
"Kau! Apa yang akan kau lakukan disini?" tanya Emely ketika netranya jelas memandang ke arah Dani yang kini berada di pintu kamar.
Emely berdiri, namun keadaannya yang saat ini kembali lemah karena demam, membuatnya kesulitan untuk berdiri. Dani mendekat untuk membantu Emely duduk. Kedua pasang mata itu saling menatap. Lama, sehingga keduanya terhanyut dalam sebuah rasa yang sulit untuk dijelaskan.
Emely mengalihkan pandanganya dan mendorong Dani menjauh darinya.
"Tidak bisakah kau membiarkan aku sendiri di tempat ini? Atau perlu aku yang diluar dan kau disini?" ucap Emely terdengar lemah. Dani sedikit beraksi dan duduk di ranjang, membuat gadis cantik itu beringsut mundur.
"Pergi aku bilang, kenapa masih disini?!" bentak Emely, Emely merasa geram melihat Dani seakan malah menguji kesabarannya.
Dani menatap ke arah Emely dan merasa terkejut ketika melihat Emely yang mencoba untuk melangkah ke luar. Dengan cepat Dani menahan tangan Emely dan menariknya agar tetap di posisinya.
Hal itu membuat Emely berhenti, bayangan kejadian beberapa jam yang lalu menghantui otaknya. Tubuhnya bergetar hebat, tatapan matanya tajam memandang ke arah Dani dan mencoba memberontak. Bayangan kejadian beberapa jam yang lalu seakan mendominasi pikiranya sehingga badanya semakin terasa lemah.
"Apa yang kau lakukan? Pergi aku bilang!" tegas Emely mencoba menarik tangannya lagi. Dani menghela napas panjang, apa sebegitu trauma Emely, sehingga seperti ini? batin Dani bertanya tanya.
"Coba tenanglah Emely! Aku tidak akan menyakitimu lagi. Aku kesini hanya untuk memastikan kau minum teh yang aku buatkan tadi, disini tidak ada makanan, tunggu beberapa jam lagi, aku akan mencarikan makanan untukmu, aku rasa kau sangat kelaparan sehingga lemah seperti ini ," ucap Dani dengan tegas, dengan tatapan yang mengintimidasi.
__ADS_1
Emely yang merasa aura dingin yang kuat tampak di wajah Dani tampak terpaku. Emely menghentikan gerakannya memberontak. Mata mereka saling menatap, saling beradu, hingga Emely menitihkan buliran Air mata yang jatuh tanpa diminta.
Dani merasa sedikit panik saat buliran air mata terus saja mengalir dengan sorot mata yang masih saja tajam, Dani mengusap air mata Emely dengan lembut. Emely merasakan detak jantung nya tak beraturan, sakit, takut, semua bercampur menjadi satu. Emely mencoba untuk menguasai hatinya.
Emely kini menatap wajah Dani. Wajah tampan yang kini sangat dekat denganya. Deruan napas Dani terdengar di telinga Emely. Hembusan napas Dani juga terasa menampar wajahnya. Emely memejamkan mata indahnya.
Dani yang sadar akan posisi mereka saat ini yang begitu dekat segera melepaskan pegangannya yang sedari tadi tidak berhasil dilepaskan oleh Emely. Dani berjalan ke arah jendela. Tangannya kananya memegang dinding sedang tangan yang satunya berada di saku celananya. Netranya memandang ke arah luar jendela. Menatap baju kerja Emely beserta da**eman yang telah selesai dijemurnya.
"Kenapa aku perduli dengannya? Aku membencinya, membenci dia yang telah menyakiti Micel," ucap batin Dani. Dani mengepalkan tangannya kuat.
Emely menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Apa Dani yang menjemurnya? Harus bagaimana? Bangga atau apa pada Dani? Rasanya dia pengen menyembunyikan wajahnya di kolong tempat tidur saja.
Ternyata dia keluar tadi untuk itu? Senyuman dan kekehan tawa kecil tak mampu Emely tahan sehingga membuat Dani menoleh. Pasalnya baru kali ini baju dal*mnya di sentuh seorang lelaki, dan lelaki itu adalah Ardani. Manusia menjengjelkan, keras kepala, dingin, seenaknya sendiri, suka memaksa, tapi anehnya dia sangat perhatian.
"Kenapa?" tanya Dani. Emely menggeleng, menjatuhkan tubuhnya di ranjang. Duduk. Kemudian mengulurkan tangannya mengambil teh yang saat ini sudah tidak hangat lagi.
Dani menghela napas panjang dan menatap Emely dengan tenang.
__ADS_1
"Tidurlah, sepertinya kau lebih baik dari pada tadi, aku akan tidur di sofa," ucap Dani kemudian melangkah ke arah sofa.
Emely diam, menatap Dani yang membaringkan tubuhnya di sofa.
🎀🎀🎀🎀
Di sebuah bar, Raymon tengah menghabiskan beberapa botol minuman. Tiga temannya kini juga melakukan hal yang sama.
,
"Jadi setelah menunggu lima bulan lamanya kau tidak bisa menggagahinya bukan? Kau kalah, aku sudah menduganya, wanita itu sulit untuk ditakhlukan. Jadi, Berikan perusahaanmu pada kami bertiga," ucap salah satu teman Raymon dengan kekehan tawa yang terdengar menyepelekan Raymon.
Raymon mengepalkan tangannya, seharusnya dia yang mendapatkan perusahaan dari ketiga temannya, bukan malah kehilangan seperti ini. Kenapa juga Emely harus menyerahkan kesuciannya pada orang lain? Raymon menatap ketiga sahabatnya dengan sorot mata yang tajam. Marah, bukan karna sebuah penghianatan, akan tetapi karna menjadikan kalah taruhan.
Tadinya Raymon akan menyembunyikan status Emely agar tetap melanjutkan taruhan dengan ke tiga temannya itu. Namun, ternyata dia diikuti ketiga temannya itu saat menuju ke arah desa.
🎀🎀🎀🎀🎀
__ADS_1