Cintai Aku, Lupakan Dia!

Cintai Aku, Lupakan Dia!
CALD. Ardani VS Dokter Arfan


__ADS_3

Emely menatap Dani dengan berbagai pertanyaan dia rasa orang di depannya benar-benar sedang tidak waras.


"Sini, aku akan menyuapimu," ucapnya lagi. Emely terdiam dan melihat Dani yang mengambil alih piring dan sendok. Mengambil daging ayam, dan dengan telaten memotong daging ayam kemudian mengarahkan tangannya ke arah Emely.


"Setelah makan gantilah baju, aku akan pergi donor di pondok. Setelah itu aku akan mengajakmu keliling desa, kita cari baju ganti di dekat sini," ucap Dani dengan tenang sambil mengamati dirinya yang tak ganti baju juga.


"Ehem," Emely menatap Dani lagi. Masih tak menyangka bahwa Pimpinan ARW group itu bisa setenang ini.


"Kenapa berdehem?" tanya Dani sambil mengamati wajah Emely yang tampak merona merah.


"Aku tidak percaya saja, ternyata kau bisa sebaik ini." Emely mengambil segelas air dan meneguknya secara perlahan.


"Aku hanya tidak mau kau kabur dan mengacaukan segalanya Em, jangan berpikir lebih. Lagi pula kita tinggal satu atap, alangkah lebih baiknya kita baikan," ucap Dani sambil meletakan sendok karna Emely sepertinya tidak lagi mau membuka mulutnya.


"Baikan?" tanya Dani.


"Ya," sahutnya. Emely tertawa dan menatap Dani dengan tenang.


"Apa kau yakin hanya itu alasanmu? Seperti anak TK, baikan," ucap Emely. Dani terkekeh pelan.


"Apa kau berharap lebih?" tanya Dani.


"Yang aku tau, aku cantik. Aku juga baik, tidak membutuhkan waktu lama untuk jatuh cinta padaku Tuan Dani, sepertinya kau telah terjerat pesona wanita cantik di depanmu, apa lagi servis ranjangku juga tidak mengecewakan," ucap Emely kemudian berdiri, mengambil paper bag di sebelah Dani. Mengatakan itu sebenarnya sangat memalukan. Akan tetapi dirinya tak mau terus diinjak oleh Ardani.


"Uhuk, uhuk," Dani tersedak udara.


Dani mengulurkan tangannya mengambil air di samping paper bag, bersamaan Emely mengambil paper bag itu. Keduanya saling berpandangan saat melihat kedua tangan itu saling menggenggam.


"Dani lepaskan, kau bisa jatuh cinta padaku bila setiap saat menyentuhku seperti ini," ucap Emely. Dani menggelengkan kepalanya, ternyata selera humor Emely boleh juga.


"Aku tidak sengaja. Aku mau mengambil gelas," ucapnya. Emely dengan sigap mengulurkan tangannya mengambil air dan mengarahkan ke mulut Ardani.


"Aku akan membantumu, kita impas!" sahutnya.


Entah, melihat keberanian Emely menggodanya membuatnya tersenyum bahagia. Membuat hatinya merasakan hal indah.

__ADS_1


Dani membuat gerakan sehingga saat ini Emely duduk dipangkuannya dan merangkulkan tangannya di leher Dani. Keduanya saling berpandangan dengan teduh.


"Apa kau yakin aku bisa jatuh cinta padamu Nona?" tanya Dani.


"Kau meragukanku?" tanya Emely. Dani hanya diam dan memandangnya.


"Jangan salah Tuan, bahkan aku bisa memintamu dan memaksamu mengatakan padaku satu kalimat permohonan," sahut Emely.


"Apa itu?" tanya Dani.


"Cintai aku, Lupakan dia!" sahut Emely. Ya, kata kata itu yang saat itu dibisikan Dani di telinganya.


Dani terkekeh dan melepaskan pinggang Emely. Segera Emely berdiri, sejujurnya dia gugup. Dengan Raymon tidak seintim ini, entah kenapa status suami istri diantara mereka membuat Emely seperti wanita penggoda.


"Itu vocab yang aku katakan padamu waktu itu, kau balas dendam?" tanyanya. Dani berdiri dan menatap Emely dengan tenang.


"Pertanyaanmu tidak membutuhkan jawaban Dan," ucap Emely. Dani mengulurkan tangannya, menyelipkan anak rambut Emely yang berjatuhan, membuat Emely merasakan dag dig dug tak karuan karna sapuan lembut jemari Dani yang ada di wajahnya.


"Segera ganti baju, aku akan mendonorkan darah. Kuharap kau sudah siap saat aku kembali." ucap Dani kemudian melenggang pergi.


πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€


Sifa yang merasakan kecewa berlari ke arah pondok. Rasa sakit merasuk dalam hatinya, Ardani bermesraan dengan Emely? Rasanya sakit sekali. Benar benar hari libur yang sangat menyesakkan dadanya. Jika begini, masihkah dia berharap cinta dari Ardani?


Brak


Sifa terkejut saat dia menabrak meja seseorang. Satu kantong darah tergeletak di bawah.


"Kalau jalan jangan buru-buru, jangan ngelamun, Neng!" ucap seorang yang kini menatap baju karna terkena darah yang di tumpahkan Sifa.


"Maaf Dok, saya tidak sengaja," ucap Sifa dengan panik menatap baju putih berhiaskan warna merah.


"Maaf Dok, saya akan mendonorkan darah saya sebagai gantinya," ucap Sifa lagi sambil menunduk.


"Kau akan menggantinya?" tanya suara itu tampak santai yang kemudian mengalihkan perhatian Sifa. Sejenak mereka saling memandang. Mereka larut dalam pikiran masing-masing.

__ADS_1


"Kau?!!!" ucap Sifa tampak terkejut. Arfan yang tadinya sedikit emosi segera tersenyum saat melihat Sifa, asisten pribadi adiknya.


"Kau ingat, kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya dokter itu. Sifa hanya diam, dia ingat betul lelaki ini adalah lelaki yang saat itu menemani Nada atasannya dalam pernikahan.


"Kak Arfan?" tanya Sifa.


Dokter Arfan mengangguk pelan, ini adalah pertemuan keduanya dengan Sifa. Kenapa ada Sifa disini? Pertanyaan yang mengiang di otak Arfan.


"Apa acara donor darah masih dibuka?" suara itu membuat Dokter Arfan dan Sifa menoleh ke asal suara. Ketiganya tampak terkejut.


Sifa memejamkan matanya, menatap Dani yang kini ada di depanny. Bayangan kemesraan antara Dani dan Emely teringat jelas dalam benaknya. Akan tetapi, senyum manis masih tampak dari bibir Sifa untuk menyambut kedatangan Dani.


Dokter Arfan dan Dani saling berpandangan, ada satu hal yang mengusik keduanya. Keduanya mengepalkan tangannya saat bayangan kejadian terbayang di pikiran masing masing.


πŸŽ€Saat ituπŸŽ€


"Apa yang dilakukan adiku? Bisakah kami membawa dirinya pergi?" tanya Arfan pada Dani yang saat itu memaksa Nada menikah dengan atasannya. Arfan mencoba tenang dan tak menggebu agar mendapatkan solusi terbaik.


"Boleh membawa dia, asal kalian menyetujui berkas di lantai itu," ucap Dani.


Arfan, Nada dan ayahnya melirik berkas yang berada di lantai. Arfan mengambil berkas itu dan tampak syok membacanya.


Arfan meremas berkas itu dan melempar tak terarah. Meskipun dia dan keluarganya bukan siapa-siapa, tak mau juga adiknya direndahkan seperti ini.


Dani tersenyum tipis dan melirik berkas yang sudah seperti bola kasti itu.


"Berarti kalian siap hancur malam ini, oke Dokter Arfan, MRD group berperan penting terhadap rumahsakit yang anda tempati, jadi saya akan meminta mereka untuk memecat anda. Dan Kau, Bapak hasan, Perusahaan yang anda naungi juga bekerja sama dengan perusahaan kami, jadi untuk menghancurkan karir kalian tidak sulit bagiku,"


"Lakukan jika itu membuat adiku terbebas," ucap Arfan.


"Okey, bukan hal yang sulit untuk melakukannya," ucap Dani.


πŸŽ€kembali saat iniπŸŽ€πŸŽ€


Arfan menatap tajam ke arah Ardani, manusia yang baginya sangat tidak berperi kemanusiaan.

__ADS_1


πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€


__ADS_2