
"Hentikan!" teriak Emely.
Emely keluar dari kamar, berjalan dengan pelan menuju ke arah dimana Dani dan Raymon berada.
Raymon melepaskan cengkraman tangannya pada Dani setelah berhasil memberikan satu bogem mentah pada pelipis dani yang saat ini mengalirkan darah segar. Dani memang tak konsentrasi karna teriakan Emely tadi sehingga pukulan Raymon mendarat sempurna di pelipisnya.
Emely menatap ke arah dua orang itu bergantian, rasanya sangat berat menghadapi dua lelaki yang berdiri di depannya. Salah satu bersetatus sebagai suaminya, dan yang satu adalah pemilik hatinya. Air mata Emely mengalir deras. Tak sanggup jika harus berlama-lama berdiri di sini.
Raymon menatap ke arah Emely, memandang Emely dari ujung rambut sampai ujung kaki. Netranya mendapati sesuatu yang membuat darahnya mendidih. Raymon mengulurkan tangannya, mengusap leher Emely yang memerah, tangannya turun menyentuh pundak Emely yang memerah juga.
Raymon menggelengkan kepalanya, dia lelaki dewasa dan tau pasti apa yang menyebabkan leher dan pundak Emely memerah, bahkan dia yakin bukan hanya di dua tempat itu cetakan warna merah itu terbuat.
Raymon melirik ke arah Dani, dia mengeratkan rahangnya. Raymon berjalan ke arah Dani dan kembali memberikan serangan. Dani dengan sigap meladeni, menjaga dirinya dari serangan Raymon.
"Lelaki bejat, apa yang kau lakukan padanya?" sentak Raymon sambil mencengkram kerah baju Dani. Dani tersenyum sinis, tak mau saja dia merasa terancam, dia juga melakukan hal yang sama.
"Cukup,!" teriak Emely.
Emely berada diantara Raymon dan Dani. Emely memberanikan diri maju. Kepalan tangan Raymon di tangkis Dani saat berada tepat di depan wajah Emely yang mencoba menghentikan keduanya.
__ADS_1
"Ray, Plis, tolong jangan buat keributan," ucap Emely di sela isak tangisnya. Netranya memandang ke arah Raymon dengan duka.
Dani mengibaskan tangan Raymon, membuat lelaki itu kini menatap Emely dengan kecewa. Menatap Emely dengan rasa sesak yang mendera. Raymon mengepalkan tangannya.
"Cih, ku pikir selama ini kau menolakku karna kau wanita suci. Tetapi ternyata kau tak beda dari ******," lirih Raymon. Netranya memerah menahan amarah.
Deg
Jantung Emely seperti di hujam benda tajam, sakit dia rasakan. Ucapan Raymon menusuk ke ulu hatinya, menyisakan sesak yang membuat air matanya mengalir deras.
Dani hanya bisa diam dan mengalihkan pandangan, memalingkan wajahnya. Entah apa yang merajai pikirannya. Menjauh? Tidak. Dia takut Raymon berbuat nekat, menyakiti Emely. Apa perdulinya? Entahlah.
"Ya, apa lagi sebutanmu kalau bukan itu? Kau sok suci di depanku, tapi berbuat hina dengan dia! Apa kau pantas disebut wanita?" sentak Raymon.
Emely terdiam, mencoba menghela napas dalam dalam. Memberikan ruang untuk dirinya bernapas.
"Aku bisa menjelaskan," ucap Emely.
Raymon memicingkan matanya, dia tak sanggup mendengar apapun penjelasan Emely.
__ADS_1
"Apa yang ingin kau jelaskan? Penjelasan yang seperti apa? Penjelasan tentang bagaimana kau bahagia menikmati perzinahan denga dia!" sentak Raymon sambil mengarahkan telunjuknya ke arah Dani.
Emely terdiam, sesenggukan. Air matanya mengalir deras. Dani melangkah maju, menepis telunjuk Raymon yang mengarah padanya.
"Stop menghakiminya sebelum kau mendengar penjelasan darinya!" tegas Dani.
"Tidak perlu lagi penjelasan apapun, kau pasangan Zinanya. Pasti kau akan membelanya, bukankah begitu?" tanya Raymon dengan sinis. Membuat Emely tak kuasa menahan deraian air mata. Dia terluka karna ucapan menyakitkan dari Raymon.
"Bahkan jika aku kembali melakukan di depanmu tak keberatan. Pasangan Zina menurutmu tak berarti apapun, yang jelas mau berapa kali aku melakukannya sah sah saja dimata agama," ucap Dani sambil mendorong tubuh Raymon hingga mundur beberapa langkah.
Raymon membelalakan matanya, apa maksud lelaki itu?
Dani mendekat ke arah Emely yang tampak teepukul. Mengambil jasnya yang tergantung di sebelah Emely. Meletakan diatas pundak Emely yang terbuka.
Emely terdiam, entah dia tak tau harus berbuat apa. Emely berjalan ke arah Raymon dan menatap lelaki itu dengan duka.
Emely mengulurkan tangannya menyentuh wajah tampan Raymon. Raymon terdiam.
"Maaf, bila kau kecewa. Jika aku tidak layak di sampingmu aku pasrah, bahagialah dengan orang yang layak berdiri disampingmu," ucap Emely di tengah isak tangisnya. Emely berlari ke arah kamarnya. Menyandarkan dirinya di pintu kamar, mengeluarakan segala sesak dengan tangisnya.
__ADS_1
🎀🎀🎀🎀🎀