Cintai Aku, Lupakan Dia!

Cintai Aku, Lupakan Dia!
CALD. Bubur Sumsum


__ADS_3

Mama Nina dan Mama Elyna tampak tertawa renyah. Bagaimana bisa semuanya terjadi tanpa sepengetahuan mereka?


Bagaiamana bisa anak anak mereka ternyata berjodoh, dan bagaimana bisa mereka tak tau. Bahkan, mereka menceritakan anak anak mereka di depan mereka sendiri.


"Maaf, aku pikit hanya Davina putrimu," ucap Mama Nina.


"Tak apa," ucap Mama Elyna sambil tersenyum.


"Jadi bagaimana? Kau masih tak setuju?" Mama Elyna bertanya sambil menatap Mama Nina berubah dengan sorot mata tajam.


"Mana berani aku El jika tidak setuju, pesta besar harus kita laksananakan. Tiga hari tiga malam, bahkan kalau perlu semua kolega bisnis kita undang semua," ucap Mama Nina.


"Aku setuju, bahkan aku juga ingin merayakan pesta kembalinya Davina setelah sekian tahun hilang, pernikahan Vino dan Micel yang hampir bersamaan dengan Emely dan Dani. Aku ingin putra dan putri ku berkumpul bersama," ucap Mama Elyna. Mama Nina mengganggu. Ini pasti akan menjadi acara termewah.


"Segera agendakan," ucap Mama Nina.


*


*


*


Pagi hari yang indah, Emely membuka matanya dengan perlahan. Sinar lampu merasuk ke dalam retina membuatnya mengerjab beberapa kali untuk menetralkan pandangan.


Emely menatap ke arah manusia tampan yang kini memeluk erat tubuhnya, manusia yang semalam memberikan kenikmatan yang tiada tara sehingga membuat bagian intimnya sedikit perih.


Emely menatap lekat wajah tampan yang bersih itu, mengusap pelan wajah yang selalu membuat jantungnya berdebar tak beraturan. Nyatakah atau hanya mimpi, seorang Ardani yang semula membemcinya berubah drastis seperti ini?


Emely menepuk-nepuk pipinya, masih tak percaya dengan apa yang terjadi. Hingga pada akhirnya dia merasakan cubitan kecil di pinggangnya.


"Aduh," pekik Emely. Dia menatap tangan kekar yang tadi mencubitnya kini mengeratkan pelukannya dan membuat tubuh mereka rapat.


Emely menatap wajah di depannya yang kini telah membuka matanya dan tersenyum.


"Apa yang kamu lakukan? Kamu itu tidak mimpi Beb," desis Dani sambil tersenyum menggoda istrinya. Emely memejamkan matanya. Duh, kenapa dia tampak malu sekali ?

__ADS_1


"Maaf Mas, aku hanya masih tak percaya jika kamu berubah seperti ini. Aku pikir ini mimpi, mengingat awal pertemuan kita yang tidak baik sehingga membuat aku kadang masih tak percaya dengan semua ini," Emely menyusupkan wajahnya di dada bidang Dani.


"Kamu masih tak percaya jika manusia tampan sepertiku jatuh cinta pada wanita sepertimu?" tanya Dani kembali, mencoba menggoda Emely dan terkekeh geli saat Emely membelalakkan matanya dan mendorong tubuhnya.


"Duh, kamu terlalu narsis Mas. Aku hanya tak percaya, ketika wanita cantik sepertiku. Sempurna tanpa cela ini menerima lelaki sepertimu," ucap Emely. Emely duduk membenahi bajunya sambil mengerucutkan bibirnya.


Dani juga duduk dan menyibak selimut yang ada di sampingnya. Dia menatap Emely dan meraih Emely sehingga wanita itu kini berada dalam rengkuhannya. Geram sekali dengan kenarsisan istrinya.


"Mas, mau apa? Ayo mandi, kita shalat subuh dulu," ucap Emely sambil menatap ke arah Dani dengan teduh.


"Hem, kita mandi bersama, sambil kita main futsal lagi," ucapnya. Emely membelalakkan mata indahnya.


"Main lagi?" Emely bertanya sambil menelan ludah dengan susah payah. Hari ini memang tanggal merah, dan tentunya keduanya sama-sama libur bekerja. Tapi apa harus main seharian juga?


"Hem," jawab Dani.


Emely mendorong dada Dani sehingga manusia tampan itu terkekeh dan malah melingkarkan tangannya di pinggang Emely dengan erat.


"Aku mau mandi," ucap Emely lagi.


"Aku mandi sendiri," ucap Emely lagi.


Emely hampir saja berdiri, namun daerah intimnya terasa sangat sakit sehingga dirinya meringis kesakitan. Dani tau, jika Emely masiih merasakan sakit karna pergulatan semalam. Dia juga hawatir jika Emely masih muntah seperti semalam.


Tanpa aba-aba Dani menyambar tubuh ramping Emely dan mengangkat tubuh Emely ke arah kamar mandi.


Langsung saja Emely mengalungkan tangannya ke leher Dani. Duh, kenapa Dani sangat manis sekali? Dani menatap Emely dengan tenang sambil mencium puncak kepala Emely dan membuat wanita itu tampak malu.


Dani menurunkan Emely ke batup dan mengisi batup dengan air yang hangat. Emely berendam dengan baju yang masih menempel di tubuhnya. Netranya menatap Dani yang kini masih berdiri memandang ke arahnya.


"Kenapa masih di situ Mas?" tanya Emely. Bukannya keluar, Dani malah mendekat. Seketika Emely menyalakan shower.


Dani menarik tangan Emely sehingga dia jatuh di pangkuan Dani yang duduk di pinggiran bathup. Emely yang tampak terkejut melingkarkan tangannya di pinggang Dani. Dani tersenyum tipis, netranya memandang bibir Ranum merah muda yang sangat dekat dengannya.


Bibir yang tampak menggoda karna basah terkena siraman air shower. Dani memejamkan matanya. Semua yang ada pada Emely tampak menggoda dirinya. Dani mendekatkan bibirnya ke arah Emely, dengan perlahan menyambar bibir istrinya dengan lembut.

__ADS_1


Emely memejamkan matanya, dirinya tak sanggup untuk menolak, bahkan dirinya merasakan keni*kmatan. Dani tak tinggal diam, tangannya mengelana di bawah sana dan bermain maju mundur di trowongan casablangka. Emely merasakan tubuhnya bergetar hebat karna permainan suaminya itu.


Tak hanya puas di terowongan casablangka, kini Dani kembali berkelana memainkan bukit tinggi himalaya yang membuat pemilik bukit kembar itu tampak membusungkan dadanya. Membuat aliran da*ahnya seakan memanas dan mendidih.


Lenguhan terdengar bersahutan, Keduanya saling berpandangan, Dani merasakan miliknya kembali menegang sempurna.


"Lomba futsal segera dimulai. Kau tidak boleh menghalangi bola berekor masuk ke gawang," ucap Dani penuh damba.


Emely memejamkan matanya, ingin menolak tapi tubuhnya meminta. Bagaimana ini? Tanpa mendengar persetujuan Emely, Dani membawa Emely berdiri dan merapatkan tubuh Nada ke dinding, Dani membuang baju tidur yang menutup tubuh Emely. Setelah sudah terbuka aksesnya, bola berekor milik Dani itu mulai melanglang buana. Masuk ke dalam lubang yang memberikan kenikmatan yang seperti candu.


Dani bergerak maju mundur membuat Emely membuka dan memejamkan matanya silih berganti karna kenikmatan yang diberikan, dan juga karna dirinya mencari kepuasan dan kenikmatan.


"Baby, sebut namaku. Semalam kau tak menyebutnya," ucap Dani di tengah ******* yang merdu di dalam sana.


"Kenapa memangnya?" tanya Emely di tengah kenikmatan yang dia rasakan.


"Sebut namaku agar aku yakin bahwa hanya aku yang kamu sebut dan tak ada lelaki lain," ucap Dani.


Emely mengangguk pelan, anggukan Emely membuat Dani semakin bersemangat dan semakin bergerak memaju mundurkan pinggulnya memberikan kenikmatan pada dirinya dan juga Emely.


"Ayo Sebut namaku Beb," pinta Dani di tengah napas yang semakin memburu. Emely terdiam, Danu menggigit bulatan hitam di atas gunung yang kini menegang hebat. Disesapnya bergantian membuat Emely mendesah hebat.


"Ardani, u. h.. hentikan Ardani... u. h" ucap Emely saat mencapai puncak kenikmatan dan mampu membuat senyuman tipis di bibir Dani.


Waktu terus bergulir, Dani yang melihat tubuh Emely kembali lemas, segera menggosok tubuh Emely dan dirinya dengan sabun. Setelah beberapa saat membersihkan badan, Dani segera mengambjl handuk dan membelit tubuhnya dan tubuh Emely dengan handuk.


Beberapa saat berlalu, setelah Shalat berjamaah subuh, kini mereka menghabiskan waktu di dapur sambil memandang beberapa bahan yang ada di atas meja.


"Dengan tepung beras, santan, gula merah ini apa yang akan kamu buat?" tanya Dani yang baru saja pulang dari toko.


"Aku ingin bubur mas, bubur sumsum. Badanku terasa pegel semua, kamu mau kan?" tanya Emely.


Dani memejamkan matanya. Bubur sumsum makanan yang sangat di bencinya. Lalu, apa dia harus mengangguk untuk membahagiakan Emely, atau menggeleng tapi menyakiti Emely?


🙈🙈🙈🙈

__ADS_1


__ADS_2