
Emely memejamkan matanya saat ciuman Dani semakin dalam, tak menyangka manusia tampan yang tadi terlelap itu kini menyentuhnya. Menyembuhkan kerinduan yang menggelora, menyembuhkan perasaan yang berkecamuk di dada menjadi sebuah senyuman indah yang merekah.
Emely meneteskan air matanya di tengah kehangatan yang dia rasakan, Dani melepaskan ciumannya dan menatap Emely yang terisak, menghapus air mata yang kini membasahi pipi istri tercintanya.
"Darling, ada apa? Apa aku menyakitimu hem?" tanya Dani seakan panik mendapati Emely yang menangis.
Dani menatap dengan teduh wajah cantik manusia yang selalu menjadi penyemangat hidupnya itu. Wanita yang dia cintai itu.
Tak bisa berkata apapun, Emely langsung memeluk tubuh Dani. Dani memejamkan matanya merasakan kehangatan dan kenyamanan yang tiada banding. Sangat nyaman berada dalam pelukan Emily. Wanita yang menikah dengannya karena keterpaksaan dan berakhir kebahagiaan ini.
"Apa aku menyakitimu Sayang?" tanya Dani lagi.
Emely menggelengkan kepalanya di pelukan Dani. Dia bahkan tidak merasakan sakit sedikitpun, akan tetapi merasakan bahagia yang tiada tara. Gelengan kepala Emely membuat Dani merasa lega sekali.
"Lalu kenapa? Kau tidak suka aku bangun? Apa aku akan menghalangimu mendapatkan pelukan dari orang lain? Bilang padaku, siapa yang berani menyentuh Rakhayla Emely Wijaya? Aku akan menghabisinya," sewot Dani.
Emely membelalakkan matanya, apa Dani mendengar candanya tadi? Sejak kapan suaminya sadar? Emely melepaskan pelukannya dan menatap Dani dengan terkejut.
"Coba katakan, siapa yang berani memelukmu? Katakan padanya, dia harus berhadapan dengan Ardani Rahardian Wijaya," ucap Dani dengan sewotnya.
__ADS_1
Emely terkekeh geli, dia menatap suaminya dengan teduh, memberikan tatapan sayang yang begitu dalam.
Dani merasa gemas, diangkatnya wanita cantik itu dalam pangkuannya. Lengannya melingkar sempurna di pinggang Emely. Sedangkan Emely terkejut dan melingkarkan tangannya di leher Dani.
"Mas, kamu baru saja sadar, jangan membahayakan dirimu dengan memangku aku begini," ucap Emely.
"Ini malah mempercepat kesembuhanku, bahkan bila kamu ada diatasi dan memainkan senjata ampuhku itu malah lebih mempercepat lagi," ucap Dani dan mampu membuat Emely tersenyum malu. Wajahnya merah merona, dia menyembunyikan wajahnya di dada bidang Dani yang kini tersenyum jahil.
"Sejak kapan kamu jadi mesum seperti ini Mas? Menyebalkan," ucap Emely.
"Sejak mengenalmu, mengenalmu di atas ranjang dan merasakan indahnya penyatuan saat itu," jawab Dani.
"Jawabanmu sangat menyebalkan, dan bukan ini yang aku yang aku tanyakan Mas," ucap Emely.
"Bukannya kau suka? Lagipula karna itu juga kita bisa mencetak rekor, membuat baby tumbuh di rahimmu," ucap Dani lagi.
Emely terkekeh dan mengeratkan pelukannya pada manusia tampan yang telah menjerat hatinya dalam cinta yang begitu indah itu.
"Udah ah, sejak kapan kamu bangun? Kau tau? Aku panik Mas melihatmu tak sadar sadar, bisa bisanya kamu membohongi aku. Bagaimana bisa kamu sudah sadar dan pura pura tidur?" tanya Emely yang terdengar sebal tapi dia masih berada di dekapan Dani, mencari kehangatan di dada suaminya.
__ADS_1
"Itu karena aku ingin memberikan kejutan, tapi malah dapat makian. Ku pikir kamu akan berkata romantis dan menyentuh hati, nyatanya kamu malah mau memeluk orang lain," ucap Dani. Emely terkekeh.
"Kamu pikir aku rela mati secepat ini, membiarkanmu jadi janda? Sepertinya Allah SWT tidak akan memberikan ujian terlalu berat, Allah SWT tau kau masih belum sanggup kehilangan aku dan masih memberikan aku kesempatan untuk hidup bersamamu sampai waktunya nanti kita berpisah," ucap Dani sambil mengusap kepala berjilbab Emely.
Deg
Emely yang semula terkekeh menghentikan tawanya, ucapan Dani begitu dalam baginya. Sanggupkah jika suatu saat nanti mereka berpisah? Air mata Emely kembali menetes.
"Kau tau Em, aku sangat mencintaimu. Bahkan bila aku mati karna harus melindungimu aku rela, kamu dan bayi kita adalah kekuatan yang aku miliki untuk tetap bertahan," ucap Dani. Bayangan sepuluh hari dalam ruangan penyiksaan saat itu mengiang dipelupuk matanya. Dan hanya bayangan Emely yang sanggup menguatkannya.
"Tapi aku tak rela bila kamu mati saat ini Mas, jika boleh aku meminta padaNYa. Aku ingin kita selalu bersama, merawat anak cucu kita nanti, melihat mereka bahagia sampai pada akhirnya kita tak bernapas lagi, kita menghadap padanya dengan keadaan yang baik dan husnul khotimah," ucap Emely sambil mengusap air matanya.
Dani tersenyum dan melonggarkan pelukannya, Emely mengangkat wajahnya dan keduanya saling berhadapan. Dani memegang kedua pipi Emely sambil mengusap air mata istri tercinta.
"Kita perbaiki diri kita sayang, kita harus bersukur masih diberikan kehidupan. Semoga kedepanya kita menjadi hamba yang lebih baik, aku bersyukur memilikimu. Meski pertemuan kita diawal sangat tidak nyaman, tapi inilah perjalanan yang pada akhirnya membawa kebahagiaan. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu," ucap Dani. Emely tersenyum ditengah isakan tangisnya. Dia bahagia. Sangat bahagia.
"Aku juga sangat mencintaimu Mas, aku bahagia bersamamu," ucap Emely.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1