Cintai Aku, Lupakan Dia!

Cintai Aku, Lupakan Dia!
CALD. Gelisah


__ADS_3

Grobyak...


Suara di luar rumah membuat Emely takut. Emely yang tadinya membelakangi Dani terkejut, seketika Emely berbalik arah, tangannya mendekap erat tubuh Dani yang saat ini merasakan debaran jantung tak beraturan. Wajahnya menelusup di dada bidang Dani mencari perlindungan.


Dani yang masih di posisi yang sama terkejut juga, dia mendengar beberapa langkah orang diluar sana. Seketika juga Dani menjatuhkan tangannya yang menggantung pada Emely, mengeratkan pelukan tangannya pada Emely. Padahal tadinya dia mau bangun.


"Ray, maafkan aku. Aku takut," lirih Emely dan terdengar jelas di telinga Dani.


Entah, sesuatu yang sulit untuk dijelaskan seperti menekan hatinya. Menyesakan dadanya. Kenapa hatinya seperti kecewa ketika bukan namanya yang disebut Emely istrinya? Hais, apa yang dia pikirkan? Istrinya?Bukankah sejak awal memang Emely sudah punya kekasih? Lalu, bagaimana bisa dia tetap melakukan penyatuan? Entahlah, walau sedikit menyesal, tapi kenikmatan yang dia rasakan sangat istimewa.


Dani merasakan tubuh Emely begitu panas. Disentuhnya dahi Emely yang tiba tiba saja demam itu.


"Ray, Darling. Maafkan aku," lirih Emely lagi.

__ADS_1


Deg, lagi lagi Dani merasakan sesuatu yang berat. Entah, seketika Dani melepas pelukan dari Emely dan bangun dari ranjangnya. Diambilnya selimut yang masih terlipat rapi di atas bantal. Diselimutinya tubuh Emely yang polos itu.


Dani yang masih mendengar langkah orang tampak meraih celana dan kemejanya. Berjalan ke arah jendela dan menyibak sedikit gorden. Matanya membelabak sempurna saat melihat beberapa orang yang memakai sarung, baju koko dan peci tengah mengendap endap.


Siapa mereka? Dani yang telah memakai kemeja dan celana panjang berjalan ke arah pintu. Menekan saklar sehingga membuat lampu kamar menyala. Disaat itu, dia melihat wajah Emely yang begitu pucat. Ada rasa yang menyentuh hatinya. Akan tetapi, Dani memilih berjalan keluar, berjalan ke arah dimana ada orang yang tadi dilihatnya.


"Apa yang kalian lakukan disini?" tanyanya dengan dingin pada para lelaki yang ternyata membawa peralatan ronda itu. Mereka terkejut dan menatap ke arah Dani.


"Maaf Kang, kami bertugas jaga keamanan pondok malam ini. Tadi kami keliling, dan mendengar teriakan orang di sekitar rumah dinas kelurahan ini. Jadi kami kesini," ucap salah satunya.


Dani mengamati beberapa orang di depannya. Pondok? Astaga, bukankah memang dia berada di lingkungan itu? Dani mengulum sedikit senyum, teriakan? Apa teriakan Emely yang mereka dengar?


"Oh, maaf jika teriakan istri saya terdengar. Tadi dia melihat tikus, makanya berteriak. Terimakasih telah kesini, lanjutkan saja ronda malamnya," ucapnya seolah meminta agar mereka pergi.

__ADS_1


"Oh, suara istri Akang? Kami pikir sedang dalam masalah, soalya teriakannya seperti tertahan. Kalau begitu kami pamit Kang, asalamualaikum," ucap salah satu lainya lagi.


"Waalaikumsalam," jawab Dani sambil mengamati punggung para santri yang menjauh darinya.


Dani memejamkan matanya, bayangan wajah Emely melintas di pikirannya. Dani mengepalkan tangannya. Diraihnya ponsel miliknya dan menghubungi kontak seseorang.


"Tolong kau selidiki apa yang terjadi, aku yakin semua ini adalah permainan. Secepatnya aku tunggu kabar darimu," ucap Dani kemudian menutup ponselnya lagi tanpa menunggu jawaban orang yang diajaknya bicara.


Dani merasa ada yang tidak beres dengan apa yang terjadi saat ini. Tangannya mengepal kuat, Dani kembali berjalan ke dalam rumah, entah hatinya merasa gelisah melihat keadaan Emely tadi.


😘😘😘😘


Like komen dan hadiah jangan lupa...wkwkwkk

__ADS_1


__ADS_2