Cintai Aku, Lupakan Dia!

Cintai Aku, Lupakan Dia!
CALD. Menemukan keberadaan Dani


__ADS_3

"Om, apa om meragukanku?" tanya Sinta saat menatap tatapan intimidasi dari Tuan Hemdra.


"Om, percayalah. Aku yakin ini adalah ruang rahasia papa yang paling tertutup. Aku juga tidak berbohong, sebaiknya kita berhati hati. Di ujung sana ada beberapa ruangan yang biasanya aku mendengar suara yang mengerikan, aku tidak tau ruangan apa itu. Yang jelas disana akan ada beberapa penjaga yang siaga," ucap Sinta dengan lirih.


Raymon hanya diam, dia memegang erat tangan Sinta. Netranya menatap waspada kesana ke sini.


Papa Hendra menatap ke sana, cukup jauh dan memang sangat tersembunyi. Lalu, ruangan apa itu?


"Oke, aku percaya padamu. Sebaiknya kita berpencar, keberadaanmu mungkin tidak mencurigakan, tapi aku dan Dafa sepertinya akan mengundang pertanyaan," ucap Papa Hendra.


Sinta menganggukan kepalanya, Akhirnya mereka memisah. Sinta dan Raymon bergerak ke kiri. Dafa bergerak ke kanan. Sedangkan papa Hendra lurus ke depan. Mereka akan mencari celah yang nantinya bisa masuk ke ujung sana tanpa ketahuan oleh penjaga penjaga Tuan Shien.


Emely dan Ganesa kini juga berada di lorong yang sama, mereka saling berpandangan. Kemana harus melangkah? Ada tiga jalan yang ada dan mereka tak bisa memastikan apapun.


"Kak, kita mau kemana? Kanan, kiri, atau lurus?" tanya Ganesa sambil menatap waspada pada Emely yang tampak tegang.


Keringat dingin membasahi tubuhnya, dia merasa letih dan lelah. Akan tetapi, dia tak sanggup hanya menonton saja. Dia ingin segera bertemu dengan suami dan juga sahabatnya.


"Kita lurus saja, bagaimana?" tanya Emely.


"Kakak yakin tetap mau kesana? Bagaimana kalau kita kembali dan menunggu kabar di rumah Kak?" tanya Ganes tampak bingung.


Pasalnya ini bahaya, dan salahnya tadi malah mencetuskan ide gila yang tentu saja disetujui oleh Emely yang dari awal memang menginginkan ikut.


"Aku yakin Nes, kalau kamu mau kembali kembali saja. Aku bisa sendiri," ucap Emely sambil melangkah.


"Siapa disitu?"


Deg, suara lantang seseorang dari pojokan ruangan mengagetkan mereka.


Emely segera menghentikan langkahnya. Ganes yang panik juga sama, keduanya saling berpandangan. Emely memutar arah, menarik tangan Ganes untuk masuk ke dalam salah satu ruangan. Keduanya kini membuka pintu sebuah ruangan yang tidak terkunci dan bersembunyi disana. Mereka tampak deg degan dan was was.


"Siapa itu? Apa penjaga?" tanya suara di depan.


Ganes dan Emely menutup mulut rapat rapat, berharap orang yang ada diluar tak mencurigai keberadaan mereka di ruangan ini.


"Ada siapa?" terdengar beberapa penjaga berbincang di depan pintu.

__ADS_1


Ganes dan Emely semakin diam dan panik.


"Tak ada siapapun, tapi dari tadi aku mendengar orang yang sedang berbicara. Suara lelaki dan perempuan," ucap salah satu dari mereka.


"Apa mungkin bos?" tanya salah satunya lagi.


"Entahlah, aku sudah mencari ke kanan. Ke kiri, dan diujung juga tidak menemukan apapun," ucap salah satunya lagi.


"Kalau begitu sebaiknya kita berjaga dan berhati hati, aku takut ada penyusup dan kita teledor. Sebaiknya kita segera kembali ke tempat masing-masing," ucap salah satunya kemudian membubarkan barisan.


Emely dan Ganes menghela napas lega, mereka saling menatap dan seolah mengutarakan maksud hati yang sedang bingung.


***


Dafa yang mendengar teriakan orang di lorong kini menempel di sebuah dinding, berharap dia tak ketahuan. Dia mendengar keributan antara Ganes dan Emely, makanya ingin menyusul keduanya. Akan tetapi, beberapa penjaga terlebih dulu datang.


Sempat Dafa panik, akan tetapi melihat Emely dan Ganes sudah aman kembali cukup membuatnya lega.


Papa Hendra kini menatap dua orang yang berjaga di sebuah pintu, mereka terlelap. Dengan cekatan Papa Hendra memukul punggung orang itu sampai kedua orang itu benar benar tak sadarkan diri.


klonteng


"Om," Dafa yang baru saja datang kini mendekat ke arah om nya.


"Dafa, biarkan mereka begini untuk mengelabuhi yang lain. Sebaiknya kita segera masuk, sepertinya masih banyak pintu yang harus kita lewati untuk menemukan Dani," ucap papa Hendra saat dirinya sudah yakin jika Dani ada di tempat ini.


Dafa menganggukkan kepalanya, keduanya segera berlari memasuki sebuah lorong dengan bantuan kunci yang di bawa om Hendra.


...****************...


Plak... plak... plak...


Di dalam ruangan tertutup itu, Dani tampak meringis kesakitan. Beberapa cambukan dia dapatkan. Bahkan kemeja yang dia pakai sudah tak lagi berbentuk. bekas hantaman cambuk di badanya sangat menyiksnya. Bahkan, luka memar itu sengaja disiram air sehingga terasa perih.


"Kau masih tidak menyerah? Kau tetap tidak mau menikahi Sinta dan tetap memilih istrimu?" Sentak Tuan Shin.


Dani yang sudah tak berdaya kini hanya terdiam, kedua tangannya yang di rantai kanan dan kiri dan dihubungkan dengan tiang hanya merentang saja. Kakinya terikat kuat, dia hanya bisa menghela napas panjang. Bayangan Emely terus menghantuinya.

__ADS_1


"Jawab!!! Kau tau, aku tak segan membunuh Emely dan calon bayimu jika kau masih saja enggan menceraikannya" sentak Tuan Shin.


Deg


Dani memandang Tuan Shin dengan sorot mata benci. Tangan Dani terkepal kuat. Ingin rasanya dia membunuh orang di depannya. Dia tak terima dengan ucapan orang gila itu.


"Berani kau menyentuh istriku, tamat riwayatmu!" sentaknya.


***


Di ruangan sebrang yang hanya berbatas sebuah Kaca, Lelyta tampak memejamkan matanya. Kakinya yang terikat kuat. Tangan dan mulutmya terikat kuat, kini hanya bisa mengeluarkan air mata saat melihat betapa tega mereka memperlakukan Dani seperti binatang.


Bagaimana bisa Tuan Shin dan Tuan Wilson melakukan semua ini? Lelyta melirik Tuan Wilson yang berjalan ke arah sana.


Bagaimana bisa keluar dari sini? Ibunya bahkan sedari tadi sudah lemas diatas ranjang yang kumuh. Bagaimana keadaannya?


"Jadi dia masih menolak?" tanya Tuan Wilson yang kini berdiri di samping Tuan Shin.


"Ya, seperti yang kau lihat. Dia memilih untuk mati," jawab Tuan Shin.


Dani semakin geram, menatap dua iblis di depannya membuatnya muak. Dani yakin sampai saat ini Tuan Wilson masih belum tau jika perusahaan yang bekerja sama dengannya adalah perusahaan milik Dani. Dani menghela napas panjang dan mencoba menenangkan hatinya. Dia bertekat akan menghancurkan dua manusia di depannya nantinya .


Cuih


Dani meludah dan mengenai sepatu Tuan Wilson dan juga Baju Tuan Shin. Mereka tampak marah dan Emosi.


"Kau, berani sekali kau..." Tuan Shin hampir saja mengangkat cambuk.


Grobyak


Terdengar suara keributan di luar sana sehingga membuat keduanya saling berpandangan.


"Ada apa itu?" tanya Tuan Wilson.


"Entahlah. Sebaiknya kita kesana, waspada jangan gegabah," ucap Tuan Shin kemudian melangkah menuju ke asal suara.


Dani menghela napas lega melihat kepergian dua orang itu, dia yakin ada pertolongan. Kini netranya melirik kunci yang berada di atas meja. Kunci borgol rantai yang mengikat tangan dan kirinya. Kini, dia berusaha untuk meraihnya agar bisa terlepas.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2