetak tak beraturan, harus menikah? Dengan wanita itu? Bahkan namanyapun baru dia ketahui dari calon mertuanya.


"Bagaimana? Kalian sudah siap?" tanya pak kiai dan diangguki oleh Emely dan Dani.


Dani memandang Emely, sebuah rasa menyelinap masuk ke dalam hatinya. Netranya enggan berpaling dari pemandangan di hadapannya. Dani segera mengalihkan pandangannya ketika Emely duduk tepat di sampingnya. Sejenak mereka saling menatap tajam. Hingga pada Akhirnya pak kiai mengucapkan ijab Qobul pernikahan Emely dan Dani.


"Baik, kita mulai. Bismilah,"

__ADS_1


"Saya nikahkan dan saya kawinkan saudara Ardani Rahardian wijaya bin Hendra Wijaya dengan Rakhayla Emely pradikta binti Pradikta dengan maskawin uang tunai sebanyak Dua juta dibayar tunai," ucap Pak Kiai.


"Saya trima nikah dan kawinnya Rakhayla Emely pradikta binti Pradikta dengan mas kawin tersebut dibayar tunai,"


"Bagaimana para saksi?"


"Sah," ucap Para saksi bersamaan meskipun ini adalah ke dua kalinya Dani mengulang ijab Qobulnya.


Pak Kiai membacakan doa keselamatan untuk memepelai berdua. Emely meneteskan air matanya. Rasa haru menyerbu hatinya. Kini dia telah sah menjadi istri dari Dani meskipun masih siri.


Emely mengusap wajahnya ketika pak kiai telah selesai membacakan doa. Dani dan Emely saling menatap, entah apa yang dirasakan keduanya. Keduanya hanya diam tanpa kata. Rasa sedih, kecewa, sakit, semuaya tumpah ruah di hatinya.


Emely, menghela napas panjang, biasanya setelah doa mempelai wanita mencium tangan suaminya. Apa juga harus begitu?


Pada akirnya, setelah doa, Emely mencium tangan Dani. Dani mencium puncak kepala Emely, Keduanya larut dalam acara sakral pernikahan. Rasa aneh menjalar di hati keduanya. Emely memejamkan matanya, entah apa yang akan terjadi nanti iapun tidak tau.


Dani melepaskan ciumannya kemudian menatap ke arah Papanya. Mereka sungkem pada orang tuanya. Setelah itu Dani berjalan ke arah Vino. Vino yang semula diam meraih Dani, memeluk sejenak dan menepuk pundaknya.


"Jika membuat adikku menangis, aku akan menghabisimu," ucapnya pelan sekali. Dani diam tak menanggapi.


😃😃😃😃😃

__ADS_1


__ADS_2