Cintai Aku, Lupakan Dia!

Cintai Aku, Lupakan Dia!
CALD. Terkejut


__ADS_3

"Selamat Datang, Nina. Aku sangat merindukanmu," Mama Elyna dengan wajah sumringahnya memeluk Mama Nina.


Netranya menatap ke arah Emely yang mengisaratkan pada mamanya untuk keluar, akan tetapi mamanya menggeleng pelan. Alhasil Emely tetap berdiri di tempatnya.


"Terimakasih atas sambutan yang megah ini El, aku juga sangat merindukanmu," ucap Mama Nina sambil membalas pelukan Mama Elyna.


"Sayang, kamu siapkan dong kursi untuk tamu kehormatan," Mama Elyna memandang ke arah Emely.


Emely mengangguk dan mendekat ke arah meja, menarik kursi untuk Mama Nina, Mama Elyna dan juga dirinya agar kedua wanita itu tinggal duduk manis saja.


Mama Nina tampak menautkan alisnya, apa sebegitu dekat wanita itu dengannya? Sayang? Dekat sekali panggilan itu. Seingatnya putri dan putra Elyna kembar bernama Alvino dan Davina, apa wanita itu putrinya? Bukankah tidak? Pasti tidak.


"Mari silahkan duduk," ucap Emely dengan senyuman manisnya.


"Mari kita duduk Nin, kita ngobrol banyak banyak di sana," ucap Mama Elyna sambil menunjuk ke arah meja bundar dengan beberapa minuman dan camilan di sana.


Mama Nina menatap ke arah Emely yang begitu elegan dan tenang. Mama Nina tampak menggerundel dalam batinya. Bagaimana bisa wanita itu mencari muka. Walau sangat natural dan terkesan tidak dibuat buat, tapi baginya tetap cari muka. Dia pandai sekali bermain drama, tadi nangis nangis dan sekarang tampak bahagia.


"Oke," jawab Mama Nina santai.


Mereka berdua duduk di kursi yang disediakan oleh Emely. Emely duduk dengan tenang tanpa mau mengganggu ke dua orang paruh baya itu.


"Bagaimana keadaanmu? Kamu sehat kan?" Mama Elyna terdengar bertanya.


"Ya, seperti yang kamu lihat," ucap Mama Nina.


"Maaf, sebaiknya saya permisi. Agar tidak mengganggu." Emely tampak menyela.


Mama Nina dan Mama Elyna tampak menoleh, mereka seakan tak mau jika wanita itu beranjak dari ruangan itu.


"Kamu disini saja, tidak mengganggu kok sayang,"


"Kamu disini saja, tidak mengganggu kok,"

__ADS_1


Mama Nina dan Mama Elyna bebarengan. Mereka saling memandang dan saling tertawa.


"Nah, benerkan kamu tidak mengganggu. Tante Nina bahkan senang kamu disini, Sayang," ucap Mama Elyna sambil mengusap pelan pundak Emely.


Mama Nina tersenyum singkat, heran saja, kenapa dia dekat sekali dengan sahabatnya? Dasar benalu, apa berniat mendekati Elyna untuk mendekati Vino? Mama Nina kini memandang sahabatnya itu dengan tenang. Tak memperdulikan keberadaan Emely.


"Apa yang terjadi? Ceritalah padaku," ucap Mama Elyna sambil menatap Mama Nina.


"Sebenarnya aku hanya terkejut, bahkan aku sempat kecewa dan sakit hati dengan keputusan anakku. Menikah dengan orang lain, ketika dia seharusnya menikah dengan anak dari rekan bisnisku pergi lama, tak memperdulikan aku dan mementingkan wanita itu," ucap Mama Nina tampak bersedih.


Deg


Emely tampak terusik, kenapa bisa apa yang diceritakan seperti cerita antara dia dan Dani?


Mama Elyna menghela napas panjang, melirik ke arah Emely yang tampak menunduk. Kenapa nasipnya dengan Nina sama?


"Nin, apa yang kau sedihkan? Mungkin mereka tak berjodoh, jangan berpikir yang tidak tidak" Mama Elyna mencoba menghibur.


Emely semakin terusik dalam diam. Ternyata banyak juga yang mengalami nasip sepertinya. Bayangan Dani kini mengusik pikiranya. Bahkan, dia merindukan suaminya itu.


"Kau tau, putriku bahkan mengalami hal yang sama. Bahkan tadinya dia terpukul. Tapi kau tau, dibalik semua itu, ternyata jodoh yang hadir dengan tak sengaja itu sepertinya jauh lebih baik dari yang dulu. Ketika yang dulu keluarga calon suaminya hanya memandang harta, aku rasa yang sekarang tidak seperti itu," ucap Mama Elyna.


Emely memejamkan matanya, air mata mengalir mengingat Dani yang tadi bersama dengan Sifa. Memang bukan harta. Tapi sepertinya cinta Dani masih belum seutuhnya untuknya. Sesak memdera dadanya.


"Tapi aku belum sanggup saja menerima kenyataan. Aku tak sanggup untuk bertemu dengannya. Kau tau, setauku dia adalah orang yang merebut anakku dari calon menantuku. Walau saat ini hubunganku dan keluarga calon menantuku kurang membaik karna ternyata mereka juga menginginkan harta juga. Tapi rasanya aku belum bisa menerima semua ini," ucap Mama Nina.


Deg


Lagi lagi Emely menangis, kenapa dia seperti dibicarakan secara terang terangan? Kenapa hatinya sakit? Bahkan, sampai saat ini dia belum mengenal mertuanya. Saat itu bertemu? Tapi kenapa dia bahkan tak mengingat wajah itu?


"Begitukah?" tanya Mama Elyna.


"Ya, aku takut dia bukan wanita baik baik juga. Aku takut dia hanya akan menyusahkan hidup keluargaku," ucap Mama Nina.

__ADS_1


"Bukankah kau belum mengenalnya? Kenapa ketakutanmu berlebihan? Coba kenali dia, siapa tau kau nyaman. Seperti aku yang nyaman dengan menantuku," ucap Mama Elyna. Mama Nina terdiam.


Emely memejamkan matanya, mamanya begitu sayang dengan Dani. Bagaimana kalau nantinya kecewa?


Tak lama dari itu, pintu terbuka dengan tiba tiba. Seorang pelayan tampak ketakutan dan berlari ke arah meja.


"Maaf Mengganggu Nyonya, tapi saya terpaksa. Di bawah Pak Felix berantem dengan orang yang memaksa menemui Nona Muda, tapi Pak Felik melarangnya," ucap pelayan itu.


Deg


Emely langsung saja mendongak, Mama Elyna dan Mama Nina tampak terkejut.


"Kau serius?" tanya Emely dan diangguki oleh pelayan itu.


Tanpa menunggu lama Emely keluar, dia tau pasti itu Dani. Felix sangat sensitif sekali dengan suaminya itu. Segera wanita cantik itu menuruni anak tangga demi anak tangga menuju ke lantai satu.


Kerumunan di luar terlihat ramai, Emely menggelengkan kepalanya. Bagaimana bisa ini terjadi? Segera dia menuju ke pelataran RE grup.


Mama Nina dan Mama Elyna tampak mengikuti langkah Emely. Walau tidak paham siapa yang dimaksud Nona Muda, Mama Nina juga ikut panik saat putri dari sahabatnya tampak dicari seseorang.


Saat itu, Emely melihat tangan kekar Felix menarik lengan Dani. Dani terkejut, saat itu juga bogem mentah mendarat di pipi Dani. Dani tak tinggal diam, ia membalasnya, namun yang membuatnya terkejut. Lagi-lagi Felix menyerang, mau tidak mau Dani melindungi dirinya. Emely menganga tak percaya, ia segera mendekat, mencoba melerai sahabat dan suaminya itum


"Hentikan!" Emely berteriak panik, namun Dani maupun Felix tidak merespon.


Emely maju dan mendapat bogem mentah di pipinya dari Dani, ia memegang pipinya yang terasa sakit.


Namun, Dani dan Felix masih saja melanjutkan aksinya. Saat itu bagian keamanan dan security RE berdatangan, banyak orang yang menyaksikan aksi mereka, banyak juga yang mengambil gambar.


Bahkan, mengambil vidio perkelahian itu. Mama Nina dan Mama Elyna yang mengetahui banyak orang berkerumun segera mendekat. Wajah mereka panik melihat perkelahian. Siapa yang berkelahi?


Emely menarik tangan Dani. Security menarik tangan Felix, mereka melerai perkelahian itu. Setelah terkondisikan, security mengkondisikan kerumunan dan membubarkan mereka.


Kini Mama Nina dan Mama Elyna bisa melihat dengan jelas siapa yang berkelahi dan bisa melihat dengan jelas sepasang lelaki dan perempuan yang bergandeng tangan di sebelah sana.

__ADS_1


"Dani, Emely," lirih Mama Elyna dan membuat Mama Nina terkejut sambil menoleh ke arah sahabatnya.


🎀🎀🎀🎀🎀


__ADS_2