Cintai Aku, Lupakan Dia!

Cintai Aku, Lupakan Dia!
CALD. Jangan salah sangka


__ADS_3

"Apa maksudmu?" tanya Dani pada Nala yabg senyum senyum tak jelas.


Emely memejamkan matanya, pikiranya dag dig dug tak karuan memikirkan apa yang akan dikatakan oleh dokter cantik di depannya. Apa benar yang terlintas dipikirannya tadi ? Emely mencoba mengingat ingat, bahkan memang bulan ini sudah di tanggal akhir. Dua minggu sudah dia tidak kedatangan tamu.


"Apa kakak sering mual?" tanya Nala yang mengabaikan Dani dan memilih bertanya pada Emely. Emely tampak berpikir kemudian mengangguk pelan.


"Malas bergerak? Tidak napsu makan? Lemas?" tanya Nala bertubi sambil tersenyum.


Sekali lagi Emely menganggukan kepalanya.


"Menurut pemeriksaannya saya, Kak Emely sedang mengandung kurang lebih lima minggu. Hanya saja untuk memastikan lebih detail, Kakak bisa melihat tespek, atau saja langsung ke dokter spesialis kandungan," ucap Nala dengan bahagia.


Deg


Emely memejamkan matanya, dia bahagia. Air matanya mengalir, dia hamil? Putra Dani? Kilasan momen saat itu berputar di otaknya. Pantas saja dia merasakan dirinya berbeda.


Mama Nina dan Oma Rosy yang ada di dekat pintu tampak tersenyum dengan kabar yang di sampaikan Nala. Segera dua wanita itu menghampiri Emely dan memeluknya bergantian.


"Selamat ya sayang, benar kan firasat Oma, kalau kamu sedang mengandung. B*d*h sekali suami kamu yang tak tau ini," ucap Oma.


Suami? Mendengar itu ke empat wanita itu menoleh ke arah Dani yang kini berdiri dengan ekspresi yang sulit dibaca. Bahkan mereka tak bisa menebak dengan apa yang dirasakan Dani.


Emely menatap Dani yang berdiri disana, tak ada senyuman tak ada gurat kesedihan atau kebahagiaan. Dani tampak diam, diam seribu bahasa. Air mata Emely semakin deras. Apa Dani tak suka dengan kabar bahagia ini? Apa Dani tak menginginkan anak dalam kandungannya? Apa Dani begitu syok dan tertekan? Pikiran Emely jadi kemana mana.


Emely melepaskan pelukan omanya, kemudian turun dari ranjang. Dia berjalan ke arah Dani dengan pelan, Mama Nina, oma dan Nala kini berdiri. Mereka menatap ke arah sepasang suami istri itu. Ada apa dengan Dani?


Kini Emely telah sampai di depan suaminya, dadanya terasa sesak memikirkan hal yang tidak tidak. Keduanya saling berpandangan. Saling mengisaratkan sesuatu, entah perasaan apa.


"Aku tidak berharap kamu menerimanya, mungkin ini terlalu cepat. Bahkan aku juga tak menyangka, tapi jika kamu tidak mau mengakuinya tidak papa. Biarkan aku pergi," ucap Emely kemudian melenggang pergi.


Deg


Dani memejamkan matanya, apa orang hamil memang begitu? Kenapa prasangkanya senegatif itu? Bahkan dia sangat bahagia, bahkan saat ini otaknya bernostalgia dengan momen saat itu yang sangat jelas mengiang di kepalanya.


Bagaimana posisinya, bagaimana nikmatnya, semua terekam jelas diotaknya. Bagaimana bisa secepat ini jadi baby? Itu sangat menakjubkan, Bahkan dia tak sanggup berkata kata dan sangay tercengang. Dia ingin mengulang lagi nantinya untuk mendapatkan putra kedua. Lalu, kenapa Emely malah mengiranya dia tak menerima? Sepertinya istrinya mau dihukum.


Segera Dani berlari, Emely wanita yang keras kepala. Dia akan melakukan hal yang dia suka. Dani tak mau sesuatu terjadi pada calon babynya.

__ADS_1


"Sayang, tunggu," teriak Dani.


Emely tak menghiraukan ucapan Dani dan terus berjalan. Dengan cepat lelaki tampan itu menyambar tubuh Emely dan membawa tubuh mungil itu berjalan ke arah kamar tamu.


"Lepas, biarkan aku pergi!" berontaknya.


Dani membuka pintu dengan lututnya dan menutupnya kembali. Dengan pelan Dani menurunkan tubuh istrinya di ranjang.


Emely memberontak untuk keluar, Dani menahan tangan Emely dan merapatkannya di dinding. Dani menatap wajah sembab istrinya itu. Ada rasa sesak mendera melihat pemandangan ini. Tak rela, wanita ini menangis.


Dani mengusap air mata Emely dan menatap wajah cantik yang selalu menghantui otaknya. Dani menyentuh kedua pipi Emely dengan lembut.


"Apa maksudmu pergi?" tanya Dani dengan suara yang berat karna menahan emosi. Emely menatap Dani dengan tersenyum getir.


"Bukankah kau tidak menginginkannya, lebih baik aku pergi dan merawatnya," ucap Emely.


"Apa aku mengatakan itu? Bukankah aku tidak mengatakan sepatah katapun?" tanya Dani seolah tak mau kalah.


"Tapi aku bisa membaca dari sorot matamu," ucap Emely lagi sambil mendorong Dani dari hadapannya.


Baru saja dia melihat Emely dengan segala senyuman cantiknya, menggoda dirinya dan sukses membuat hatinya berbunga. Lalu, begitu cepat wanita di depannya kembali menangis dan berhasil membuat sesak di dadanya.


"Apa karna kau merasa jadi cenayang, yang bisa menebak hati dan pikiran orang lain?" tanya Dani. Emely hanya diam. Membuang pandangan dan menghindari tatapan Dani.


"Aku tidak pernah merasa seperti itu," ucap Emely.


"Lalu kenapa kamu menebak semaumu?" tanya Dani dengan tegas. Emely tersenyum getir.


Semau Emely? Tidak, menurut Emely dia menebak berdasarkan fakta. Lalu, Kenapa masih mengelak lelaki yang ada di depannya ini?


"Aku tidak semauku. Lepaskan aku!?" Bentak Emely.


Deg,


Jantung Dani bagaikan terhempas, Kenapa rasanya sakit sekali melihat Emely bersedih ? Kenapa wanita itu suka sekali membuat hatinya terluka dengan pikiran sensitifnya?


"Aku tau, kamu tidak pernah menginginkan pernikahan ini. Jadi aku juga tidak pernah berharap kamu menerimamya. Seharusnya aku sadar diri,

__ADS_1


bahwa dari awal pernikahan kita tidak pernah direncanakan. Aku sudah pasrah Dan, aku...."


Tangan Dani yang sempat terlepas dari pundak Emely kembali menahan tubuh mungil itu hingga kini membentur dinding. Tak ada lagi celah Emely untuk menghindar. Dani malah menguncinya dan mendongakkan dagu Emely.


"Jadi sepicik itu pikiranmu?" tanya Dani ketus dan seakan mengintimidasi, membuat Emely sedikit takut.


Hembusan napas Dani menampar pipi Emely, membuat wanita cantik itu memejamkan matanya.


"Boleh aku berkata jujur?" tanya Dani.


"Apa?" jawab Emely. Dia masih memejamkan matanya, diiringi deraian air mata.


"Jangan kamu pikir aku tak bahagia, aku sangat bahagia sekali. Kau tau, tadi ekspresiku yang seperti itu karna aku berpikir sesuatu," ucap Dani.


Emely kembali membuka matanya. Dia yang semula merasakan sesak yang begitu menusuk hatinya, kini terusik dengan ucapan suaminya.


"Apa maksudmu? Berpikir apa?" tanya Emely emosi sambil menatap Dani yang tampak tersenyum senyum.


"Memikirkan posisi yang top cer. Aku akan membuat Dani junior lagi dengan posisi yang sama, agar baby kecil ada temannya. Dua tahun dua anak tak masalah," ucap Dani.


Emely membelalakan matanya, mengusap air matanya dan mencoba mendorong Dani.


Entah mengapa Dani seolah tak terima di dorong dorong, Dani malah mendekat dan menyambar bibir mungil Emely penuh emosi. Bermain dengan Rakus disana, Emely yang tampak kualahan kini mencoba menghentikan aksi suaminya.


"Yang, aku kehabisan napas. Tolong jangan sakiti aku dan baby kita," lirih Emely mencoba untuk mengendalikan Dani dan membuktikan ucapan Dani. Apa benar Dani bahagia punya baby?


Yang benar saja, Dani tak lagi membrutal. Dia meraih pinggang Emely. Keduanya bertatapan dengan mesra.


"Jangan salah sangka Dear, aku bahagia memilikimu, memiliki baby dari rahimmu. Jeripayah kita berdua," lirih Dani.


Emely tampak teetunduk. dipastikan wajahnya sangat merah merona.


Diluar sana, Mama Nina, Oma dan Nala yang tadi sempat tegang menyaksikan pertengkaran dari luar, kini menghela napas lega.


"Apa yang kalian lakukan disini?" tanya suara yang berhasil membuat mereka menoleh bersama.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2