
Emely terus saja menghapus air matanya dan mengikuti langkah papanya dengan tenang.
"Apa papa menyakiti hatimu Em? Kenapa kamu menangis? Ada papa membuatmu bersedih?" tanya papanya ketika menapaki tangga yang akan menuju ke pintu utama.
Emely mencoba untuk menguatkan hatinya, dia tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Bahkan dia tak tau juga apa yang sedang dirasakannya, bahkan memang apa yang di katakan papanya benar adanya. Dia dan Dani tidak pernah mengharapkan pernikahan ini.
"Tidak ada pa," jawab Emely.
"Lantas kenapa kamu bersedih Nak? Papa hanya ingin membantumu menjelaskan pada Raymon tentang semua yang membelitmu," ucap papanya.
Emely terdiam saat mereka berada di anak tangga paling atas. Papa Pradikta memandang Emely dan tersenyum.
"Pa, tapi keadaanya berbeda. Aku bukan Emely yang dulu Pa," ucap Emely sambil menatap papanya yang kini menatap Emely juga.
Papa Pradikta menautkan alisnya, apa maksud Emely?
"Itu dibahas nanti saja Em, yang penting sekarang kita temui mereka dulu," ucap Papa Pradikta sambil menepuk pelan pundak Emely.
"Tapi Pa!" Emely meninggikan suaranya. Berharap ucapannya didengarkan oleh papanya.
"Em, tak ada waktu untuk kita berdebat disini, kita temui dulu mereka yang sudah lama menunggu," ucap Papanya dan diangguki oleh Emely dengan berat hati.
Mereka berjalan ke arah pintu, yang benar saja, disana sudah ada Raymon, Tuan Wilson, Nyonya Wilson dan juga Mama Elyna.
Mereka menatap ke arah pintu yang memperlihatkan Emely dan papanya. Tuan wilson, Nyonya Wilson, Raymon, bahkan juga Mama Elyna menatap dua orang yang berjalan mendekat. Yang menyita perhatian mereka adalah cara berpakaian Emely yang berbeda.
Mama Elyna tersenyum bahagia melihat putrinya. Berbeda dengan Tuan Wilson, Nyonya Wilson dan juga Raymon yang tampaknya tak suka dengan perubahan Emely.
"Selamat malam sobat, maaf menungguku terlalu lama, banyak sekali meeting sore tadi," ucap Papa Pradikta sambil berjabat tangan dengan Tuan Wilson, Nyonya Wilson dan juga Raymon.
__ADS_1
"Tak masalah, pengusaha sukses sepertimu memang sudah selayaknya sibuk," jawab Tuan Wilson dengan tenang. Keduanya berangkulan sejenak dan terkekeh pelan.
Emely mendekat, berjabat tangan juga, kemudian duduk di sebelah Mama Elyna. Mama Elyna mengecup pelan puncak kepala putrinya.
Emely menundukan kepalanya setelah tadi melihat wajah tiga tamunya sejenak. Wajah cantiknya tampak tersembunyi. Yang ada dipikiranya saat ini adalah Dani. Apa lelaki itu benar-benar pergi? Apa tak ada sedikit saja alasan untuk dia tetap berada disini? Sesak menyeruak dalam benak Emely.
Mama Elina mengusap pundak Emely, apa yang terjadi?
"Jadi kedatangan kami kesini untuk, mempertegas dan menjelaskan rencana pernikahan Raymon dengan Emely," ucap Tuan Wilson.
"Jadi bagaimana kelanjutanya?" Papa Pradikta bertanya.
"Kabar yang saya dengar dari Raymon cukup mengejutkan bagi saya, Emely menghianati Raymon rasanya sangat tidak mungkin. Menikah siri dengan orang lain, sangat tidak masuk akal bukan?" ucap Tuan Wilson dengan ucapan halus.
Emely memejamkan matanya, mencoba menenangkan hatinya yang bertubi mendapatkan tekanan rasa sakit. Emely menatap ke arah Raymon yang mendongak dengan wajah datarnya.
Papa Pradikta dan Mama Elyna tampak memejamkan matanya. Bahkan, yang sebenarnya bukan seperti itukan? Emely hanya terjebak, dalam suatu keadaan.
"Tetap saja, Emely melanggar aturan. Untuk bisa meneruskan, melanjutkan luka yang ada, cacat yang terjadi pastinya dibutuhkan penyembuhan," ucap Tuan Wilson.
"Apa maksudmu?" tanya Papa Pradikta dengan tegas. Tatapanya tajam ke arah tamunya. Sepertinya Emosi tengah menguasai pikirannya. Tidak lagi dihormati, baginya Tuan Wilson adalah manusia yang licik. Mama Elina hanya bisa berdiam. Mengusap pelan pundak suaminya yang tengah emosi.
"Untuk tetap bisa melanjutkan pernikahan, sebaiknya kita menanda tangani perjanjian yang ada sebelumnya. Perjanjian yang saat itu tidak tertulis, jika Emely berhianat, maka perusahaan jatuh ke tangan kami, bukankah itu impas? Kami memaafkan, dan Emely bisa menikah dengan Raymon. Bukankah hukuman tetap hukuman bagi yang melakukan kesalahan?" ucap Tuan Wilson.
Papa Pradikta mengepalkan tangannya, rasanya sakit mendengar penuturan orang di depannya. Kenapa seolah mereka hanya mementingkan harta? Bahkan perasaan Emely tak dipikir sedikitpun. Emely tidak sengaja, bukankah perasaan dia hancur juga?
Sampai disini Papa Pradikta yakin, jika memang hubungan Raymon dan Emely tak bisa dilanjutkan. Ya, Papa Pradikta dan Mama Elyna memang sudah membicarakan ini sebelumnya. Bahkan tadi, Emely ternyata juga menginginkan hal yang sama. Tak ada alasan untuk mempertahankan pernikahan yang direncanakan. Bahkan, dia mengiyakan pertemuan ini karna takut Emely terluka karna ditinggal Raymon nantinya. Akan tetapi sepertinya Emely telah berubah.
"Pernikahan mereka masih rencana, bahkan belum ada surat masuk KUA. Luka akan tetap menjadi luka jika yang membuat luka masih menancap, kupikir kalian bisa menyembuhkan luka tanpa adanya Emely diantara kalian. Aku akan tetap menandatangani perjanjian itu, akan tetapi kita batalkan pernikahan," ucap Papa Pradikta dengan tegas sambil menatap tiga tamu kehormatan yang mempermalukan diri mereka sendiri di hadapan Tuan Pradikta Alexander.
__ADS_1
Diraihnya pena dan surat perjanjian, kemudian dilemparkan ke arah Tuan Wilson.
Tuan Wilson, Nyonya Wilson dan juga Raymon menatap ke arah Tuan Pradikta yang tengah emosi itu.
"Pergi dan tinggalkan rumah ini sekarang juga," ucapnya dengan tegas.
Emely dan Mama Elyna hanya terdiam, terkejut dengan penuturan Papa Pradikta yang diluar dugaan. Didalam peembicaraan mereka semalam, tak ada pembatalan. Tapi kenapa semua berubah?
"Apa Maksudmu?" sentak Tuan Wilson sambil menatap surat serah terima beserta sertivikat asli perusahaan yang berada di kota M yang kini ada di tangannya.
"Ya, aku berikan padamu atas kesalahnan putriku. Sepertinya urusan kita cukup sampai disini, aku tidak mau berurusan lebih panjang lagi dengan manusia sepertimu," ucapnya sambil menatap Tuan Wilson dengan senyum sinisnya.
Tuan Wilson mengepalkan tangannya, inginnya mendapatkan kembali perusahaannya beserta mendapat perusahaan Tuan Pradikta. Lalu, jika tidak menikah dengan Emely, bukankah perusahaan akan jatuh pada teman Raymon?
Raymon tampak terusik, dia menatap ke arah Tuan Pradikta.
"Om, bagaimana bisa. Saya sangat mencintai Emely. Saya rasa keputusan ini terlalu cepat," ucap Raymon penuh harap.
"Tidak, bahkan bagiku ini keputusan terbaik Ray. Kau, berhak bahagia dengan orang lain yang lebih baik dari Emely. Bahkan, kau bisa mengumpulkan perusahaan lebih banyak lagi nantinya," ucap Papa Pradikta.
Raymon mengeratkan rahangnya, sungguh emosinya memuncak. Ucapan Papa Pradikta sangat menohok baginya.
"Tapi Om," sanggah Raymon.
"Em, jangan diam saja. Bukankah kau mencintaiku Em," lirih Raymon dan tak mendapat jawaban dari Emely.
"Ray, kita pergi dari sini, tak ada gunanya meminta orang seperti Emely untuk kembali," ucapnya kemudian menarik tangan Raymon untuk menjauh, dengan sertivikat yang tergenggam erat ditangannya.
"Terimaksih atas kunjungannya, aku harap kalian tak lupa jalan pulang," ucap papa Pradikta lagi.
__ADS_1
Nyonya Wilson menatap Emely yang merasakan perasaan campur aduk tak karuan, menatap ke arah Mama Elyna dan terakhir menatap Papa Pradikta.
"Jangan harap kita selesai sampai disini," ucapnya kemudian mengikuti suami dan putranya.