
"Siapa wanita itu?" tanya Emely lagi sambil mengedarkan pandangannya.
Dani membuka matanya, dia menghela napas panjang. Semoga Emely bisa menerima kenyataan jika Micel adalah orang yang ditabraknya.
Tapi, kini Dani melirik ke arah Micel dan Vino. Bagaimana bisa Micel bersama dengan Vino? Kenapa tidak bersama Mama Mira, Nenek Amy? Nada? Radit? Apa setelah dia menghilang di kampung itu banyak sekali hal yang berubah? Kenapa mereka kompak sekali?
"Siapa wanita itu kak?" tanya Emely lagi.
"Dia Micela,"
"Iya aku tau dia Micela, orang yang ngejar ngejar kakak itu kan? Lalu kenapa bisa bersama dengan kakak?" tanya Emely yang pernah bertemu dengan Micela. Bahkan, dulu Emely mendukung kakaknya agar bersama Nada. Lalu, bagaimana bisa Nada kini malah telah menggendong baby? Apa yang terjadi?
Dani membelalakkan matanya mendengar ucapan Emely. Seketika dia menatap ke arah adiknya.
"Kenapa kamu bisa bersama Tuan Vino?" tanya Dani pada Micel. Emely menoleh ke arah Dani, jadi suaminya memang mengenal wanita itu? Emely menghela napas panjang.
"Em, coba turunkan emosi kamu. Tidak baik orang hamil marah marah melulu. Maaf bila mama tidak memberi taukan sebelumnya pada kalian, mama hanya mau bilang kalau Micela adalah istri kakakmu," ucap Mama Elyna.
Deg
Dani membelalakkan matanya, Emely juga sama. Istri? lirihnya dan diangguki oleh mamanya.
"Micel juga orang yang kamu tabrak saat itu Em," ucap Mama Elyna. Emely memejamkan matanya. Jadi Wanita itu adalah adik sepupu Dani? Lalu, mau ditaruh mana wajahnya. Tadinya dia ketus sekali.
Dani melirik Micel dan Vino, pikirannya berkecamuk. Kenapa kenyataan yang dia terima begitu menakjubkan. Emely menatap ke arah Micel, dia maju beberapa langkah. Micel juga menatap ke arah adik iparnya.
"Aku..."
"Aku minta maaf, aku tidak sengaja menabrak saat itu," ucap Emely. Micel menerbitkan senyuman indahnya. Dia ingat, Emely dari awal memang tak menyukai gara gara diacara fashion mode saat itu. Saat dirinya meminta foto pada Vino dan menciumnya.( Pelabuhan cinta sang casanova)
"Sudahlah, lupakan saja. Aku juga salah karna menyebrang tiba tiba," ucap Micel.
Emely dan Micel saling memandang kemudian saling berpelukan.
Semuanya tampak lega, Dani dan Vino saling berpandangan kemudian berangkulan sejenak.
Radit tersenyum pada Nada dan mendekat ke arah Dimana Dani dan Vino. Micel juga Emely berada.
"Saling memaafkan lebih baik, lagi pula karna ini Dani juga dapat karma. Dulu dia harus memaksa Nada menikah, dan pada akhirnya dia juga dipaksa menikah, tapi aku harap semuanya bahagia meskipun menikah dengan cara yang unik," ucapnya sambil menggoda Dani dan Emely. Emely dan Dani tampak tersenyum.
__ADS_1
"Micel, bahagia selalu," ucap Radit.
"Siap kak," ucap Micel. Emely membelalakkan matanya.
"Kak Radit mengenalnya juga? " tanya Emely.
"Dia adik kandungku. Kalau kau jahat padanya, aku akan menghukummu," ucapnya.
"Bilang pada Asistenmu juga, kalau dia menyakiti adikku jangan harap dia akan hidup tenang," ucap Vino.
Semua orang tertawa, mereka tampak bahagia. Hingga akhirnya Mama Elyna kembali menatap putri cantiknya.
"Em, kamu harus tau juga. Jika kembaran kak Vino sudah ditemukan," ucap Mamanya.
"Kenalkan, dia kak Davina," ucap Mamanya. Emely memejamkan matanya. Air matanya mengalir deras, dia menghampiri orang yang memang mirip dengan Kakanya Vino.
"Kak Vina?" ucapnya kemudian memeluk kakaknya. Emely meminta Vino mendekat. Dengan cepat Vino melakukannya.
"Kak, Kak Vina sudah ditemukan. Kau jangan lagi jadi mafia yang bergabung dengan orang orang tak jelas dan membahayakan nyawamu diluar sana," bisiknya ditelinga Vino. Vino tersenyum dan merangkul dua saudara perempuannya.
"Karna semua sudah jelas, sebaiknya kita makan malam," ucap Papa Pradikta.
Semuanya berjalan ke arah ruang makan, mereka menikmati makanan dengan tenang dan hikmat.
...****************...
"Bukannya kamu tak suka bubur sumsum?" tanya Emely saat Dani mengambil alih mangkuk dan menyuapinya.
"Itu dulu, sekarang aku suka," jawabnya. Emely terkekeh pelan.
"Enakkan? Ini adalah makanan kesukaan aku sejak kecil," ucapnya.
"Hem, enak sekali, karna ini aku melupakan kejadian itu. Tadinya aku benar benar benci saat melihat ini," ucapnya.
"Memangnya apa yang membuat kamu tak suka Mas?" tanya Emely Antusias .
Dani menghela napas panjang, dan menatap ke arah Emely.
"Sebenarnya aku suka, tapi karna sesuatu aku menghindarinya," ucap Dani.
__ADS_1
"Sesuatu?" tanya Emely antusias.
"Ya," jawabnya.
"Apa?" tanya Emely. Dani menghela napas kembali dan menatap istrinya. Mungkin bercerita bisa benar benar membuat rasa bersalah dirinya hilang.
"Dulu, saat aku kecil aku orangnya iseng, apalagi Dafa, dia sangat jahil. Pernah sekali aku dan Dafa mengerjai murid baru, kau tau. Dulu tak ada seorang pun yang berani mengadu. Gadis itu dengan berani mengadu sehingga aku dan Dafa di sp dua. Aku dan Dafa tak terima, saat itu aku mengerjainya, mengambil tasnya. Dafa malah membuang kotak makan yang berisi bubur sumsum itu, kata Dafa dia berharap gadis itu kapok dan tak mengadu lagi. Tapi nyatanya malah dia keluar dari sekolah dan entah kemana. Sejak saat itu aku jadi membenci bubur, karna bubur mengingatkan aku padanya," ucap Dani panjang lebar sambil memundurkan ingatanya, membayangkan kejadian saat itu.
Emely menghela napas panjang, Dani tak mau mengingat gadis itu karna dia di sp 2,atau karna merasa bersalah? Emely menerawang jauh, dia ingat betul saat itu dia syok dan meminta pindah sekolah pada papanya gara gara dua kakak kelasnya usil membuang makanannya. Mengejeknya dan membulinya sehingga dia tak ingin jadi anak manja. dan pada akhirnya dia menjadi wanita mandiri. Lalu, apa mereka itu suaminya dan Dafa? Sesak sekali hatinya mengingat kejadian itu.
"SMP3 Kota J, taman sekolah. Tas warna pink. dan saat itu kamu masih seragam biru putih?" tanya Emely.
Deg
Dani memejamkan matanya, kenapa istrinya bisa tau? Dani melirik Emely dengan tenang.
"Kamu tau?" tanyanya antusias.
Emely memejamkan matanya, rasa sesak mendera otaknya. Jadi benar itu adalah Dafa dan Dani? Orang yang memberikan luka saat itu.
"Dia adalah aku," lirih Emely sambil mengusap air mata yang mendesak keluar. Dani tampak terkejut, ingin dia meraih Emely dalam dekapnya, tapi saat itu satu panggilan di ponselnya.
Dani segera mengurungkan niatnya untuk mengusap air mata Emely dan menggeser tombol hijau.
"Halo,"
"Dan, cepat ke sini. Ini darurat, kabar buruk Dan," ucap suara di sebrang kemudian menutup ponselnya.
"Dafa, ada apa? Dafa" ucapnya dan sudah tak ada jawaban.
"****," umpatnya.
Seketika Dani berdiri, menghampiri Emely yang memandang dirinya dengan emosi. Sebenarnya dia syok dan ingin menyelesaikan permasalahan saat itu dengan Emely, meminta maaf pada istrinya itu. Akan tetapi panggilan darurat dari Dafa membuat dirinya harus segera pergi.
"Sayang, maaf kita lanjutkan lain waktu, aku ada keperluan mendesak," ucap Dani sambil mengusap puncak kepala Emely dan menciummya.
"Tapi Mas," sanggah Emely yang semakin merasakan dadanya berkecamuk.
"Ini darurat, aku akan segera kembali," ucap Dani kemudian melangkah pergi. Dani menghampiri gerombolan disana dan meminta izin kemudian menghilang dari pandangan Emely.
__ADS_1
"Kenapa rasanya sesak sekali?
...****************...