
Dani masih duduk di kursi depan, mencoba untuk menurunkan emosinya yang tadi sempat meninggi. Dani mengamati jam tangan yang menunjukan pukul 09. 00. Setengah jam sudah Emely tak keluar dari kamar.
Apa yang dilakukan wanita itu? Dani melirik ke arah hidangan makan yang masih berada di rantang, dilihat juga paper bag yang berisi baju. Entah apa isi makanan yang ada di rantang, akan tetapi yang menyita perhatiannya adalah tumis kangkung yang ada di piring berwarna bening. Sangat menggoda.
Dani berdiri, dia sudah membentak Emely dengan kasar. Apa wanita itu sedang menangis? Segera Dani melangkah, Emely yang belum makan sama sekali membuat dirinya khawatir.
Dani melihat pintu kamar sedikit terbuka, terdengar percakapan Emely dengan orang di sebrang sana.
"Jadi Mama dan Papa tetap membiarkan Em disini dulu?" tanya Emely dengan tenang.
"Iya Em, kamu tunggu. Dalam dua minggu pasti berkas pernikahan sudah turun. Kalian bisa keluar dari desa itu nantinya. Kamu tau, Papa Raymon menelpon. Beliau bilang akan datang ke sini malam ini. Nanti mama akan mengabari padamu apa yang terjadi," ucap Mamanya.
"Em harap ada kejelasan Ma, mama jangan bersedih jika nantinya Em tidak menikah dengan Raymon ya," ucap Emely.
"Em, percayalah. Jodoh ditangan Tuhan, jika kalian berjodoh pasti semuanya akan baik baik saja Nak," ucap Mama Elina.
"Baik Ma, semoga semuanya baik. Dan Em bisa bahagia," doanya.
"Amin," sahut mamanya.
"Istirahatlah Em, sepertinya kamu sangat lelah Nak, mama ada tamu ibu arisan. Mama sudahi dulu ya, asalamualaikum nak," ucap Mama Elyna.
Emely memejamkan matanya, di liriknya jendela kamar yang bisa di buka. Emely membuka lebar lebar jendela kamar itu. Disana terdapat jalan yang mungkin saja bisa menghubungkan dengan jalan raya. Terlintas sebuah rencana busuk di otak Emely. Kabur? Apa itu jalan terbaik? Atau justru akan memperkeruh keadaan?
"Jangan merencanakan sesuatu yang nantinya akan membahayakan kita," ucap Dani yang mengetahui gerak gerik Emely yang mencurigakan. Dia masuk ke kamar dan mendekat ke arah Emely.
__ADS_1
Emely yang sempat terkejut tak menjawab ucapan Dani, bagaimana bisa Dani membaca pikirannya? Emely melangkah begitu saja melewati Dani. Dani yang merasa diabaikan seakan tak trima.
Dani mengepalkan tangannya dan mengeratkan rahangnya. Marah, kenapa harus marah? Seharusnya senang karena wanita itu tak mengganggunya. Lalu kenapa dia merasa dongkol? Pikir Dani. Apa harus dia menyetujui permintaan Emely untuk kabur dari sini? Tapi kenapa seakan dia tidak rela, melepaskan Emely? gadis cantik yang telah sah menjadi istrinya. Bahkan telah memberikan kenikmatan padanya?
Dani melangkah mengikuti langkah Emely. dari belakang, Dani menarik Emely dalam dekapannya. mencari kenyamanan yang malam ini dia rasakan.Yang benar saja, dirinya yang tadi emosi merasakan kenyamanan yang luar biasa. Emely terkejut ketika Dani melakukan hal ini padanya. Dia merasakan kenyamanan yang sama. Perasaan apa ini?
"Dani, lepaskan aku!" pinta Emely. Hatinya sesak. Entah, perasaan yang tak sanggup diartikan menyelimuti hatinya. Apa apaan ini?
"Jangan memberontak, diam lah!" tegas Dani lebih mengeratkan dekapannya, ingin memastikan sebenarnya kenyamanan yang di dapat berasal dari Emely atau bukan? Angin pagi kesana kemari menerpa keduanya dari jendela. Yang benar saja, Dani merasakan desiran lembut yang menguasai hatinya.
"Dani, jangan seperti ini. Kau pikir aku apa?" sentak Emely sambil memutar tubuhnya yang menyebabkan mereka malah saling berhadapan. Keduanya saling bertatapan, tatapan Dani begitu teduh. Berbeda dengan saat dirinya menatap dengan amarah.
"Diamlah," ucap Dani. Sifa? ketika berada dekat dengan Emely seperti ini, nama gadis itu tak lagi menguasai otaknya.
"Dani, lepaskan!" sentak Emely yang terdengar sangat ketus.
Emely tersentak kaget dan mematung, air mata Emely meleleh tanpa diminta, membasahi wajah cantik yang kini ada di dalam dekapan Dani. Rasa benci menyelimuti hatinya pada Dani, akan tetapi Emely juga merasakan hangat dan nyaman di sana.
Dia juga bisa mendengar dan merasakan detak jantung Dani yang tak beraturan. Emely memejamkan matanya dan mengumpulkan kekuatan, ia tak kuat merasakan gejolak jiwanya. Dia takut akan terluka atau melukai hati orng lain karna ini.
Di sebrang sana, Sifa dan Mbak Hani yang hendak mengajak Emely untuk donor melihat dengan jelas adegan romantis di dalam sana. Tidak terdengar apa yang diucapkan keduanya, yang jelas mereka sedang berbincang. Sifa membalikan badanya, rasanya sesak sekali melihat ini. Walau bagaimanapun, mereka adalah pasangan suami istri yang sah saja melakukan hal ini.
"Mbak Hani kita pulang saja," ucap Sifa kemudian melangkah pergi diikuti mbak Hani.
Emely mendorong Dani menjauh darinya. Dani beringsut mundur, mereka saling berhadapan. Dani dapat melihat dengan jelas air mata yang membasahi wajah cantik Emely yang tadi tidak dilihatnya.
__ADS_1
"Ingat, sekarang kau adalah milikku. Aku bebas melakukan apa yang aku inginkan! Bahkan hanya memelukmu seperti tadi," ucap Dani. Emely memejamkan matanya menahan sesak di dadanya. Apa apaan ini?
"Pernikahan ini bukan kehendak kita!" sahut Emely sambil mengusap air matanya. Dani menghela napas kasar dan mengusap wajahnya dengan kasar juga. Entah kenapa, penolakan Emely pada pernikahan itu membuat dirinya tak terima.
"Pernikahan tetap pernikahan, semua yang ku lakukan sah di mata agama. Kau istriku, Emely!" tegas Dani
Emely menggeleng pelan, bagaimana bisa lelaki itu memaksakan kehendaknya? Emely tersenyum sinis.
"Aku bilang bebaskan aku," pinta Emely.
"Jangan harap aku membebaskanmu semudah itu. Sekarang makanlah, aku lapar menunggumu dari tadi," ucapnya sambil menggenggam tangan Emely dan menariknya keluar dari kamar.
Emely memejamkan matanya, apa Dani mempunyai dua kepribadian? Kenapa sangat menjengkelkan. Mau tidak mau Emely mengikuti langkah Dani. Dani menarik kursi dan meminta Emely duduk. Emely seperti kucing yang menurut begitu saja.
Dani melepas rantang makanan yang berisi nasi, mie, sambel terong dan ayam. Ditatanya dengan rapi di atas meja. Dani menyerahkan piring dan sendok pada Emely, kemudian mengambil nasi dan tumis kangkung yang menggoda itu.
Emely mengernyitkan dahinya, menatap Dani dengan perasaan bingung. Kenapa bukan lauk yang dibawa Sifa yang diambilnya?
"Apa hanya memandangku kau bisa kenyang?" tanya Dani. Emely diam sambil menghela napas, apa orang di depannya sedang tidak waras? Segera Emely mengambil sedikit nasi dan tumis kangkung juga.
Dani melirik Emely, tak menyangka wanita seperti Emely mampu memasak makanan yang terasa enak di lidahnya. Masakan faforitnya yang biasanya hanya masakan dari neneknya yang bisa menggugah seleranya.
"Makan yang banyak," ucap Dani ketika melihat Emely tak kunjung makan. Emely masih saja diam hingga Dani berdiri, mengambil alih piring dan sendok milik Emely.
"Sini, aku akan menyuapimu,"
__ADS_1
😀😀😀
Like, komen, hadiah, dan votenya yuk😍😍😍😍